PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 43 - Tekad Tyo


__ADS_3

Bab 43 PMM


Tyo terus mengganggu hubungan Lani dan Boy yang tanpa jeda itu. Ia malah merasa Lani terlalu bucin pada Boy. Hari itu, ia ingin membahasnya dengan Briana.


"Bri, gue mau ngomong ama elu!" Tyo menarik tangan Briana di kampus dan membawanya pergi ke koridor belakang.


"Apaan sih?" Briana mencoba mengelak.


"Ini tentang Lani. Gue ngerasa si Boy kasih pelet ke Lani. Gila, nurut banget si Lani ama Boy!" keluhnya.


"Biarin aja, sih! Lani tuh dulu tertekan sama Dikta, sekarang dia happy kali sama Boy," sahut Briana.


"Nggak dia nggak happy! Gue bisa lihat matanya nggak happy! Cuma dia kayak orang ke hipnotis, Bri!"


"Ngaco lu! Gue mau masuk kelas!" kata Briana dengan ketus.


"Bri, bantuan gue dulu lah!" pinta Tyo.


"Elu kenapa, sih? Suka elu sama Lani? Oh iya, elu kan selalu suka sama bekas temen sendiri, iya kan?" tuding Bri.


"Bri… Dikta yang nyuruh gue jagain Lani. Gue dukung karena gue rasa dia mau insyaf. Dia juga lagi minta maaf sama mantan-mantannya," ucap Tyo.


"Hah? Elu berdua kenapa, sih? Oh, gue ngerti karena elu takut mati kan setelah ada yang mau bunuh elu kemaren? Dikta juga takut mati, gitu? Hahaha, kocak elu pada!" tegas Briana.


"Terserah deh elo mau mikir apa. Yang jelas tolong bantu gue buat jauhin Lani sama Boy. Ada yang bikin gue nggak suka dari itu cowok!" pinta Tyo.


Briana menatap kedua matanya tajam.


"Elu nggak pernah sekhawatir ini deh sama gue." Briana lalu pergi begitu saja meninggalkan Tyo.


"Bri! Bria!"


Seruan panggilan Tyo tak digubris oleh Lani. Perempuan berdarah blasteran itu pergi begitu saja.


***


Tyo kembali mengikuti Lani dan Boy. Sampai akhirnya membuat hubungan cinta Lani dan Boy yang baru berumur kurang dari setengah umur pohon jagung, langsung menukik ke kondisi kritis.


"Yo, stop deh ganggu gue sama Boy! Elo pasti disuruh Dikta buat ngawasin gue. Iya, kan?" tuding Lani.


"Nggak, kok. Pede banget lu! Si Dikta malah dia udah nggak kepingin tau


lagi soal elo," sahut Tyo berbohong.


"Terus, ngapain sih elu ngebuntutin gue ke mana- mana? Ganggu urusan gue sama Boy juga?" tanya Lani.

__ADS_1


"Ini bukan urusan gue bantuin hatinya si Dikta, ya. Tapi ini udah urusan hatinya gue," sahut Tyo akhirnya.


"Maksud elu dengan hatinya elu?" Lani menatap tak percaya.


"Lho, gue kan sekarang jomblo. Boleh dong kalau gue mulai pedekate sama elu," jawab Tyo tenang.


"Hah?" Lani ternganga, "Dasar lo, sinting!"


Lani mencoba pergi dari Tyo, tetapi pemuda itu menahannya.


"Gue tahu kalau elu lagi mabok apa make obat, makanya ngomong elu ngawur. Lepasin gue, Yo!" pinta Lani.


Tyo tadinya mau merengkuh Lani ke dalam pelukannya. Namun, ia akhirnya melepas tangan perempuan itu.


"Jauhi dia, Lan! Please… Boy bukan orang baik," lirih pemuda itu.


"Elu pikir elu orang baik? Gue juga bukan orang baik." Lani pergi meninggalkan Tyo.


Dari kejauhan, Boy melihat adegan tersebut. Tak lama setelah kejadian itu, ganti Boy mencegat Tyo. Begitu Tyo memasuki gerbang parkir dan hendak pulang. Pria itu segera menghadang dengan berdiri di tengah jalan. Dengan kedua rahang terkatup keras dan raut wajah yang terlihat jelas sedang menahan marah, Boy mendekati pintu pengemudi.


"Turun luh!" serunya.


"Sori, gue buru-buru," ucap Tyo menjawab tenang.


