Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 6


__ADS_3

~Baby won't you tell me why, there is sadness in your eyes~


Kini lagu dari michael learns to rock yang berjudul that’s why you go away menemaniku kali ini, tidak pasti namun aku yakin, Galang sedang memiliki kegundahan pada terakhir kali kita bertemu.


Terhitung sudah 3 minggu dia menghilang begitu saja setelah selalu menghabiskan waktu bersama, apa ya? Rasanya seperti.. Hampa?


~You're the one who set it up now you're the one to make it stop~


Nah lagu ini seperti menyuarakan isi hatiku, dia yang memulai, dia juga yang mengakhiri, apakah sudah benar-benar berakhir? Aku tidak tau.


~I'm the one who's feeling lost right now~


Sialnya, meski dia belum lama menghiasi hidupku, aku merasa kehilangan sekarang, ku jambak pelan rambutku sendiri berharap bayangan dan segala kenangan tentang Galang bisa keluar dari kepalaku.


~Love is one big illusion I should try to forget~


Benar, cinta itu hanya ilusi bagiku kini, tidak nyata.


~But I'm not the man your heart is missing, that's why you go away I know~


Masalahnya dia mengatakan mencintaiku, tapi mengapa berakhir seperti ini juga? Ah, aku lupa, bahkan masa laluku sering berulang-ulang mengatakan kalimat itu, kami juga berakhir pada perpisahan.


~Sitting here all alone in the middle of nowhere, don't know which way to go~


Aku merasa terdampar pada perasaan yang abu-abu, tidak tau harus berbuat apa setelahnya, bagaimana bersikap saat ia ternyata memutuskan kembali.


Kembali? Arrrrgghhhhhh.


Bahkan hati kecilku mengaharapkannya untuk kembali.


Aku mendesah lelah, padahal aku sudah membentengi diriku sebaik mungkin, hanya karena lubang kecil yang Galang buat aku sudah ingin membantu menghancurkan pembatas yang aku buat itu bersamanya.


Ku bereskan semua barangku yang berserakan di meja, aku memutuskan untuk pulang saja, niatku yang ingin lembur sore ini pupus sudah, ragaku di sini, tapi pikiranku tidak tau kemana


Sesampainya di lobby, langkahku terhenti.


Penglihatanku menangkap siluet seseorang yang kukenal, seseorang yang saat ini kunantikan kehadirannya?


Dia, berdiri diambang pintu utama kantor ini. Aku menambah langkahku yang semakin membuatku dekat dengannya.


“Kanaya!” sapanya saat menyadari keberadaanku.


“Hai Galang” dia hanya tersenyum seperti biasa.

__ADS_1


“Mau ngopi-ngopi bentar?” tawarnya, ya, kurasa kami perlu bicara saat ini.


“Cafe depan kantorku gak masalah kan?” dia menggeleng dengan senyumannya yang tidak pudar.


Tanpa membuang waktu kami berjalan bersisian.


“Gimana kabar kamu?” basa-basinya setelah kami memesan minum dan beberapa makanan ringan.


Aku menatapnya yang berada di depanku, karena kami duduk berhadapan.


“As you see, kamu sendiri?” dia menghela nafas dalam dan menatapku dengan intens.


“Aku baik, are you really okay Nay?” tanyanya memastikan.


“Yes sure” dia tertawa, setelah tidak bertemu beberapa hari, aku kembali terkejut dengan respon uniknya.


“Aku lupa, mungkin jika aku tidak menemui kamu lagi sekalipun dunia ini tidak akan kiamat bukan?”


“Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan, Lang?” tanyaku tanpa menghiraukan sindirannya tadi.


“Aku mau minta maaf” aku mengernyit heran.


“Soal?”


“Tanya saja apa yang ingin kamu tanya, keinginanku masih sama, rasaku pun tidak berubah Naya” damn!


“Sebenarnya, aku bingung, bingung dengan sikapmu, bingung dengan perasaanku, semuanya lah” dia terkekeh mendengar penuturanku, pemandangan yang beberapa hari ini ku rindukan.


“Satu-satu bingungnya, mari dicari jawabannya bersama-sama” godanya dengan wajah jahil andalannya.


