Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 62


__ADS_3

Dengan penuh semangat Naya mengayuh kursi rodanya, ia yang lupa membawa HP tidak bisa menghubungi siapapun untuk menjemputnya.


Jikapun Naya menghubungi Panji itu sama saja mengobarkan bendera perang antara suaminya dan Galang, padahal ini semuanya murni keinginannya.


Gisha, wanita cantik yang bicara dengannya beberapa waktu lalu membuat hatinya sedikit lega, semoga saja Galang berhasil mengambil hati wanita itu dan meyakinkannya untuk bersamanya.


Naya akan sangat senang sekali jika pria baik itu kembali menemukan kebahagiaannya, apalagi anak laki-laki yang meminta permen kapasnya tadi, anak yang sangat mirip dengan Galang.


Naya baru saja menyadarinya, mereka berdua masih hidup.


Gerakannya tidak seberat tadi, membuatnya menyadari ada seseorang yang mendorongnya.


Kepalanya mendongak untuk melihat orang yang sudah membantunya, laki-laki itu tersenyum.


“Melamunin apasih cantik? Entar kesambet loh” kelakar Tristan yang mau tak mau membuat Naya tertawa.


“Nggak kok” hanya itu yang ia ucapkan, sesaat kemudian Naya tersadar akan satu hal, dia sudah tidak pulang selama tiga hari dan masih harus menginap beberapa hari lagi untuk memastikan kondisinya stabil.


“Bang.. Ibu gimana? Maaf ya Naya belum bisa kesana lagi” tanya Naya takut-takut.


Tristan kembali menghentikan kursi roda itu di sebuah kursi taman, ini saat yang tepat untuk bicara dengan Naya-nya.


Tangan besar itu melingkupi tangan mungil nan lembut yang dulu pernah ia genggam saat bersentuhan dengan Naya untuk pertama kali, Tristan tidak akan pernah melupakan kejadian itu, kejadian yang membuatnya terperangkap pada rasa yang tidak seharusnya ia miliki pada Kanaya.


“Puji tuhan Ibu baik-baik saja, dan Abang rasa kamu tidak lagi punya kewajiban untuk memulihkan keadaan Ibu” ucap Tristan dengan tenang, ia tidak mau Naya salah sangka atas ucapannya.


Dengan takut-takut Naya menatap Tristan, “Maafin Naya Bang, kalau saja Nay gak ke Bali mungkin luka lama Ibu gak terbuka kembali” sesal Naya, padahal niatnya akan berusaha membantu Tristan memulihkan kondisi ibunya.


Tristan tersenyum, wanita dihadapannya ini sungguh baik dan berhati tulus, “Naya gak salah, untuk kondisi Ibu, Abang justru berterimakasih sama Nay, berkat ketemu sama Nay Ibu kondisinya jauh lebih baik, mungkin karena Ibu masih melihat Arsha dalam diri kamu” jelas Tristan, hormon mellow Naya muncul kembali membuatnya berkaca-kaca saat nama itu disebut.


“Please don’t cry” tambah Tristan mencoba meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tidak ada yang salah di sini.


Naya berusaha tegar dan menampilkan senyumnya hal itu menular pada Tristan yang kini malah mengusap pipi chubby Naya.


“Setelah ini aku dan Ibu akan pergi ke Jerman” ungkap Tristan, mata Naya membola.

__ADS_1


“Kenapa harus Jerman Bang?” tanya Naya dengan suara parau, Jerman itu jauh sekali baginya.


Melihat tingkah Naya yang mendadak menggemaskan membuat Tristan tidak tahan untuk mengusap surai panjang Naya, ia juga pasti akan merindukan wanita ini.


“Abang ada kerjaan disana, selain itu Ibu akan mendapat perawatan yang jauh lebih baik, Abang sudah menemukan dokter jiwa yang bagus” jelas Tristan yang kembali membuat Naya paham.


“Tapi itu jauh sekali Bang” Tristan terkekeh mendengar celetukan itu, siapa yang tidak tau fakta itu?


“Nggak, sekarang sudah ada pesawat, satu hari saja sudah sampai kok” Naya diam.


Rasanya berat sekali melepaskan Tristan yang sudah menganggapnya seperti adik sendiri, apalagi setelah mengetahui apa saja yang sudah dilalui laki-laki dihadapannya ini, semakin membuatnya berat untuk kembali membiarkan Tristan sendirian melewati ini.


“Tapi.. Nay masih bolehkan tanya-tanya kabar Abang sama Ibu disana?” Tristan mengangguk, ia senang sekali masih ada yang meperdulikan dirinya dan ibunya.


“Boleh, Abang selalu sediain waktu buat telfonan sama Nay nanti, jangan sedih lagi ya?” Naya mengangguk, memangnya ia bisa apa jika Tristan sudah memiliki keputusan seperti itu?


