Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 13


__ADS_3

Deburan ombak dan angin yang melebur saat menyentuh tubuh membuatku merasa sejuk, entahlah, apa yang aku rasakan saat ini, kesedihan yang akhir-akhir ini terasa kembali, mampu membuat gejolak dalam diri ini memberontak.


Memang, bukan hanya aku yang memiliki masalah di dunia ini, bukan hanya aku yang di rundung kesedihan dalam hidup, dan bukan hanya aku yang pernah merasakan kehilangan.


Tapi apa ya? Espektasi yang besar namun pada akhirnya tidak tercapai selalu bisa membuat seseorang jatuh karena rasa kecewa kan?


Mungkin itu yang terjadi padaku saat ini.


Kandasnya hubungan dengan Galang, membuatku terlalu menginstropeksi diri, bahkan sampai tidak percaya diri.


Meski belum bisa dianggap kandas karena ia menghilang tanpa kabar, aku butuh penyelesaian, lebih tepatnya kepastian.


Galang memberiku ketidakpastian.


Terhitung sudah tiga bulan sejak kejadian semi romantis di bandara waktu itu, Galang menghilang.


Sampai saat ini aku masih berharap bahwa ia hanya mengerjaiku dan akan memberiku kejutan di pagi hari saat aku baru membuka mata, mengatakan bahwa semua hanya keusilannya untuk melihat seberapa besar cintaku padanya, sama seperti yang ia lakukan saat di bandara waktu itu.


Tapi tidak ada!


Hanya rasa kecewa yang kudapat dari mengaharapkan hal itu terjadi, karena itulah aku ingin semuanya selesai.


Aku kembali mengamati sekitar, untuk sekedar mengalihkan bayangan menyakitkan yang timbul dari pemikiranku sendiri, sebenarnya aku bisa saja menganggapnya bukan suatu hal yang istimewa, lagi pula ini bukan patah hati pertamaku.


Ini lebih pada masalah dengan personal yang ada dalam diriku sendiri.


Jika ditelaah lebih dalam, aku bukan sepenuhnya sakit hati karena kembali kehilangan orang yang aku sayang, tapi lebih kepada kenapa hal yang serupa selalu terjadi padaku? Apa yang salah dengan diriku? Apa yang harus diperbaiki? Hanya itu!


Nahasnya, jawaban itu belum ku temukan, aku merasa itu yang menjadi penyebabku uring-uringan akhir ini.


Ku langkahkan kaki untuk semakin mendekat dengan bibir pantai, angin yang datang dari arah berlawanan memainkan rambutku yang terasa menari-nari dengan angin pantai.


Perlahan kurasakan kaki yang basah tersapu ombak kecil.


Dingin!


Kontras dengan hati dan pikiranku yang memanas.


Aku menggeleng pelan, berusaha mengenyahkan rasa tidak enak dalam diriku yang terus saja mengganggu liburanku kali ini.


Aku berlibur untuk sembuh dari rasa sakit.


Bukan meratapi nasib!


Aku memilih berjalan menjauh dari bibir pantai, menyusuri pinggiran pantai, mencari tempat yang agak sepi, aku ingin berteriak, mengeluarkan semua kegundahanku melalui jeritan.


Tebing yang agak jauh di sana jadi pilhanku, tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk membuatku bisa menikmati momen saat ombak menghantam batu karang.


Tidak banyak pengunjung memang mungkin karena ini weekday, membuatku lebih leluasa berteriak sesuka hati.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrhhgggggggg!!!” teriakku sekuat tenaga.

__ADS_1


Ku hirup nafas dengan rakus setelah membuangnya percuma sembari mengeluarkan keluhku dalam jeritan.


Aku terduduk, rasanya ingin menangis, tapi air mataku terlalu mahal untuk masalah sekecil ini.


Aku sudah pernah melewati yang lebih besar dari ini, tangisan bukan bayaran setimpal untuk luka yang tak seberapa ini.


