PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 84 - Anta dan Lani Diculik


__ADS_3

Bab 84 PMM


"Nggak tau."


Kening Dikta mengerut mendengar jawaban Lani saat itu. Baru saja dia akan bertanya lagi, saat teringat ucapan Ijah tadi dan mendadak menyadari maksudnya. Sesaat Dikta tertegun, kemudian tersenyum. Kepalanya lalu menggeleng-geleng pelan.


"Hadeh … bodoh banget aku. Kamu juga bodoh, Lan. Masa kamu pilih sakit daripada ngomong jujur," bisiknya.


"Biarin aja!" Lani menjawab lirih.


Wajahnya masih tersembunyi di leher Dikta. Namun, tetap saja dia merasa sangat malu, seakan Dikta bisa melihat langsung wajahnya. Pria itu hanya tertawa pelan. Tiba-tiba, dia teringat satu hal yang sangat ingin dia katakan.


"Aku minta maaf, Lan. Maaf soal yang dulu-dulu itu," kata Dikta.


Gantian Lani yang tertegun. Seketika dia lepaskan pelukannya di leher Dikta. Ditatapnya pria itu dengan kening mengerut. Gadis itu menatap Dikta bingung.


"Minta maaf soal apa? Yang mana, ya?" tanya Lani.


"Semuanya, Lan." Dikta menghela napas berat dan dalam.


Sesaat Lani masih terlihat bingung, namun kemudian dia mengerti.


"Oke oke, dimaafkan!" Lani mengangguk dan tersenyum.


Dikta tampak lega. Diraihnya kembali gadis itu ke dalam pelukannya, kemudian diciumnya kening dan puncak kepalanya.


"Ke teras aja, yuk? Kata kamu bulannya lagi bagus, kan?" ajak Dikta.


"Tapi, aku laper nih," keluh Lani.


Sesaat Dikta tertegun. Ini suara manja pertama yang dia dengar dari Lani. Dikta jadi merasa bahagia. Kemudian pria itu tertawa geli.


"Ya udah kalau gitu. Ummmm, gimana kalau kita liat bulannya di teras bawah, sambil makan. Mau nggak?" tanya Dikta menawari.


Lani mengangguk dan bertanya, "makan apa?"


"Nasi goreng Pak Kopral aja. Masih mangkal dekat pos, kan?" tanya Dikta.


"Kayaknya masih, deh. Aku suruh Ijah buat beli, ya?"


Dikta mengangguk, lalu digendongnya Lani dan dibawanya menuruni tangga.


"Eh, kamu ngapain? Aku malu tau!" seru Lani.


"Kamu kan masih lemes jadi aku gendong aja," ucap Dikta seraya tertawa.


Setelah sampai di teras bawah, mereka meminta Ijah untuk membeli tiga bungkus nasi goreng karena yang satu untuk Ijah. Seraya menunggu, Dikta teringat dengan buku harian Lani.


"Lan, aku boleh tanya lagi soal buku harian kamu yang ada foto anak anak Mapala Merah?" tanya Dikta hati-hati.

__ADS_1


"Itu bukan punya aku tau. Aku dapat dari Raisa," bisik Lani.


"Hah? Raisa? Buku itu sama loh sama punya aku, Lan," ungkap Dikta.


"Kok bisa ya kita punya buku sama kayak gitu?" gumam Lani.


"Ini aneh. Aku akan mencari tahu lebih dalam lagi soal buku ini," kata Dikta.


Lalu kemudian, ponsel Dikta berdering tanda pesan masuk. Dilihatnya pesan dari Raja yang memberitahukan keadaan Briana yang mulai semakin menurun.


"Siapa?" tanya Lani.


"Raja. Dia kasih tau soal kondisi Briana. Besok kita ke rumah sakit nengok Briana," kata Dikta.


"Oke," sahut Lani seraya mengangguk.


***


Keesokan harinya saat Lani dan Dikta menuju ke rumah sakit, tiba - tiba mobil mereka dihadang oleh sebuah mobil sedan hitam. Dikta yang berada di kemudi langsung menekan pedal rem secara mendadak.


Dua orang turun dari sedan hitam itu, pria bertopeng yang berambut panjang yang ternyata orang suruhan anak buah Karina itu, mengarahkan senjata api pada mobil Dikta.


"Gimana ini, Ta?" Lani mulai panik.


"Kayaknya mereka begal, Lan. Kamu tenang ya. Aku nggak peduli mobil ini diambil asal kamu selamat," ucap Dikta.


"Buka pintunya!" seru si preman menggedor pintu mobil Dikta.


"Udah tenang aja ya. Kamu jangan teriak karena dia bawa senjata," bisik Dikta.