Aku menatapnya datar, aku sebal jika dia bergurau saat aku bicara serius seperti saat ini.


“Aku tidak ada niat mempermainkan perasaanmu, aku sudah bilangkan aku ada pekerjaan dan tidak bisa bertemu?” aku mengangguk, tapi biasanya Galang akan menghubungiku via telpon atau apapun, tidak menghilang seperti bang toyib, batinku.


“Aku pikir kita butuh space, terlalu dekat dan sering bertemu membuat kita tidak peka dengan perasaan kita sendiri” nah, dia membaca pikiranku lagi. Aku diam, mencerna kata-katanya. Benar juga!


“Aku mau kamu memastikan perasaanmu padaku Nay, ku pikir dengan aku tidak menemui ataupun menghubungimu bisa membuatmu sedikit paham tentang arti hadirku untukmu”


“Lalu kamu mau tau hasil dari semedimu ini Lang?” dia tertawa kemudian menggeleng pelan.


“Aku mau kamu yang mengatakan itu padaku sendiri, tanpa paksaan dan tulus dari hatimu, meski aku sudah tau bagaimana perasaanmu padaku” Galang menatapku yang juga menatapnya dalam.


“Kamu dukun ya?” tuduhku, tapi dia malah tertawa terbahak-bahak sampai pengunjung lain memperhatikan kami.

__ADS_1


“Galang, malu di lihatin orang-orang” ingatku, dia langsung menghentikan tawanya ketika sadar menjadi pusat perhatian.


“Ya habis kamu, gak ada perumpamaan yang lebih bagus apa, dukun, aku semenyeramkan itu ya buat kamu?” aku mendengkus, aku berkata seperti itu karena tidak sekali dua kali dia tau isi pikiranku.


“Ya oke oke, maaf Nay, tapi enak juga sih jadi dukun” aku menaikkan sebelah alisku, dia ini aneh, tadi tidak terima tapi sekarang malah seperti ini.


“Kok gitu?” dia terlihat seperti menahan senyumnya.


“Nanti aku pelet kamu”


“Ku balas pake santet ya, Lang?” dia tertawa lagi, kali ini air matanya sampai keluar dari ujung mata.


“Jangan dong, ntar kamu jadi janda sebelum aku nikahin”


Otak kecilku sempat loading, mencerna kata-katanya barusan.


“Ya kalau belum kamu nikahin, aku belum jadi janda dong, Mas Galaaaang?!!!” sungutku.


“Oh iya betul juga” setelah berkata itu tawanya kembali mengudara.


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya. Receh sekali dia ini.


“Btw, kamu kok tambah manis sih lama gak ketemu” katanya sembari menatapku intens, pipiku menghangat, membuatku menunduk malu menyembunyikan semburat merah yang muncul karena ulahnya barusan, meski tau kalau dia sudah melihat apa yang berusaha ku sembunyikan.


“Apasih Lang!”


“Aku suka kamu panggil Mas kayak tadi Nay, panggil Mas lagi dong, lagian aku nih lebih tua dari kamu yaa” selorohnya dengan nada tak terima.


“Mas Galang” ucapku menuruti permintaannya, Galang memegang dadanya dengan senyum yang berbinar-binar, sedangkan aku kembali malu-malu macan.


“Kita kayak anak ABG yang lagi kasmaran ya” ucapnya yang ku angguki, kemudian kami tertawa bersama.


“Aku kangen banget sama kamu Naya” ucapnya sendu, akupun sama, tapi untuk mengatakannya, suaraku seperti tercekat pada tenggorokan.


“Salah siapa menghilang kayak bang Toyib” dia tertawa lagi.


“Tapikan aku langsung kembali padamu Nay”


“Langsung?” dia mengangguk.


“Kamu tujuan pertamaku saat pesawatku sudah landing” lega rasanya saat ia masih memprioritaskanku.


Rasa kecewa dan sedihku sudah hilang entah kemana, semudah itu, benar kata Galang, kami butuh space untuk sadar perasaan masing-masing.

__ADS_1


TBC


__ADS_2