“Aku lelah Ya Allah” monolog ku, seolah sedang mengadu pada sang pemilik hidup.


Ini bukan lagi soal Galang, tapi masalah kantor dan masalah lainnya yang turut memperberat beban pikiranku.


Aku menunduk menatap batu besar tempatku berpijak saat ini, jika saja ada jaminan orang koma bisa terbangun kembali, aku ingin koma, tidur panjang ku rasa bisa membuat tubuh dan pikiranku refresh kembali.


Lebih dari itu, jika saja bunuh diri itu tidak dosa, aku sudah melakukannya sejak dulu, tanganku meremas kencang baju bagian dada, tempat jantung yang membuatku tetap hidup meski sebenarnya aku sangat ingin mati saja.


Aku sering merasa dipermainkan oleh takdir, kenapa aku harus bertemu dengan orang yang jelas-jelas akan meninggalkanku kemudian hari. Sedangkan aku sangat butuh sosok pria yang bisa menjadi suport system yang baik bagiku untuk bisa melewati semua masalah dalam hidupku.


Bukannya bahagia setelah bertemu dengan sosok yang aku harapkan, malah beban pikiranku bertambah karena ulah mereka.


Aku ingin kisah yang mulus seperti orang lain, bertemu-cocok-menikah!


Tapi mengapa susah sekali Ya Allah?


“Menangislah jika itu bisa membuatmu sedikit baikan” aku terperanjat dan reflek menoleh ke sumber suara, setauku tadi tidak ada siapapun.


Seorang pria, wajahnya tidak asing bagiku.


Aku bangun dari duduk, hendak pergi meninggalkan orang asing yang sudah tidak sopan menganggu renunganku.


Tidak ada yang salah dengan yang ia ucapkan, aku juga tau hal itu, lebih tepatnya pernah mendengar kalimat itu dan meyakininya juga.


Aku menoleh padanya yang malah menatap lurus ke depan, menatap ombak yang datang dan pergi meninggalkan pantai.


“Seberat apapun masalahmu, yakinlah, akan selalu ada pelangi setelah hujan badai” ucapnya lagi, tapi kali ini dia juga menatapku, aku bisa melihat ketulusannya saat mengucapkan itu.


“Terimakasih nasihatnya, saya permisi” pamitku, akutidak terbiasa berbicara dengan orang asing, apalagi saat ini suasanan pantai yang jarang pengunjung membuatku sedikit was-was berinteraksi dengan orang asing seperti pria ini.


“Kamu tidak ingat dengan saya, Kanaya?” lagi, kalimatnya membuatku yang sudah berjalan beberapa langkah kembali terhenti, dia tau namaku!


Aku berbalik menghadapnya, dengan jarak yang tidak begitu jauh, aku juga tidak asing dengan wajah itu, tapi siapa?!


“Saya Panji” mataku membulat sempurna, hari yang lalu aku bertemu dengan ibu dan adiknya sekarang aku kembali bertemu dengannya.


“Oh iya, kalau begitu saya duluan Panji” pamitku sekali lagi, setelah mengetahui siapa pria ini semakin menguatkan niatku untuk segera pergi.


Aku berbalik untuk meneruskan langkahku yang sempat terhenti karena Panji tadi.


“Lohh Kanaya?!” aku mendadak lesu, saat menyadari wanita paruh baya yang berdiri di hadapanku saat ini dengan senyuman yang manis, Mama Naura.


“Ma” sapaku sopan, seperti respon yang sudah-sudah, Mama Naura langsung menghampiri dan memelukku, dalam hati aku yakin bahwa siapapun yangmenjadi menantu Mama Naura ini pasti akan sangat beruntung.


“Mama kangen banget sama kamu, ternyata kita ketemu lagi, jangan-jangan kalian janjian di sini ya?” tuduh Mama Naura padaku dan tentu saja putranya, Panji.

__ADS_1


Melihatku yang hanya diam dan saling tatap membuat Mama Naura berhasil menggandengku.


Ini pasti akan lama, batinku.