"Kenapa elu selalu ngikutin Lani ke mana- mana? Elu mau deketin dia setelah lo bubar sama sohibnya, gitu?" terka Boy.


Seketika kedua mata Boy terbelalak mendengar itu, "Bohong!" desisnya tak percaya.


Tyo tersenyum lebar dan mengedipkan satu matanya. "Buy one get one free, why not?" Dia tersenyum lagi.


Sedetik Boy terpana. Seketika kepalan tangannya melayang ke arah wajah Tyo. Namun, pemuda itu berhasil menangkap tinju itu dan menariknya mendekat.


"Elu mau ribut ama gue? Di luar lah jangan di kampus!" bisiknya.


Boy mendesis kesal.


"Gue bilang jangan di kampus. Minta nomer HP gue sama Lani!" Dihempasnya kepalan tangan Boy sampai cowok itu terdorong mundur beberapa langkah bahkan hampir tersungkur.


"Sialan!" maki Boy.


"Gue tunggu tantangan elu, Mas Boooooyyy!" Tyo meledek pria berpenampilan necis itu.


Setelah sesaat menatap Boy dengan pandangan tajam, Tyo mulai menginjak gas dan membawa mobil sedan hitam bututnya pergi dari situ.


Keesokan harinya, Lani datang ke sebuah ruko yang akan dijadikan klinik milik tantenya Boy. Namun, ada keanehan yang terjadi. Lani dilarang masuk oleh Boy.

__ADS_1


Pria itu dengan kesal menceritakan tantangan dari Tyo. Sampai akhirnya Boy ingin mengusulkan pada Lani agar hubungan mereka menjauh sementara. Tidak ada yang bisa dilakukan Lani selain menerima usul itu. Lani hanya berharap keinginan Boy untuk menjauh benar-benar hanya sementara, tidak untuk seterusnya.


Lani sempat berpikir kalau Tyo lah penyebab hubungannya berpisah sementara dengan Boy. Padahal, pria itu sedang bekerja keras dengan kegiatan jahatnya. Ia mengumpulkan korban karena banyak permintaan yang berkaitan dengan bisnis ilegalnya.


...***...


Satu minggu kemudian.


"Ja, anterin Kak Anta buat pembukaan klinik Dokter Salma, yuk!" pinta Anta.


"Kayaknya pernah denger. Kayak penyanyi gitu, deh," ucap Raja.


"Au amat lah! Ayo anterin!" pinta Anta.


"Lagian Kak Arya bukan jadi suami siaga buat antar istri ke klinik malah pergi-pergian mulu!" keluh Raja.


"Heh, yang ngajak Kak Arya itu yanda tau! Berani ngelawan yanda?" tantang Anta.


"Oh, kalau begitu nggak berani. Tapi, nanti mampir rumah Rara, ya. Dia mau dianter beli buku juga katanya," sahut Raja.


"Oke, biar sekalian aja kalau gitu!" Anta lalu meraih tas selempangnya lalu masuk ke mobil yaris hitam yang akan dikendarai Raja.


Di perjalanan menuju ke klinik, Raja melihat sosok Rangga tengah melakukan tindakan pemaksaan meminta uang pada anak murid SMP kala itu.


"Wah, ini bocah emang nakal banget ya. Si Adam udah aku suruh ngawasin dia malah dilepas gini aja," sungut Raja.


Ia menepikan mobil dan turun. Raja bergegas menghampiri Rangga.


"Mau ngapain kamu di sini, Ga? Mau aku laporin juga ke Kapten Rio," tantang Raja.


"Eh, Kak Raja. Kita lagi main kok, ya Dek?" Rangga mencoba membela diri tetapi anak SMP itu hanya menunduk ketakutan.


"Aku nggak percaya! Kamu lagi malak, kan?" tuding Raja.


"Enggak kok. Gue lagi tukar duit, Kak," sahut Rangga berbohong.


"Pulang semuanya sana! Awas kalau aku lihat kamu malak anak SMP lagi, habis kamu ama aku!" ancam Raja.


Anak SMP tadi bergegas pergi dengan berlari kencang. Sementara Raja masih mencengkram kerah belakang leher Rangga bagai anak kucing.


"Gue yang bakal habisin elu," lirih Rangga.


"Kamu bilang apa barusan?" tanya Raja memastikan.


"Enggak, kok. Nggak ngomong apa-apa!" sahut Rangga.

__ADS_1


...******...


...To be continued, see you next chapter!...


__ADS_2