PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 58 - Galau


__ADS_3

Bab 58 PMM


Dikta mulai menyadari sedikit-sedikit tindakan setelah bertemu para mantan yang mengingatkan kelakuan buruknya, bahwa begitu banyak orang yang hancur karena tindakannya. Begitu juga dengan Lani.


Hal itu membuat Dikta jadi berpikir, mungkin ini hukuman untuknya. Ia cuma bisa berharap kalau semua mantannya akan memaafkannya, begitu juga dengan Lani. Namun, definisi berharap itu ternyata adalah pasrah dan tidak berdaya pada keadaan.


"Kamu mikir apa?" tanya Lani ketika melihat Dikta melukiskan wajah smirk.


Padahal, dalam hati Dikta tengah tertawa sumbang. Dia benar-benar tidak menyangka dirinya akan jatuh sampai ke level ini. Sangat pahit.


"Nggak apa, Lan. Gue … eh aku, lagi mikir aja." Dikta tersenyum.


"Mikir apa?"


"Lagi mikir semoga gue yang jahat itu nggak balik lagi. Banyak banget orang yang pernah gue sakiti, ya."


Lani terhenyak, menatap tak percaya. Kenapa Dikta bisa berpikir seperti itu. Mungkinkah dugaannya benar kalau Dikta memiliki dua kepribadian selama ini.


Kebersamaan itu berakhir. Mobil sudah berhenti di depan pagar rumah Lani. Mbok Ijah yang muncul di pintu garasi tidak jadi membuka pintu pagar begitu dilihatnya sang majikannya tidak sendirian seperti waktu berangkat tadi.


Mbok Ijah lantas tak jadi menyapa. Dia berjingkat mundur dan menghilang ke dalam rumah. Meninggalkan sang majikan bersama kekasihnya. Ya, seingat dia kekasih Lani yang terakhir adalah pria itu.


Dikta dan Lani masih berada dalam mobil. Pemuda itu menatap gadis di sebelahnya yang sesekali masih mengusap pipi. Menoleh ke cermin dalam mobil untuk memeriksa rasanya wajahnya yang sedari tadi menangis.


"Lan, kamu bisa kan masukin mobil ini ke garasi?" tanyanya.


Lani menjawab dengan anggukan kepala. Dikta lantas turun dan berjalan ke arah pagar. Dibukanya kedua pintu pagar yang menuju garasi lebar-lebar. Dia mengacungkan ibu jarinya lalu mendekat ke mobil Lani. Kemudian, dia kembali ke sisi mobil dan membungkukkan badan.


"Lan, lain kali kalau bisa kalau lagi galau jangan nyetir sambil nangis lagi, ya? Bahaya tau!" Dikta tersenyum.

__ADS_1


"Kok, kamu bisa tau kalau tadi aku lagi nangis? Tadi emangnya kamu ada di mana?" tanya Lani.


Dikta kembali tersenyum tipis. Diusapnya pipi Lani sesaat.


"Perasaanku aja!" jawabnya pendek.


Dikta lalu berdiri dan berjalan menjauh. Dia melambaikan tangan seraya melangkah ke seberang jalan rumah Lani.


Selama berdiri di tepi jalan, menunggu taksi kosong, sesekali Dikta menoleh dan menatap Lani.


Kali ini Lani pasrah pada keinginan hatinya untuk juga balas menatap Dikta. Sampai sampai akhirnya sebuah taksi kosong berhenti di hadapan Dikta. Pemuda itu menoleh untuk yang terakhir kali. Dikta kini menatap Lani dengan sorot mata yang lurus dan tajam, kemudian masuk ke dalam taksi dan menghilang seraya mobil taksi itu melaju. Dikta akan kembali mengambil mobilnya yang tadi ditinggalkan demi mengantar Lani pulang.


Begitu taksi itu sudah hilang, Lani menarik napas panjang. Dia merasa bingung kenapa rasa sepi itu kembali datang. Rasa yang baru belakangan ini dia kenal. Benar-benar sunyi dan benar-benar kosong. Gadis itu mendesah. Membetulkan kunciran rambut nya dan ditundukkannya kepala di atas dasbor. Berbantalkan kedua lengan.


"Ya Tuhan, ada apa sih sama aku ini?" keluhnya pelan.


Di dalam taksi, Dikta malah merasa tak tenang. Sebentar-sebentar kepalanya menoleh ke belakang, meskipun tahu mobil Lani sudah tidak mungkin terlihat. Entah pemikiran apa yang baru melintas itu, Dikta putuskan untuk kembali. Ditepuknya bahu si sopir taksi pelan.


