
“Masak apa?” aku terkesiap saat dia memelukku dari belakang terlebih lagi nafasnya yang terasa menggelitikk tengkukku.
“Kamu duduk aja sana, jangan ganggu” halau ku tanpa menjawab pertanyaan basa-basinya itu.
“Apakah ini disebut dengan mengganggu?” tanyanya lagi dengan tangan yang mengusap perutku lembut.
“IYA, udah sana aku mau lanjutin ini” ketusku, dia tertawa dan mengeratkan pelukannya padaku, seperti tidak ingin melewatkan bermanjaan seperti ini barang sejenak.
“Mas ihhh, sana!” jeritku yang bertambah kesal karena ia tak kunjung menuruti permintaanku.
“Tunggulah sebentar Nay, Mas masih rindu” aku termenung, serindu itukah dia padaku?
“Iya, tapi bagaimana dengan ini, kita belum sarapan kan Mas?” ucapku dengan sedikit lembut.
“Baiklah baik, Mas tunggu di meja makan ya?!” aku mengangguk dengan rasa lega bisa terlepas darinya.
Sejak saat dia memilihku dari pada wanita itu, aku menurut saat Mas Panji membawaku pulang ke rumah kami.
Aku tidak tau kenapa jadi selemah ini jika menyangkut tentangnya, tentang rumah tangga kami, selain karena khawatir padanya yang baru saja sembuh, aku juga tidak bisa menampik ada rasa lain dalam diri ini yang selalu ingin bersamanya.
“Makanan sudah siap” ucapku sembari menata masakan di meja, dia hanya tersenyum.
“Kelihatannya enak” pujinya tak henti menatap kagum makanan buatanku.
“Iya dong?! Siapa dulu yang bikin” ucapku berusaha mencairkan suasana dengan nada kaku.
Aku menatapnya yang terlihat bingung dengan situasi aneh yang kuciptakan. Setidaknya aku sudah berusaha membuat semuanya tampak lebih baik seperti sebelum masalah ini datang.
Tak terasa tanganku di genggam, “Maaf ya Nay sudah membuat semuanya jadi tidak nyaman”
Perkataan sederhana itu mampu membuat buliran-buliran itu bergumul di pelupuk mata, sungguh aku membenci sikap super sensitif ini.
Mas Panji bangkit dan memelukku.
“Semuanya akan baik-baik saja Nay” Aku juga berharap itu terjadi.
Kali ini aku membalas pelukannya, menyalurkan semua kegundahanku selama ini padanya, semuanya bertambah nyaman saat ia mengusap punggungku pelan.
Krrrukk krrukkk
Aku menatapnya yang kini sudah dengan senyuman lima jari karena suara asing itu.
“Eemmh itu, Iya aku lapar, hehe” ucapnya dengan canggung.
“Hahaha ” tawa ku pecah untuk pertama kalinya. Itu semakin membuatnya menggaruk tengkuk yang aku yakini tidak gatal.
“Bisa kita makan sekarang Nay?” disela tawa aku mengangguk dan mengambilkan makanan untuknya.
Kami makan dalam diam, bukan karena apa, tapi aku yang menahan tawa dan dia yang masih malu adalah penyebab utamanya.
“Ketawa aja kalau mau ketawa Nay” seketika tawaku meledak lagi, membuatnya cemberut seperti anak kecil.
Tapi setelahnya tawaku redup saat melihatnya bertopang dagu memandangku dalam, kini aku yang malu.
“Jangan dilihatin begitu dong?!”
__ADS_1
“Kenapa? Kamu cantik saat tertawa seperti tadi”
Aku melanjutkan makanku tanpa memperhatikannya yang masih menatapku.
“Makanan ini selalu enak, kamu pandai memasak” aku tersipu mendengar pujian itu.
“Terimakasih”
“Harusnya aku yang mengatakan itu, aku berterimakasih karena kamu sudah mau memasak makanan enak ini”
Aku menatapnya, dia tersenyum, meletakkan peralatan makan itu sejenak dan menggenggam tanganku yang bebas di meja.
“Aku juga seharusnya berterimakasih karena kamu mau mengandung buah cinta kita, terimakasih Naya”
Aku mengangguk kaku, mendengarnya berterimakasih dengan tulus atas apa yang memang sepantasnya aku lakukan membuatku kembali berpikir.
Apakah aku sudah sangat keterlaluan dengannya? Atau bahkan dengan anak kami yang ada dalam perutku ini?
Aku hampir saja memiliki niat untuk menggugurkannya, hanya karena masalah ini.
Iya, aku sudah keterlaluan!
Usapan lembut di pipiku menyadarkanku bahwa aku masih berada di hadapan Mas Panji yang kini membingkai wajahku dengan tangannya.
“Berhentilah menangis Nay” aku hanya mengangguk, dia kembali tersenyum dan mengikis jarak diantara kami.
