
Dimas mematung sementara Gisha tetap diam dan mempercepat langkahnya.
“Gisha! Tunggu!” seru Galang dengan nafas terengah, mata kecil itu membola, jadi yang ia lihat tidaklah salah.
“Mama berhenti! Itu Papa!” teriak Dimas membuat dua orang yang saling kejar itu berhenti.
Melihat sang Mama yang lengah, Dimas menggeliat turun dan berlari ke arah Galang yang tidak jauh dari mereka.
Galang berlutut dan merentangkan tangannya pada Dimas.
Mereka berpelukan erat, meluapkan rindu yang tak pernah terucap.
Gisha terpaku ditempatnya, matanya berkaca-kaca, seumur hidup ia tidak pernah terharu pada apapun, tapi kali ini ia terharu saat melihat sang anak memeluk seseorang yang ia panggil Papa beberapa waktu lalu.
Galang menatap anaknya yang kini menangis dalam pelukan, tidak ia sangka akan kembali bertemu dengan mereka, ada banyak tanya dalam benaknya, tapi biar pertanyaan itu tersampaikan nanti saja, saat ini, ia hanya ingin menumpahkan segala rasa rindunya.
“Papa!” panggil Dimas parau, air mata Galang tak terbendung lagi, ia berjatuhan tanpa Galang perdulikan kehadirannya.
“Iya Nak, ini Papa”
“Dimas kangen Pa!” dalam hati Galang juga ingin menjerit bahwa ia juga merindukan buah hatinya yang ia sangka sudah tiada.
“Dimas.. ayo pulang Nak, dia bukan Papa kamu” ajak Gisha tanpa memperdulikan tatapan tajam Galang.
Saat hendak marah, suara kecil itu kembali mengudara.
“Nggak! Mama bohong! Mama selalu bohongin Dimas! Bohong itu dosa Mama!” sesak, itu yang Gisha rasakan, selama ini tidak pernah sekalipun manusia kecil itu membentaknya.
“Mama gak bohong sayang” belanya dengan parau, hal itu semakin membuat Dimas geram.
“Dia memang bukan Papa kamu” tambah Gisha dengan air mata bercucuran.
Dimas menggeleng dengan tegas membuat Gisha kebingungan dari mana anak ini yakin bahwa Galang adalah Papanya?
“Mama sering lihatin foto Papa yang ada di laci setiap malam, kata Aurel, Mamanya juga suka simpan foto Papanya dalam laci terus sering dilihat setiap malam, ini Papanya Dimas Ma, Dimas tau itu” Gisha tercengang ternyata ini alasannya anak ini yakin bahwa Galang adalah Papanya.
__ADS_1
Galang terdiam, tanpa tes DNA dia sudah yakin bahwa foto kopiannya ini adalah anaknya, tapi lagi-lagi Gisha mencoba menampik itu, sebenci itu wanita ini padanya.
“Gish, aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi setelah kejadian itu, dan ku rasa kita perlu bicara, aku yakin ada kesalahpahaman disini”
“Tidak perlu! Ayo Dimas, ikut Mama!” Dimas yang ketakutan segera mengeratkan pelukannya pada Galang.
Tak berhasil membujuk, Gisha gelap mata dan menarik Dimas dengan kasar membuat anak itu menjerit kesakitan.
“Gisha!!!” bentak Galang dan kembali mengambil Dimas dari wanita itu, Galang menenangkan Dimas yang kini menangis karena perlakuan kasar ibunya.
“Gila ya kamu! Jangan kasar pada anakku! Kau membuatnya takut” kesal Galang membuat Gisha merasa bersalah, ingin meminta maaf tapi tangannya di tepis oleh tangan mungil itu.
Kini Gisha menyadari kesalahannya.
“Ikut aku!” dengan ragu Gisha membuntuti Galang yang masih menenangkan Dimas dari tangisnya.
Tujuan mereka adalah kamar hotel Galang, diam terus menghiasi perjalanan mereka, Dimas sudah tertidur dalam pelukannya di belakang kemudi.
Mobil berhenti di parkiran.
“Silahkan masuk” Gisha langsung masuk tanpa mengucapkan terimakasih pada Galang yang membukakan pintu untukknya.
“Duduk diam disitu, aku akan menidurkan Dimas dulu” Gisha hanya mengangguk.