“Ma, Naya mau ngedate sama Panji boleh tidak? Kami jarang meluangkan waktu berdua” ucapku spontan, aku ingin kami berbicara untuk mengakhiri sandiwara ini, dan hanya alasan ini yang ada di pikiranku.


Panji mengernyit heran, kontras dengan ibunya yang terlihat sumringah saat anak bujangnya mau ku culik untuk berpacaran, berpacaran apanya, kami saja tidak saling kenal selain nama!


“Oh kalian mau ngedate yah?” tanya Mama Naura yang ku angguki kikuk, sedangkan Panji pria itu saat ini malah asik dengan handphonenya, menyebalkan!


“Ya sudah gak papa, kalau bisa Naya nanti gabung ya ke villa kami, ada adik-adik dan papanya panji disana” sekali lagi aku hanya mengangguk.


Sebelum benar-benar pergi, Mama Naura sempat memeluk Panji dan seperti membisikkan sesuatu, kemudian mengedipkan sebelah matanya padaku.


“Mama ngomong apa sama kamu?” tanyaku to the point dibalas respon yang menyebalkan dari Panji, dia hanya menangkat sebelah alisnya kemudian berjalan mendahuluiku.


Oke aku tidak peduli ibunya berkata apa, aku ingin ini semua diakhiri.


Aku berjalan cepat, dan menghadangnya.


“Aku ingin ini semua diakhiri Panji! Kamu pikir membohongi orangtua itu gak dosa?! Aku gak mau berbohong lagi” dia tetap berjalan meninggalkanku, membuatku bertambah kesal, dengan sekuat tenaga aku berlari dan menghadangnya.


Dia sempat terkejut, namun aku berhasil menghentikan langkahnya.


“Aku ingin semua kebohongan ini diakhiri, kamu dengar?!” bentakku, tapi percuma saja, bukannya takut Panji malah bersedekap dan menatapku datar.


“Kalau gak mau bohong kita bina hubungan beneran aja, simple” jawabnya enteng, sementara aku sudah meraup oksigen sebanyak-banyaknya agar tidak kalap dan menerkam manusia menyebalkan di hadapanku ini.


“Kamu pikir usiaku ini usia buat pacaran, yang kalau gak cocok bisa putus?! Hubungan pria wanita yang ada dalam bayanganku saat ini hanya pernikahan Panji!” ketusku, sementara Panji? Dia terlihat santai menghadapiku yang kini sedang berapi-api.


“Ya sudah, kita menikah saja” aku melongo dibuatnya, lagi, dia sepertinya menjawab tanpa berpikir.


“Pernikahan itu bukan mainan buatku, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup!” bentakku lagi.


“Kamu pikir saya mau menikah berapa kali? Saya juga tau pernikahan itu bukan permainan, ketika saya sudah mengucapkan sesuatu, saya sudah memikirkannya matang-matang, Kanaya” ucapnya datar.


“Aku gak mau, kamu gila!” umpatku, apa-apaan dia, kami baru saja bertemu beberapa kali dan dia mengajakku menikah seperti mengajak bermain kelereng bersama anak-anak komplek lainnya.


Aku meninggalkan Panji yang hanya diam, melihatnya hanya akan membuatku semakin emosi, aku tidak akan lagi peduli dengan Panji beserta keluarganya, yang jelas aku tidak mau berbohong lagi.


“Mama juga ingin saya segera melamar kamu, itu yang Mama bisikkan padaku, jika kamu masih ingin tau”


Aku tetap menambah langkahku, ternyata dia melakukan ini hanya untuk ibunya, tidak salah, tapi aku tidak bisa menikah tanpa cinta, apalagi karena alasan orang tua, pondasinya tak terlalu kuat bagiku.


Aku tidak mau!


“Kalau kita memang jodoh, kalimat tidak maumu tadi tidak ada artinya Nay!” teriaknya.


Tapi aku menulikan runguku.


TBC

__ADS_1


__ADS_2