
Aku mondar-mandir pagi ini karena kesiangan setelah semalam baru sampai dari liburanku, memakai baju seadanya, berdandan kilat ala aku yang hanya butuh waktu satu menit karena hanya menggunakan bedak dan lipbalm, tidak seperti teman-temanku yang berdandan hingga semua pori-pori kulitnya tidak ada yang tidak tersentuh kosmetik.
Memasukkan perlengkapan yang akan ku bawa ke kantor dengan serampangan, aku hanya bisa berdoa dalam hati agar semua barang itu tetap utuh tanpa lecet sedikitpun karena aku hampir seperti melempar mereka semua masuk dalam tasku.
Ini darurat!
Sebenarnya tidak terlalu siang, aku hanya mengantisipasi kemacetan yang akan terjadi meski belum tentu terjadi.
Aku bisa bernafas lega saat semua sudah selesai, aku hanya tinggal berangkat, kaki jenjangku melangkah ke arah pintu, namun langkah ku terhenti saat melihat Awan yang ternyata juga ikut mondar-mandir di depan pintu kamarku, dia sampai tidak menyadari bahwa pintuku sudah terbuka karena asik melamun dan berjalan bolak-balik di hadapanku.
“Ehem” dia berjengit, aku pun begitu, dia seperti memikirkan sesuatu yang besar, aku bisa merasakan itu, mungkin karena kami memiliki darah yang sama.
“Mbak” sapanya masih dengan tatapan bingung, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
“Kamu kenapa? Lagi ada masalah?” tanyaku to the point, dan adikku ini langsung mengangguk.
“Mau cerita sekarang apa nanti?” tawarku, sementara dia diam seperti berpikir.
“Kalau sekarang, Mbak punya waktu gak?” tanyanya dengan ragu, membuatku semakin penasaran dengan masalah yang sedang ia hadapi, pasti sangat serius.
Ku lirik jam tanganku sekilas, masih ada waktu 15 menit di tambah perkiraan perjalananku.
“Ada, lima belas menit aja tapi, cepetan ngomong ada apa?!” tegasku, ia hanya cengengesan, mirip dengan dirinya sewaktu kecil saat memecahkan atau merusak barangku atau barang mama, dia adikku kecilku yang lucu telah menjelma sebagai pria dewasa sekarang.
“Mbak, sebenarnya aku butuh uang” hatiku mencelos, pasalnya tabunganku juga terkuras untuk liburan kemarin.
“Buat apa?”
“Beli alat praktek dasar kedokteran Mbak” seperti inikah rasanya ayah saat aku meminta uang untuk membeli buku namun tidak punya uang yang cukup, adikku ini memang memiliki otak yang cerdas, aku tidak terkejut dia diterima sebagai mahasiswa kedokteran, tapi dia masuk jalur beasiswa, karenanya aku tidak terlalu pusing masalah keuangannya selama ini.
__ADS_1
“Bukannya kamu dapat beasiswa ya?” dia menghela nafas, oh tuhan, melihat responnya yang seperti itu membuatku semakin tidak tega.
“Pengiriman uang saku beasiswaku tertunda Mbak, makanya aku juga bingung sekarang” dia saja bingung apalagi aku, dalam diam otak minimalisku bekerja mencoba mencari jalan keluar yang mungkin saja ada.
Ayah!
“Kenapa gak minta Ayah? Kan biasanya kamu gak pernah minta apa-apa ke mbak, malah mbak yang inisiatif ngirimin kamu uang buat jaga-jaga” ku tarik nafas dalam-dalam, menetralkan degub jantung yang semakin menggebu untuk memahami situasi ini.
Tunggu dulu! Aku baru mencerna ucapanku barusan, setiap bulan aku selalu mengirimi Awan seperempat gajiku sebagai dana darurat, lalu kemana uang itu?! Kenapa dia kebingungan saat uang beasiswanya tidak cair dan ia tidak mau meminta kepada ayah.
Aku melotot ke arahnya seketika.
“Tunggu dulu mbak, jangan marah dulu, aku punya penjelasan” tatapanku langsung melunak, aku juga tidak ingin merusak pagiku denganbertengkar bersama Awan.
“Jelaskan!” sewotku, dia hanya mengangguk.
“Uangnya gak kupakai yang aneh-aneh kok, kemaren aku kena musibah”
“Laptopku jatuh, remuk. Aku beli laptop baru dengan uang yang Mbak kirim, aku pikir beasiswaku akan cair tepat waktu, nyatanya tidak, karena ada kendala teknisdari pihak kampus katanya”
“Sebelumnya aku minta maaf Mbak, karena kecerobohanku laptop hadiah ulang tahun dari Mbak harus rusak, tapi itu benar-benar diluar kendaliku” tambahnya lagi dengan nada penyesalan, memang benar itu hadiah ulang tahun dariku untuk Awan, bertepatan dengan dia yang masuk kuliah kedokteran.