Naya hanya bisa berdoa untuk kebaikan keduanya, dua orang yang akhir-akhir ini menemani hidupnya saat dalam pelarian.


“Abang berangkat kapan?”


“Kenapa mendadak sekali Bang?” air mata itu kembali bergumul di pelupuk mata Naya, secepat itu mereka akan terpisah jarak.


“Tidak mendadak, maaf ya baru bisa kasih tau sekarang” jelas Tristan yang sudah melihat Naya menangis tanpa suara.


Tatapan itu kembali melemahkannya, sejak bertemu dengan Naya kembali Tristan kembali ragu akan rencananya pergi dari Indonesia, tapi saat mengetahui fakta bahwa wanita yang ia cintai sudah bersuami dan mengandung, Tristan memilih mundur dan mengakui kekalahannya.


Terlepas dari masalah keduanya yang membuat Naya pergi dan bertemu dengannya, Tristan merasa ia tidak lagi punya hak untuk memperjuangkan Naya, memanglah Naya bukan tercipta untuknya.


Tangis itu semakin deras membuat Tristan semakin tidak tega dan bergerak memeluk tubuh itu.


“Abang masih akan tetep ada buat Nay, Abang gak tinggalin Nay begitu aja, kita masih bisa bertukar kabar Nay, jarak bukan lagi penghalang, kalau Nay kangen Abang atau Ibu, Nay bisa ke Jerman, atau Abang yang kesini” jelas Tristan mencoba kembali membuat wanita itu perlahan mengerti.


“Iya Bang, maafin Nay ya kalau selama disini nyusahin Abang sama ibu”


“Nggak sama sekali Nay” pelukan mereka terurai.

__ADS_1


“Jadi Abang kemarin ngilang dan sekarang muncul lagi hanya untuk pamitan?” tuduh Naya membuat Tristan tersenyum lebar dan mengangguk dalam waktu bersamaan.


Naya tidak lagi bisa berbuat apa-apa, dia bukan siapa-siapa hanya mantan kekasih adik pria dihadapannya.


“Ya udah yuk Abang anter ke kamar Nay, nanti suami kamu bingung cariin” ajak Tristan yang sudah berdiri dan memposisikan diri di belakang Naya.


Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing.


Pintu terbuka menampakkan Panji yang sedang sibuk memangku laptopnya, mendengar pintu yang terbuka membuat Panji mengalihkan atensinya.


Ada Tristan dengan Naya dengan mata sembabnya, kemana Galang?!


“Nay kamu habis nangis? Kamu kenapa?” tanya Panji beruntun, ditanya seperti itu membuat Naya kembali menangis tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


Tatapan Panji beralih pada Tristan yang berdiri tepat di belakan kursi roda Naya.


“Istri saya kenapa?”


“Maaf sebelumnya, tadi saya melihat Naya sendirian mendorong kursi rodanya di rumah sakit, saya kesini untuk menjenguk Naya sekaligus berpamitan” jelas Tristan, Panji mengernyit heran, berpamitan?


“Iya, rencananya saya akan terbang ke Jerman malam nanti, mungkin Naya sedih karena itu, sekali lagi saya minta maaf” Panji mendadak gamang karena fakta itu, sekaligus menyesal karena sudah bersikap kurang baik dan bepikiran buruk pada Tristan.


Tristan yang melihat Panji sudah menerima penjelasannya melangkah maju dan berlutut di hadapan Kanaya, membuat Panji bergeser menyediakan pria itu bicara dengan istrinya.


“Abang pamit ya Nay, jaga diri Nay baik-baik, kalau dia sudah lahir kabari ya, abang sempatkan untuk pulang ke Indonesia” Naya hanya mengangguk, suasana haru membuatnya tak sadar memeluk tubuh Tristan dihadapan suaminya.


“Abang juga harus baik-baik disana ya, jaga kesehatan, kalau ada apa-apa kabarin Nay ya” Tristan mengangguk, ia membalas pelukan Naya yang mungkin tidak akan ia rasakan lagi untuk beberapa waktu.


Panji mengepalkan tangannya marah tapi ini bukan waktu yang tepat untuk meluapkan rasa cemburunya, ia percaya penuh pada istrinya Naya, juga pada pria ini.


Tristan bangkit, berpamitan pada Panji, mereka berpelukan ala pria, dan Tristan keluar kamar rawat Naya. Meski berat Tristan memilih untuk menambah langkah meninggalkan masa lalunya, mengubur rasa yang tak seharusnya ada.


Biar hanya ia yang tau sedalam apa rasanya pada Naya, juga Tuhannya yang tentu sudah menyiapkan hal baik di depannya.


Selamat tinggal Kanaya, Selamat tinggal Indonesia.

__ADS_1


TBC


__ADS_2