Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 15


__ADS_3

Aku kembali terdampar di cafe pusat kota yang sedang hits, tempat yang selalu aku kunjungi saat suntuk tiba. Ku lirik tas berisi uang hasilku memelas pada pihak HRD, aku tidak dipersulit, hanya saja perkataan Bu Asmi yang lebih tepat seperti menyindirku yang kehabisan uang setelah liburan sedikit menyentil egoku.


Aku kan hanya pinjam, bukan minta, nanti juga otomatis terpotong dari gajiku, lagian ini kali pertama aku meminjam ke kantor setelah bekerja selama tiga tahun di kantor ini, kenapa responnya seperti aku sering meminjam dan berkelit untuk membayar?!


Menyebalkan!


Ku hela nafas dalam untuk menetralkan emosi yang kembali muncul karena mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


Aku tertunduk menatap matcha latte yang sudah tinggal separuh cangkir, terhitung sudah satu jam aku berada di sini, duduk sendiri dan termenung meratapi nasibku yang selalu saja diremehkan seseorang.


Aku tidak suka perkataan Bu Asmi tadi, aku merasa seperti orang paling miskin sedunia, tatapan meremehkannya cukup membuat dadaku sesak.


Kembali ku hela nafas, jika dipikir lagi, aku memang tidak punya uang yang cukup, itu sebabnya aku meminjam kantor, keluargaku juga bukan orang yang berada, secara finansial keluargaku termasuk pada perekonomian menengah, tidak terlalu miskin, tidak juga kaya, pas ditengah.


Mungkin hanya aku yang terlalu mengambil hati perkataan beliau, padahal mungkin beliau tidak ada maksud sedikitpun seperti itu.


Tidak bisa ku bayangkan jika aku jadi menikah dengan salah satu pria di masa laluku, akan jadi seperti apa hidup kami saat aku sendiri belum matang secara finansial dan harus membantu perekonomian keluargaku, ditambah lagi bila suamiku nanti tidak mengijinkanku untuk bekerja.


Aku baru menyadari ini, mungkin saja ini alasannya mengapa aku tidak kunjung menikah meski umurku sudah tepat untuk itu, selain belum matang secara finansial aku juga memiliki emosi yang tidak stabil.


Aku kembali meneguk mactha latte ku yang sudah tinggal sedikit ini hingga habis, piring kecil bekas chocolate cake yang tadi ku pesan sudah kosong, aku memutuskan untuk pulang ditambah langit yang mulai mendung membuatku serampangann memasukkan semuanya ke dalam tas sembari berjalan.


Brukkkk


Aku jatuh terjerembab ke belakang saat seseorang dari arah berlawanan menabrakku.


“Maaf” ucapnya sembari membantuku berdiri.


“Gapap..” kataku terhenti saat mengetahui siapa yang berada didekatku saat ini.


“Naya?!” sepertinya dia juga terkejut bertemu denganku lagi.


Aku malas bertemu dengan dia lagi, setelah terakhir kali kami bertemu, ku tepis tangannya kasar dan berlalu pergi tanpa mengucapkan terimakasih.


Bukannya membiarkanku pergi, mataku terbelalak saat Panji justru membuntutiku keluar, segera ku percepat langkahku, lebih tepatnya setengah berlari saat langkah lebar Panji hampir mensejajariku.


Jarak kami sudah cukup jauh, tapi dia tetap membuntutiku, mau apasih dia?! Kini aku sedang berdiri di pinggir jalan hendak menyebrang.


Panji semakin dekat denganku!


Jalanan sudah sepi meski lampu lalu lintas sedang hijau.

__ADS_1


“Naya! Tunggu!” teriaknya saat sudah kian dekat denganku.


Aku segera melangkah maju tanpa memperdulikan apapun, aku hanya ingin jauh dari pria ini!


Brakkk! Tiiiiiinnnnnnn.


“NAYA!!!!”


Kepalaku mendadak pusing, pandanganku kabur, hanya jeritan Panji yang terakhir kali ku dengar, setelah itu semuanya menggelap.


***


Aku terbangun di sebuah kamar serba putih, kepalaku pusing.


“Naya?!” aku menoleh ke asal suara yang berada disampingku.


Panji?! Kenapa bisa ada dia disini? Sebenarnya aku berada dimana?


“Minum dulu” perintahnya dengan sebuah gelas berisi air putih yang sudah berada di depan mulutku, membuyarkan semua tanyaku, tapi aku menurut saja karena aku juga kehausan.


Panji membantuku minum, namun ku rasakan gelas yang ia pegang bergetar. Setelah selesai baru kusadari tangannya bergetar, wajahnya juga pucat dan berkeringat.


“Saya dimana?” tanyaku tanpa menghiraukan semua keanehan Panji.


