
“Mas mari makan, makanan sudah siap” ajak Winanti pada Panji.
Panji masih hanyut dalam lamunannya, Winanti tau apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki yang ia cintai ini.
Winanti juga mendengar kabar hilangnya Naya selama ia dirawat di rumah sakit, rasanya sakit sekali saat hanya memiliki raga pria dihadapannya, tapi jiwanya hanya tertuju pada seseorang.
Tapi Winanti masih belum ingin menyerah!
“Mas?!” ajaknya lagi, kali ini sembari menyentuh tangan kokoh Panji.
“Eh iya Nay” hati Winanti mencelus saat justru nama lain yang meluncur dari bibir Panji, lagi-lagi ia hanya menjadi bayangan.
Tak lama winanti tersenyum, memilih tidak mendengarnya, menebalkan telinga dan kembali menguatkan hatinya.
“Mari makan Mas” ulangnya yang hanya diangguki oleh Panji.
Mereka berjalan beriringan, raga Panji ada, tapi jiwanya pergi mencari keberadaan Naya, tidak ada hari yang ia lalui tanpa memikirkan keberadaan istrinya.
Sudah satu bulan Naya menghilang, semua keluarga besar sudah tau, dia dimusuhi semua orang, Panji kembali sendirian.
Winanti kembali menghela nafas ketika mereka berdua hanya makan dalam diam tidak ada lagi senda gurau, tidak ada lagi cerita sambil makan, tidak ada.
“Win, aku mau pergi sebentar ya”
Tangan winanti yang sedang membereskan bekas makan mereka tiba-tiba terhenti, “Kemana Mas?”
‘Mas Panji ingin mencari Naya kah?’
“Ada urusan” setelah mengatakan itu Panji langsung pergi.
Pikirannya yang penuh ingin segera ia ringankan, hanya satu tempat yang mungkin bisa membuatnya sedikit gamang.
Mobil sedan klasiknya membelah jalanan, tak lupa ia mampir untuk membeli sebuket bunga lili putih dengan beberapa tangkai mawar.
Dalam perjalanan ia terus menerus merenung, berkali-kali menyalahkan nasib juga tidak ada gunanya.
Mesin mobil ia matikan ketika sudah sampai tujuan.
Panji berjalan dalam kesunyian. Terik matahari yang seakan membakar tubuhnya bukan apa-apa baginya.
Keringatnya bercucuran, tangannya bergetar seirama dengan langkah kaki yang sudah tau tujuannya.
Ardhiana Kinanti.
Untuk pertama kalinya ia berani mengunjungi makam itu, air matanya yang menggenang luruh seketika.
Tubuhnya yang lemas membuatnya duduk berlutut di hadapan pusara Kinanti.
Bayangan-bayangan tentang masa lalunya terngiang di kepala.
‘Pak Panji harus coba konsep ikhlas, semua trauma itu bisa dihilangkan dengan satu langkah pasti, mengikhlaskan semua yang terjadi’
‘Datangi makam Ibu Kinanti, ceritakan semua yang mengganjal’
‘Lawan semua hal yang membuat Pak Panji takut untuk melangkah’
Beberapa saran psikiater yang membantunya melawan trauma dalam dirinya terangkum menjadi satu.
__ADS_1
Sejak kecelakaan itu Panji dinyatakan stres berat, dia sulit tidur, bayangan tentang kecelakaan Panji dan Kinanti waktu itu selalu sukses membuatnya begadang semalaman, hingga Panji harus mengkonsumsi antidepresan agar dirinya sedikit tenang.
Rasa tidak percaya diri.
Selalu merasa tidak berguna.
Dan rasa bersalah.
Semua itu membuat Panji terpuruk dan berimbas pada kesehatan mentalnya.
Tidak ada yang menyalahkan Panji atas kecelakaan itu, hanya Panji lah yang merasa bahwa itu semua adalah tanggungjawabnya.
Ia merasa sudah membunuh Kinanti.
Air mata Panji mengalir deras.
“Maaf” ucapnya membuka percakapan.
Tangannya yang sudah sedingin es berusaha sekuat tenaga menyentuh nisan itu.
Diusapnya nisan itu dengan sayang, seakan Kinantilah yang sedang Panji sentuh.
“Maaf aku baru datang” Panji membenarkan posisi duduknya dan meletakkan bunga yang sudah ia beli di atas pusara Kinanti.
“Aku banyak salah sama kamu”
“Aku sudah bunuh kamu”
“Sekarang, aku sedang menyakiti adikmu”
“Bisakah kamu memaafkanku sekarang?” tanyanya yang menguar terhembus angin.
Panji mendongak, meraup nafas sebisa yang ia mampu untuk mengisi rongga parunya yang tiba-tiba sesak.
