Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 64


__ADS_3

Pagi hari ini Panji harus terbangun dengan perasaan jengkel saat Galang datang berkunjung sebelum jam besuk tiba.


Mata ngantuknya langsung segar saat melihat siapa yang Galang bawa, seorang wanita dan anak kecil.


“Hai Dimas!” sapa Naya dari atas brankar, saat melihat siapa yang menayapanya Dimas langsung menghampiri Naya dengan bahagia.


“Masuk Lang” Galang mengangguk saat Panji mempersilahkan dirinya memasuki ruang rawat inap Naya, jika hari-hari sebelumnya Panji akan menghalanginya mendekati Naya, saat ini Panji akan diam karena penasaran dengan apa yang akan laki-laki itu lakukan.


“Terimakasih” bukan Galang yang mengucapkan itu, tapi Gisha yang masih asik membuntuti pria dihadapannya.


Panji mengangguk sopan, mereka duduk di sofa sementara Panji duduk di sebelah brankar Naya, meski terlihat Panji tidak akan lagi mendekati istrinya karena sudah membawa seorang wanita, tapi calon ayah itu tetap masih ingin mempertegas kedudukannya.


“Maaf ya Nay, kemarin aku meninggalkanmu” Naya yang sedang asik bercengkrama dengan Dimas menatap Galang dan Gisha dengan senyuman, mereka sungguh pasangan yang serasi.


“Tidak apa”


“Berkat kemurahan hatimu, aku bisa mengejar Gisha dan menjelaskan semuanya, kami akan menikah dalam waktu dekat” jelas Galang membuat Naya berbinar senang, sementara Panji duduk dalam kebingungan, bukannya beberapa hari lalu pria ini masih gencar mendekati istrinya?


Lalu secepat itu ia memutuskan untuk menikah dengan wanita bernama Gisha itu?


“Wow, selamat! Semoga pernikahannya berjalan lancar” ungkap Panji yang tidak menampik rasa bahagianya, istrinya sudah terbebas dari beberapa pengagum fanatiknya.


“Terimakasih” lagi-lagi Gisha yang menjawab pernyataan Panji, sementara Galang membuang muka jengkel.


“Iya tante, kalau Mama sama Papa menikah, Dimas bisa dapat adik bayi kayak yang ada dalam perut tante kan?”


“Uhhhhuuuukkkk” Panji tersedak liurnya sendiri, matanya asik menelisik manusia kecil yang menempel pada istrinya, wajah itu, mirip sekali dengan Galang!


Whohhhooo seperti ada misteri besar diantara keduanya!


Menyadari tatapan menyudutkan dari suaminya membuat Naya dengan sengaja mengikut dada Panji, pria itu memekik kesakitan.


“Om kenapa?” Panji menggeleng saat mendapat tatapan tajam dari istrinya.


“Dimas ayo turun dari ranjang rawat tante, Dimas duduk di sebelah Mama” anak kecil itu menurut.

__ADS_1


Sementara Galang menatap Panji dengan sengit, tatapan menghakimi Panji membuat mereka tidak nyaman, jika bukan karena Naya, Galang sudah menonjok muka itu dengan sangat keras.


“Maaf” ucap Panji tak enak.


Mereka bercengkrama mencoba melupakan kejadian tidak mengenakkan itu.


Panji tidak lagi berulah, tidak ingin bertengkar dengan istrinya malam ini.


“Dadah Dimas!”


“Dadah tante, semoga adik bayinya cepat sembuh ya”


“Aamiin...” jawab Panji dan Naya bersamaan.


“Cepet pulih ya Nay, biar bisa hadir ke pernikahanku” ucap Gisha turut mendoakan wanita yang pernah dekat dengan calon suaminya.


Naya mengangguk, ia senang sekali memiliki teman baru seperti Gisha lebih tepatnya bahagia saat masalah mereka berdua terselesaikan dengan baik.


Saat pintu tertutup Naya menatap Panji dengan sengit.


“Tingkah kamu tadi bikin Mbak Gisha gak nyaman tau gak, kita ini cuman orang luar yang gak tau apa-apa Mas, aku tau apa yang dipikiran Mas, mereka memang pernah *** bebas, tapi tau gak Mas, mereka melakukan itu bukan karena hasrat, mereka dijebak!”


Panji tau kini ia sudah keterlaluan.


“Mas sudah minta maaf sayang” Naya menghela nafas pelan, ia sudah bosan bertengkar dengan suaminya.


Pintu kembali terbuka menampilkan sosok Galang, kali ini Panji mampu bersikap biasa.


