
Bab 52 PMM
Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain menunggu. Beberapa kali yang dilakukannya hanya menghubungi Boy untuk memastikan apa barang ilegal mereka aman atau tidak. Beruntung, Boy masih bisa menemukan kotak es kecil di dalam bagasi motor Raina sebelum diamankan oleh pihak berwajib.
Pak Agung dan seseorang yang ikut mengantar ke rumah sakit tadi, lantas pamit karena tak bisa berlama-lama berada di sana karena memiliki keperluan penting. Mereka hanya bisa ikut mendoakan keselamatan Raina.
Sebelum pulang, Pak Agung yang menolong Raina tadi itu juga mengatakan bahwa apa yang dilakukannya itu sudah menjadi kewajiban sebagai seorang manusia yang harus menolong sesamanya. Pria tua baik hati itu sempat memberi Dikta suport agar ia tetap tegar dan terus berdoa untuk keselamatan Raina dan berterima kasih karena Dikta sudah mau bertanggung jawab.
Tak lama setelah pria tua tadi pulang, sesaat kemudian Tyo pun tiba. Dikta bangkit dari tempat duduknya di ruang tunggu. Ia tak kuasa menahan tangisnya ketakutan dan langsung memeluk Tyo.
"Raisa masih hidup, Yo, dia masih hidup!"
"Hah? Yang bener luh?" Tyo menatap Dikta tak percaya.
"Oh, aku tahu yang kalian omongin itu siapa. Dia itu Raina. Penjaga minimarket yang mukanya emang mirip sama Raisa. Tapi dia punya tahi lalat di dagu kirinya," ucap Raja menjelaskan.
"Serius luh, Ja?" Tyo mengernyit.
"Aku serius. Tadi aku mau ngajak si Dikta ketemuan buat membicarakan ini. Aku mau kalian ketemu sama Raina dan bantu memastikan dia kembar apa nggak," tukas Raja menambahkan.
"Udah semuanya tenang dulu. Ayo kita berdoa aja agar operasi dia berjalan lancar dan baik-baik aja. Biar dia nggak nuntut Dikta, terus juga biar kita bisa ngorek keterangan tentang hubungan dia sama Raisa. Kali aja mereka kembar terpisah," ucap Rara menimpali.
***
Dua puluh empat jam lebih telah berlalu, pengaruh obat blus yang membuat Raina terlelap seharian, sedikit demi sedikit mulai hilang. Perlahan-lahan kesadaran gadis itu semakin membaik.
Pagi itu, ia mulai dapat membuka kelopak matanya yang cukup berat. Pandangannya samar-samar, berbayang dan masih kurang fokus seperti lensa optik kamera yang disesuaikan dengan jarak objeknya, hingga ia membutuhkan beberapa kali kedipan mata untuk dapat melihat secara normal.
Raina masih merasakan sisa-sisa sakit pada bagian kepalanya, mengalahkan rasa sakit pada tubuh lainnya yang lecet-lecet dan memar. Rasa pusing di kepalanya mulai terasa sangat berat. la merasa kehilangan kekuatan untuk menggerakan kakinya yang sebelah kiri.
Kakinya sangat kaku karena dibalut gips dan menggantung. Ia mengalami patah tulang di bagian kaki kirinya itu. Raina hanya bisa bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi pada kaki kirinya. Sampai Boy berdehem mengejutkannya.
Atas perintah Dokter Salma, sejak semalam Boy menjaganya. Dokter Salma juga memiliki kenalan yang bertanggung jawab menangani Raina. Dikta untuk sementara berada di kantor polisi demi memberi keterangan. Raja dan Rara menemani agar Rio tidak mengintimidasi Dikta nantinya.
Begitu rombongan Dikta dan yang lainnya pergi, Boy langsung ambil alih dan menemani Raina. Pria itu menyadari kalau sosok gadis itu mulai tersadar.
__ADS_1
Pria itu langsung marah - marah begitu Raina sadar.
"Ah, gue lagi sakit gini ngapain elu tambahin dengan suara berisik elu, sih?!" keluh Raina.
"Elu tuh anak baru bener-bener ngeselin, ya. Tapi, tante gue suka banget lagi sama elu. Hampir aja bisnis tante gue ini kacau gara-gara elu!" sungut Boy.
"Ya, ya, gue minta maaf! Terus sekarang gimana sama gue?" tanya Raina.
"Yang nabrak elu mau tanggung jawab. Nanti gue minta dana kompensasi buat beli motor baru buat elu. Untuk sementara ini, elu pura-pura hilang ingatan aja biar polisi nanti nggak nanya macam-macam ke elu. Takutnya elu keceplosan," ucap Boy.
"Gue, hilang ingatan? Haha, kocak luh!" sahut Raina.
"Udah elu ikutin aja aturan mainnya Tante Salma!" titah Boy.
"Cewek yang kemaren udah elu beresin?" tanya Raina.
"Yang hamil? Udah beres."
"Terus si Agnes, gimana?" tanya Raina.
Di dalam artikel berita online itu, seorang gadis bernama Agnes ditemukan pada malam tragis di sebuah hotel. Gadis itu diduga tengah menunggu seseorang tanpa kepastian. Kesokannya, gadis itu ditemukan tewas karena overdosis di kamarnya. Ia mencoba heroin terlalu banyak. Tubuhnya lalu diangkut oleh petugas hotel yang datang menemukannya. Kasus kematian AZ ini sedang diselidiki polisi.
