Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 68


__ADS_3

“Hasyuhhh!”


Dengan menatap sebal sang istri Panji memberikan selembar tisu.


“Makasih Mas”


“Kamu itu kalau dibilangin susah banget, kalau udah flu gini gimana?”


“Maaf Mas” sesalnya sembari menunduk sedih mendengar omelan sang suami.


Panji yang melihat itu bergerak memeluk tubuh istrinya, marahnya ini tercipta karena terlalu menghawatirkan istrinya.


“Sudah, tidak apa-apa, jangan diulangi lagi ya” Naya mengangguk dalam pelukan suaminya.


Panji mendesah lelah, sebenarnya ada sesuatu yang harus mereka hadiri sore ini, tapi jika sang istri dalam kondisi tidak fit, rasanya Panji ingin membatalkannya saja.


“Minum obat, lalu tidur ya” Naya mengangguk patuh.


Panji masih setia memeluk istrinya, mengusap lembut perut buncit Naya yang berisikan anak mereka, buah cinta dan kesabaran mereka.


Lelaki berumur hampir 35 tahun itu tidak menyangka akan ada di tahap ini, menikah dan akan memiliki buah hati dengan istri yang sekarang sudah merajai hatinya.


Tentu saja itu berkat kehadiran istrinya, sosok wanita yang tidak pernah sedikitpun ada dipikiran Panji, sosok asing yang tiba-tiba hadir dan mewarnai hidup pria itu dengan sendirinya.


“Kamu mikirin apa Mas?” Panji sedikit menunduk untuk menatap Naya.


Cup!


Kecupan singkat yang tiba-tiba itu berhasil membuat semburat merah di pipi Kanaya.


“Ihhh, aku lagi flu tau! Nanti Mas ketularan” Panji terkekeh mendengar ocehan istrinya.


Tangan Panji mengusap pipi yang masih memunculkan rona merah itu, salah satu hal yang ia sukai.


“Gak nyangka ya kita bisa ada di tahap ini Nay, di titik ini, hal yang gak pernah Mas kira bakal ada dalam hidup Mas” Naya tersenyum sekilas dan semakin mengeratkan pelukannya.


Pasalnya wanita hamil itu juga tidak pernah menyangka akan mendapat anugrah seperti ini, rasanya baru kemarin ia jengkel bukan main dengan pertanyaan ‘Kapan menikah?’ tapi, sekarang ia pun sedang mengandung, akan menjadi seorang ibu.


Meski harus tertatih dan berusaha survive menghadapi semua luka dan kehilangan..


Ayahnya.


Andai saja Ayahnya melihat ini semua.


Hati Naya mendadak mendung.


“Hiks!” Panji merenggangkan pelukan mereka saat isakan kecil itu lolos dari bibir istrinya.


“Loh! Kamu kok nangis Nay?” Naya menggeleng samar sembari kembali memeluk suaminya.

__ADS_1


Mendapat respon itu Panji hanya bisa mengusap punggung Naya teratur, berusaha menenangkan istrinya dengan gerakan spontan itu.


“Andai saja Ayah disini, masih sama kita, Ayah pasti seneng ya Mas bakal dapat cucu” Panji langsung paham apa yang membuat istrinya mendadak sedih.


“Ayah tau kok kalau mau dapat cucu, Ayah gak pernah ninggalin kita Nay, dia ada di hati kamu, di hatiku, di hati kita semua” Panji tau sebagus apapun kata-katanya, kehilangan tetap akan menjadi sumber kesedihan, Panji sudah mengalami itu.


“Iya” jawab Naya parau.


“Sudah, mari tidur Nay kamu harus istirahat” ajak Panji sembari merebahkan sang istri.


***


Naya harus terbangun saat ponsel suaminya tak berhenti berdering, suara gemericik air membuat Naya tau Panji sedang mandi.


Dibiarkannya saja ponsel itu berdering, meski sudah suami istri, Naya merasa ponsel Panji itu milik Panji, Naya tidak mau mengusik privasi seseorang.


Tak lama ponsel itu mati, Naya menghela nafas dan memilih bersandar pada headboard pening akibat flu masih Naya rasakan meski sudah banyak berkurang.


Drrrrttt drrtttt drrrtttt


Karena takut penting Naya bangkit dari rebahannya mengambil handphone yang masih asik bergetar dengan id caller Winanti.


Naya mengernyit heran, meski tidak ada lagi rasa cemburu untuk wanita itu, tapi menghubungi Panji berkali-kali membuat memori Naya ditarik pada kejadian sebelum ini.


Wanita hamil itu menggeleng pelan untuk mengenyahkan pikiran buruk yang masih asik menggelayuti pikirannya, langkahnya membawa Naya sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


Tok tok tok


“Biarin aja!”


