
Bab 32 PMM
Dian teringat kejadian satu tahun yang lalu. Pertemuannya dengan Devan di salah satu kafe berlanjut. Bahkan Devan mengajak Dian untuk berkencan. Hal yang membuat Dian mulai gelap mata ketika Devan sangat royal. Pemuda tabir itu memenuhi semua keinginan Dian yang matre. Sifat matrealistis memang memenuhi pikiran Dian pastinya kala itu.
"Kita mampir ke kampus dulu, yuk! Gue mau ketemu Tyo di ruang komputer!" ajak Devan.
"Oke, deg!" Dian akhirnya mengangguk dan menurut pada Devan.
Mereka menuju ke lantai lima untuk masuk ke dalam ruang komputer. Tak ada Tyo saat itu. Namun, bukannya mengajak pulang, Devan malah membawa Dian menuju ke ruang kosong yang sedang direnovasi dan akan dijadikan perpustakaan kampus itu.
Saat memasuki ruang kosong tersebut, tiba-tiba tubuh Dian langsung merasa merinding. Angin malam pukul delapan itu mendadak berembus ke dalam gedung kampus yang bagian jendelanya masih terbuka belum ada kaca.
Hawa dingin yang tidak biasa benar-benar terasa, dan membuat Dian makin bergidik merinding. Hawa yang tadinya tenang dan hanya terdengar suara binatang malam berubah menjadi hawa yang mencekam bagi gadis itu.
"Gue cari minum dulu, ya. Elu duduk tenang di sini." Devan mengecup bibir mungil yang dipoles dengan lipstik warna merah nude milik perempuan itu.
"Iya, jangan lama-lama ya," pinta Dian.
"Iya, Cantik!" Devan mencubit ujung dagu perempuan cantik itu.
Devan lantas menuju vending machine dan memilih minuman rasa jeruk dalam kemasan botol plastik. Salah satunya ia buka tutupnya. Devan memasukkan obat yang tergolong obat-obatan terlarang atau narkotika.
Mendadak kemudian, terjadi pemadaman listrik di sekitar kampus. Dian langsung mengeluarkan ponsel dan mengandalkan senter di ponsel tersebut. Senter di gawainya itu rupanya tidak terlalu membantu karena suara burung hantu terdengar dengan jelas menakuti Dian.
"Duh, apa di sini nggak ada lampu emergency apa lilin gitu, ya? Kok, nggak ada, ya?" pikir Dian dalam keadaan panik pada malam itu.
Perempuan itu mencoba memberanikan diri menyenter asal suara tersebut. Senter dari ponsel miliknya, rupanya tidak sampai menerangi seluruh ruangan. Dian mencoba fokus mengarahkan sinar tersebut, konsentrasinya tiba-tiba pecah karena suara burung hantu yang menyeramkan itu terus-terusan ada.
Di dalam kegelapan di ruang kosong dengan senter ponsel yang menjadi satu-satunya penerangan pada waktu itu, Dian malah merasa ingin buang air kecil yang sudah tak tertahan.
Perempuan itu memberanikan diri menuju ke kamar mandi. Setelah melaksanakan buang air kecil, Dian keluar dari sana dan terkejut kala melihat sosok Devan sudah berdiri di hadapannya.
"Elu ke mana aja, Sayang? Nih, minum dulu!" pinta Devan seraya menyodorkan minuman berperisa jeruk tersebut.
"Ya ampun, kamu ngagetin aku tau nggak! Kita pulang aja, yuk! Gelap banget soalnya," pinta Dian.
"Bentar lagi juga nyala." Devan tersenyum.
__ADS_1
Benar saja ucapan Devan, sedetik kemudian lampu gedung telah menyala. Devan membawa Dian ke ruang kosong tadi untuk melancarkan aksinya.
Sembari meminum minuman rasa jeruk tersebut, Dian mengikuti Devan menuju ruang kosong yang tengah direnovasi tadi. Dian terperanjat kala melihat beberapa alat suntik di sana.
"Kamu pakai narkoba ya, Van?" tanya Dian.
"Yoi, elu mau coba?" tanya Devan.
Sontak saja Dian menoleh. Dia ingat betul pesan orang tuanya agar menjauhi barang tersebut. Apalagi kakaknya meninggal karena overdosis obat terlarang tersebut.
"Aku mau pulang! Pokoknya aku mau pulang!" pekik Dian.
Namun, Devan menarik tangannya sampai bokong perempuan itu mendarat keras di lantai yang masih terbuat dari semen tersebut.
Jleb!
