Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 31


__ADS_3

Chapter 31


“Ada apa kamu sama suamimu Nay?” tanya Mama yang sejak tadi sibuk memotong sayur, aku yang duduk di hadapan Mama langsung menatap Mama heran.


Karena tak kunjung menjawab Mama menatapku dengan helaan nafasnya, “Gak biasanya kamu pulang ke rumah sampe diantar sama suamimu” ucap Mama seolah paham aku kebingungan dengan arah pembicaraannya.


“Oooh itu, ya biasa, Mas Panji masih belum bisa membiarkanku berkendara sendiri Ma” alibiku, meski terlihat tak percaya Mama mengangguk saja kemudian kembali pada kegiatan sebelumnya.


“Dalam sebuah pernikahan itu tidak cocok adalah hal yang biasa, kuncinya komunikasi aja, kalau kamu gak suka bilang gak suka, jangan diam dan memendam yang pada akhirnya akan menimbulkan dampak yang lebih besar, dengan catatan pahami situasi dan kondisinya, jika suami sedang panas kita lebih baik kita diam, api hanya akan padam jika beri air, bukan malah menambah bahan bakar dan membuatnya akan lebih sulit di kendalikan kemudian” ucap Mama setelah beberapa saat diam, aku mengernyit heran kenapa tiba-tiba Mama mengatakan hal ini? Tapi tidak ada yang salah dari isi perkataannya.


Aku jadi mengingat kehidupanku akhir-akhir ini, aku lebih sering memendam, dengan alasan menghormatinya sebagai suami dan memilih menurut saja. Tiba-tiba tanganku terasa di genggam, membuatku kembali ke dunia nyata dan menatap Mama yang kini tengah menatapku lembut.


“Mama kenal banget sama kebiasaan kamu Nay, kalau ada sesuatu yang salah atau tidak sesuai dengan yang kamu inginkan kamu pasti cenderung diam dan memendam hingga semua rasa kecewa dan tidak terima itu menumpuk menjadi sebuah buntalan yang besar dan meletus menghancurkan semuanya, kamu akan jadi orang lain kalau sudah begitu” kini giliran aku yang menatap Mama dengan sendu.


“Naya gak suka di rumah sendirian Ma, berhenti kerja sama sekali gak pernah ada dalam benak Naya, tapi menolak perintah Mas Panji juga rasanya Naya gak sanggup karena alasannya yang menghawatirkan kondisi Naya karena kecelakaan kemarin” tumpah sudah keluh kesah yang akhir-akhir ini ku pendam, Mama tersenyum padaku dan menepuk tanganku beberapa kali seakan memahami apa yang aku rasakan.


“Kamu sudah ngomong sama Panji?”


“Sudah”


“Lalu gimana responnya?”


“Ya gitu, dia sebenarnya juga sadar betul kalau Naya keberatan disuruh berhenti kerja, tapi dia gak ada pilihan lain, menurutnya rumah adalah tempat yang paling aman buat Naya, lagi-lagi ini karena kecelakaan Naya beberapa hari yang lalu” sungutku, kali ini Mama tertawa.


“Kalian ini lucu sekali” selorohnya di sela tawa.


Aku semakin cemberut mengetahui respon Mama yang di luar espektasiku.

__ADS_1


“Mama ishh, kok ketawa sih” kesalku.


“Maaf, maaf, lagian kamu ini aneh, di luar sana banyak tau yang ingin di perhatikan pasangannya seperti Panji memperlakukan kamu, lah ini kamu malah keberatan, aneh” ejek Mama yang semakin membuatku dongkol bukan main.


“Ya Naya seneng Ma, itu juga alasan Naya nurut, Mama tau sendirikan Naya gak suka diatur, tapi Mas Panji tuh seolah tau cara menyikapi Naya bikin Naya tersentuh dan akhirnya nurutin semua maunya, Mas Panji banget tuh”


Lagi-lagi Mama tertawa, “Kalau sudah tau begitu, ya ikuti saja, kenapa kamu sekarang kayak gak terima gitu kalau tau maksud suami kamu baik dan udah sepengertian itu sama kamu”


“Masalahnya Naya masih kesulitan adaptasi Ma, tiap hari Naya cuman beres-beres rumah dan luntang-lantung gak jelas, Naya kangen kerja” rengekku, Mama menatapku dengan seksama, mengusap pelan lenganku.


“Mama tau Nak, sebelum kamu Mama juga merasakan itu, tapi buktinya Mama bisa, itu semua cuma soal waktu, kamu bakal terbiasa, apa lagi kalau sudah ada dia” ucap Mama pernuh arti.


