
Bab 27 PMM
Satu bulan berlalu semenjak Dikta hilang ingatan dan dirawat di rumah sakit, Tyo dan Raja berusaha mengembalikan ingatan Dikta dengan mengorek informasi. Pasalnya, Dikta benar-benar lupa ingatan. Padahal menurut Rio, ada kemungkinan Dikta tahu mengenai pembunuhan berantai di Mapala Merah.
Akan tetapi, ada yang berusaha menabrak Briana. Untungnya, Raja dan Rara menyelamatkannya. Raja langsung menghubungi Tyo dan Lani tetapi sosok Lani malah menghilang dan tak ada keterangan apa-apa dari gadis itu menurut keluarganya. Tyo telah mencarinya dengan segala cara, tetapi keberadaan Lani tak terlacak.
Satu-satunya celah di mana keberadaan Lani tidak mungkin disembunyikan adalah bertanya kepada kedua orangtuanya. Namun, saat Tyo dan Raja nekat bertanya dengan datang langsung menemui mamanya Lani, keterangan yang dia terima malah semakin membuyarkan mereka.
"Loh, Nak Tyo ini bagaimana? Si Lani itu sementara ini kos. Memangnya kalian nggak tau? Kalian kan temannya!" tukas Mamanya Lani.
"Ummmm, kenapa Lani harus nge-kos Bu?" tanya Tyo.
"Dia bilang katanya lagi banyak tugas. Jadi dia mau kos di dekat kampus. Biar waktunya nggak habis di jalan. Dia bilang katanya capek. Padahal Tante nggak suka kalau dia nge kos," imbuh wanita yang rambutnya digelung tersebut.
"Dia kos sendiri, Tante?" tanya Tyo lagi.
"Oh, ya nggak lah. Dia nge kos sama Briana sama Rara juga katanya. Mereka kan satu jurusan. Kok kalian bisa nggak tau, sih?" Mamanya Lani sampai mengernyit dahi seraya menyiram tanaman.
Raja dan Tyo saling tatap lalu keduanya tersenyum pada mamanya Lani. Mereka bingung harus bilang apa. Satu sisi jika mereka bilang kalau Lani berbohong, nanti Mamanya Lani khawatir. Tetapi, di satu sisi jika mereka tetap diam, nantinya mereka tak akan mendapatkan informasi tentang keberadaan Lani. Dan sepertinya Mamanya Lani tidak sedang berbohong.
"Maaf Tante saya bener-bener nggak tahu. Kita juga kebetulan lagi banyak tugas, Tante. Terus jadwal kuliah kami nggak sama ama Lani. Jadi udah lama juga nggak ketemu," ucap Tyo.
"Terus, kalian ngapain mau ketemu Lani?" tanyanya lagi.
"Saya mau minta laporan keuangan Mapala, Bu. Kami cuma komunikasi lewat telepon atau wa aja soalnya, tapi nomor Lani nggak bisa dihubungi."
"Masa sih? Apa Lani ganti nomer, ya? Tapi si Lani kos-nya juga belum lama, kok. Baru semingguan ini. Bentar ya Tante kasih tau alamatnya." Maminya Lani kemudian memberikan satu alamat.
Raja dan Tyo lalu pamit. Keduanya lantas menuju ke alamat yang diberikan ibunya Lani.
***
Raja dan Dikta memasuki sebuah jalanan yang sepi. Tak ada perumahan di sana, yang ada hanyalah kebun kosong.
"Sial si Lani! Nggak ada rumah di sini," sungut Tyo.
"Banyak rumah, Yo," sahut Raja.
"Mata elu picek, Ja! Mana rumahnya?"
__ADS_1
"Ada … rumah setan, hehehe." Raja memang melihat banyak penampakan di kebun kosong tersebut. Beberapa di antaranya menatap Raja dengan datar atau pun menyeringai.
"Kampret, luh! Jangan bercanda, deh!" seru Tyo.
Seperti telah diduga oleh Tyo, alamat yang diberikan Mamanya Lani palsu alias fiktif. Namun, tentu saja baik Tyo maupun Raja, tidak bisa menyampaikan informasi alamat fiktif tersebut pada ibunya Lani. Ditambah juga menghilangnya Lani dari kampus dan dari mata semua orang.