“Panji aku melupakan satu hal, Winanti dirawat di rumah sakit ini sejak hari lalu. Aku lupa Dito memerintahku untuk memberitahukan ini padamu kemarin”


“Aku hanya ingin menyampaikan itu, sampai jumpa!” pintu kembali tertutup.


Panji tidak langsung pergi, jika Galang menyebut nama Dito itu artinya pria itu sudah bersama Winanti, wanita itu pasti aman bersama dokter yang merawatnya.


“Mas Winanti Mas, kamu temuin dia dulu, kasian dia Mas” Panji menoleh ke arah istrinya dengan tatapan tidak percaya, biasanya Naya akan memasang wajah terluka dirinya berhubungan dengan wanita lain, apalagi jika itu Winanti.

__ADS_1


Tapi tatapan itu tidak ada.


Panji menggenggam tangan wanitanya dengan lembut, ia tidak akan lagi mau melukai istrinya, mengorbankan pernikahannya lagi, Panji tidak mau.


“Aku selama ini egois, aku sudah percaya sama kamu, kamu gak akan menduakan aku kan Mas?” Panji mengangguk yakin, istrinya ini memang wanita yang baik.


“Jika Mas harus menemuinya, kamu juga harus ikut dengan Mas” Naya memang sudah ikhlas dengan apa yang terjadi, dia sudah sadar bersikap berlebihan meski itu berlandaskan sifat cemburu, tapi untuk bertemu langsung Naya tidak sanggup, bukan tidak mungkin Naya menyakiti wanita itu meski tidak disengaja.


Sama sepertinya yang sakit saat Panji bersama Winanti, wanita itu pasti merasakan hal yang sama saat Panji memilih pulang padanya.


“Winanti pernah di vonis mengalami kebutaan karena kerusakan kornea pasca kecelakaan” Panji bercerita tanpa diminta.


“Itu sudah lama, saat itu Winanti hanya punya Kinanti, kakaknya dan aku, kedua orangtua mereka telah berpulang dengan cara yang sama, kecelakaan” Panji menunduk sedih, ia ingat dengan jelas bagaimana kalutnya Kinanti saat itu, hal yang membuatnya selalu bergetar gelisah saat melihat kecelakaan.


Nahasnya wanita itu juga merasakan hal yang sama.


Naya menggenggam tangan Panji yang kini bergetar, ingatannya mengingat dengan jelas saat ia terjebak dengan Panji disebuah klinik saat ia tersrempet mobil, tangan pria itu bergetar, wajahnya pucat, pun dengan kecelakaan motor setelah mereka menikah, Panji juga memiliki respon yang sama.


Trauma Kinanti menular pada Panji karena kecelakaan Panji saat itu.


Panji menggenggam tangan kecil Naya, mencoba menatap wanita idhadapannya dengan lekat “Keterikatanku dengan Winanti memiliki sebab saat Winanti mengancam akan kembali merusak kornea yang Kinanti donorkan padanya jika aku tidak mau bertahan bersamanya, tiga bulan, itu waktu yang kami sepakati, setelah itu aku tidak akan bertemu dengannya lagi” Naya menutup mulutnya tak percaya.


“Aku tidak bisa membiarkannya merusak apa yang sudah Kinanti berikan padanya Nay, aku tidak ingin dia menyesal karena tindakan gegabahnya” Panji mengeluarkan apa yang selama ini mengganjal di hatinya, Naya mengangguk paham, kini ia benar-benar mengerti, Panji hanya ingin menjaga Winanti dari tindakan nekat yang kemungkinan akan ia sesali dikemudian hari.


“Aku sudah menyebabkan Kakaknya meninggal Nay, aku tidak ingin hidup Winanti kembali sia-sia karena pikiran konyolnya” Naya saat ini tengah dilingkupi oleh rasa bersalah, harusnya ia tidak lari, harusnya ia mendampingi Panji mengahdapi ketakutan terbesar dalam hidupnya.


Pria ini pasti sudah sangat berjuang melawan semua yang melemahkannya, Naya bisa melihat itu.


“Naya ngerti Mas, Nay paham sekarang, Mas hebat sudah melalui ini semua dengan sabar, terakhir, Naya ingin minta maaf karena sudah salah paham, Naya bahkan keluar rumah tanpa izin dari Mas” Panji memeluk tubuh istrinya, ia merasa sudah sangat dimengerti karena ucapan Naya.


“Terimakasih” Naya mengangguk dalam pelukan suaminya.


“Ayo temui Winanti bersama-sama Mas”


Naya tidak tau apa yang akan terjadi, yang jelas ia hanya ingin memperbaiki semuanya, mencoba berdamai dengan keadaan, jika memang Winanti masih menginginkan suaminya, biar Naya sendiri yang memberi pengertian pada wanita itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2