PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 35 - Di Rumah Sakit


__ADS_3

Bab 35 PMM


Malam itu di kamar kos Lani yang baru, ia tertidur bersama Briana di kasur busa berukuran king tanpa dipan. Gadis itu terbangun dari tidurnya. Tenggorokannya terasa tercekat dan perih seperti ada yang mengganjal. Dia mencoba meraih sebotol minuman di lemari pendingin berukuran mini di sudut kamar kos-nya.


Setelah selesai meneguk air dingin, Lina menutup pintunya. Tiba-tiba, sosok hantu perempuan yang mengenakan daster putih yang lusuh tampak melompat bolak-balik berulang kali di dekat jendela.


Sosok hantu kuntilanak itu melompat dengan tertawa khas ala kuntilanak pada umumnya.


Lani ingin menggerakkan tubuhnya untuk rebah kembali, tetapi rasanya sulit dan kaku. Kini sosok itu melihat kalau dirinya tengah diawasi. Wajah yang tertutup rambut berantakan itu mendekatkan diri ke kaca jendela.


"Ja-ja-jangan ganggu aku, pergi!" Lani memohon dengan bibir gemetar.


Hantu kuntilanak itu lantas mendekat. Keduanya sudah saling berhadapan dengan jarak satu centimeter. Lani sampai refleks melayangkan tangan kanannya memukul si hantu perempuan itu.


"Jangan ganggu aku, Sa…."


Seketika itu juga sosok hantu itu menghilang. Lani merasa bisa bergerak lagi dengan tubuh memutar ke kanan dan ke kiri seraya merotasikan bola matanya melihat sekeliling. Akan tetapi sosok kuntilanak tadi sudah benar-benar menghilang.


Lani mencoba merebahkan tubuhnya dan berbaring ke arah Briana. Tiba-tiba, wajah Briana yang tertutup rambut berantakan itu sudah ada di hadapannya, mengejutkannya.


"Aaaaaaaaaaaa, jangan ganggu aku, Sa!" pekik Lani.


"Lan! Ini gue! Elu ngigo, ya?" kata Briana sembari menyibak rambutnya, lalu dia mencoba menenangkan Lani.


"Gue … gue tadi lihat Raisa, Bri," ucapnya.


"Ah, yang bener luh?! Si Raisa ngapain datang ke sini. Dia kan belum tahu kalau kita pindah ke sini," ucap Briana.


"Ya, pokoknya dia pakai daster putih lusuh kayak kuntilanak gitu," ucap Lani panik.


"Itu kuntilanak kali! Di pohon nangka yang di belakang sana katanya sarang kuntilanak. Makanya kos di sini murah. Gue udah bilang sama elu kalau mau ngumpet di sini harus siap mental," kata Briana seraya menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


Sosok kuntilanak yang Lani lihat tadi masih melompat ke di luar jendela mengejutkannya.


"Duh, dia nongol lagi!" Lani menyusul Briana kemudian.


Sementara itu, di luar rumah kos Lani dan Briana, sosok kuntilanak Silla memanggil kuntilanak yang masih melompat di samping jendela kamar kos Lani.


"Masih ngelompat aja kamu. Belum bisa terbang juga?" tanya Silla.

__ADS_1


Sosok kuntilanak itu menggelengkan kepala.


"Ya udah lompat yang bener sampai bisa terbang. Minggu depan aku ke sini lagi, ya!" Silla lalu pamit pergi.


...***...


Raja dan Rara menemukan Tyo tergeletak bersimbah darah di lantai rumahnya. Keduanya bergegas menolong pria itu.


"Masih hidup, Ra!" seru Raja saat merasakan denyut nadi di leher Tyo.


"Aku hubungi Kak Rio sama ambulans, ya?" ucap Rara.


"Hubungi Kak Rio aja! Takut ambulans datang kelamaan. Kita yang bawa Tyonje rumah sakit." Raja lantas mencoba menggendong Tyo dan membawanya masuk ke dalam mobil milik ayahnya itu.


"Heran banget ini tetangga kanan kiri sepi apa belum pada pulang apa kosong, ya?" gumam Rara seraya membantu Raja membukakan pintu mobil.


Gadis itu lalu menghubungi Rio ketika Raja melajukan mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit, Tyo langsung diberi penanganan oleh pihak medis Rumah Sakit Keluarga. Selama belum bisa menghubungi pihak keluarganya Tyo, maka Rio bertanggung jawab terhadap pasien sehingga pasien lebih cepat ditangani.


Rio langsung mengerahkan beberapa anak buahnya untuk penyelidikan lebih lanjut. Apalagi Rara dan Raja punya seseorang yang mereka bisa curiga. Malam di mana keduanya menemukan tubuh Tyo yang terluka, mereka melihat Rangga dan Dikta yang kebetulan berada di sana. Maka, Rio akan melakukan pemanggilan terhadap kedua orang tersebut untuk menanyakan alibi kedua lelaki itu.


