
Bab 44 PMM
"Tante nggak mau tahu ya, Yo, pokoknya kalau bisa kamu harus mendapatkan placenta bayi buat kosmetik artis sinetron yang bakal launching bulan depan!" seru seorang wanita bersanggul dan mengenakan kacamata itu.
"Tapi, Tante… kalau mau cari ibu hamil dan mau melahirkan ya sebaiknya ke rumah sakit bersalin, dong! Bukan mengandalkan berada di klinik ini!" seru Boy.
"Pakai otak kamu, bodoh! Ini klinik cuma buat klamufase aja! Selebihnya kamu sama Riana yang cari terus eksekusi di sini, paham?!" tegas Tante Salma.
"Riana anak baru itu? Emang dia bisa diandelin? Anak cupu gitu!" keluh Boy.
"Buktinya, dia bisa bekerja sama dengan puskesmas dan klinik Bidan Rina." Tante Salma tegas berucap.
Dia merupakan dokter umum di Rumah Sakit Keluarga dan pernah mendapat penghargaan karena rasa solidaritasnya untuk menyembuhkan dan merawat pasien yang ada di puskesmas desa. Namun, siapa sangka hal tersebut hanyalah kebohongan publik untuk mencari pencitraan yang baik.
"Oke, oke!" seru Boy.
Suara ketukan di pintu terdengar. Salah satu pekerja klinik tersebut memberitahukan kedatangan Bidan Rina di klinik baru tersebut.
"Suruh dia masuk!" pinta Salma.
"Halo, selamat pagi Dokter Salma! Bagaimana, apa Anda betah kerja di sini?" tanya Bidan Rina.
"Selamat pagi, Bu Bidan. Tentu saja harus betah dong, Bu! Saya akan nyaman kok kerja di sini," sahut Salma.
"Siapa ini? Apa dokter muda yang Anda bicarakan itu?" tanyanya.
"Oh iya, ini keponakan saya. Dia akan menjadi dokter muda di sini," akunya berbohong.
"Wah, bagus kalau begitu, saya ikut senang mendengarnya." Bidan Rina menepuk punggung milik Boy lalu pamit pergi, "saya tunggu di ruang penjamuan."
Tak lama kemudian, Anta dan Raja datang. Mereka membaur dengan para tamu undangan yang hadir.
"Hai, Dokter Salma!" sapa Anta seraya menyerahkan bunga pada Dokter Salma.
"Woah, Anta akhirnya kamu datang juga." Salma menerimanya dengan senyum merekah.
Boy dan Raja saling berpandangan. Mereka mengenal satu sama lain. Namun, Raja baru tahu kalau Boy sedang mengambil jurusan kedokteran. Mereka hanya saling tatap dan tak bertegur sapa. Akan tetapi, Raja merasa dia harus tetap waspada.
Seorang wanita datang ke dalam klinik dan menemui Boy. Pria itu membawanya menjauh. Raja penasaran dan mengikuti gerak-gerik Boy dan perempuan muda yang mengenakan bandana merah muda itu.
__ADS_1
"Maaf, saya harus menemui Anda di sini. Katanya Bu Dokter Salma punya klinik baru di sini, kan?" tanyanya.
"Tak apa Nadia. Apa yang ingin kamu bicarakan?" Boy meminta Nadia untuk duduk di hadapan meja.
"Terima kasih, Dokter. Ummmm, apa saya boleh konsultasi saja dengan Anda?" tanyanya.
"Hah? Memangnya nggak mau nunggu Dokter Salma aja?" tanya Boy.
"Ummm, begini saja saya mau konsultasi sama dokter Boy dulu," pintanya dengan tatapan menggoda.
Raja masih mencuri dengar dan tak habis pikir, bagaimana dengan mudahnya wanita muda itu percaya kalau Boy sudah menjadi dokter. Raja kembali fokus untuk "menguping" dengan saksama.
"Saya merasa sakit kepala, demam, sariawan parah sama sakit tenggorokan, apa saya kena flu, ya?" tanya Nadia.
Boy mengamati dengan saksama pasien yang bernama Nadia itu. Perempuan muda yang terlihat lugu itu berkulit kuning langsat dengan bentuk tubuh di bagian atas yang terbilang cukup besar untuk seusianya alias semok.
"Berapa umur kamu?" tanya Boy.
"Tujuh belas tahun," sahut Nadia.
"Kamu baru lulus SMA, ya?"
"Maaf sebelumnya kalau saya boleh tanya apa kamu pernah berhubungan dengan seorang pria manapun?" tanya Boy.
Nadia terdiam, lalu mengangguk pelan.
"Saya memang berkerja sebagai penjaga karaoke di bar. Ya, kadang merangkap wanita malam, lalu apakah ini penyakit sensitif itu, Dok?" tanya Nadia dengan wajah cemas.