Pikirannya mengenang kejadian beberapa waktu lalu, baik dia maupun Dimas, mereka tidak pernah berucap kasar dan saling bentak, tapi hari ini semuanya terjadi, bahkan ia sudah berlaku kasar pada anaknya sendiri.
“Minum dulu” ucap Galang membuyarkan semua lamunan wanita itu.
Tanpa menjawab Gisha meneguk air itu dengan rakus, sementara Galang, ia terlalu asyik menatapi wanita yang selama ini ia sesalkan kepergiannya, ternyata mereka berdua masih hidup, Galang mensyukuri itu, meski ia harus hidup dalam rasa bersalah selama bertahun-tahun, semuanya terbayar saat melihat keduanya baik-baik saja.
“Harusnya kamu tidak membawa kami kesini” Galang mengernyit tapi tetap diam, menyediakan waktu untuk wanita ini meluapkan isi kepalanya.
Mendengar tak ada respon Gisha memberanikan diri menatap wajah Galang dengan tatapan yang sulit diartikan, semua rasa bergejolak yang berusaha ia tahan.
“Is..trimu pasti akan mencari keberadaan suaminya” tambahnya lagi dengan suara tercekat, Gisha menunduk, tidak ingin laki-laki ini melihatnya menangis lagi.
__ADS_1
“Memang” pancing Galang membuat Gisha kembali menatapnya sendu.
‘Jadi benar?’
“Tapi suami Kanaya ada di rumah sakit itu juga, jadi tidak masalah jika aku berada disini untuk menyelesaikan masalah kita” bagaikan angin segar Gisha mendadak lega, itu artinya Galang bukan suami wanita yang ia temui tadi kan?
Galang bergerak mendekat dan berlutut dihadapan Gisha, menggenggam tangan lembutnya, menatap mata ayu itu lekat.
“Aku hancur saat sahabatmu itu mengatakan padaku bahwa kamu meninggal dalam keadaan mengandung, hidupku tidak tenang Gish” mata Gisha kembali berkaca-kaca, ia melihat ketulusan dan kejujuran pria ini.
“Aku sudah percaya dari awal bertemu, tapi aku butuh konfirmasi darimu, apa benar Dimas bukan anakku seperti yang kamu ucapkan tadi? Hati kecilku berkata dia anakku Gish, tapi kamu bilang bukan” air mata itu terjatuh, Gisha sudah merasa jahat sekali, bukan saja anaknya yang ia buat sakit karena statement palsunya, tapi pria ini juga.
Beberapa waktu sebelum ini..
‘Sha, aku ingin bertanya sekali lagi, apa kamu masih belum mencintaiku?’gerakannya menyuapi Yoga terhenti, sahabatnya ini mengatakan bahwa ia mencintainya sejak dulu membuatnya sedikit canggung.
Lama tak menjawab Yoga tertawa kecil di atas brankarnya, ‘Diammu sudah menjawab semuanya Gish, jadi setelah bertahun-tahun tetap lelaki brengsek itu yang merajai hatimu?’
‘Dia tidak brengsek!’ Yoga kembali terkekeh, sanggahan Gisha kali ini mengulik dosa masa lalunya.
‘Ya, kau benar, disini akulah yang brengsek, aku yang membuat berita palsu tentang kalian pada laki-laki brengsek nan bodoh itu’ ungkapnya lagi, Gisha memilih diam fakta itu juga menyakitinya.
Yoga sudah menceritakan semuanya, tentang penyerangannya pada Galang dan berita palsu itu, yang disesalkan Gisha kenapa Galang tidak mencari kebenarannya dan menelan berita bohong itu bulat-bulat.
“Dia putramu” dua kata yang seolah mengisi rongga dada Galang yang terhimpit.
Galang menangis haru, berkali-kali ia mengecup tangan Gisha dengan lembut, “Terimakasih Tuhan” gumamnya di sela tangisnya.
Lagi-lagi Gisha tersentuh, sebahagia itu Galang mendengar kebenaran yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
“Aku tidak tau kebaikan apa yang sudah aku lakukan hingga Tuhan mengabulkan doa-doaku” ucap galang penuh syukur.
Gisha yang mendengar itu membuat air matanya kembali tumpah, itu juga doanya, harapannya untuk kembali bertemu dengan Galang, laki-laki yang masih bertahta dalam hatinya.
TBC
__ADS_1