Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 25


__ADS_3

“Mau kemana?” tanyanya selepas mandi, aku menatapnya dari pantulan cermin, ini kalimat pertamanya setelah satu hari penuh kembali acuh tak acuh padaku sejak kedatangan kedua orang tuanya kemarin.


“Ketemu Dewi” jawabku seadanya, dia juga tak lagi mengatakan apapun, tak mau ambil pusing aku kembali melanjutkan acara dandanku.


Setelah selesai memoles bibir dengan lipstik berwarna peach, aku bersiap untuk pergi, tapi aku terkejut saat melihatnya yang masih topless dengan handuk yang melilit di pingganganya bersandar di pintu kamar kami sembari bersedekap.


“Mas, pake baju sana, gak malu apa telanjang begitu di depanku” omelku, tapi sebenarnya aku kembali berdebar, apalagi tatapannya yang seperti siap menghunusku.


“Kamu mau balas dendam ya?” tuduhnya tanpa memperdulikan omelanku.


“Kenapa sih?”


“Kamu marah ku diamkan, jadi sekarang kamu juga mendiamkan aku?” aku semakin tak paham, pasalnya aku selalu menimpali katanya, berbeda dengannya yang kadang hanya mengangguk dan menggeleng sejak kemarin.


“Gak usah bertele-tele kenapa sih Mas, ini bukan kamu banget” dia menghela nafas dan berjalan ke arahku.


“Kamu gak bilang kalau mau ketemu Dewi” ucapnya saat sudah berada tepat di hadapanku, bau sabun dan shamponya yang khas membuatku terpaku karena terlalu asik menikmati aromanya.


“Aku sudah bilang, kamu cuman mengangguk waktu itu” ucapku mengingatkan, dia diam tampak mencari kepingan memori itu.


“Aku lupa” jawabnya enteng yang membuatku semakin sebal, dia mengacuhkanku, menuduhku dan sekarang tanpa rasa berdosa dia bilang ‘lupa’


Aku berjalan melewatinya.


“Nay, aku antar”


“Gak usah Mas, nanti tambah lama aku sudah terlambat ini” ucapku dengan kekesalan yang berusaha ku tekan agar tidak merusak moodku siang ini.


“Ya sudah, hati-hati” pasrahnya hingga aku teringat belum pamit dengan benar padanya.


Aku kembali berjalan mendekatinya, mengamit dan mencium punggung tangannya, dia meraih kepala bagian belakangku dan mengecup keningku sekilas.


Meski terlihat tak rela, Mas Panji tetap diam saat aku menutup pintu kamar dan turun ke bawah, biar saja, aku setengah menghukumnya, dia pikir enak apa seharian dicuekin seperti kemarin.


***


Aku sampai di tempat janjian kami dan melihat Dewi dengan segala makanan yang sudah ia pesan terlebih dahulu, ini cafe langganan kami untuk sekedar curcol dan menghabiskan waktu bersama saat penat melanda.


“Sorry ya bumil, aku telat” sapaku semabri bercipika-cipiki denganya.


“Sudah biasa kok” ejeknya yang hanya ku senyumi dengan indah, aku tidak mau lagi bermain dengan moodnya yang bisa jungkir balik dalam waktu singkat.


“Gimana kabar si kecil?” tanyaku lagi saat melihat baby bumpnya sudah agak besar dari terakhir kami bertemu.


“Adek baik kok aunty, papa juga sehat, semua keluargaku bahagia Alhamdulillah”

__ADS_1


Aku mengernyit, “Kenapa semuanya disebut dah”


“Kan sekalian, biar gak tanya lagi” jawabnya dengan cengengesan, aku kembali geleng-geleng kepala mendengar pemikiran absurdnya sejak hamil.


“Suami gimana kabarnya?”


Aku tak langsung menjawabnya, memikirkan hubunganku dan Mas Panji yang kembali merenggang kemarin, “Baik”


“Lagi ada masalah ya?” tebaknya, aku menatapnya sendu, aku tak tau perasaan apa ini, yang jelas aku tak suka dia mendiamkanku.


Dia mengangguk sembari menepuk punggung tanganku, seolah paham apa yang terjadi padaku.


“Sorry sebelumnya, kalian udah itu?” tanyanya sembari membuat tanda petik dua di udara.


Aku paham maksudnya, dan gelengan adalah jawabanku.


“Ini udah terlalu lama lho Nay, sejak kalian menikah siri sebenarnya itu sudah menjadi haknya dan kewajiban kamu” Dia menjeda kalimatnya dan menatapku lamat-lamat.


