
Winanti duduk diam, masih bersama Dio yang tertidur nyaman dalam pelukannya, entah kenapa anak kecil ini sama sekali tidak terusik dengan kekacauan tadi, Dito membawanya menjauh saat Panji dan Galang berhasil diamankan petugas keamanan rumah sakit.
“Minum dulu Win” mata cantik gadis itu tertuju pada sebotol air mineral yang sudah berada dihadapannya.
“Terimakasih dok” Dito mengangguk dan duduk disebelah Winanti.
Keduanya kini terdiam hanyut dalam pikiran masing-masing.
“Semua orang pasti pernah berbuat salah, manusia dan kesalahan itu seperti pasangan sejati, kita tidak akan berkembang jika terus menerus benar” ucap Dito tiba-tiba membuat Winanti tertarik untuk menatapnya.
Air matanya sudah bergumul di pelupuk mata.
Ia sudah menjadi manusia jahat di akhit masa hidupnya yang entah kapan akan berakhir.
Melihat air mata yang tiba-tiba jatuh di pipi tirus gadis itu membaut Dito merogoh sakunya, mengambil sebuah saputangan yang biasa ia bawa kemana saja.
Winanti menerimanya dengan senang hati, sebenarnya ia malu menangis dihadapan dokter yang sudah merawatnya.
“Sekali lagi terimakasih dok”
“Panggil Dito saja, dokter terlalu kaku” kelakarnya mencairkan suasana.
“Aku tau kamu orang baik Win” mendengar itu Winanti mengernyit heran sekaligus terharu, disaat semua orang menyalahkan dan menyudutkannya Dito tidak bersikap seperti itu padanya.
Dito membiarkan gadis disebelahnya bingung dengan kalimatnya.
“Enggghhhhh” dua manusia beda kelamin itu sontak melihat Dio yang bergerak tidak nyaman dalam tidurnya.
“Biar saya gendong Dio, Win” ucap Dito yang merasa kasihan pada Winanti yang sejak tadi ditempeli anaknya, perlahan Dito mendekat, Winanti memejamkan matanya sekilas saat aroma tubuh Dito memenuhi rongga parunya.
‘Besok kalau sudah dewasa Mas mau jadi apa?’
‘Terserah Nana aja’
‘Jadi dokter ya?’
‘Ok’
“Akhh” tangan Winanti meremas kepala yang tiba-tiba nyeri, bayangan apa itu?
“Win are you okay?”
“Sakit Mas Pras!” tubuh Dito menegang ditempatnya.
Setelah meletakkan Dio di stroler, Dito memberikan air mineral pada Winanti untuk sedikit meredakan nyeri kepalanya.
Jantungnya berdegub tak karuan kala Winanti meneguk air mineral itu perlahan.
__ADS_1
“Win, kamu... ingat sesuatu?” tanya Dito hati-hati.
“Maksud dokter apa?” ditanya seperti itu membuat Dito menelan kecewa sekali lagi.
“Tidak, lupakan saja” ucap Dito dengan senyuman manis menyembunyikan getir dalam dadanya.
‘Mungkin ini bukan waktunya’
***
Panji menatap tubuh lemah istrinya yang masih tidak sadarkan diri, setelah puas bertengkar dengan Galang ia memutuskan untuk menemui istrinya.
Mungkin setelah ini Naya akan mengusirnya tapi Panji tidak peduli, selagi wanita itu tertidur Panji akan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.
Tangannya masih setia mengusap pelan perut Naya yang sudah menampakkan tonjolan kecil, itu anaknya, hati Panji dipenuhi haru karena masih bisa meluapkan perasaan sayangnya pada sang buah hati.
Ia sungguh merindukan keduanya, hukuman Naya benar-benar menyiksanya.
Tangan yang senantiasa di genggam lebut oleh Panji perlahan bergerak diikuti kelopak mata Naya yang terbuka.
“Mas?”
“Hai sayang”
Naya terdiam, mencerna apa yang terjadi padanya sehingga membuat ia kembali bertemu dengan suaminya.
“Mas anakku?! Dia tidak apa-apa kan?!” tanya Naya histeris, Panji memeluknya, berusaha menahan tubuh lemah itu untuk melakukan gerakan tiba-tiba yang bisa membahayakan keduanya.
“Sssttt tenanglah Nay, gerakanmu bisa mengejutkan bayi kita sayang” peringat Panji yang membuat Naya sedikit tenang, dari kalimat yang Panji ucapkan itu artinya bayi mereka masih bertahan kan?
