PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 62 - Dihantui


__ADS_3

Bab 62 PMM


Sesampainya di kos, hati Briana masih berdetak begitu kencang, keringat-keringat sebulir jagung masih mengucur deras dari seluruh badan rasanya. Briana gemetaran saat membuka kunci rumah kos nya yang baru.


Setelah terbuka, Briana mencoba menenangkan diri sejenak. Ia membuat minuman teh manis hangat dan mengambil napas panjang. Tarik napas dan embus yang dia lakukan berkali-kali, sampai hatinya mulai tenang.


Setelah tenang, Briana memutuskan untuk membersihkan tubuh dulu sebelum tidur. Setelah selesai mandi, wanita itu duduk di sebuah kursi kayu samping meja kecil sambil memikirkan kejadian yang barusan terjadi. Kejadian yang masih membuat bulu kuduknya berdiri semua itu.


"Hmmm, mikir apa sih gue. Udahlah mending gue tidur aja," ucapnya.


Tidak begitu lama rasa takutnya sudah berubah menjadi rasa kantuk yang tidak bisa ia tahan lagi. Akhirnya, Briana membaringkan tubuh rampingnya di ranjang tidur dan mulai berusaha untuk memejamkan kedua mata.


"Tokk… Tokk…"


Tiba-tiba, terdengar suara aneh yang membuatnya terbangun dari lelap tidurnya malam itu.


“Tokk… Tokk…”


Suara itu kembali terdengar. Membuat bulu kuduk meremang. Briana berusaha untuk bangkit dan mencari dari mana asal suara tersebut. Briana yakin kalau asalnya ternyata dari luar kamar kos-nya.


Rasa penasaran yang menyeruak itu akhirnya membuat Briana memutuskan


untuk memeriksa sumber suara tersebut. Briana mulai membuka pintu perlahan, seraya mulai mencari-cari asal suara itu dari sela pintu yang ia buka sedikit itu.


“Tokk… Tokk…”


Suara itu kembali terdengar. Rumah kos Briana memiliki tiga petak ruangan. Dan akhirnya ia yakin kalau asal suara itu berasal dari arah bagian belakang, dari dapurnya. Padahal Briana bukan orang yang pemberani, tetapi dia malah penasaran dan berjalan ke arah dapur.


Langkah mengendap-endap dan bergerak satu demi satu langkah itu akhirnya terhenti. Apalagi ketika terlihat terlihat ada sesosok seorang perempuan dengan rambut panjang sepunggung. Gadis itu memakai baju serba hitam selutut dan memperlihatkan banyak noda darah. Sosok itu sedang menghadap ke dinding, sambil membawa boneka bayi tanpa kepala.


Briana yakin kalau itu adalah boneka yang tadi. Boneka yang ia yakin kalau itu adalah boneka yang membuatnya jatuh tadi. Sementara itu, di tangan lainnya, sosok itu mulai menusuk-nusuk dinding dihadapannya memakai pisau dapur menggunakan tangan kanannya.


“Si-siapa elu?” tanya Briana dengan terbata-bata memberanikan diri.


Sepasang kaki dan tangannya mulai gemetar ketakutan. Sepasang mata lentik itu seolah tidak bisa mengalihkan pandangan ke arah sosok itu. Tiba-tiba, sosok perempuan itu menoleh pada Briana.

__ADS_1


“Mau main boneka?" tanya perempuan itu seraya menjawab pertanyaan Briana tadi sambil menatap ke arah Briana.


"Hah?"


Briana menatap tak percaya, ia yakin sosok itu bukan manusia. Wajah pucatnya itu memperlihat gurat-gurat urat nadi yang tampak mencuat. Rongga matanya seperti berlubang karena bola matanya hilang. Belatung-belatung itu menggeliat keluar masuk dari rongga mata itu.


Dengan sekuat tenaga Briana berusaha menggerakkan kakiyang masih gemetaran itu. Mundur perlahan sampai ia masuk ke dalam kamar meninggalkan sosok perempuan itu.


Akan tetapi, saat Briana mau mengunci pintu, seolah ia tak percaya. Sosok tadi malah sudah ada di dalam kamarnya. Dia berdiri di atas tempat tidur sambil tersenyum menyeringai, menakutkan.


“Ayo, kita main boneka!" ajaknya kembali.


Sosok hantu perempuan itu mengulurkan boneka tanpa kepala pada Briana.


Bibir cantik Briana serasa sudah tidak sanggup berkata-kata. Bahkan air mata mulai keluar dari kedua bola matanya. Briana sangat ketakutan. Kedua tangan Briana mencoba untuk meraih daun pintu tetapi ternyata pintu itu sudah terkunci.