Memang yang diderita Nadia seperti gejala awal penyakit HIV alias Human Immunodeficiency Virus. Meskipun kondisi Nadia terlihat mirip dengan penyakit flu.
"Apa yang kamu maksud itu HIV?" tanya Boy.
Seketika Nadia mengangguk cemas.
"Ciri-ciri HIV dini ini umumnya muncul dalam satu hingga dua bulan setelah penularan, namun dapat juga muncul lebih cepat bagi beberapa orang. Namun, tidak semua orang mengalami gejala awal ini setelah tertular HIV. Selain itu, karena gejala-gejala di atas juga serupa dengan gejala penyakit umum, sebaiknya periksakan dirimu untuk memastikan apakah ini gejala HIV atau penyakit lainnya," tutur Boy menjelaskan secara detail dan meyakinkan.
Tadinya dia pikir Nadia cocok dijadikan korban selanjutnya apalagi tubuh gadis itu benar - benar menggoda untuk disentuh. Berkali - kali tatapan Boy juga menuju ke arah bukit kembar yang terlihat menyembul itu.
"Lalu bagaimana pemeriksaan lebih lanjutnya, Dok?" tanya Nadia.
__ADS_1
Boy membuka tablet 10 inch miliknya. Ia mencari di jendela browser inernet pada tablet tersebut.
"Jadi gini, ya, Nad. HIV dapat bersembunyi di dalam tubuh dan tidak menunjukkan gejala apa pun hingga sepuluh tahun. Namun, ini bukan berarti virusnya hilang dari dalam tubuh. Jika tidak diobati, HIV dapat berlanjut ke tahap tiga bahkan jika tidak muncul gejala apa pun. Inilah mengapa deteksi dini sangat penting. Dengan pengobatan HIV yang tepat, seorang penderita HIV dapat tetap hidup normal dan sehat dalam jangka waktu panjang." Boy melirik ke arah tablet kala membaca artikel tersebut.
"Bagaimana caranya mendeteksi dini itu, Dok?" tanya Nadia lagi.
"Yang pertama, ada tes asam nukleat bertujuan mendeteksi adanya virus HIV dalam darah. Tes ini dapat mendiagnosis HIV sekitar sepuluh hari setelah pasien terinfeksi. Akan tetapi pemeriksaan asam nukleat sangat mahal dan tidak rutin dilakukan sebagai tes skrining HIV, kecuali pasien berisiko tinggi terpapar HIV dan mengalami gejala awal infeksi," tutur Boy menjelaskan.
"Yah…, kalau yang mahal belum tentu saya mau, Dok, sayang tau duitnya," sahut Nadia.
"Ada juga sih, tes antibodi, tes ini bertujuan mendeteksi antibodi, yakni protein yang dihasilkan oleh tubuh untuk melawan infeksi HIV. Antibodi ini dihasilkan oleh tubuh dalam dua sampai delapan minggu setelah seseorang terinfeksi," jelas Boy.
"Saya pakai tes antibodi aja deh, Dok, bisa dilakukan di sini, nggak?" tanya Nadia.
"Gak bisa dong, Nadia… kamu harus ke rumah sakit besar," sahut Boy.
"Ummm, ya udah kalau gitu Dokter Boy bisa antar saya ke rumah sakit besar itu nggak, Dok?" tanya Nadia.
Perempuan muda itu malah beranjak mendekat dan menggenggam tangan Boy dan membawanya ke dekapannya.
Boy yang terkejut langsung tersentak dan mencoba untuk menepis tapi sensasi hasrat liarnya mendorongnya untuk membiarkan Nadia merayunya.
"Baiklah kalau begitu, saya antar kamu besok pagi ya ke rumah sakit besar yang paling terdekat, mau?" tanya Boy.
"Mau banget, Dok. Kalau begitu saya izin sama bos saya dulu kalau saya nggak bisa masuk nanti malam. Makasih ya Dokter Boy untuk semuanya," ucap Nadia.
"Iya sama sama. Nanti saya kasih kamu resep vitamin dan beberapa obat lainnya buat atasi gejala kamu, ya," ucap dokter Boy.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Dokter," ucap Nadua yang tanpa malu - malu memeluk Boy apalagi paras tampan pemuda itu memang langsung membuatnya suka dan menginginkan pria itu.
Nadia lalu pamit dan beranjak pergi dari ruangan tersebut. Raja segera bersembunyi di balik tong sampah yang tingginya selututnya.
"Hmmm, karena Tante Salma banyak dapat orderan, kayaknya nggak ada salahnya juga gue pake aja tuh Nadia. Biar aja si pasien ikut ke infeksi ama penyakitnya Nadia, hihihi." Boy tertawa puas karenanya.
"Wah, bajingan juga ini cowok. Kak Anta harus tahu tentang klinik ini dan juga temennya si Dokter Salma itu," gumam Raja lalu mencari Anta untuk membicarakan hal tersebut.
...******...
...To be continued, see you next chapter!...
__ADS_1