“Maafkan aku Mas, aku ceroboh, aku membahayakan anak kita, aku salah” aku Naya dengan air mata berderai.
Panji mengusap punggung Naya dengan teratur, dari kejadian tadi dan penjelasan Tristan matanya sedikit terbuka, Galang benar ini sepenuhnya salahnya yang tidak bisa menjaga istrinya sendiri.
Melihat Naya yang menyalahkan dirinya sendiri membuat Panji semakin merasa bersalah.
“Nggak kamu gak salah sayang, sudah ya, itu musibah”
Naya menganggu dalam pelukan suaminya.
“Nay, pulang ya? Kembali sama Mas, jangan tinggalin Mas sendiri” pinta Panji dengan tulus, Naya mematung di tempatnya.
Sebenarnya ia juga merindukan pria ini dan semua orang yang menyayanginya disana, tapi apakah jika ia kembali Panji tidak akan menyakitinya lagi?
Pintu terbuka, empat orang itu kembali untuk menjenguk Naya.
Panji menatap Galang dengan sengit, begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
Sedangkan Naya, dia kembali nelangsa saat melihat Winanti berada di sini, itu artinya kebersamaan mereka masih berlanjut kan?
Pandangannya berganti pada Galang yang tiba-tiba datang menolongnya, laki-laki itu, dia selalu ada saat Naya butuh pertolongan.
“Gimana keadaan kamu Nay?” tanya Tristan, membuat Naya kini mengetahui keberadaannya yang sempat terabaikan, dalam hati ia merasa bersalah karena sudah merepotkan semua orang.
“Baik, maaf ya bang Naya pasti bikin khawatir dan ngerepotin” ungkap Naya sembari menunduk, Tristan yang berada di sampingnya mengusap kepala Naya perlahan pertanda bahwa ia tidak merasa direpotkan oleh Naya tanpa memperdulikan tatapan marah dari dua pria yang ada di dalam ruang rawat tersebut.
Dito yang melihat pemandangan di hadapannya bersorak dalam hati, baik Galang maupun Panji memiliki saingan baru disini, ini akan seru!
“Terimakasih ya Lang sudah membantuku” ucap Naya dengan tulus, kini Panji bagaikan debu yang tak terlihat bagi Naya.
“Sama-sama Nay”
“Baiklah ini waktunya istirahat, kata dokter Naya harus bedrest, maka dari itu biarkan Naya istirahat sekarang” ucap Panji setengah mengusir halus dua orang yang sejak tadi menganggu ketenangan batinnya.
“Kamu aja yang pergi Mas, ajak Winanti, dia pasti kelelahan” sindir Naya yang membuat Panji baru menyadari keberadaan Winanti yang berdiri tepat di belakangnya.
Galang tersenyum mengejek Panji yang secara terang-terangan diusir istrinya sendiri.
“Dia bersamaku Nay, jangan salah paham, baiklah kami akan pergi, semoga segera pulih Nay” ucap Dito segera menengahi masalah ini.
Mereka keluar menyisakan Panji dan Naya yang kini bungkam.
“Nay..”
“Segitu berharganya dia buat kamu Mas?” tembak Naya membuat Panji gelagapan.
“Sayang, dia bersama Dito kamu dengar sendiri kan?” bela Panji membuat Naya tertarik menatapnya.
“Kamu kesini sendiri?”
“Aku pergi bersama Dito” Panji menunduk lesu saat Naya kembali membuang muka.
Itu artinya mereka berangkat bersama kan?
“Kamu tau betul apa yang membuat aku pergi, tapi kayaknya kamu memang tidak benar-benar serius saat mengajakku pulang” sontak Panji menggeleng.
“Tunggulah sebentar lagi Nay, hanya sebentar lagi, setelah itu kami tidak akan saling temu” ucap Panji lagi mencoba memohon pengertian istrinya.
Bukannya mengiyakan Naya malah menumpahkan tangisnya.
Entah mengapa ia merasa begitu jahat sekarang, yang ia tau Winanti sedang sakit, jika Panji berkata seperti itu apakah umur Winanti tidak akan lama lagi?
Jemari kokoh Panji mengusap buliran itu dengan lembut, ia tidak suka saat Naya menangis, hatinya ikut teriris melihat itu.
“Maaf Mas” ungkapnya dengan tulus, berusaha berpikir jernih selalu tidak bisa, rasa egois itu selalu menguasai diri Naya jika menyangkut suaminya.
__ADS_1
TBC