Dia menjeda sejenak, aku cukup memperhatikan raut penyesalannya, sebenarnya itu buakn masalah yang besar bagiku, barang bisa dibeli, uang bisa dicari, asal ia selamat itu sudah lebih dari cukup.
“Soal Ayah, sebenarnya aku gak boleh ngomong ini ke mbak, tapi aku rasa mbak butuh tau, ayah kena PHK sepihak karena di fitnah rekan kerjanya” aku benar-benar shock, tidak ku sangka semua anggota keluargaku dengan rapi menutupi hal sebesar ini dariku.
“Aku gak tau harus ngomong ke siapa lagi, tapi kalau mbak juga lagi gak ada uang gapapa, aku bisa minta tolong temenku buat minjemin alatnya” aku yang masih terkejut menatap Awan yang juga menatapku dengan wajah sedih, aku paling tidak bisa melihatnya seperti itu.
Aku masih berpikir keras mengapa Ayah dan yang lainnya tega tidak melibatkan aku dalam hal ini, padahal setidaknya aku bisa membantu, atau aku bisa membatalkan liburanku dan menggunakan uangnya untuk biaya tambahan keluargaku.
__ADS_1
Lalu dimana aku bisa mendapat uang untuk biaya alat praktek Awan, tabunganku juga menipis, aku yakin tidak akan cukup, belum lagi untuk biaya sehari-hari, aku harus meringankan beban Ayah, aku tidak mau Ayah sakit karena memikirkan masalahnya dan uang untuk kebutuhan sehari-hari.
“Mbak? Udah mau lima belas menit, Mbak gak ada ya uangnya?” tanya Awan menyadarkanku dari lamunan.
“Bisa kok, kamu butuh berapa?”
“Lima juta cukup Mbak, sama ku buat beli buku penunjang gapapa kan?” aku mengangguk saja, berarti aku butuh sekitar sepuluh juta, untuk pegangan dan membeli kebutuhan pokok keluargaku.
Aku akan ambil pinjaman kantor!
“Iya gapapa, nanti sore mbak ambil uangnya di bank” bohongku, dalam hati aku meneruskan kalimat itu menjadi ‘bank kantor’
“Terimakasih ya Mbak” ucapnya dengan wajah yang sudah mulai berbinar dan tidak sekaku sebelumnya.
“Sejak kapan ayah di PHK, kenapa kalian tega menyembunyikan hal ini dari Mbak?” wajah yang sempat berbinar kembali meredup.
“Tepat saat Mbak mau liburan, kita gak mau nyembunyiin kok, cuman nunggu waktu yang pas aja, masak Mbak mau liburan malah kepikiran masalah rumah, Ayah sama Mama gak mau ganggu liburannya Mbak” hatiku tersentuh, ternyata mereka bersikap demikian untuk membuatku menikmati liburanku.
Aku mendadak paham, diantara keluargaku akulah yang paling sensitif dan mudah panik, tidak terbayang jika saat itu juga aku tau, bukannya liburan atau meringankan beban keluargaku, aku mungkin malah membuat mereka sedih atau kerepotan karena responku.
“Oke, Mbak berangkat dulu, kamu bisa nunggu sampai nanti sorekan buat beli alatnya?” putusku kemudian, aku harus segera berangkat, untuk pertama kalinya aku akan meminjam dana kantor membuatku harus memberikan yang terbaik seperti tidak datang terlambat agar permohonanku tidak dipersulit.
“Gapapa Mbak, sekali lagi terimakasih, semoga kerjaan Mbak hari ini lancar” aku mengangguk dan berjalan keluar rumah meninggalkan Awan yang berbalik ke kamarnya.
Ini yang kusukai dari ajaran orang tuaku, saling mendoakan dan mendukung, meski aku dan Awan sering bertengkar, kami akan segera berbaikan, entah aku atau Awan yang akan lebih dulu mengalah, tapi paling sering Awanlah yang mengalah dan meminta maaf padaku.
Aku sudah bertekad akan membantu perekonomian keluarga saat aku sedang bekerja, mungkin inilah jalan yang Allah sediakan untuk merealisasikan niatku.
Aku tidak pernah takut tidak punya uang, karena keluargaku sudah lebih dari bongkahan emas yang tak terniali harganya, mereka istimewa bagiku.
__ADS_1
Apapun akan kulakukan untuk kebahagiaan mereka.
TBC