Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 8


__ADS_3

Nguunggg whusshhh


Aku menatap pesawat yang terbang rendah tepat diatas kepalaku.


Aku kembali berlarian tak tentu arah ke dalam area bandara, mencari seseorang yang dengan kurang ajarnya membuatku seperti orang kesetanan seperti ini. Kondisiku sekarang hampir mirip dengan scene Cinta yang mencari Rangga di bandara dalam film AADC.


Galang memustuskan pergi ke luar negri karena aku tidak kunjung membalas perasaannya. Itu yang dikatakan Dewi beberapa waktu lalu.


Dari awal sudah ku duga, dia memang pria gila.


Padahal baru kemarin aku mengatakan bahwa aku menyayanginya, tidahkah dia paham bahwa itu artinya aku membalas perasaannya?


Tapi mengapa ia malah berkata yang sebaliknya?


Aku tidak akan mencegahnya pergi, aku hanya ingin tau apa alasannya melakukan ini semua padaku. Sakit memang, aku merasa di permainkan!


Tatapanku menyisir ke segala arah, tidak juga ku jumpai pria yang sudah tiga bulan ini menghiasi hidupku, meski menorehkan luka pada akhirnya.


Detak jantungku berdetak dengan tak biasa, nafas yang sudah tersengal bahkan keringat yang membanjiri wajah tak kuhiraukan sebelum menemui sosoknya.


Seakan sedang berlomba dengan waktu, aku tidak ingin terlambat sedikitpun, telat sedikit saja bisa membuatku menyesal seumur hidup dengan segala praduga yang tak ada jawabannya.


Aku lebih baik dia jujur mengatakan jika selama ini ia hanya main-main dengan perasaanku, dari pada harus menduga-duga kepergiannya yang belum tentu juga bukan dariku penyebabya.


Aku berhenti dengan mata berkaca-kaca, aku sudah lelah mencarinya seperti orang gila.


Galang sudah pergi.


Sekuat tenaga aku menahan tangisku, tapi tak bisa!


Tega sekali dia padaku, setelah memberi harapan, membuatku yakin untuk melangkah bersama tapi dia seolah menamparku dengan sebuah kenyataan, bahwa kini belum saatnya aku mengenyam bahagia.


Tanganku menghapus air mata itu, meski sedih, aku tak mau membuat Galang merasa diatas awan karena ditangisi olehku, cukup sudah!


Aku memutuskan untuk pulang, namun langkahku terhenti saat orang yang kucari sedang berdiri tepat beberapa langkah dihadapanku.


Hatiku kembali berdegub kencang, amarah yang sempat padam kembali menyala.


Dengan sisa tenaga yang ada, aku mendekatinya bersama emosi yang sudah meletup-letup. Aku tidak langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang ada di benakku.

__ADS_1


Aku amati wajahnya dengan seksama, bahkan dia seperti terlihat bahagia telah membuatku seperti orang gila mencarinya.


PLAKK


Aku menjalankan apa yang hatiku mau, tamparan keras itu rasanya masih kurang karena ia masih berani tersenyum saat aku sendiri sudah menangisinya.


“Kalau kamu mau pergi, silahkan pergi, aku tidak akan melarang, ini hidupmu, kamu yang menetukan apa yang kamu mau” dia tersenyum sembari menyeka ujung bibirnya yang berdarah karena tamparanku.


“Terimakasih Galang! Terimakasih karena kamu sudah melukai perasaanku” setelah mengatakan itu, aku pergi meninggalkan Galang.


“Terimakasih juga karena kamu sudah membuatku semakin yakin akan perasaanmu” langkahku terhenti, jadi selama ini dia belum yakin denganku?


“Maaf sudah membuatmu khawatir, aku tidak berniat membuatmu seperti ini” dapat ku dengar langkah kaki Galang yang mendekatiku, kemudian dua tangan yang kuyakini itu tangan Galang melingkar di pinggangku.


“Ini ide dari Dewi dan Alan, aku sudah sempat menolaknya, aku tau kamu pasti tidak menyukainya, tapi kata-kata mereka yang bilang kalau kamu akan menampakkan perasaanmu yang sesungguhnya lewat cara ini membuatku menebalkan hati dan mengerjaimu seperti ini, maaf ya Nay” aku memilih untuk membalik badanku tanpa melepas pelukan Galang.


Aku sama sekali belum pernah mengucapkan kata yang selama ini hampir sering diucapkan Galang padaku, tanpa kusadari selama ini akulah yang menyakitinya secara tak sadar


“Aku juga cinta kamu, Galang” dia membeku, namun setelahnya kembali memelukku dengan erat, kini aku sadar akan perasaan itu.