“Dia yang selalu memulai kan?” lanjutnya membuatku terperangah dengan semua tebakannya yang selalu saja benar.


“Iya, kemarin hampir saja tapi selalu gagal karena kami lupa mengunci pintu” jujurku yang membuat bumil ini tertawa.


“Dia udah kepingin banget berarti ya” ucapnya di sela tawa, aku memberengut kesal diketawai seperti ini.


“Aku nyesel cerita ini sama kamu!” sewotku, dia berhenti tertawa, namun setelahnya kembali tertawa.


“Nay, sorry”


“Hmmm”


“Besok kalian berangkat Honeymoon kan?” tanyanya, mengingatkanku akan tiket hadiah dari mertuaku untuk kami berdua yang aku ceritakan padanya.


“Iya” dia menatapku penuh minat, bahkan menggeser duduknya agar lebih dekat denganku, aku menjadi was-was, dia pasti akan mengatakan hal yang tidak-tidak.


“Mau ku ajari cara berbakti pada suami tidak?” tawarnya sembari menaik-turunkan alisnya, sudah kuduga.


“Aku gak bakal lari dari kewajibanku kok Dew”


Dia menjentikkan jarinya padaku, “Nah itu dia, ini bukan lagi soal kewajiban Nay, tapi kebanyakan pria itu lebih suka kalau kita inisiatif jadi dia tidak merasa berjuang sendirian” aku diam mencerna semua kata-katanya.


“Coba sekali-kali kamu yang mulai, dia pasti senang, menyenangkan suami itu berpahala lho Nay” tambahnya.


“Aku gak tau caranya mulai”cicitku, dia tertawa lagi.


Melihatku yang menatapnya sebal, dia menghentikan tawanya perlahan, “Maaf, kamu lucu sih, kan aku jadi gemesh”

__ADS_1


“Males aku sama kamu” bukannya merasa bersalah dia kembali tertawa.


“Mau kuajarin gak?” tanyanya dengan senyum menggoda sembari menaik-turunkan alisnya, aku menatapnyan tak yakin.


“Emang kamu tau caranya?”


“Lah kalau aku gak tau caranya ini gak bakal ada, gimana sih!” kesalnya dengan menunjukkan perut buncitnya.


Kini aku yang salah tingkah, “Emang gimana?”


“Sini ku bisikin” aku mendekatkan diriku padanya.


***


Krompyang!


Suara benda jatuh dan pekikan seseorang membuatku yang baru saja sampai berjalan cepat ke sumber suara yang kuyakini berasal dari dapur.


Aku terkejut bukan main saat dapur yang tadi ku tinggalkan baik-baik saja sudah berubah menjadi kapal pecah, dan hanya satu tersangkanya, seseorang yang kini menggaruk tengkuknya saat menyadari keberadaanku, Mas Panji.


“Kamu apain dapur aku Mas?!” pekikku.


“Maaf ya, aku tadi lapar, rencananya mau bikin mie instan, tapi ketiduran jadinya seperti ini, rumah kita hampir kebakaran” jelasnya.


Aku beristighfar dalam hati, memangnya seberapa lamanya menunggu air mendidih untuk mie instan? Tapi ini juga bukan salahnya, aku lupa menyiapkan makanan untuknya karena kejengkelanku padanya.


“Tapi kamu gapapa kan Mas?” tanyaku khawatir, aku mendekatinya, meneliti setiap inci darinya, mataku terbelalak saat melihat jemarinya yang melepuh.


Aku menatap nanar luka itu, pasti sakit sekali.


“Ini cuman luka kecil Nay, gak papa” jawabnya dengan senyuman yang semakin membuatku merasa bersalah padanya.


Aku menuntunnya pada kursi bar dekat dari kami, dan segera mengambilkan obat untuk luka bakarnya.


Aku mengoles luka itu dengan hati-hati, terkadang dia meringis kesakitan, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa lagi selain ini.


“Aku orderin makanan ya Mas” ucapku setelah melihat dapurku yang tidak lagi memungkinkan untuk digunakan memasak.


Dia mengangguk, “Nanti aku panggilin orang untuk beresin ini ya, biar kamu bisa packing keperluan kita buat honeymoon besok”


Dia mengatakan honeymoon tanpa rasa canggung sedikitpun, beda dengan ku yang sudah ketar ketir mendengar kata itu.


Honeymoon ya?


“Iya Mas”

__ADS_1


TBC


__ADS_2