
Cup
“Terimakasih Nay”
Aku beringsut dalam pelukannya usai kegiatan malam kami, dia selalu seperti itu, selalu mengucapkan terimakasih dan mengecup keningku setelah aku usai melayaninya.
Dan aku, hanya akan membalas kalimat itu dengan memeluknya.
“Bagaimana hari ini?” tanyanya memulai sesi pillowtalk kami, sembari mengusap puncak kepalaku.
Sudah seminggu setelah kecelakaan itu berlalu, aku tinggal dirumah dan menghayati lakonku sebagai istri penurut sedangkan ia sudah kembali bekerja karena mulai ada pertemuan penting dengan kliennya.
“Tidak buruk” jawabku singkat, sebenarnya aku masih belum beradaptasi dengan kebiasaan baru ini.
Mas Panji mengendurkan pelukan kami, kemudian menatapku.
“Kamu masih tidak suka ya saya minta untuk berhenti kerja?” tanyanya membuatku mau tak mau menatapnya.
Sangat ingin rasanya aku berkata iya, tapi alih-alih begitu aku lebih memilih berkata “Ini kebiasaan baru buatku Mas, wajarkan kalau aku masih beradaptasi?”
Dia tersenyum dan mengangguk, kemudian kembali mengecup bibirku dengan lembut.
“Saya tau kerja bukan semata tentang uang buat kamu Nay, tapi kecelakaan kemarin membuat saya tidak mau kamu jauh dari jangkauan saya, dan rumah ini adalah pilihan yang menurut saya tepat, karena tidak mungkin saya membawa kamu kemana-mana kan?”
Aku mengangguk saja, ingin marah juga tidak bisa jika alasannya menghawatirkan ku sampai sebegitunya.
“Kalau Mas, gimana hari ini? Ada cerita lucu tidak?” tanyaku antusias, dia terkekeh dan mencubit gemas hidungku yang tak seberapa ini.
“Kenapa kamu selalu bertanya cerita lucu pada saya Nay?” mau tak mau aku ikut tersenyum kikuk, aku lupa bahwa lingkup kerjanya merupakan dunia yang serius ditambah lagi dengan perangainya yang irit bicara, aku sangsi ada yang mau bercanda dengannya.
“Ya, kan barangkali saja ada” cicitku sembari mencari posisi ternyaman dalam peluknya.
Mas Panji mengusap rambutku, “Baiklah saya tidak tau ini lucu atau tidak, tapi menurut saya ini unik” ucapnya membuatku terduduk dan menghadapnya, selama menjadi istrinya ini kali pertama dia mengatakan ada hal unik dalam hidupnya.
Dia tertawa melihat responku yang mungkin menurutnya juga unik, membuatnya duduk bersandar pada headboard dan menatapku, tangannya sesekali merapikan rambutku kemudian menyampirkannya di belakang telinga.
“Tadi saya bertemu dengan badut jalanan yang awalnya saya kira sedang menari-nari di lampu merah dekat kantor, tapi setelah saya perhatikan ternyata dia tidak menari” ucapnya datar membuatku menatapnya penasaran.
__ADS_1
“Jadi dia melompat-lompat saat ada tikus gorong-gorong mengejarnya” tambahnya sembari tertawa, namun aku hanya bisa meringis, dan menyadari satu hal ternyata selera humor kami berbeda.
“Tidak lucu ya? Sudah saya duga, tapi itu kali pertama saya melihat seseorang melompat heboh hanya karena seekor tikus”
“Selamat ya Mas sudah menemukan hal unik pertama dalam hidup” candaku, tak mau membuatnya malu dan enggan bercerita denganku.
Dia kembali merebah dan menarikku dalam peluknya lagi, beginilah acara pillowtalk kami.
“Tidur Nay, besok kamu ikut saya bekerja saja, biar kamu bisa mengatakan hal lucu apa yang terjadi di sekitar saya” kini aku yang tertawa, tapi tidak menolak ajakannya, mungkin dengan begitu aku bisa sedikit tau tentang dunianya.
***
Aku duduk dengan geram, sudah empat jam Mas Panji meninggalkanku dalam ruangannya sendiri, aku sedikit menyesal sudah terlalu antusias untuk pergi kekantor bersamanya.
Pagi-pagi sekali aku bangun menyiapkan sarapan dan bekal kami untuk makan siang, aku berharap bisa sedikit bercengkerama dengannya di sela pekerjaannya, namun ternyata tidak, baru saja sampai kantor Mas Panji langsung pergi meeting dan berakhir aku mati kebosanan di sini.
Aku merebahkan diri pada sofa sedikit kencang, dalam diam aku menatap dinding ruangan yang berwarna putih, aku masih bingung dengan semuanya, perkenalan kami, pernikahan kami hingga berada di titik ini membuatku sedikit tercengang karena secepat itu prosesnya, aku tidak punya persiapan apapun menghadapi tiap kejutan demi kejutan dalam rumah tangga kami.