Cup
Hangatnya bibir itu menyapa bibirku yang akhir-akhir ini selalu meluapkan apapun yang aku rasakan dengan mudah tanpa memikirkan konsekuensi ucapan ngawur dari mulutku.
Dari jarak sedekat ini, aku bisa merasakan hangat nafasnya.
“Kamu tidak salah, hanya saja kita sedang berada dalam keadaan yang membuat haluan kita sempat goyah, ini hanya masalah komunikasi, benar?”
Aku mengangguk membenarkan.
Komunikasi kami benar-benar buruk, Mas Panji si pemendam masalah dan aku si penyimpul masalah tanpa tau kebenarannya.
Kami melanjutkan makan dengan khidmat, Mas Panji tidak melepasku sedikitpun, aku seperti memiliki buntut yang selalu menempel padaku.
Mas Panji mengambil cuti untuk recovery tubuhnya pasca sakit, tidak ada yang serius dokter hanya berkata untuk menjaga pola makan dan istirahat pria ini.
Aku duduk memandangnya yang sedang sibuk menyiapkan sesuatu di balkon kamar, ini maih pagi, untuk tidur sudah tidak bisa, mau jalan-jalan pun aku bimbang karena keadaannya, akhirnya ia mempunyai ide ini, aku juga belum tau apa.
“Sudah siap!”
Aku memandang tangannya yang terulur untuk membantuku berdiri, dia menggiringku ke arah balkon dengan hati-hati.
Mataku mengerjap pelan, ada kasur lipat dengan dua bantal, serta meja kecil berisi makanan dan minuman.
“Ini?” dia memelukku dari samping saat mengetahui kebingunganku.
“Iya, anggap saja kita sedang berada di hotel mewah dengan view hutan yang asri, ini liburan yang murah meriah” ungkapnya dengan senang, membuatku tertawa karena ide uniknya itu.
“Terdengar seru, lalu ini konsepnya kita akan berjemur begitu?” tanyaku saat sinar matahari menyorot kasur lipat itu.
__ADS_1
“Ya begitulah” jawabnya salah tingkah, sepertinya dia tidak memperhitungkan ini.
Kali ini aku yang menuntunnya, aku tidak ingin kami berakhir canggung lagi.
Aku bersandar di dadanya, dia mengusap punggungku dengan lembut.
Rencananya kasur ini akan digunakan apabila ada tamu yang banyak menginap, tapi karena kami belum pernah mengadakan acara besar yang memungkinkan hal itu akan terjadi, akhirnya itu berguna untuk kami sendiri.
Bersantai ditemani suami bermandikan sinar matahari membuat rasa nyaman itu bertambah berkali lipat.
Drrrrttt drrrtt
Tanda panggilan masuk di handphone Mas Panji itu hanya membuatnya melirik sekilas tanpa mau mengangkatnya. Hingga panggilan itu mati dengan sndirinya Mas Panji tetap tidak bergeming.
Drrrrt drrrrtt
Dia tetap diam seolah tidak mendengar apapun, tangannya tergerak mengusap puncak kepalaku dengan lembut.
Sekian lama tak kunjung diangkat, panggilan itu kembali mati.
Tapi tak berselang lama handphone Mas Panji bergetar lagi, aku mendongak membuatnya menunduk untuk menatapku.
“Ada telfon Mas”
“Aku tau”
“Kenapa tidak diangkat? Mungkin penting” dia menggeleng.
“Kamu lebih penting” dahiku mengerut, meski semburat merah aku yakin muncul diwajahku.
Untuk kesekian kalinya ponsel itu bergetar, “Angkat saja Mas, siapa tau memang penting”
Mas Panji akhirnya mengambil benda pipih itu, lalu menyodorkannya padaku.
Dalam kebingungan aku menerimanya, hatiku mendadak pilu saat membaca id caller penelpon suamiku.
Winanti.
Panggilan itu berakhir sebelum aku sempat mengangkatnya,
“Aku sudah berjanji ingin bangkit dari semua ini Naya, dan itu diawali dengan menjaga jarak dengan semua hal yang berhubungan dengan Kinanti”
TBC
Ekhem ekhem, kepada readers aku yang tercinta.. dikarenakan kesibukan othor dan kondisi badan yang minta diistirahatkan, hehe ✌
Maafkan yaa, setelah ini aku upload Pluviophille Love Story seminggu sekali, kuputuskan hari kamis..
Eittssss tapi jangan sedih yakk, setelah semuanya selesai dan kembali normal, jadwal kembali seperti semula (2 hari sekali), minta do'anya ya guys..
But!! Sembari menunggu... Kalian bisa baca ceritaku yang lainnya yaa (setengah promosi 😂)
Terus nantikan cerita Naya dan Panji yakkk..
Love you sekebon, 😘
__ADS_1