
Bab 76 PMM
Atas bantuan Karina, Boy diadopsi oleh walikota bernama Tuan Bambang dan Nyonya Andini. Mereka adalah orang yang baik di mata warga. Mereka selalu ada dalam setiap acara amal dan terlihat sangat menyukai anak kecil padahal yang mereka perlihatkan itu palsu.
Boy lagi-lagi hanya bisa menggerutu dalam hati dan terkadang ia mengutuk keluarga Bambang Raharja dengan kesal meski tanpa pernah terlampiaskan. Suatu hari saat Boy tengah berada di dapur, seseorang memeluk anak laki-laki itu dari belakang. Ia membelai rambut Jason dan mengecup pucuk kepalanya. Sontak saja anak itu terkejut dan mendorong tubuh pria yang ternyata Tuan Bambang itu.
"Apa yang Bapak lakukan terhadap saya?!" bentak Boy.
"Aku hanya ingin menunjukkan kasih sayang kepadamu, Nak," jawab Bambang.
Laki-laki itu makin mendekat, tatapannya berbeda kali ini seperti singa lapar yang hendak menerkam mangsanya. Pria itu makin mendekat dan hendak memeluk Boy kembali. Boy melempari pria itu dengan barang dapur yang bisa ia raih.
"Menjauh dari saya! Jangan dekat-dekat!" ancam Boy yang kini mengacungkan pisau ke arah Bambang.
"Ayolah Boy sayang, aku tak akan bilang apa-apa pada ibumu," ucapnya.
"Aku yang akan bilang pada ibu soal kelakuan Bapak ini," tegas Boy.
"Apa ibumu akan percaya padamu? Tidak akan pernah, karena dia sangat mencintai Bapak," ucapnya dengan senyum menyeringai.
Wajah laki-laki itu terlihat penuh nafsu. Sikapnya bagai singa lapar yang siap menerjang buruan yang lezat. Ternyata Bambang Raharja merupakan pria yang mengidap kelainan seksual yang disebut pedofilia. Orang yang memiliki ketertarikan seksual dengan seseorang yang berusia amat belia.
Tuan Bambang semakin mendekat ke arah Boy. Pria itu berhasil merebut pisau di tangan Boy. Dan kini pria itu mencengkram kedua tangan anak laki-laki berusia tiga belas tahun itu dengan erat.
"Lepaskan saya, Pak! Tolong lepaskan saya!" Boy berusaha untuk meronta.
"Aku akan melepaskanmu setelah kau membuatku bahagia. Mari kita bersenang-senang anakku sayang," ucap Tuan Bambang seraya membopong tubuh Boy dengan paksa ke kamarnya.
__ADS_1
"Lepaskan saya! Lepaskan saya!" teriak Boy.
Namun, asisten pembantu di rumah walikota itu seolah tak peduli. Dia sudah hafal tabiat jahat si walikota yang kerap membawa anak muda laki-laki ke rumah jika sang istri sedang tak ada di rumahnya. Toh, istrinya juga sudah tahu dengan kelakuan bejat suaminya. Dia hanya menikahi Tuan Bambang demi harta. Dan Bambang hanya menikahinya demi pencitraan semata.
Pria itu memanggul tubuh Boy bagai karung beras ke atas bahunya. Boy berusaha meronta-ronta dengan segenap kekuatannya. Namun, laki-laki bertubuh gemuk yang tinggi besar itu tak mau melepasnya. Ia membawa anak laki-laki itu menuju kamarnya dan membanting tubuh kurus Boy dengan keras ke atas ranjang di kamar pria itu.
Teriakan demi teriakan terus saja bocah itu lontarkan, tetapi sayangnya tak ada yang peduli kala mendengarnya. Boy terpaksa melayani nafsu bejat sang ayah angkat. Namun di tengah kesakitan itu, tiba-tiba, sebuah bayangan hitam muncul dan membuat Tuan Bambang ketakutan. Pria itu lalu berlari ke luar kamar dan berteriak sampai ia jatuh terjerembab di anak tangga.
Napasnya terdengar berat dan tersengal-sengal saat tubuhnya telah menekuk dengan kaki kiri dan tangan kiri yang patah. Boy bangkit dan merapikan pakaiannya. Ia melihat Tuan Bambang yang tak sengaja jatuh dari anak tangga.
"To-tolong aku, Nak…."
Tuan Bambang berusaha meminta belas kasihan dari Boy. Seketika itu juga Karina muncul bersama dua asisten yang telah menghabisi dua asisten rumah tangga dan dua penjaga rumah Tuan Bambang. Nyonya Andini juga muncul di belakangnya.