Jika mereka mengaku pada orangtuanya Lani jelas saja mereka bisa shock. Apalagi ayahnya Lani memiliki riwayat penyakit jantung. Ditambah dengan ibunya Lani yang temperamen. Mereka pasti akan menuntut Dikta karena melakukan penyekapan pada putri tunggalnya itu.
Raja menghela napas saat dilihatnya Tyo tertegun menatap hamparan kebun kosong yang angket tersebut.
"Ayo pulang aja, nanti kamu kesambet malah repot," cibir Raja.
"Minum es kelapa yang tadi kita lewati, ya? Haus gue!" pinta Tyo.
Raja menanggapi dengan anggukan kepala. Sesampainya mereka di penjual es kelapa hijau, keduanya kembali berbincang.
"Apa gue laporan aja ya, Ja, sama mamanya Lani? Terus gue mohon supaya mamanya nggak ngelaporin peristiwa itu karena makin panjang urusannya bisa sampe ke polisi?" tanya Tyo.
"Udah sampai ke Kak Rio ya sama aja polisi, dodol!" tukas Raja.
"Itu kan karena Dikta kecelakaan terus bawa-bawa si Rara adeknya Rio. Lah ini kalau mamanya Lani yang ngelapor urusannya beda!" seru Tyo.
"Dikta dong yang dituntut?" Raja menatap Tyo.
"Ya uda mending pulang dulu aja, yuk!" Raja menatap tajam pada sosok kuntilanak penunggu pohon kelapa di seberangnya.
Apalagi sosok kuntilanak tersebut melambaikan tangan seraya tersenyum genit pada Raja. Tak lama kemudian, mereka memilih pulang.
...*** ...
Seminggu berlalu. Lani masih belum juga muncul di kampus. Dia sama sekali tidak terlihat mengikuti kelas apa pun. Briana dan Rara juga mengaku tak melihat Lani. Di kantin universitas, Briana, Tyo, Raja, dan Rara berbincang seraya menyantap mie ayam.
"Kamu mau teh botol, Yang?" bisik Raja pada Rara.
"Boleh!" Rara mengangguk.
Tak lama kemudian, Raja bangkit untuk membeli teh botol. Tiba-tiba, Dikta datang dengan wajah tersenyum bahagia melihat Rara. Ia duduk di kursi Raja yang baru saja pergi.
"Kalian cuma bertiga?" tanya Dikta.
__ADS_1
"Ada Raja. Dia duduk di sini," sahut Rara menunjuk kursi yang Dikta tempati.
"Oh… terus si Lani ke mana? Kok, nggak keliatan?" tanya Dikta lagi.
"Elu kok nyariin dia, Ta?" selidik Tyo.
"Aku mulai mengingat nama kalian dan wajah kalian dari foto yang kamu kasih ke aku waktu itu," jawab Dikta.
"Kalau Raja sama Rara yang ngomong aku kamu, gue udah biasa dengernya. Tapi, kalau elu yang ngomong kok gue jijik ya," ucap Tyo melayangkan wajah smirk.
Raja kembali, "itu kursi aku. Bisa minggir!"
"Wah, nggak bisa Ja! Aku mau duduk samping Rara." Dikta tersenyum.
Raja hampir saja naik pitam, tetapi Rara bangkit.
"Kita aja yang pindah," kata Rara.
"Oke deh kalau kamu menghindari aku. Eh, aku mau tanya soal foto ini." Dikta menunjukkan selembar foto para anggota Mapala Merah yang berfoto bersama.
Raja dan Rara jadi menoleh karena penasaran.
"Siapa mereka? Kok, mukanya ditandain spidol merah?" Dikta menunjuk foto Ajeng, Raisa, dan Devan.
"Elu dapat foto ini dari mana?" selidik Briana.
"Dari laci kamar," sahut Devan.
Briana menatap ke arah Tyo lalu berbisik, "gue bilang juga apa. Dia yang ngelakuin ini."
Tyo mulai menatap serius. Apalagi ada tanda "X" merah yang sama di wajah Briana dan juga dirinya.
Sementara Rara berbisik pada Raja, "aku juga lihat foto kayak gitu di buku harian
Lani."
"Yang bener kamu?" bisik Raja.
Rara mengangguk.
__ADS_1
...*****...
...To be continued, see you next chapter!...