Seperti saat ini, dengan berat hati aku menurutinya untuk berhenti kerja, padahal tidak ada niat untuk itu sebelumnya, tapi apa mau dikata, aku luluh karena mendengar alasannya melakukan itu.
Aku hanya menoleh sekilas dan kembali sibuk menatap langit-langit saat mengetahui orang yang datang adalah orang yang sama penyebab kegalauanku, Mas Panji.
“Maaf Nay, saya jadi meninggalkan kamu sendirian disini” ucapnya yang sudah duduk di sampingku.
Aku hanya diam untuk meredamkan emosi yang tiba-tiba muncul saat melihat tingkahnya, dia mendekat padaku dan memelukku, tak lupa memberi kecupan-kecupan ringan di leher membuatku merinding saat nafasnya menyapu permukaan kulitku.
“Sudah menemukan hal lucu dari dunia kerjaku selama ku tinggal tadi?” tanyanya dengan nada mengejek, aku menggeleng lemah, apa yang lucu dari ruangan kosong yang cenderung mencekam ini.
Dia tertawa dan mencium pipiku dengan gemas, “Kamu bosan ya?” dengan spontan aku mengangguk sembari memelas menatapnya.
“Mau ku antar ke rumah mama?” tanyanya lagi.
“Mamanya siapa?”
“Ya kamu maunya ke rumah Mamaku atau Mamamu?” aku berfikir sejenak, jika pergi ke rumah Mama Naura aku sedikit canggung, apalagi jika tidak bersama Mas Panji, ku rasa aku akan pergi ke rumah Mama saja, hitung-hitung melepas rindu karena semenjak menikah aku belum pernah berkunjung meski hampir setiap hari bertukar kabar via telepon.
“Ke rumah mamaku” cicitku takut ia akan tersinggung, dia tersenyum dan mengangguk singkat sembari mengusap puncak kepalaku, ah dia manis sekali.
__ADS_1
“Ayo kuantar” ucapnya yangs udah berdiri dan mengulurkan tangan padaku.
“Tidak usah Mas aku bisa pergi sendiri” tolakku yang dihadiahi gelengan pelan darinya.
“Tolong Nay, aku hanya ingin memastikan kamu aman sampai rumah Mama, lagipula aku juga jarang berkunjung setelah kita menikah” aku menghela nafas pelan, jika sudah seperti ini, aku bisa apa?
“Terus kerjaan kamu gimana Mas?”
“Aku bisa menlanjutkannya nanti setelah mengantarmu”
Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, kami berjalan beriringan keluar dari ruangannya, di depan ruangannya asisten pribadi Mas Panji yang kuketahui bernama Abi langsung berdiri.
“Abi, saya akan mengantar istri saya dulu, jika nanti ada berkas yang perlu saya tandatangani letakkan saja di meja”
“Baik pak”
Mas Panji mengangguk singkat dan berlalu pergi, aku juga melakukan hal yang sama, membuat pria bernama Abi itu juga mengangguk sopan padaku.
***
Sesampainya di rumah, aku memeluk mamaku erat sekali, aku rindu, sangat rindu, bahkan aku sampai meneteskan air mata begitu menghirup aroma rumah yang sejak kecil ku tinggali ini.
“Eh, Mbak kok sampai nangis sih” ucap mama tak enak pada Mas Panji yang masih berada di belakangku.
Aku sampai melupakan kehadiran pria yang sudah menjadi suamiku itu.
“Aku kangen banget sama Mama” ucapku dengan suara parau, tidak bohong aku sangat merindukan wanita yang sudah melahirkan ku ini, tapi acara honeymoon dan kecelakaan beberapa hari lalu membuatku belum bisa mengunjungi mama.
“Kalau gitu kenapa baru datang sekarang, nakal banget kamu ya!” ucap Mama mengendurkan pelukan kami dan menjewer telingaku, tapi kali ini bukannya menangis aku malah tertawa.
“Maaf ya Ma kami baru berkunjung, Panji sedang ada proyek, jadinya baru bisa mengantarkan Naya sekarang” mama tersenyum, melepaskan jewerannya pada telingaku dan beralih memeluk Mas Panji setelah pria itu menyaliminya.
“Tidak apa Nak, yang penting kalian sudah di sini Mama sudah sangat senang” aku mencibir saat Mama dengan lembut bicara dengan Mas Panji sedang denganku, judesnya minta ampun, padahal yang anaknya ini aku.
Hal itu terlihat olehnya karena kami sempat beradu pandang, dia terlihat senang sekali telah mendapatkan pembelaan dari Mamaku.
TBC
__ADS_1