"Dasar pria sialan! Berani juga kamu melakukan tindakan keji itu sama Boy!" seru Nyonya Andini.
Sementara itu, Boy masih berdiri di lantai dua dan dihinggapi rasa ketakutan.
Nyonya Andini mengulurkan senjata api dari dalam tas mahalnya ke arah Boy. Anak muda itu perlahan melangkah turun.
"Kamu pasti heran, ya? Bagaimana bisa seorang pria wakil rakyat yang telah bersumpah akan menjaga kamu seperti anak kandung sendiri dan yang seharusnya melindungi kamu bagai seorang ayah, malah melakukan hal bejat itu, bukan?" Nyonya Andini sampai meludahi suaminya yang sudah tak bisa bergerak itu.
Boy hanya dia. Tetapi, ia memutuskan untuk meraih senjata api yang diulurkan dari tangan sang ibu angkat. Boy menoleh pada Karina kemudian.
"Lakukan apa yang isi hatimu kehendaki. Tak ada gunanya pria ini hidup juga di dunia ini," ucap Karina seraya duduk di kursi kulit yang mahal nan empuk di sudut ruangan dekat rak buku.
Boy menatap Tuan Bambang yang sedang menatapnya penuh permohonan belas kasihan. Ia memohon ampun pada Boy agar membiarkannya hidup. Namun sayang, Boy tampak tak ragu menarik pelatuknya. Hujanan timah panas menembus kepala dan dada Tuan Bambang.
__ADS_1
"Bereskan tempat ini!" titah Karina pada anak buahnya lalu bangkit berdiri.
"Kanjeng Ratu, apa kita jadi memberi pelajaran pada Narayan?" tanya Andini menahan Karina sebelum melangkah keluar rumah besar itu.
"Tentu saja, Andini. Aku tak mungkin menggunakan tubuh keriputmu itu, kan? Tapi belum saatnya juga kita mengunjungi Narayan. Tapi, aku mau kau tetap awasi gerak-gerik Narayan. Dan jaga kondisi putrinya Narayan dengan baik sampai aku kuasai tubuhnya," ucap Karina lalu melangkah pergi diikuti oleh Boy.
"Baik, Kanjeng Ratu." Andini mengangguk.
...***...
Boy terbangun kala dokter kejiwaan yang rutin mengunjunginya selama berada di rumah sakit jiwa itu datang untuk memeriksanya. Sudah tiga bulan belakangan ini dokter pria itu masih belum dapat mengkonfirmasi gangguan mental apa yang sedang Boy derita sehingga menempatkannya menjadi pasien yang berada di dalam pengawasan khusus. Dokter itu lantas meminta suster untuk memberikan obat jenis terbaru dengan dosis penenang lebih tinggi dari sebelumnya.
Malam itu Suster Ella datang membawa makan malam untuk Boy kala itu. Setelah memaksa meski dengan sedikit dorongan, akhirnya sepiring nasi dan lauk untuk pria yang menderita kejiwaan akut itu habis sudah. Tak lupa juga suster itu menyuntikkan obat tersebut, ia malah merasa takut dengan pemuda ini.
Boy masih terjaga dan melihat sang suster dengan senyum menyeringai menakutkan. Suster Ella segera membereskan semua peralatannya karena harus mengunjungi beberapa kamar lagi sebelum tugas jaganya habis malam itu.
Akan tetapi, belum juga dirinya keluar dari dalam ruangan, si suster tiba-tiba mendengar Boy yang duduk di atas ranjang tertawa terbahak-bahak. Tawa yang terdengar menakutkan dalam perilakunya. Membuat Suster Ella merasa bulu kuduknya meremang. Terpikir di kepala si suster untuk melaporkan semua ini kepada dokter jaga atas perubahan sikap mendadak dari Boy.
Tiba-tiba saja, bola mata pemuda itu membulat ketika melihat pintu yang terbuka. Ada sesuatu yang menakutkan baginya kala itu.
"Tolong saya! Tolong saya!" ucap Boy ketakutan dan meringkuk sambil menangis.
Perilaku Boy yang garang menakutkan tadi malah menjadi seperti anak kecil yang ketakutan. Melihat kejadian yang tidak wajar ini, sontak saja Suster Ella segera melangkah pergi dari sana. Ia harus segera mengatakan kepada dokter jaga yang sedang bertugas bahwa pasien ini sedang mengalami trauma yang dapat membahayakan dirinya sendiri.
"Aku harus minta bantuan. Ini sangat aneh," ucap Suster Ella.
...******...
__ADS_1
...To be continue ...
...See you next chapter!...