Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 22


__ADS_3

Bunga lili putih mendominasi Ball Room tempatku melangsungkan pernikahan ulang, rasa haru sekaligus sedih menyeruak begitu saja saat mengingat Ayah tidak hadir di acara ini, padahal beliaulah yang paling menginginkan acara ini ada.


Mataku kembali mengembun, andai saja aku tidak terlambat menikah, pasti beliau akan ada di sini duduk di samping Mama dengan wajah bahagia.


“Ini Nay” ucapnya dengan mengulurkan selembar tisu, aku menatapnya sekilas, kemudian menerima tisu itu.


Akad dilangsungkan tadi pagi, segala prosesi mengundang air mata juga sudah dilaksanakan, tapi aku selalu sedih saat mengingat Ayah, aku merasa gagal membahagiakan beliau.


“Kamu mau istirahat sebentar?” tanya pria disampingku, aku kembali menatapnya dengan mata yang sudah kembali berair, kemudian menggeleng pelan, dia mengelus punggungku dengan lembut membuatku merasa sedikit tenang.


Hingga tak terasa acara resepsi kami berakhir, tidak ada tamu yang datang, dan kami diperbolehkan untuk beristirahat setelah memesan makanan yang akan kami makan di kamar saja.


Meski sudah pernah berada dalam satu kamar dan berciuman tetap saja rasanya masih berdebar saat hanya berdua dengannya.


Ciuman...


Tiba-tiba aku mengingat kejadian seminggu yang lalu saat dia mengecup pelan bibir ini, kepalaku menggeleng untuk mengenyahkan bayangan-bayangan yang dengan kurang ajarnya muncul.


“Kamu kenapa?” aku sontak menatapnya yang berjalan bersisian denganku.


“Gak papa Mas” dia mengangguk saja.


Heran ya, kok ada orang yang puas dengan jawaban itu, aku kan ingin di tanya lebih lanjut?!


Keberadaan Mas Panji membuktikan bahwa orang seperti itu ada dan akan menemani sisa hidupku, menyesal sudah tidak ada artinya, mungkin setelah ini aku akan mengajak Mas Panji bicara, tentang kelangsungan hidup kami setelah ini.


Mas Panji membuka pintu kamar dan mempersilahkan aku masuk, yang pertama kali ku lihat adalah banyaknya helai mawar yang bertaburan, di lantai dan di ranjang.


Tubuhku tergerak untuk duduk di tepi ranjang, mengambil beberapa helai mawar itu kemudian menciumnya..


Wangi..


Tapi aku sedih saat melihat mawar yang sudah terkoyak seperti ini, padahal saat mereka berada dalam tangkainya akan terlihat lebih cantik..


“Saya mandi duluan Nay” aku menatapnya sekilas, kemudian mengangguk, naluriku sebagai istri muncul, aku bangkit dari dudukku dan menyiapkan bajunya.


Setelah selesai, seseorang datang membantuku melepas semua pernak-pernik yang menempel di badanku, tak perlu waktu lama, sekitar 30 menit aku sudah berganti pakaian biasa dan menghapus sisa make up ku, sedangkan orang tadi sudah keluar membawa semua pernak-pernik itu.


Tepat saat wajahku sudah bersih, Mas Panji keluar menggunakan bathrobe dengan rambut yang basah.


Dia menatapku dari pantulan cermin dan tersenyum, membuatku salah tingkah dan bergegas untuk mandi sedangkan Mas Panji berjalan ke arah ranjang untuk mengambil pakaiannya yang sudah ku siapkan.


Saat tubuh kami berpapasan, aroma maskulinnya memenuhi rongga hidungku membuatku semakin tak karuan dan mempercepat langkahku.


“Terima kasih Nay” langkahku terhenti saat dengan lirih dia mengucapkan itu, aku berbalik menghadapnya yang ternyata sedang menghadapku dengan pakaian yang ada dalam genggamannya.