“Dia?” tanyaku tak paham, Mama mengangguk antusias.


“Iya, dia yang sembilan bulan kamu kandung di dalam sini” jawab Mama sembari memperagakan tangannya membentuk setengah lingkaran di depan perutnya sendiri.


Mendadak aku menjadi lesu, terhitung sudah lima bulan aku menikah sejak ayah masuk rumah sakit, tapi masih belum ada tanda-tanda kehadirannya dalam rahimku, aku jadi ketakutan sendiri dengan kondisi tubuhku.


“Jangan terlalu dipikirkan, dia akan hadir kalau kalian berdua sudah siap mengemban peran baru sebagai orang tua, makanya kamu bangun komunikasi yang baik sama suami kamu, agar segera dipercaya mengemban amanah baru” saran Mama setelah melihatku langsung berwajah sendu, aku memeluk Mama, entah jadi apa aku jika Mama tidak ada di sini, meski tidak akan terasa lengkap karena ayah tidak ada di sini.


“Do’ain Naya ya Ma” ucapku parau, mengingat Ayah selalu membuatku sedih, jika saja Ayah ada di sini, akuakan merasa mendapat motivasi penuh, tapi akutidak mau egois, Ayah pasti sudah tenang di sana, Mama saja sudah terasa cukup.


“Pasti Nak”


Kami kembali melanjutkan acara memasak yang tertunda akibat curhat colongan tadi, aku sedikit lega sekarang, bebanku terasa terangkat.


***

__ADS_1


Aku menata makanan yang aku masak bersama Mama tadi siang, Mas Panji menjemputku tepat saat petang sepulang kerja, tidak ada lagi muka kusut yang tampil di wajahku, sejak tadi senyumku belum memudar.


“Lagi Happy ya?” tanyanya dengan tampilan yang sudah segar sehabis mandi dengan air yang masih menetes dari rambutnya.


“Iya, aku tadi makan banyak di rumah Mama, aku juga bawa sebagian, Mas harus coba, semua ini masakan kesukaanku” dia tertsenyum senang, sama sepertiku matanya berbinar melihat hidangan di meja makan kami kali ini.


“Sepertinya lezat, ini semua Mama yang masak?” tanyanya setengah mengejek, aku menghentikan gerakanku dan menatapnya sebal.


“Selama jadi istrinya Mas, pernah aku masaknya gak enak? Meremehkan sekali” kesalku, dia tertawa, kemudian menarikku hingga terduduk di pangkuannya membuatku membeku di tatap sedekat ini olehnya.


Aroma tubuhnya yang bercampur dengan shampo dan sabun membuatku nyaman berlama-lama di dekatnya, asal tau saja, meski tidak mandi, Mas Panji selalu memiliki aroma yang wangi, apalagi jika sudah segar seperti ini.


Aku mengerjab dan menghindar saat ia menggerakkan kepalanya membuat tetesan air yang masih tertinggal di rambutnya membasahiku, dia jahil sekali.


“Basah Mas! Jangan gitu, kebiasaan ish, udah dibilangin kalau selesai mandi itu badannya di keringin yang bener, ini malah airnya kayak masih utuh di rambut kamu, handukan gak sih tadi?” omelku, tanpa menjawab dia menangkup wajahku dengan tangannya dan mengecup bibirku membuatku menutup mata meresapi sentuhannya kali ini.


“Mas suka kamu sudah ceria lagi, kalau tau masakan Mama bisa mengembalikan keceriaan kamu, Mas akan minta Mama memasak setiap hari untuk kamu” ucapnya rendah setelah menyelesaikan kissing kami.


Sepeduli itu dia padaku, ah aku serasa terbang lagi sekarang, apalagi dia sudah tidak formal tanpa kuminta, bahkan memanggil dirinya sendiri dengan ‘Mas’ itu terlihat manis sekali bagiku.


Dia kembali menciumku, dan sebelum semuanya berakhir tidak sesuai dengan keinginanku, aku menepuk dadanya untuk menghentikan aksinya dan berhasil, “Mas Aku lapar” keluhku manja, dia tertawa dan mengangguk paham, kemudian melepaskanku.


Aku menyiapkan makanan untuknya sebelum untukku sendiri, kami makan sembari bercerita banyak hal, tentang pekerjaannya, tentang kegiatanku dengan Mama siang tadi hingga ia datang menjemput di sore hari.


Untuk pertama kalinya meja makan kami terasa hangat, biasanya hanya ada suara denting sendok dan piring, namun kali ini tidak, ada hal yang tak biasa kami lakukan terjadi dan aku menyukai perubahan kecil itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2