
“Kamu kayaknya sengaja sakit buat bikin aku kesini ya?” dia tersenyum, sembari ingin meraih tanganku tapi ku tepis.
“Awalnya iya, Mas berdoa biar di beri sakit agar kamu datang, tapi pikiran itu Mas hilangkan, yahh seperti yang kamu lihat sekarang ucapan adalah doa, Mas dapat apa yang mas mau meski sebenarnya sudah tidak ingin”
Aku tersenyum mengejeknya.
“Tapi tak apa, kalau itu bisa bikin Mas makin deket sama kamu Mas ikhlas sakit seperti ini” ucapnya lagi dengan senyuman.
“Terdengar licik, but well, sepertinya kehadiranku sudah tidak dibutuhkan karena Mas terlihat menikmati sakit Mas sendiri” jawabku sembari berdiri, namun tangannya menangkap pergelangan tanganku dan memegangnya erat.
“Tetaplah disini, Mas mohon” pintanya dengan wajah sendu.
Tubuh ini rasanya ingin sekali berlalu pergi, tapi hati ini berhasil menguasai diri dan membuatku kembali duduk.
Dia senang.
‘Tugas kamu sekarang buat dia sadar bahwa dia lebih butuh kamu dari pada perempuan itu’
Aku terus menerus terngiang pesan Mama sebelum beliau pergi dan meninggalkanku berdua dengan Mas Panji.
“Aku tidak menyangka kamu datang sebelum semuanya selesai” ucapnya lagi-lagi dengan menggenggam tanganku dan tersenyum manis, kembali membuatku teringat apa yang terjadi diantara kami.
“Kamu jadi banyak tersenyum saat ini Mas” tegurku kala ia terus menerus tersenyum sembari menatapku.
“Itu karena kamu”
“Ya ya ya, terserah kamu Mas” putusku, dan memilih duduk di sofa agar sedikit jauh dengannya.
“Apa kabarnya?”
Aku yang sudah fokus dengan katalog tupperware milik Mama kembali memusatkan perhatianku padanya dengan bingung, “Kabarku?”
Dia menggeleng pelan, “Aku bertanya tentang calon bayi kita”
“Oh dia mungkin baik”
“Mungkin? Ada apa Naya?” tanyanya khawatir.
“Aku belum memeriksa keadaannya karena baru tiga hari kita ke dokter dan baru kembali lagi bulan depan, kamu ingat kan dokter bilang seperti itu?”
__ADS_1
Ia mengangguk paham “Ooh begitu, tapi dia tidak rewel kan?”
Aku yang mengernyit bingung, bagaimana cara bayi yang masih berupa janin ini rewel?
“Tidak” ku buka lembar demi lembar katalog benda-benda yang juga Mama koleksi di rumah.
“Kamu masih marah sama Mas?”
Lagi, aku kembali menatapnya, bagaimana caranya mengungkapkan padanya, “Tidak” dia menghela nafas.
“Tadi Mas bermimpi tentang kamu dan anak kita” ucapnya kembali membuka obrolan diantara kami.
“Kita menjadi keluarga yang sangat bahagia” aku memutar boal mataku malas mendengar ucapannya yang terdengar menyayat qolbu.
“Inginnya keluarga kita akan menjadi seperti yang ada di mimpi Mas, Nay” katanya penuh harap, aku menurunkan katalog yang menutupi wajahku agar bisa dengan jelas menatapnya.
“Aku lebih menginginkan itu, sebagai seorang ibu yang kupikir bukan hanya aku saja, tapi anak aku juga, aku gak mau anak ini sampai kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya” aku menjeda kataku meraup semua oksigen semampuku, untuk memenuhi rongga dada yang mulai sesak.
“Kamu yang pernah menjadi anak broken home pasti lebih paham rasanya tidak mendapatkan kasih sayang kedua orang tua secara utuh kan?” tambahku, aku tau ini keterlaluan, tapi tidak ada pilihan lain.
“Aku tau rasanya, dan itu menyakitkan sekali” jawabnya, senyum yang sejak tadi terlukis memudar begitu saja.