Aku menaikkan sebelah alisku, terima kasih untuk apa? Karena sudah menyiapkan bajunya?

__ADS_1


“Sama-sama” setelah mengucapkan itu aku menambah langkahku, bayangan air dingin yang mengguyur tubuh ini membuatku tidak sabar untuk merasakannya.


Tapi saat pintu kamar mandi akan tertutup kata-kata Mas Panji kembali menyihirku “Terimakasih sudah mau menikah denganku”


Aku mematung di balik pintu, kalimat itu lebih lirih dari sebelumnya, tapi aku masih mampu mendengarnya.


Seberuntung itukah dia memilikiku sebagai istri?


Guyuran shower mendinginkan tubuh membuatku asik menikmati tiap tetesan air yang menyentuh pori-pori kulitku, jika diingat seharian ini Mas Panji bersikap manis padaku, mulai dari pagi saat persiapan hingga akhir acara.


Mas Panji selalu tau apa yang aku butuhkan, bahkan ia menangis haru saat aku memasuki tempat acara sesaat setelah ia mengulang akad kami. Jika aku menangis karena teringat ayah, aku tidak tau dia menangis karena apa?


Tapi kalimatnya tadi seakan menyambung kepingan-kepingan tanya dalam benakku, sebahagia itukah dia menikahiku yang belum lama ia kenal ini, sampai harus repot-repot berterimakasih?


Aku menggeleng pelan, belum tentu juga Mas Panji seperti itu.


Setelah merasa sudah selesai dengan acara mandiku, aku keluar dengan baju ganti yang ku bawa dari rumah, bukan baju seksi pembangkit nafsu pria, hanya baju biasa.


Aku masih belum punya nyali menggunakan itu, meski sudah dihadiahi baju serupa oleh orang terdekatku.


Langkahku kembali terhenti saat melihatnya dengan gesit menata semua makanan di atas meja kecil yang ada di kamar ini.


Tangan berototnya, dada bidang dan perut bak roti sobek membuatku menelan ludah kasar. Bagaimana rasanya saat tangan kokoh itu menjamah tubuhku?


Pasti nyaman sekali saat berada dalam peluknya. Aku jadi penasaran bagaimana sensasinya saat tanganku menjelajahi daerah perutnya.


“E-ehm i-iya” gugupku, dia nampaknya bingung dengan responku, namun ia kembali sibuk dengan kegiatannya menata makanan.


“Kamu masih mau diam disitu?” tanyanya lagi saat aku masih sibuk menikmati keindahannya.


Dengan langkah malu-malu aku mendekatinya, maksudku mendekati meja makan.


Tanpa diminta Mas Panji memundurkan kursiku, mempersilahkanku duduk, dan itu terlihat manis sekali dimataku.


“Makasih mas” dia hanya tersenyum, entah ini senyumannya yang keberapa,hal yang jarang ku lihat sejak kenal dengannya.


Aku mengambilkan nasi dan lauk untuknya terlebih dahulu.


“Terimakasih Nay” gerakan tanganku yang sedang mengisi piringku sendiri terhenti, tiba-tiba aku mengingat kata-katanya sebelum aku mandi tadi.


Pipiku kembali memanas, “Sama-sama Mas” cicitku malu, jelas itu untuk aku yang mengutamakannya lebih dulu dari pada diriku sendiri, tidak mungkin ‘terimakasih’ dengan maksud yang sama dengan yang tadi kan?


Kami mulai memakan makan malam kami, lebih tepatnya Mas Panji, karena saat ini melihatnya makan rasanya sudah membuatku kenyang.


Aku salah tingkah saat dia balik menatapku, hingga tidak sengaja mengenggol gelas yang berada di sampingku.


Untung saja Mas Panji tanggap dan menangkap gelas itu sebelum menyentuh tanah dan pecah, netranya kembali menajam seperti saat pertama kali kami bertemu, aku meringis tak mampu menerima kemarahannya setelah seharian ini terbuai sikap manisnya.