Aku ingat, aku berusaha menghindarinya yang membuatku harus berada disini bersamanya.


“Saya mau pulang” ucapku tanpa memandangnya, tak mau berlama-lama bersamanya.


“Tunggu dokter periksa kamu dulu”


“Tapi saya harus pulang sekarang keluarga saya pasti sudah menunggu saya pulang” alibiku, tapi memang benar, tadi saja sudah sore, kemungkinan saat ini sudah malam kan? pasti ayah dan adikku sedang mencariku sekarang.


“Saya sudah mengabari keluarga kamu” ucapnya membuatku memandanganya tak suka.


“Memangnya kamu siapa?! Berhenti sok peduli, kita hanya orang asing” ketusku, bisa kulihat rahangnya mengeras, itu artinya dia terpancing emosi.


“Kamu masih perlu penanganan dokter Naya, jika dokter sudah memperbolehkan kamu pulang, saya juga tidak akan menahan kamu disini” ucapnya dengan nada yang tenang, aku terkejut, kupikir dia akan marah atau paling tidak berkata pedas terhadapku, tapi tidak!


Kami saling pandang dalam diam, aku menampakkan rasa tidak sukaku padanya berharap ia sadar bahwa aku tidak suka berada didekatnya.


“Selamat malam” pandangan kami terputus saat seseorang berjas putih berada diambang pintu.

__ADS_1


“Silahkan masuk dokter” dia berdiri dan sedikit mundur untuk mempersilahkan Dokter itu memeriksaku.


“Permisi ibu, saya ingin memeriksa keadaan ibu, apakah ibu masih pusing?” tanya dokter itu sembari menatapku, aku menggeleng pelan. Kemudian dokter itu beralih pada Panji yang berada di sampingnya.


“Baik pak, istrinya sudah boleh pulang karena tidak ada luka yang serius, nanti perbannya sering-sering di ganti saja agar lukanya cepat kering dan sembuh” Panji mengangguk dengan santai, tapi tidak denganku, apa-apan dia mengatakan bahwa aku ini istrinya!


“Baik dokter terimakasih”


Dokter paruh baya itu hanya tersenyum kemudian berlalu meinggalkan kamar rawatku.


“Kamu sudah boleh pulang Naya” sudah tau! Kesalku dalam hati, aku tidak mau menjawabnya kali ini, biar saja dia menganggapku tidak sopan dan tidak akan pernah mengganggu hidupku kalau-kalau kami bertemu kembali.


Aku bangun perlahan kemudian turun dari ranjang, saat kakiku baru saja menyentuh lantai kepalaku mendadak pening, tubuhku hampir ambruk sebelum sebuah tangan menahanku.


“Kalau masih pusing kenapa bilang tidak pada dokter tadi?” sindirnya, aku menatapnya dengan sinis.


Ku tepis kasar tangan dinginnya. Sejenak aku tersadar, tangannya dingin?!


“Segitu hinanya kah saya dimata kamu Naya? Saya hanya ingin membantu kamu” desisnya dengan nada yang dingin, kini aku tau, aku sudah menyentil egonya sebagai laki-laki.


Tapi siapa peduli?! Dia yang terlebih dulu mengusikku!


“Kalau begitu jangan bantu saya, banyak orang kemalangan yang lebih butuh bantuan kamu” ketusku.


Dia menghela nafas.


“Baiklah, kamu mau pulang kan? Saya antar” aku kembali menatapnya tak suka.


“Aku mau pulang sendiri!” bentakku, kepalaku pusing dan pria ini malah memancing emosiku.


“Jangan keras kepala Naya, kita tidak akan pulang ke rumah kamu” aku mengernyit heran, jika tidak ke rumahku, lalu kita akan kemana? Ke rumahnya?!


“Tolong jangan salah paham dulu” potongnya saat aku hendak meluapkan kekesalanku untuk kesekian kalinya.


Dia diam, mengurut pelipisnya pelan, kemudian menatapku dengan serius.


“Saya sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, tapi keras kepalamu membuat kepala saya pening, tadi bukan saya yang terlebih dulu menelpon keluargamu, tapi adikmu yang lebih dulu menelpon ke ponselmu” jelasnya, aku diam menanti kelanjutan ceritanya.


“Tolong jangan panik, tapi adikmu memberi kabar bahwa Ayah kamu sekarang berada di rumah sakit karena tidak sadarkan diri” imbuhnya yang membuatku mencelus, jantungku berdegub dengan cepat, Ayah tidak pernah mengeluh apapun selama ini, lalu sekarang apa?! Kenapa tiba-tiba seperti ini?


Air mataku meleleh, bayangan-bayangan buruk mulai menghinggapi pikiranku, hingga sebuah pelukan dan belaian lembut di punggung membuatku sedikit tenang.

__ADS_1


TBC


__ADS_2