PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 66 - Penyakit Briana


__ADS_3

Bab 66 PMM


"Astaga Dokter! Apa Anda yakin kalau saya benar benar terjangkit penyakit Ini? Ini nggak mungkin kan, Dok?!"


Briana masih menggelengkan kepalanya seolah tak percaya,


"Itulah alasannya kenapa saya bertanya tentang hal-hal yang pribadi tentang hidup anda. Maafkan saya sebelumnya, tapi ini memang kenyataannya," ucap Dokter Andi.


Briana menarik pikirannya dalam-dalam. la langsung teringat kata-kata Cintya, rekannya dulu saat berada di salon yang merangkap pijat plus. Berita kematian seorang anak pejabat yang terkena HIV. Gusti Indragiri, yang terkenal dengan gaya mewah dan hedonnya.


Briana ingat betul kalau ia memang pernah berhubungan badan dengan pria berusia tiga puluh tahun itu tanpa pengaman dan itu adalah satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya.


"Apa mungkin gara-gara Indra. Cintya pernah bilang kalau dia mengatakan si Indra telah meninggal karena HIV. Sialan Raisa, dia yang ngenalin Indra ke gue," gumam Briana.


Dokter Andi mendengarnya. Dia hanya bisa menghela napas dalam setelah akhirnya mengetahui dari mana penyebab penyakit yang tak ada obatnya itu, dan sedang bersarang di tubuh Briana.


Dokter Andi buka suara dan mencoba membesarkan hati Briana yang sedang sedih. Perempuan di hadapannya itu, pasti tidak bisa menutupi rasa takutnya menghadapi vonis kematian yang akan datang padanya.


Cepat atau lambat Briana pasti tahu kalau dia akan meninggal. Briana tak tahu bagaimana cara mengatakan berita buruk ini kepada ayahnya nanti. la begitu malu dan merasa sangat hina untuk saat ini.


Bulir bening itu mulai jatuh menetes begitu saja di hadapan dokter paruh baya yang terlihat bijaksana itu. la merasa malu karena terlihat cengeng. Briana lalu meminta Dokter Andi untuk tidak mengatakan penyakit ini pada teman-temannya termasuk ayahnya.


Dengan wajah yang sedikit tegang Briana akhirnya pamit. Ia pun meninggalkan ruangan dokter itu. Namun, sebelum Briana membuka pintunya, Dokter Andi mengingatkan Briana harus tetap untuk mengatakan penyakit ini kepada keluarganya. Dukungan keluarga dan teman dekat adalah hal yang terpenting.


Briana mengangguk, ia mengerti. Cepat atau lambat semua orang di sekitarnya juga akan tahu. Akan tetapi, gadis itu hanya meminta waktu untuk setidaknya membiarkan dirinya menerima takdirnya, baru setelah itu ia akan memberi tahu keluarganya.


Rara dan Lani menyambut dengan heran karena sahabat mereka bicara cukup lama dengan Dokter Andi. Keduanya bertanya tentang apa yang mereka bicarakan.


"Lama banget, Bri, ngomong apa aja ama dokter? Ada yang salah kah tentang kesehatan elu?" kata Lani.

__ADS_1


"Nggak sih, gue cuma kepo banget sama obat-obatan yang harus gue minum. Terus gue minta obat penenang aja karena gue takut bakalan mimpi buruk digangguin setan cowok itu lagi," ucap Briana berkata bohong pada Lani dan Rara.


"Masa harus pakai obat penenang sih, Bri?" tanya Rara.


"Ya akhirnya dokter malah kasih gue nasehat. Ya, pembicaraan tentang nasehat agar membiasakan hidup sehat," sahut Briana.


"Ya udah, nanti aku bantu buatin kamu makan makanan sehat, ya." Rara menepuk bahu Briana.


"Makasih, Ra, makasih Lan. Makasih ya kalian udah mau jadi temen gue," ucap Briana.


Hari itu menjadi hari terberat dalam hidupnya. Briana harus menerima takdirnya sebagai orang yang memiliki penyakit paling mematikan di dunia. Lalu, jika Lani dan Rara tahu soal penyakitnya, apa mereka masih mau berteman dengannya?


Namun, kini Briana harus memperingatkan Tyo. Biar bagaimanapun juga, mereka pernah berhubungan badan. Dan masalahnya kala itu mereka tengah mabuk, Briana lupa mereka pakai pengaman atau tidak. Briana juga lupa dia dan Tyo melakukannya setelah dia melayani Indra atau sebelumnya.