__ADS_1


“Kamu gak papa kan?” perlahan mataku terbuka, kembali menatapnya yang sudah pada mode kalem lagi, aku menggeleng pelan kemudian menunduk dan memulai makanku tanpa mau menatapnya lagi.


Suara sendok dan piring berdenting menghiasi makan malam kami. Hingga makanan kami habis dan semua peralatan makan tadi sudah di bereskan room service, kami masih diam.


“Jangan tidur dulu Nay” aku mengurungkan niatku memunggunginya saat Mas Panji selesai sikat gigi dan berjalan ke arah ranjang.


Jantungku kembali di pompa dengan kecepatan yang tidak biasa, inikah waktunya aku menyerahkan segalanya pada Mas Panji yang saat ini sudah sah sebagai suamiku secara hukum dan agama?


Bayangan nakal yang tadi muncul kembali membayangiku, aku duduk bersandar pada headboard saat dia sudah berada disampingku.


“Saya ingin membicarakan beberapa hal denganmu” aku menatapnya yang sudah berwajah serius, aku langsung tertular karena pasti ini tentang hal yang serius juga.


“Oh iya Mas, mau bicara tentang apa?”


Alih-alih menjawab rasa penasaranku dia malah sibuk menyamankan diri duduk bersandar di sampingku, dia menatapku sekilas, kemudian mengamit tanganku membawanya dalam genggaman tangan hangatnya.


“Saya hari ini bahagia Nay, sangat” aku mempercayai itu, binar wajahnya saat ini dan sikap manisnya hari ini sudah cukup sebagai bukti.


“Kamu mau tau kenapa?” tanyanya saat aku hanya diam.


“Kenapa Mas?”


Dia tersenyum, lagi, tapi bumi seakan terhenti saat ia mengecup pelan tanganku yang ia genggam, mungkin ini hal yang biasa bagi sebagian orang, tapi ini dilakukan oleh seorang Panji, seseorang yang kaku dan dingin.


“Pernikahan adalah impian saya sejak dulu, dan kamu yang dipilih tuhan untuk mengambil peran itu” hatiku menghangat, bolehkah aku mengganggap Mas Panji mensyukuri kehadiranku?


“Saya ingin kita serius menjalani pernikahan ini Nay”


“Apa itu artinya aku harus melaksanakan kewajibanku sebagai istri juga?”


“Tentu, karena saya juga akan melaksanakan kewajibanku sebagai suami bagimu juga, pertanyaan macam apa itu!” kesalnya hingga tangan tangan kami terlepas karena aku sudah menghancurkan suasana romantis yang susah payah ia bangun, padahal bukan itu maksudku, ah bagaimana cara membuat manusia ini menangkap maksudku ya?!


“Bukan itu maksudku, masa kamu tidak bisa mengerti maksudku Mas?!” gemasku, aku yakin dia tau maksudku, tapi yang kudapati kini hanya tatapan bingungnya yang menjelaskan semua.


Aku meraup udara sekitar dengan rakus, berharap segala kosa kata yang tepat hinggap di otak mungilku.


“Hubungan ranjang” dua kalimat itu akhirnya meluncur bebas dari bibirku, aku tak berani lagi menatapnya, malu!


Namun jemari tangannya menyentuh daguku, perlahan membuatku kembali menatapnya.


“Apa salah jika saya menginginkan itu?” aku diam asik menyelami matanya yang tidak lagi manampakkan sorot tajam seperti awal kami bertemu.


“Tidak, hanya saja ak--” jari telunjuknya sukses menghentikan kataku.


“Saya tau ini yang pertama bagimu, saya pun begitu, tidak usah terburu-buru, kita punya sisa hidup kita untuk mencoba segalanya bersama” jelasnya membuatku terenyuh, tidak ada paksaan atau apapun yang biasa dilakukan suami pada istrinya yang menolak melakukan itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2