
Ding dong ding dong
Aku berjengit kaget, antara sadar dan tidak sadar ku alihkan pandanganku pada jam dinding tua yang sudah dengan teganya membangunkanku di senin yang membosankan ini.
Senin?
Ah ya, ini hari senin, itu artinya aku harus bergegas bangun dan menjemput pundi-pundi rupiah ke kantor agar bisa ku jadikan makanan untuk kulit maupun perut yang setiap hari ingin dimanjakan.
Dengan malas-malasan aku bangkit dari tempat tidurku, meregangkan tubuh yang kaku, hingga kakiku mendarat kembali di bumi.
Aku lirik pelan handphone yang ku charge selagi aku tidur, kosong! Tidak ada pesan atau missed call dari siapapun.
Aku menggeram kesal, sekali lagi Galang menghilang tanpa sepatah kata apapun.
Apakah dia tidak memikirkanku yang disini cemas menunggunya?!
Hatiku kembali dihujani rasa kecewa, padahal aku sudah sering seperti ini, tapi aku yang tidak mau belajar dari pengalaman.
Baru satu langkah aku meninggalkan peraduan, lagu secret love song mengalun dari ponselku.
Ada telfon masuk!
Dengan kecepatan yang lebih cepat dari kecepatan cahaya, aku meraih ponselku tanpa melihat siapa yang telpon, menerima panggilan itu.
“Kanayaaaaa” bahuku merosot, harapanku pupus sudah.
Ini suara Dewi, bukan orang yang ku harapkan.
Dengan malas aku kembali duduk, berbincang dengan Dewi saat ini mungkin bisa mengembalikan moodku yang hancur berantakan sejak kemarin.
“Halo? Baru bangun ya?”
“Hmmmm”
“Ayo kumpulin nyawa kamu aku mau ngomong sesuatu” pintanya, aku langsung menegakkan badanku.
“Iya Dewi! What’s up?” dia tertawa riang mendengar responku, sangat berbanding terbalik dengan aku yang murung.
“I have a surprise for you!” aku menjauhkan ponsel dan melihat tanggal hari ini, bukan ulang tahunku karena aku baru saja berulang tahun kan?
“Apa?”
__ADS_1
“Video call yuk, biar kamu bisa lihat sendiri”
Tiba-tiba panggilan kami jadi panggilan video, aku melihat Alan yang sedang menangis, karena ternyata Dewi memakai kamera belakang, aku kebingungan.
“Ihh sayang, jangan nangis dulu, ada Naya, kita mau ngasih tau Nay kan?” katanya pada Alan, ku lihat Alan menghapus air matanya dengan kasar, dan berusaha tersenyum ke arah kamera yang sedang di pegang Dewi.
“Good Morning Aunty!!!” teriak mereka berdua dengan Alan yang menunjukkan sebuah testpack lengkap dengan foto hitam putih dengan bulatan kecil sebesar biji kacang hijau.
Mataku membola, tanpa sadar aku mendekatkan layar ponselku untuk memastikan apa yang aku lihat, dan itu benar, dua garis, yang artinya positif, Dewi positif hamil!
Seketika saja aku langsung kegirangan, membuat mereka berdua menertawakan kehebohanku.
“Aaaaaahhh selamat ya Dewi dan Alan, you’ll be parents! Aaaah! I can’t believe this!” ucapku senang.
Mereka berpelukan, entah yang ke berapa kali.
“Terimakasih Aunty!” jawab Dewi dengan nada menggemaskan, tak terasa air mataku menetes, sungguh, Dewi sudah mengharapkan ini terjadi sejak mereka berencana menikah, dan Allah mengabulkannya hanya dalam empat bulan pernikahan.
“Yahh, Aunty kok nangis sih, jangan nangis dong, nanti mama aku ikutan nangis” ucapnya dengan menirukan suara anak kecil, seolah-olah janin itu yang berbicara.
“Berapa usia si kecil?” tanyaku sembari menghapus air mataku dan kembali tersenyum ke arah kamera.
“Baru lima minggu, do’ain kami sehat selalu ya?”