Tiba-tiba saja, preman itu melesatkan peluru tepat di bahu kanan dan membuat Dikta kesakitan.


"DIKTA!"


Pekik Lani.


"BUKA PINTUNYA!" teriak si preman.


"Oke, oke," sahut Dikta yang langsung membuka pintu mobil.


"Elu, ayo ikut! Elu masuk ke mobil itu!" seru preman itu menunjuk Lani.


"Nggak bisa! Dia nggak boleh ikut! Elu ambil aja mobil gue tapi biarin kita selamat di sini!" pinta Dikta seraya menahan sakitnya.


"Banyak omong luh! Mau mati luh di tangan gue?!" ancamnya seraya menodongkan senjata api itu ke kepala Dikta.


Dikta mencoba melawan tetapi pria preman itu memukulnya telak sampai tersungkur di aspal dekat ban mobil.


"Jangan lakukan itu! Gue mohon… oke gua akan ikut sama elu tapi jangan sakiti Dikta," pinta Lani yang menoleh pada sang kekasih.

__ADS_1


"Turun luh, dan buruan cepat masuk ke dalam mobil gue sekarang!" seru si preman.


Lani menuruti perintah preman itu dan masuk ke dalam mobil, lalu mobil itu melaju pergi. Dikta mencoba mencegah tetapi ia tak berdaya. Dengan segenap kekuatan tersisa, Dikta segera menghubungi pihak berwajib untuk meminta bantuan. Setelah itu Dikta juga menghubungi Raja yang sedang bersama Rara menemani Briana di rumah sakit.


...***...


Hari itu, Anta pergi ke rumah sakit bersama Setta dan putranya. Mereka pergi ke supermarket bersama. Dia tak sengaja menabrak Raisa di supermarket.


"Kayaknya pernah lihat, deh," gumam Anta setelah meminta maaf.


Anta masih merasa mengenali Raisa kala itu. Sosok gadis itu hanya tersenyum. Lalu, Raisa bergegas pergi meninggalkan Anta. Namun, Anta masih penasaran dengan sosok Raisa. Ia mengikutinya.


"Kamu lihat siapa, Nta?" tanya Setta.


"Cewek itu, Set. Kayaknya Anta kenal sama dia tapi di mana gitu," jawabnya.


"Terus kenapa diikuti?" tanya Setta yang masih terlihat bingung dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Penasaran," sahut Anta.


"Udah sih biar aja!" pinta Setta.


Mendadak putranya Setta sedang mengejan. Ternyata anak itu sedang buang air besar di pampers-nya.


"Waduh, gawat ini! Aku ke kamar mandi dulu ya, Nta," kata Setta yang buru-buru menggendong anaknya.


"Oke," sahut Anta.


Anta tetap mengikuti Raisa. Mendadak seketika, gadis itu terlihat limbung. Raisa memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Ia mengaku pusing di kepalanya.


"Apa kamu tak apa-apa?" tanya Anta yang masih berbaik hati dan khawatir.


"Tolong aku," pinta Raisa.


Gadis itu malah tak sadarkan diri jatuh ke lantai. Raisa pingsan dan langsung ditolong oleh Anta. Dibawanya gadis itu ke klinik yang terdekat dengan supermarket itu.


Setelah Raisa sadar, Anta izin untuk pamit. Namun Raisa memintanya untuk menunggu sebentar sampai pria yang dia akui sebagai pamannya datang menjemput.


Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh agak gemuk datang ke klinik. Ia mengucapkan terima kasih pada Anta. Dia mengaku sebagai pamannya Raisa dan datang untuk menjemput. Akan tetapi, sesuatu yang mengejutkan terjadi.


Pria itu menusukkan sebuah suntikan ke leher Anta secara tiba-tiba. Anta malah dibius dan tak sadarkan diri kemudian. Raisa yang ternyata berpura-pura sedari tadi, lantas meminta si pria botak itu untuk menggendong Anta dan memasukkan ke dalam mobil sedan hitam.


Ponsel Anta berdering, tertera nama Setta yang menghubunginya. Raisa meraihnya lalu mematikan ponsel Anta agar tak bisa dilacak.


Setta bertemu saksi mata yang mengatakan kalau Anta mengantar seorang gadis ke klinik. Namun, setibanya Setta di klinik ia tak menemukan Anta. Setta akhirnya meminta klinik menampilkan cctv yang mengarah pada arah parkiran mobil. Benar saja, cctv itu menangkap gambar Anta sedang digendong ke sebuah mobil sedan hitam. Setta langsung menghubungi Bunda Dita dan juga suaminya di tengah kepanikan itu.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2