“Tapi teleponnya dari tadi gak berhenti mungkin penting Mas”


“Tolong angkat sayang, bilang Mas masih mandi!” Naya mengangguk ragu, meski ia yakin Panji tidak bisa melihat itu karena pintu masih tertutup.


Setelah menghela nafas, Naya menggeser ikon hijau.


“Mas Panji, nanti jadikan? Udah aku siapin semuanya yang spesial loh” tidak ada yang salah dengan itu, tapi mendengar Winanti menyiapkan yang spesial untuk suaminya membuat asumsi buruk itu kembali menggelayuti pikiran Naya.


“Halo? Mas?!” tidak Naya tidak sanggup mendengar semuanya, wanita itu lalu membanting handphone Panji ke ranjang setelah menekan ikon merah dengan kesal.


“Siapa sayang?” Naya menatap marah Panji yang baru keluar kamar mandi dengan rambut yang masih basah.


“Kamu.. kenapa? Siapa yang telepon?” tanya Panji lagi saat menyadari ada yang salah dengan istrinya.


“Winanti yang telepon, sana pergi gih, dia sudah nyiapin yang spesial buat kamu tuh!” Panji gelagapan mendengar perkataan istrinya, sudah Panji duga ada yang tidak beres.


“Tunggu dulu Nay, jangan lagi salah paham” tak mau mendengar penjelasan Panji Naya segera berlalu ke arah balkon, menghirup udara segar serasa akan membuat pikiran Naya plong dari pada harus mendengar celotehan Panji.


“Nay.. dengar dulu” ucap Panji lagi dengan handphone yang menampilkan panggilan yang sedang berlangsung dengan Winanti.

__ADS_1


“Kak, ini Winanti, Kakak salah paham” Naya tertarik saat mendengar suara Winanti, rasanya ia tidak seharusnya bersikap kekanakan seperti ini.


“Lalu, sesuatu yang spesial itu apa Win? Kamu sadar tidak kalau pemilihan kata kamu itu sangat multitafsir dan sarat akan salah paham”


“Maaf Kak, tapi beneran deh, itu bukan hal aneh dan buruk”


“Lalu apa? jelaskan” buru Naya.


“Gapapa Mas aku ngomong?”


“Katakan saja Win!” jawab Panji tak sabaran, ia tidak mau membuat istrinya semakin berasumsi buruk tentangnya.


“Sebenarnya Mas Panji sudah siapkan kejutan romantis buat Kakak” mata Naya membola menatap Panji tak percaya.


“Sudah, terimakasih Win” setelah mengatakan itu Panggilan terputus.


“Mas, kamu siapin kejutan buat aku?”


Bukannya menjawab Panji justru memeluk istrinya, ia tidak mau kesalahan konyolnya beberapa waktu lalu membuat ia harus kembali berjauhan dengan istrinya.


“Iiih, jawab dong Mas!”


“Karena kamu sudah tau jadi namanya bukan lagi kejutan” Naya mencebik mendengar jawaban suaminya, padahal ia pikir Panji sudah berubah menjadi sosok yang lebih romantis dari sebelumnya.


“Ayo siap-siap Mas, aku mau datang ke kejutan itu, anggap saja aku tidak tau ok?” Panji memutar bola matanya malas, mendengar kalimat tidak masuk akal itu.


“Kamu masih sakit sayang” Naya memberengut.


“Tapi aku mau datang, aku mau hargain usaha kamu”


“Sudah Mas batalkan, udara malam hanya akan buat flu kamu semakin parah” Naya menunduk sedih.


“Hiks, kan sayang banget Mas, kamu sudah siapin itu tapi kita gak jadi kesana, kamu pasti keluarin uang buat itu kan?” Panji mengangkat dagu Naya, membuat wanita itu menatap matanya.


“Jangan pikirkan uang Naya, kamu lebih penting dari apapun, semua cinta dan kesabaran kamu menghadapi serta memahami Mas selama ini lebih mahal dari apapun” Naya berkaca-kaca mendengar ucapan manis suaminya, netranya asik menelusuri dalamnya perasaan yang Panji isyaratkan dengan kata-kata.


“Aku cinta kamu Mas” satu kalimat yang sukses meluncur dari bibir Naya mampu membuat Panji tersenyum lebar.


Perlahan pasti pasti Panji mengikis jarak antara keduanya.


Cup!


“Mas lebih cinta kamu daripada apapun yang ada di bumi ini, Kanaya Widhiani”


Rasa abu-abu diantara keduanya sudah berubah menjadi warna yang tegas dan bersinergi, membuat cinta keduanya bertepuk serempak menciptakan melodi yang indah.


Tamat


Finally cerita ini bisa ku rampungkan meski penuh dengan drama dalam penulisannya 😆

__ADS_1


Aku sebagai Author hanya bisa menyampaikan beribu terimakasih untuk kalian semua yang sudah menjadi penyemangatku hingga bisa menyelesaikan cerita ini..


Terimakasih banyak guys!


__ADS_2