Keduanya mengangguk senang, Alan mengecup kening Dewi dengan sayang, air mata itu kembali menetes dari mata tajamnya, itu terlihat manis dimataku untuk ukuran pria sedingin Alan.
“Yaudah aunty, aku mau di jenguk papa dulu ya, aunty kerjanya yang semangat” setelah mendengar itu tanpa salam dan sapa sambungan kami terputus, sialan mereka berdua, kini aku jadi membayangkan apa yang akan mereka lakukan setelah ini.
Nasib singlelillah!
Bukannya mandi, aku malah merebahkan tubuhku pada kasur yang setiap malam menjadi tempatku merebahkan segala kepenatanku.
Aku juga ingin di cintai seperti itu, seperti Ayah yang mencintai Mama sepanjang waktu, seperti Alan yang menumpahkan kasih sayangnya pada Dewi setiap saat, aku juga ingin di perlakukan seperti itu!
Teringat puisi romantis karya Sapardi Djoko Damono yang ku baca malam tadi.
...Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,...
...Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu....
...Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,...
__ADS_1
...Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada....
Betapa romantisnya beliau merangkai kata-kata itu, ku tebak, pasti itu untuk seseorang yang sudah mampu membuatnya gila karena cinta yang terlalu membara yang tak pernah padam meski banyak hal yang ingin membuatnya padam.
Beruntung sekali seseorang yang memiliki pasangan seperti mereka semua, seperti Pak Sapardi, seperti Ayah, ataupun seperti Alan yang mampu membuat pasangannya menjadi orang yang paling bahagia dan beruntung di dunia ini.
Selain hujan, aku suka karya sastra seperti puisi dan novel, sesekali aku juga menulis puisi sebagai refleksi dari pikiran yang penuh agar sedikit longgar dengan menuangkannya melalui kata dan tinta yang menggores lembaran kertas.
Aku? Jangankan beromantis dengan seseorang, pasangan saja tidak punya.
Aku jadi teringat dengan pria masa laluku, juga Galang. Sekumpulan manusia rumit yang mampu membuat hidupku tidak karuan.
Aku kembali duduk dengan malas-malasan, ku raih note kecil yang sudah satu paket dengan pena yang ku kaitkan pada spiral note itu.
Dengan duduk menekuk lutut, aku menarik pena itu keluar, dan membuka tutup pena kemudian membuka lembaran demi lembaran tempat aku menumpahkan segala rasaku.
...Salahkah aku berharap?...
...Jika tidak, tolong biarkan....
...Tapi jika aku salah, bisakah aku dapat kesempatan?...
...Jika tidak, tolong jangan beri harapan....
Aku tutup kasar buku kecil itu, aku marah, aku merasa di permainkan. Kenapa kisahku selalu seperti ini, berujung pada ketidakpastian. Aku hanya ingin bahagia seperti yang lain. Tapi seakan ada yang menyadarkanku, bahwa persepsi itu salah.
Memangnya semua yang berpasangan pasti bahagia? Memangnya pasangan adalah sumber kebahagiaan? Aku seakan lupa, pasanganku kelak juga manusia, dia bisa saja salah dan mengecewakanku suatu saat nanti.
Kecuali jika pasanganku nanti jelmaan malaikat, tapi kalau malaikat pencabut nyawa atau penjaga neraka? Ihhh seram juga.
Sebasurd itu pikiranku di pagi hari yang tidak cerah-cerah banget ini.
Tok tok tok
“Sayang?! Mbak sudah bangun kan, Nak?! Sudah jam enam loh ini” teriak mamaku dari balik pintu, tak terasa sudah lebih dari tiga puluh menit aku termenung memikirkan hal yang tidak jelas.
“Sudah Mam, I’ll be ready soon!” setelah mengatakan itu aku memilih untuk mandi sebelum pikiranku yang tidak jelas kembali menguasaiku dan membuatku terlambat pergi ke kantor.
Sudah ku putuskan, aku tidak akan menunggu Galang, biar dia yang kembali padaku. Ya, lagi pula kami hanya dua orang dalam satu perasaan yang sama, bukan hubungan yang sama, tidak ada komitmen, mungkin itu yang membuatnya tidak menjadikanku prioritasnya.
Aku memang bodoh!
__ADS_1
TBC