Meskipun heran, sopir taksi itu menurut tanpa bertanya. Dia memutar setir kendaraannya dan kemudian meluncur kembali ke arah semula.


Namun, saat mobil taksi yang ditumpangi Dikta sampai di tikungan menuju rumah Lani, pemuda itu sampai terheran-heran karena mobil Lani tak jua beranjak. Dia turun dan berjalan menuju tikungan jalan itu. Ia melihat momobiLani masih terparkir di pinggir jalan. Masih di tempat semula. Dikta lanta berdiri sejenak dan memperhatikan dengan saksama. Dikta menghela napas panjang dan dalam lalu berjalan menghampiri taksi.


"Pak, maaf banget ya. Saya nggak jadi pakai taksinya," ucapnya sambil mengulurkan selembar uang lima puluh ribu.


Sopir taksi itu mengangguk. Kemudian Dikta bergegas pergi tanpa meminta kembalian. Dengan melangkah berjalan lebih cepat, dihampirinya mobil Lani. Dilihatnya kepala gadis itu masih tertelungkup di atas dasbor. Lani juga terdengar terisak.


Gadis itu tidak menyadari kemunculan Dikta. Ia malah tetap sibuk memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya. Lani membiarkan air matanya turun dan menetes satu-satu. Jatuh di atas celana jeans birunya.


"Kok, masih di sini?" tanya Dikta.

__ADS_1


Lani yang terkejut sontak mengangkat kepala saat terdengar suara Dikta. Pintu mobil pengemudi itu terbuka. Dikta sedang membungkuk dan menatapnya. Pemuda itu kemudian masuk dan duduk di sebelahnya.


"Ada apa, Lan?" tanya Dikta dengan nada sangat khawatir.


Sorot mata pemuda itu juga tak bisa bohong kalau ia sangat mengkhawatirkan Lani. Gadis itu menegakkan tubuh. Lani lantas buru-buru menghapus air matanya, lalu dia menggeleng.


"Nggak ada apa-apa. Aku cuma lagi mau nangis aja," jawab Lani.


Seketika kedua alis tebal Dikta menyatu rapat. Ditatapnya gadis itu sejenak dengan kedua mata menyipit. Kemudian Dikta keluar dan membiarkan pintu mobil itu terbuka. Ia berjalan ke arah pintu pagar yang tadi dibukanya lebar- lebar. Dikta kembali ke mobil Lani dan langsung memutar kunci, menyalakan mesinnya.


"Jalan-jalan sebentar, yuk? Kayaknya kamu butuh refreshing, deh. Kita cari angin segar biar nggak suntuk!" ajak Dikta.


Pemuda itu lantas melajukan mobil Lani meninggalkan tempat itu. Lani sebenarnya ingin menolak. Namun, ia merasa tak bisa menolak ajakan Dikta. Lani membutuhkan seseorang untuk berkeluh kesah malam itu.


"Kita mau ke mana?" tanya Lani.


"Kita ke gunung yang di pinggiran kota aja, yuk!" ajak Dikta.


"Hah? Itu kan jauh juga, Ta."


"Bensin kamu masih cukup, kok. Tenang aja." Dikta tersenyum menoleh pada Lani. Lalu kembali fokus menyetir.


Dua jam berlalu, sama sekali tidak terjadi pembicaraan selama di perjalanan. Keduanya sama-sama diam. Bosan dengan keadaan yang tercipta. Sebuah rasa yang membingungkan hadir meskipun terasa asing.


Sampai kemudian mobil memasuki jalan aspal bergelombang. Dikta lantas turun dari mobil dan memastikan apakah ada penjaga di pos dekat pintu masuk. Ternyata, tak ada. Dikta kembali dan membawa mobil Lani memasuki hutan pinus di satu kaki gunung. Mobil itu berhenti di tepi lereng yang di bawahnya mengalir sebuah sungai.


Sebenarnya Lani dan anak-anak Mapala Merah sering ke tempat itu untuk berkemah. Menghabiskan malam minggu bersama seraya memanggang ayam bersama. Tapi, itu Mapala Merah yang dulu. Sebelum tragedi itu datang bertubi-tubi membuat kelompok pecinta alam itu hancur.


...******...

__ADS_1


...To be continued, see you next chapter!...


__ADS_2