“Terimakasih Nay” dia merenggangkan pelukan kami dan menatapku dalam.


Jadi dia benaran akan pergi?


“Kamu benaran mau pergi?” suara hati itu tersuarakan bersama perasaan sedih dan ketakutan tidak akan bertemu lagi.


“Aku hanya pergi untuk sementara, bukan untuk meninggalkanmu selamanya Nay” aku mendongak dalam pelukannya, itu terdengar seperti lirik lagu kesukaanku.


Galang mengurai pelukan kami dan tertawa ringan.


“Selama perjalanan kesini, aku mendengarkan lagu kesukaanmu itu” oh, itu alasannya. Aku memukul dadanya dengan kesal, tidak peduli dia yang meringis kesakitan.


“Kalian jahat banget” dia tertawa lalu memelukku lagi.


“Maaf ya” aku mengangguk dalam peluknya, kekesalanku sudah terbayar saat menamparnya tadi, teringat akan itu aku kembali mengurai pelukan kami dan melihat luka kecil di bibirnya.


Kini aku merasa bersalah, dengan pelan aku mengusap luka itu, membuatnya sedikit meringis kesakitan.


“Apa sakit sekali?” tanyaku yang membuatku merutuki diriku sendiri, pertanyaan macam apa itu, jelas saja itu sakit, sampai mengeluarkan darah meski tak banyak, bahkan Galang sampai meringis kesakitan.

__ADS_1


Perasaan bersalahku semakin menumpuk saat melihatnya malah tersenyum manis dan mengusap puncak kepalaku dengan lembut.


“Bukan masalah yang besar Nay, luka ini, merupakan bukti perasaan terpendammu padaku, ini akan selalu membuatku teringat akan dirimu, dimanapun aku berada” ucapnya lembut.


“Aku minta Ma-” Galang segera meletakkan jari telunjuknya di bibirku.


“Aku cinta kamu Kanaya” tambahnya lagi saat berhasil membuatku bungkam karena tingkahnya, aku mengerjap pelan, berusaha mencari kebohongan di kedua matanya, namun lagi-lagi nihil.


Galang kembali merekatkan pelukannya padaku, sedangkan aku tidak tau harus berbuat apa, aku marah, tapi juga senang mendengar ungkapan cintanya lagi.


Aku membalas pelukannya. Sejujurnya, perasaan ini sudah merajai hatiku saat ini. Tak lama setelah itu, terdengar Airport announcement panggilan boarding untuk para penumpangnya.


“Aku harus pergi sekarang Nay, itu pesawat yang akan tumpangi” ucapnya sembari melepas pelukan kami, air mataku tak terbendung saat tau bahwa ia harus pergi saat kami sudah saling tau perasaan masing-masing.


“Jangan menangis Nay” Galang menangkup pipiku dan menghapus air mataku.


“Jangan pergi” ucapku memelas sembari berusaha mendekatkan tubuhku dan tubuhnya gar aku bisa kembali merasakan hangatnya pelukan Galang.


Dia tertawa, kemudian memelukku singkat, aku yang merasa kehilangan kembali merajuk seperti kucing yang ingin kawin, Galang yang mungkin gemas menggesekkan hidungnya dengan hidungku kemudian menumpukan dahinya padaku.


Kami memejamkan mata, saling menghirup aroma satu sama lain, wangi Galang, wangi yang mungkin nanti akan sangat ku rindukan.


“Kamu harus tunggu aku ya Nay, aku pasti akan kembali padamu”


“Kamu pasti kembali kan?” Galang mengangguk mantap, hatiku menghangat, dalam hati aku menegarkan diri dan menunggu Galang pulang.


Final boarding anouncement yang memanggil nama Galang membuat kami benar-benar harus berpisah.


Paris.


Itu negara yang akan Galang tuju, sembari berlari mundur ia melambaikan tangan padaku.


“Tunggu aku ya! Nanti aku hubungi lagi!” teriaknya sembari melambaikan tangannya padaku.


Aku membalas lambaiannya dengan senyum yang bercampur tangis haru hingga tubuhnya menghilang berbaur dengan penumpang lain.


Aku mendesah pelan, dalam bayanganku, kami akan menghabiskan waktu romantis berdua setelah aku menyampaikan perasaanku malam itu, tapi takdir berkata lain.


TBC

__ADS_1


__ADS_2