Sosok perempuan itu mulai mendekat ke arah Briana. Pada akhirnya, yang bisa Briana lakukan hanyalah terduduk di lantai sambil menangis menatap sosok hantu itu.


“Ayo, kita main boneka!" ucapnya.


"Lepaskan aku. Kamu mau apa?" lirih Briana dengan bibir bergetar ketakutan.


"Jadilah boneka ku," ucap sosok hantu itu.


Rasa dingin mulai terasa di sekujur tubuh Briana. Ia mulai melihat darah yang sudah membanjiri lantai kamarnya. Lalu kemudian, Briana merasa penglihatannya mulai kabur. Tiba-tiba saja, semuanya menjadi gelap.


***


Pagi itu, Rara mengajak Raja untuk mengunjungi Briana. Panggilan tak terjawab di pukul satu dini hari dari Briana, tak sempat dia jawab karena sudah terbuai di alam mimpi.


Raja dan Rara sampai di rumah kos yang kini ditempati oleh Briana. Rupanya jarak kontrakan itu dekat dengan rumah kosong tempat Raja melihat sosok perempuan yang mirip Dokter Salma. Dan tempat itu hanya berjarak tiga ratus meter.


Pintu kamar Briana terbuka sedikit saat Rara dan Raja sampai. Keduanya lantas mengintip perlahan. Mereka tak menyangka kala melihat ada genangan darah yang berasal dari pergelangan tangan Briana.


"Astagfirullah! Briana, Ja!" pekik Rara.

__ADS_1


Raja seger membuka pintu lebar-lebar dan memeriksa denyut nadi milik Briana.


"Masih napas, Ra!" seru Raja.


"Kita bawa ke rumah sakit!" ajak Rara.


Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya pemilik kos melintas dan terkejut kala melihat kondisi Briana yang bersimbah darah.


"Loh, loh, ada apa ini? Astagaaaa ini anak baru bunuh diri? Ya ampun ngapain dia repot-repot pindah ke tempat kos saya kalau cuma mau bunuh diri?! Nyusahin aja, nih! Nanti kalau tempat kos saya tambah sepi gimana?" Wanita yang rambutnya digelung ke atas itu terus mengomel.


"Dia masih hidup, Bu! Ini kita mau bawa ke rumah sakit. Tolong titip kamar kos -nya," pinta Rara.


Raja meminta Rara memesan taksi online. Setelah yang ditunggu datang, ia membopong tubuh Briana dan membawanya masuk ke dalam mobil taksi tersebut. Dia meminta Rara menemaninya. Lalu akan menyusul menggunakan motor vespa matic yang ia bawa hari itu.


"Bu, sebaiknya periksa cctv di sudut sana! Soalnya pintu Briana kebuka, semalam juga jam satu dia coba nelpon pacar saya. Kayaknya nggak mungkin Briana bunuh diri," pinta Raja.


"Jelas-jelas dia nyayat tangannya sendiri, kok." Perempuan berusia lima puluh tahun itu masih bersikeras.


"Saya mohon, Bu, kita cek aja cctv nya," pinta Raja.


"Bantu saya bersihin darah itu dulu!" pintanya.


Raja pun menuruti. Akhirnya, setelah membersihkan kamar Briana, pemilik kos itu mau menunjukkan tangkapan cctv yang merekam kejadian semalam di depan rumah kos tersebut.


Raja memicingkan sepasang matanya. Ia mencoba menangkap bayangan hitam yang melintas memasuki kamar kos Briana. Namun, ibu kos hanya melihat Briana membuka pintu dan mengintip. Menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu. Dan tidak ada apa pun di sana.


Dan tak lama kemudian, cctv itu menangkap Briana yang tergeletak begitu saja dengan tangan kiri terjulur ke luar di bagian jari jemarinya saja.


"Hmmm, ada yang aneh yang terjadi semalam. Tapi, nggak ada siapa siapa yang kerekam cctv. Apa jangan-jangan emang Briana mau bunuh diri. Tapi buat apa? Ngapain juga dia repot-repot pindah? Terus bayangan hitam tadi itu apa? Apa dia hantu yang merasuk ke dalam tubuh Bri terus ngebuat Bri nekat buat nyakitin diri?" Raja terus saja bergumam sembari merekam layar cctv melalui ponselnya. Dia akan menunjukkannya pada Rara nanti di rumah sakit.


"Bu, kalau gitu saya permisi dulu. Titip kamar Briana ya, Bu," ucap Raja lalu pamit undur diri.


Terlihat jelas wajah pemilik kos yang masih kesal saat tahu ada penghuni kos nya yang nekat menghabisi nyawa apalagi kalau nanti sampai tewas.


...******...

__ADS_1


^^^To be continued, see you next chapter!^^^


__ADS_2