Raja dan Rara akhirnya memutuskan untuk menginap dan menjaga Tyo malam itu. Raja bangkit menuju meja kabinet samping ranjang Tyo demi untuk bisa meraih botol minum.


"Udah jam setengah dua belas malam gini, emang ada makanan apa yang bisa dimakan?" tanya Rara.


"Ada lah, namanya rumah sakit pasti ada warung yang buka dua puluh empat jam. Ummm, mungkin juga kayaknya ada tukang nasi goreng. Mau nggak aku beliin?" tanya Raja lagi menawarkan.


"Boleh deh. Ummm, tapi kalau gitu kayaknya mending aku ikut aja. Habisnya aku takut," kata Rara.


"Lha, terus yang jagain si Tyo siapa?" tanya Raja menunjuk Tyo.


"Ah, nanti kita minta jagain suster aja. Tuh, lagian su Tyo masih belum sadar," kata Rara memberikan pembenaran.


"Hmm ... ya udah deh, ayo beli makan!" ajak Raja.


Raja sempat menoleh ke arah Tyo yang masih belum sadarkan diri pasca tindakan operasi di atas ranjangnya. Pemuda itu memastikan kalau kondisi pemuda itu akan baik-baik saja. Raja dan Rara lalu melangkah menuju ke luar rumah sakit. Sayangnya, lift rumah sakit saat itu ternyata dalam perbaikan sehingga Raja dan Rara harus turun melewati tangga darurat.


"Nih, biasanya kalau udah kayak gini ada aja hantu iseng yang datang buat gangguin," bisik Raja.

__ADS_1


"Ya udah jangan dibahas-bahas biar nggak ada yang dateng! Aku takut, nih," sahut Rara.


Sedetik kemudian setelah Raja berucap, setibanya mereka di lantai dua, dari arah lorong koridor terdengar suara ranjang yang didorong oleh dua orang suster yang melintas di depan mereka. Penasaran dengan suara tersebut, Raja pun keluar dan melihat ke arah luar dengan membuka pintu tangga darurat.


"Mau ngapain, sih? Tujuan kita kan ke lantai satu," bisik Rara.


"Aku mau liat, Ra. Kok, kayaknya penasaran gitu," jawab Raja dengan berbisik juga.


Ternyata pasien yang didorong menggunakan ranjang tersebut telah meninggal dunia dan sedang dibawa menuju kamar jenazah di lantai satu menggunakan lift barang yang ada di belakang.


Tangan kanan mayat itu sempat jatuh dan ke luar dari selimut yang menutupi tubuh mayat tersebut. Terlihat permukaan kulit yang gosong dan melepuh bahkan mengelupas seperti korban terbakar.


"Astagfirullah," ucap Rara yang ketakutan kala melihat tangan mengerikan mayat tersebut.


Bulu kuduk pun seakan merinding dan takut kala melihatnya.


"Udah yuk, cari nasi goreng aja!" ajak Rara menarik ujung jaket Raja.


"Iya, iya."


Raja mengangguk lalu membawa gadis itu kembali ke dalam tangga darurat menuju ke lantai satu lalu melangkah ke depan rumah sakit. Tampak lobby rumah sakit tengah ramai dengan beberapa orang yang baru saja mengalami kecelakaan kerja.


Pabrik petasan yang berada lima kilometer dari rumah sakit mengalami kecelakaan dan meledak. Beberapa karyawan terluka dan ada tiga orang yang dinyatakan tewas.


"Ja, kita harus menghindari aja, deh. Aku takut kalau salah satu yang meninggal nanti dateng ke kita," bisik Rara.


"Pura-pura nggak liat aja, Ra. Yuk, ke depan sana cari nasi goreng!" ajak Raja.


Setelah memesan dua nasi goreng mereka menyantapnya. Keduanya bertemu dengan seorang petugas keamanan rumah sakit, yang sedang beristirahat sambil merokok. Pria itu duduk di samping Raja. Asap rokok itu sampai membuat Rara terbatuk karena tak sengaja menghirup asapnya.


"Pak, tolong matiin rokoknya!" pinta Raja.


"Oh, kalau pacarnya alergi asap rokok, mendingan jangan duduk di sini! Ini kan area terbuka, wajar kalau ada yang ngerokok," sahutnya kasar dan tak mau menghargai Rara dan Raja.


Tiba-tiba, ada tangan yang kulitnya gosong menghitam, mematikan puntung rokok di bibir si satpam.


"Loh, kok rokok gue mati?" gumamnya.


Ia lantas meminta korek gas pada si penjual nasi goreng. Sementara Rara dan Raja langsung menunduk berpura-pura tengah asik melakukan pertandingan permainan roblox di ponsel masing-masing.

__ADS_1


...*****...


...To be continued, see you next chapter!...


__ADS_2