Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 56


__ADS_3

Rumah sakit.


Itu tujuan Panji beserta rombongannya setelah menerima telfon dari Galang yang mengabarkan Naya masuk rumah sakit pasca pendarahan.


Tidak ada yang bicara, semuanya hanyut dalam pikirannya masing-masing, juga Panji yang menyetir dengan kecepatan penuh membuat mereka semua lebih baik diam agar tidak mengganggu konsentasi pria itu.


Tangan Winanti sibuk mengusap punggung kecil Dio, anak Dito yang sejak pertama kali bertemu lengket dengannya, karena niatnya ke Bali adalah liburan Dito mengajak anaknya yang masih berumur tiga tahun, dari yang Winanti tau Dito sudah bercerai.


Itu yang membuat Winanti tidak risih berdekatan dengan bapak-beranak itu.


Dito melirik anaknya yang tertidur nyenyak di pangkuan Winanti, anak itu pasti kelelahan setelah berlarian mengikuti Panji, bisa saja ia membiarkan Panji pergi sendiri dan mereka akan menyusul dengan kendaraan lain, tapi meninggalkan seseorang menyetir sendirian dalam kondisi kalut bukan pilihan yang tepat.


Dito juga merasakan kekhawatiran yang sama, Galang menghubunginya karena panik melihat kondisi Naya yang pendarahan, Panji yang berada di sampingnya mendengar itu langsung berlari ke parkiran di tengah acara makan kami pasca landing.


“200 meter lagi belok kiri Nji” Panji mengangguk, sejak tadi ia mengikuti petunjuk dari Dito, hatinya lega karena sebentar lagi akan bertemu dengan istrinya.


Begitu memasuki pelataran rumah sakit tangan Panji bergetar, entah kabar apa yang akan ia dengar di dalam sana, ia hanya ingin mendengarkan kabar baik.


“Kamu turunlah, Naya ada di UGD” setelah mengatakan terimakasih Panji segera berlalu, memasrahkan mobil itu untuk Dito parkirkan dengan benar.


***


Galang duduk berjongkok, darah kering di lengan bajunya tidak ia hiraukan, pikirannya hanya tentang Naya, ia yang panik segera menelpon Dito untuk menanyakan kepastian kondisi Naya, tapi Dito yang bukan dokter obgyn tidak bisa memastikan kondisi ibu hamil itu.


Dari yang ia tau pendarahan adalah kondisi yang membahayakan, apa Naya akan kehilangan anaknya?


Entah apa yang akan terjadi jika itu benar. Naya-nya pasti sangat hancur, ini anak pertamanya.


Di seberangnya ada Tristan yang mondar-mandir gelisah sembari mengumpati dirinya sendiri yang lalai, bisa-bisanya ia tidak sadar saat Naya turun dari mobil yang ia parkirkan di pinggir jalan dan malah asik melepas sabuk pengaman yang biasanya tidak macet.


Tapi semuanya sudah terjadi.


Pintu perawatan terbuka membuat dua pria itu berdiri tegap.


“Suami dari nyonya Kanaya?”


“Saya!”


“Saya!”


Tristan dan Galang saling tatap, dokter itu kebingungan, untuk menyampaikan kondisi pasien apalagi ibu hamil ia harus bicara dengan suami pasien, kini ada dua orang yang mengaku suami pasien.


“Jadi siapa suami dari nyonya Kanaya? Tidak mungkin kalian berdua adalah suaminya” tanya dokter itu memastikan.

__ADS_1


“Saya suami dari Kanaya dok!”


Derap langkah tergesa membuat semuanya memusatkan atensinya pada laki-laki yang baru saja datang.


“Astaga tuan-tuan sekalian, dimohon jangan bercanda ya, saya masih ada pekerjaan lain” sungut dokter paruh baya laki-laki itu, dua pria saja sudah membuat ia bingung, sekarang ditambah lagi satu orang yang mengaku suami pasiennya, apa memang pasiennya kali ini memiliki tiga suami?!


Panji berjalan mendekat, sekilas menatap dua pria dihadapannya dengan sengit karena telah mengaku suami dari istrinya, yang ia tau satu diantara mereka adalah Galang.


“Saya punya salinan buku nikah saya dengan Kanaya jika dokter menginginkannya”


Dokter itu sedikit yakin dan kembali melihat dua pria sebelumnya.


“Benar dok, dia suami pasien” ucap Galang dengan penuh kekalahan.


“Mari ikut saya tuan” ajak dokter itu, Panji mengangguk dan membuntuti ke ruang dokter.