"Ini elu yang bikin? Lancar juga otak luh, padahal Agnes kan orang lama sebelum gue," ucap Raina.
"Salah sendiri dia mau insyaf. Kalau udah masuk bisnis tante gue tuh harus setia. Jangan malah membahayakan," ucap Biy yang merasa kesal hingga tak henti-hentinya mengoceh di depan Raina.
"Terus pacar lu si Lani, gimana?" tanya Raina.
"Masih bisa gue bikin nurut dia, tenang aja."
"Masih pakai pelet yang waktu itu?" tanya Raina lagi.
"Orang nggak punya Tuhan gitu mah gampang dipeletnya." Boy tersenyum senang.
...***...
__ADS_1
Di rumah besar Dikta.
Dikta menunduk karena tak berani melihat tatapan ayahnya yang benar-benar murka. Ibunya cepat-cepat menengahi kemarahan suaminya sebelum semakin menjadi.
Dikta hanya tak habis pikir, kenapa saat kecelakaan itu terjadi, ayah dan ibunya sedang berada di rumah. Setelah semuanya bisa sedikit lebih tenang, mereka bertiga duduk di ruang tamu meski sisa-sisa nafsu amarah ayahnya masih terlihat dari matanya yang memerah dan nafasnya yang memburu.
"Jadi bagaimana rencanamu untuk anak
kesayanganmu yang bodoh ini?" Arif Dirgantara, pengusaha mie instan yang lebih laku di negara Korea Selatan itu, terlihat murka.
"Sudahlah, Pih! Kamu tuh harus sabar demi kesejahteraan dan kesehatan kita bersama. Dikta kan udah mengaku kalau ia salah dan nggak sengaja menabrak gadis itu. Begini Yah, Mami udah menyiapkan sebuah rencana untuk melindungi Dikta. Uang akan menjawab segalanya. Kita kasih uang ke gadis itu supaya nggak nuntut Dikta," ujar Titi Dijeh Dirgantara.
Perempuan berusia empat puluh lima tahun itu merupakan sosialita di negara Korea Selatan yang kerap berbisnis jual beli barang-barang bekas dari fashion merek ternama seperti, tas, sepatu, atau pakaian dan aksesori lainnya.
"Kamu yakin dia nggak akan mempersulit ke polisi? Nggak semua bisa dibeli dengan uang, Mih!" tegas Arif berucap.
"Bisa, Pih! Tenang aja, yang penting anak kita selamat seperti biasa. Kalau perempuan itu nggak mau uang, ya kita kirim orang lain lagi buat gantiin Dikta terus anak ini kita kirim ke luar negeri, deh," ucap Titi memberi saran pada suaminya.
"Kamu tuh selalu gila ya, Mih. Dulu waktu Dikta nabrak orang sampai mati juga kamu kirim orang buat gantiin dia di penjara. Apa kamu pikir polisi kali ini bisa bodoh dan bisa ditipu kayak gitu lagi dengan rekayasa ini?" Arif menatap kesal pada putranya yang masih tertunduk dia.
"Tenang saja, Pih. Mami udah memperhitungkan dan mengatur semuanya. Kalau memang semua berjalan dengan baik, mungkin ada bagusnya kalau hari ini juga Papi sama Dikta pergi keluar negeri buat sementara. Mami nanti bisa atur dengan pihak kepolisian. Hukuman pidananya juga kayaknya nggak akan berat. Nanti Mami yakin kalau penggantinya Dikta enggak akan menyesal karena kita akan
membayar semua ini dengan harga yang sangat mahal. Ini semua demi anak kita, Pih!" serunya.
"Terserah kalian aja! Aku sudah muak dengan anak ini! Kalau aku boleh pilih, lebih baik anak ini di penjara saja, biar dia kapok dan sadar kalau kelakuannya selama ini hanya bisa bikin kita repot!" Arif lantas pergi menuju ke kamarnya.
Dikta hanya bisa terdiam tanpa bisa bicara apa-apa. Rasanya sangat terasa berat untuk melawan ayah dan ibunya. Namun, sosok ibunya terus melindunginnya jika dia dalam masalah. Meskipun begitu, ibunya tak pernah ada untuk merawatnya sedari kecil. Uanglah yang merawat Dikta.
Dikta bahkan tidak bicara apa pun dan membiarkan dirinya mengikuti semua rencana ibunya. Begitu juga dengan sang ayah yang sedikit terpaksa mengalah dan mengikuti apa yang telah diatur oleh istrinya itu.
Dikta lantas kembali memasuki kamarnya. Ia merebahkan diri. Namun, setiap matanya terpejam, hatinya masih merasa sangat bersalah walaupun ada kalanya ia merasa nyaman jika selalu bisa lepas dari tuntutan hukum.
Lagi-lagi, jika ia menutup matanya, maka memorinya akan kembali mengingat kecelakaan tragis itu dimana Raina tergeletak tak berdaya karenanya. Ia tak bisa sepenuhnya lupa akan kejadian tragis dan sosok gadis yang ia tabrak itu. Kepribadian Dikta yang baik selalu dihantui rasa bersalah. Namun, kepribadiannya yang buruk malah cuek dan timbul niat menghabisi Raina saja daripada nantinya akan menyusahkan.
...******...
__ADS_1
...^^^To be continued, see you next chapter ^^^...