“Andai kamu masih disini, pasti kita sudah menjadi suami istri kan? seperti impian kita dulu” ucapnya yang sudah bisa menguasai dirinya sendiri.
Kecelakaan dua tahun lalu juga turut menghancurkan angan-angan mereka yang sudah merencanakan pernikahan.
Tiba-tiba ia teringat akan istrinya.
“Aku sudah menikah sayang”
“Meski bukan denganmu, aku memutuskan untuk menikah”
“Dia cantik, sifatnya sama denganmu” Panji sedikit tertawa mengenang istrinya.
“Dia pecinta hujan, sama sepertimu..”
“Namanya Kanaya”
“Tapi aku sudah menyakitinya, dan menyakiti adikmu”
“Dua orang perpaduan dirimu”
“Hingga aku sadar sesuatu, aku sudah jatuh cinta padanya Anti”
“Pada Kanaya”
__ADS_1
“Dia membawa warna baru dalam hidupku”
“Cintaku padanya tulus, meski kamu juga tetap memiliki tempat khusus di hatiku”
“Tapi kini dia pergi, aku sudah sangat menyakitinya, sama sepertimu” adunya lagi, tak peduli akan disebut gila karena bicara pada makam sejak tadi.
Semua keluh kesahnya ia tumpahkan di makam Kinanti, tangannya sudah tidak bergetar lagi, nafasnya mulai teratur.
Ia sudah mulai lega sekarang, beban yang selama ini terasa menghimpit sudah terangkat.
“Aku akan kembali lagi, sekali-sekali datanglah dalam mimpiku Anti, aku selalu berdoa untukmu disana, dan jika mungkin doakan aku juga ya, sampai jumpa lagi” pamitnya setelah selesai berdoa.
***
“Apa Lang?!” sentak Dewi, lagi-lagi Alan mengusap lengan istrinya agar sedikit tenang.
“Naya sempat ada sama kamu dan baru saat dia hilang kamu baru cerita sama aku?!” sengitnya.
“Terus aku harus gimana Dew?! Dia sendiri yang bilang untuk tidak memberitahukan keberadaannya pada siapapun”
Dewi menunduk frustasi, sahabatnya hilang, lagi-lagi Naya tidak mau berbagi masalahnya dengannya.
“Sebenernya kalian anggap aku temen gak sih?” lirih Dewi sembari tersedu.
“Sayang, gak cerita bukan berarti gak anggap kamu teman, ada hal yang lebih baik untuk di keep sendiri, jangan sedih ya” hibur Alan pada istrinya.
“Aku bakal cari Naya sampe ketemu Dew, aku janji” kali ini Galang memilih ikut menenangkan istri sahabatnya yang juga sahabat Naya.
“Dia lagi hamil Lang, kita gak tau dia gimana keadaannya jauh dari suami, jauh dari keluarga dan teman dekatnya” ungkap Dewi mengeluarkan semua kegelisahannya.
Galang semakin termenung, alasannya datang karena dia sendiri sudah buntu harus mencari Naya kemana, sama seperti Panji, Galang berpikir Naya berada disini, meski kemungkinannya sangat kecil sekali.
***
Malam ini Panji kembali sendirian di kamarnya, seperti malam-malam sebelumnya, entah sudah berapa kilo yang hilang dari tubuhnya, tubuhnya semakin kurus, makan tidak selera, tidurpun tidak bisa.
Setelah tadi siang ia mencoba saran psikiaternya, Panji merasa lebih damai.
Hanya ada satu hal yang kembali menghimpitnya, hilangnya Kanaya.
Bukannya tidak berusaha, ia sudah mulai mengutus beberapa orang suruhannya untuk mencari keberadaan Kanaya, tapi masih belum membuahkan hasil.
Panji rutin mengunjungi Winanti, kabar baiknya, ia sudah bisa menganggap Winanti sebagai Winanti.
Meski masih terikat dengannya, Panji sudah memastikan bahwa perasaannya sudah 100% untuk Kanaya.
Jika ia menemukan Kanaya, ia akan menyatakan perasaannya, untuk saat ini biarlah mereka menyembuhkan luka masing-masing dahulu.
Tak seperti biasanya, rasa kantuk mengantarnya untuk tidur lebih awal.
“Hei bangun!” Panji membuka matanya saat merasakan seseorang menepuk lengannya halus.
Tubuhnya terpaku.
“Kenapa? Kaget ya?” dengan bodohnya Panji mengangguk.
“Dasar tukang tidur!” ejeknya lagi, kemudian wanita itu tertawa.
__ADS_1
“Merindukanku?” tanyanya lagi, tanpa aba-aba Panji segera memeluk sosok dihadapannya.
TBC