“Aku yang awalnya ingin menggugurkan bayi ini, juga memikirkan itu Mas, bukannya aku jahat, aku gak ingin anak ini merasakan pedihnya kehidupan sekaligus kekurangan kasih sayang”
“Kamu tanya kamu harus bagaimana menyikapi mantan kekasihmu pada wanita yang menjadi istrimu Mas?” dengan bodohnya dia mengangguk, membuatku semakin geram.
“Tinggalkan dan jangan temui dia lagi?!”
“Dia sakit Nay, selama ini dia menyembunyikan itu dariku, dan dia baru saja pulih dari sakitnya, selama ini ia menghilang karena harus mendapatkan perawatan intensif, bukan hilang karena terbawa arus seperti yang aku tau”
Aku tercenung, jadi dia sakit.
“Dia hanya punya aku, Kakaknya sudah meninggal karena aku” tambahnya dengan nada sendu.
“Lalu aku harus mengasihaninya dengan memperbolehkanmu menemui dia kapan saja saat dia butuh kamu? Begitu?!”
Dia diam.
“Lalu bagaimana denganku Mas, aku hamil anak kamu, tapi harus merelakan berbagi kamu dengannya, jangan harap aku mau?!” luapan emosi itu keluar tanpa kendaliku.
__ADS_1
“Tapi aku hanya ingin menemani Winanti di masa sulitnya Nay, hanya itu, maaf sebelumnya tapi kenapa kamu bersikap seolah aku mengkhianati pernikahan kita” ucapnya seringan kapas.
Brakk
Katalog tak berdosa itu jadi pelampiasanku yang sudah berdiri dan menatapnya nyalang.
“Hanya kamu bilang?! Kata hanya kamu tadi bisa diartikan lain sama dia Mas! Kamu lupa kalau kamu sendiri yang bilang kalau dia juga cinta kamu?!”
“Mas tetap punya kamu Nay, anggap saja dia sama seperti Maura, adikku” aku mengalihkan wajahku kemanapun asal tidak melihatnya.
“Dan dia cinta kamu Mas!”
“Mas akan beri dia pengertian Nay”
“Tapi dia mirip Kinanti mantan kekasihmu, pernah menjadi pelarian bahkan kekasihmu juga” lirihku, jangan tanya air mataku, yang sudah kembali deras, hormon kehamilan ini membuatku terlihat lemah yang seharusnya aku tidak boleh seperti itu dihadapannya, setidaknya kali ini.
“Mas lakukan ini hanya untuk menebus kesalahan Mas Naya, Kinanti meninggal karena Mas” lagi, alasan itu lagi yang ia utarakan?!
“Baiklah Mas, kamu ingin aku mengijinkanmu kan? kalau begitu ceraikan aku dulu” jawabku putus asa dengan situasi ini.
“Bukan ini yang Mas mau Naya”
“Lalu bagaimana Mas!” jeritku sembari menatapnya bengis.
Aku kembali menangis saat ia hanya menatapku, aku juga ingin ini selesai, aku ingin hidup dengan tenang, kenapa ia seolah berfikir aku memperumit segalanya?!
“Kalau kamu pikir dia lebih butuh kamu dari pada aku, silahkan pergi Mas, aku akan ikhlaskan, aku juga siap memberikan anak ini pengertian bahwa kita tidak bisa bersama dari pada terus seperti ini, aku tidak sanggup”
“Setidak percaya itukah kamu sama Mas Nay?” aku memejamkan mata dengan erat, sungguh aku sedang tidak ingin berdebat.
“Ya sudah terserah kamu Mas, aku mau pulang saja, suruh saja wanita itu yang menemanimu, jangan cari aku!” aku bangkit dan membereskan barangku dengan serampangan, percuma saja aku disini, dia tidak membutuhkanku.
Dengan sigap dia memelukku dari belakang saat aku sudah memegang handle pintu, “Jangan pergi Nay, tolong, Mas butuh kamu disini”
Dalam diam aku menggeleng, berusaha meredam tangisku, “Kamu sama dia aja Mas biar aku aja yang pergi, hiduplah bahagia dengan rasa bersalahmu itu”
“Tidak Nay, tolong, jangan” ucapnya semakin mengeratkan pelukannya padaku.
“Kalau begitu kamu tinggalkan dia, itu pilihannya, hanya salah satu diantara kami yang akan menetap disamping kamu”
__ADS_1
“Aku pilih kamu, jangan pergi Nay”
TBC