Sejak itu segalanya jadi semakin sesak. Semakin rumit dan tidak terjelaskan. Briana pastinya kacau. Namun, Tyo menjauhi dan mulai menjauhinya. Tidak tahu harus bagaimana menghadapi Tyo nantinya, apalagi jika nanti pemuda itu juga terjangkit. Tidak tahu harus ke mana mencari jawaban. Apakah masih ada kesempatan untuknya memperbaiki diri. Atau malah ia harus pasrah dan tenggelam dalam kejamnya takdir untuknya.


...***...


"Kenapa sih bawa si Rangga ke sini?" bisik Raja.


"Dia kepoin gue mulu, Kak. Dia mau ngikut!" sahut Adam yang sebenarnya juga kesal.


Namun, Rangga kerap memberinya uang jajan dan cemilan yang tak bisa Adam tolak pastinya. Sementara itu, berburu hal mistis merupakan salah satu buah kebanggaan bagi Rangga untuk ditunjukkan ke teman-teman sekolahnya. Apalagi karena cerita-cerita horor yang sering ia bawakan untuk menghibur teman sekolahnya di sela-sela jam istirahat atau jam sebelum kegiatan belajar mereka dimulai, sangat dinantikan.


Meski beberapa temannya sebenarnya sudah tahu bila terkadang cerita-cerita yang dibawakan oleh Rangga sudah disusupi oleh sekelumit khayalan serta fantasi yang berlebihan. Akan tetapi, tetap saja Rangga adalah bagian dari salah satu murid yang paling disenangi di sekolah, sehingga para gadis juga rela menunggu ceritanya.


"Gue mulai nge-vlog, ya?" bisik Rangga.


"Gue bilang jangan nge-vlog! Cukup tulis aja atau elu ceritain sesuai karangan bebas elu. Nanti kakak gue marah kalau ada muka gue sama dia masuk ke saluran youtube elu terus viral!" ketus Adam.

__ADS_1


"Gak semua cerita gue juga karangan bebas, Dam! Ada yang asli juga. Nah, kalau gue kasih tau yang mana cerita yang asli sama elu, gue pastiin elu bakalan lupa cara kencing di kamar mandi," sahut Rangga memandang ke arah Adam yang sedang berdiri sembari mengecek senter di tangannya.


Adam hanya melayangkan wajah smirk. Pasalnya, Rangga kerap menghina orang lain penakut. Terutama Fasya. Apalagi si Fasya malam itu sakit demam saking sudah takut duluan jika harus ikut berburu hantu ke rumah kosong tersebut. Hanya saja Rangga belum tahu sedang berhadapan dengan keluarga ajaib macam keluarga yang Adam dan Raja miliki.


Pemuda itu tersenyum, sesaat sebelum si pemuda itu pergi, ia mendekati Raja sembari bertanya, "kita mau mulai dari mana, Kak?"


"Hmmm, kita mulai dari belakang kayaknya ada pagar kecil yang bisa kita panjat. Kamu ikut Kak Raja, biar si Rangga yang jaga luar," ucap Raja.


"Weits, nggak bisa gitu, Bang! Gue harus ikut buat bikin berita. Gue kan sekarang jadi wartawan muda di majalah musik khusus cerita horor," sahut Rangga.


"Tapi, aku belum tahu setan apa yang nanti akan kita hadapi," sungut Raja.


"Gue geli ngomong sama abang elu pakai bahasa aku kamu," bisik Rangga ke Adam.


Namun, Raja mendengarnya. Ia langsung menjitak kepala Rangga.


"Aku juga geli denger kamu manggil abang. Emangnya aku abang tukang bakso apa!" Raja kembali bersungut-sungut dengan ketusnya.


"Kakak gue udah biasa begitu. Cuma gue yang rada brutal hahaha," sahut Adam yang melirik ke arah Raja.


Tatapan "bombastic side eyes" sudah dilayangkan dari Raja. Saat memasukkan batu batere ke dalam senter juga dengan tekanan lebih kuat sambil memukul-mukul pula.


Adam menghela napas panjang karena tahu bila Raja sedang marah dengan dirinya. Tiba-tiba ponsel Rangga berdering. Seolah sengaja agar Adam dan Raja mendengar pembicaraannya.


"Ya, Mbak, ada apa?" tanya Rangga.


"Rangga! Gue minta file kasus orang yang bunuh diri itu ya, kirim ke e-mail gue. Sekarang juga ya!" Suara seorang perempuan berseru dari dalam ponsel Rangga.


...******...

__ADS_1


...To be continue ...


...See you next chapter!...


__ADS_2