Tiba-tiba, sebuah suntikan beriisi obat terlarang mendarat di leher mulus perempuan itu dan membuatnya tak sadarkan diri kemudian. Devan menyetubuhinya sampai puas. Namun, Dian tak jua sadar sampai akhirnya perempuan itu meninggal karena overdosis.
Devan akhirnya mengubur Dian di dinding tempat perpustakaan kampus. Dia membuat jarak ruang sekitar lima puluh centi lalu meletakkan tubuh Dian yang sudah disemen terlebih dahulu.
...***...
"Pantesan di sini sering bau gitu. Makanya Pak Budi pikir ada bangkai tikus apa kucing yang belum ketemu," ucap Rara.
"Tuh kan, berarti yang bau busuk itu dia, bukan aku!" Ajeng menunjuk Dian.
Tak terima dikatakan bau, Dian malah menarik jilbab Ajeng. Keduanya terlibat saling ****** sampai Rara mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidungnya kala bau busuk menyengat ke dalam indera penciuman miliknya dari kedua hantu tersebut.
"Sialan si Devan. Aku nggak nyangka ternyata dia sejahat itu. Tau gitu jangan masukin dia ke list nama yang mau didoakan, Ra!" pinta Raja.
"Ya nggak bisa, Ja. Masa iya kita ngatur Pak Ustad buat mendoakan yang udah didaftarkan ini," ucap Rara.
"Kesel aku, Ra! Kamu hubungi Kak Rio buat bongkar kuburannya si Dian!" pinta Raja.
Rara mengangguk. Raja bangkit dan meminta kedua hantu perempuan itu untuk menghentikan aksinya. Pikiran Raja masih kalut. Baru saja menuduh Dikta sebagai dalang pembunuhan anggota Mapala Merah, ternyata Devan juga memiliki sifat yang busuk dan kemungkinan dia pelaku pembunuhan terhadap Raisa dna Ajeng. Lalu, bisa saja para musuh Devan yang pernah tersakiti yang menjadi pembunuhnya.
"Oh iya, Dian kamu tunggu aja polisi ke sini. Dan sebentar lagi kamu akan dievakuasi. Aku harap setelah ini kamu bisa tenang karena kita akan pastikan pembunuh kamu si Devan itu harus menerima balasan hukuman yang paling berat," ucap Raha pada Dian.
__ADS_1
"Devan kan udah mati, Ja," sahut Rara menimpali.
"Oh iya ya. Ya udah kamu nanti kalau udah tenang kembali ke alam kamu dan ketemu si Devan, kamu hajar aja habis-habisan!" titah Raja.
"Raja apa-apaan, sih?" Rara mencubit lengan Raja.
"Ya, siapa tau aja kan?" Raja meringis.
Rara lalu kembali menghubungi Rio untuk memberitahukan pelakunya. Dia juga mengatakan kalau bertemu dengan hantunya Ajeng.
Rio lalu mengirimkan beberapa tim medis untuk segera menuju ke perpustakaan kampus. Dia sendiri juga akan menuju ke kampus Rara bersama rekan-rekannya.
***
Setelah Rio meminta beberapa tim untuk melakukan pembongkaran dinding perpustakaan kampus, sontak saja beberapa polisi sudah memenuhi gedung dan memberi garis lintas polisi yang tak boleh dilewati orang yang tidak berkepentingan.
"Astagfirullah, bagaimana bisa seseorang melakukan hal keji seperti ini?" pekik Rio yang terkejut kala masuk ke sebuah ruangan tersebut.
Sosok Dian yang terbungkus semen mulai dievakuasi dan akan dilakukan otopsi terhadapnya. Lalu, Dian akan dikuburkan secara layak.
"Siapa orang yang tega melakukan ini?" tanya Rio pada Rara dan Raja.
"Devan yang melakukan ini, Kak. Kita juga ketemu hantunya Ajeng. Tapi…."
Raja menahan ucapannya.
"Tapi apa?" tanya Rio.
"Dia jadi hantu yang hilang ingatan. Gara-gara otaknya nggak ada di kepala eh dia jadi lupa ama semuanya," kata Raja.
Rara menimpali dengan anggukan kepalanya.
"Lah, bisa gitu jadi setan. Hmmm, ternyata si Devan brengsek juga, ya," gumam Rio.
Rara mendekati sosok Ajeng yang duduk di sudut koridor sambil menangis.
"Ajeng, kamu kenapa?" tanya Rara.
__ADS_1
...*****...
^^^To be continued, see you next chapter!^^^