Galang sadar diri, secinta apapun ia pada Naya ia tidak mau egois, selain Naya ada nasib anak yang dikandung Naya yang harus Panji tau keadaannya, anak mereka.


Derap langkah kaki membuat keduanya yang hanyut dalam lamunan kembalimemusatkan atensinya pada laki-laki dan perempuan yang baru saja datang dengan seorang anak kecil di gendongannya.


Tristan mengernyit heran, laki-laki dihadapannya saja tidak ia ketahui memiliki hubungan apa dengan Naya, sekarang ditambah lagi dengan seorang pria lagi yang berada di sini, apa ia salah tempat?


Mengingat dalam UGD saat ini hanya ada Kanaya yang sedang dalam perawatan.


“Panji masih di ruangan dokter” Dito mengangguk paham.


Kini mereka semua diam, turut mendoakan keselamatan ibu dan bayi didalam.


Bagi Dito tidak penting menanyakan apa yang terjadi sekarang, semuanya sudah terjadi, pertanyaan itu hanya akan mengundang pertengkaran karena saling menyalahkan.


Netra Dito justru lebih tertarik pada pria asing yang juga berada di sini, kakinya melangkah mendekat.


“Dito Bang, teman Naya dari Surabaya” ucap Dito sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan, logikanya jika pria itu ada di sini dia juga mengenal Naya dan berada di tempat kejadian kan?


“Tristan” hanya itu, Dito sedikit kecewa saat pria itu hanya mengucap namanya.


***


Bedrest


Hanya itu yang panji tangkap, Kanaya harus bedrest agar kandungannya tidak gugur, pendarahan ini cukup parah dan hampir membahayakan nyawa janin, tapi berita baiknya, bayi mereka masih bertahan meski lemah.


Panji bersyukur akan itu.

__ADS_1


“Baik jika tidak ada lagi yang ingin ditanyakan pasien akan dipindahkan di ruang rawat inap setelah itu anda bisa menemui istri anda” Panji mengangguk sopan kemudian berdiri meninggalkan ruang dokter.


Hatinya lega karena istri dan anaknya baik-baik saja, meski masih memerlukan observasi lanjutan untuk memastikan kondisi mereka, Panji tidak mempermasalahkan itu.


Saat kembali ke tempat ia bertemu dengan dua pria menyebalkan itu, Dito segera menghampirinya.


“Gimana keadaan Kanaya?”


“Kandungannya lemah, Naya harus bedrest” semua orang terkejut tak terkecuali Winanti, nalurinya sebagai sesama perempuan tersentuh, Panji dan Naya hampir saja kehilangan calon anak mereka.


“Yang sabar ya, semua pasti baik-baik saja” Panji mengangguk mantap mendengar seruan positif itu.


Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, selain berdoa dan memasrahkan segalanya.


Tiba-tiba netra Panji tertuju pada dua lelaki asing yang masih setia menunggui istrinya, dengan perasaan marah dan kesal karena kejadian sebelumnya Panji berjalan melewati Dito begitu saja.


Galang maupun Tristan yang menyadari Panji sedang dalam mode perang berdiri siaga.


Tepat di depan bilik dimana Naya dirawat Panji menghentikan langkahnya, menatap keduanya dengan sengit.


“Jadi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa istri saya sampai berada dalam situasi ini, kalian ada disana kan?” tanya Panji menyudutkan keduanya.


Siapa yang menginginkan musibah ini terjadi? Tidak ada!


“Sebelum menyalahkan orang lain ada baiknya anda berkaca pada diri sendiri, disaat sulit anda bukan orang pertama yang ada disisi Naya, menolong dia, anda yakin bahwa andalah suaminya?” tantang Galang tak kalah sengit.


“Galang!” peringat Dito agar sahabatnya itu berhenti memprovokasi.


Tangan Panji menggenggam erat saat mendengar nama itu, amarahnya semakin memuncak, tapi langkah majunya untuk menonjok laki-laki ini terhalang Dito yang sudah sigap menjauhkan keduanya.


“Anda tidak becus sebagai suami, disaat seperti inipun anda masih menyempatkan diri membawa selingkuhan anda!” hardik Galang sembari menunjuk Winanti dengan marah.


“Bangsat!”


Bug bug bug


Dito dan Tristan sibuk memisahkan keduanya, namun kembali gagal saat amarah mereka lebih besar daripada logika yang tersisa.


Tidak ada yang bisa memisahkan mereka hingga tiga satpam datang dan melerai keduanya.


Winanti menangis sembari memeluk tubuh kecil dalam pelukannya, dia sudah menjadi selingkuhan pria yang sudah bersuami.


TBC

__ADS_1


__ADS_2