Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 39


__ADS_3

Kini aku berada di rumah kami, dia mengikutiku dengan segala upayanya untuk bisa pulang berdua denganku, kami masih saling diam.


Dia tertidur setelah makan dan minum obat, suhu tubuhnya berangsur normal, mungkin sekarang hanya tinggal sakit kepala yang ia rasakan meski sepertinya ia belum berani mengeluh padaku.


Aku mengecek handphone yang sejak tadi bergetar, tapi ku diamkan.


Banyak sekali notifikasi yang berjejeran.


Galang


Mari bertemu Nay, Baby Sean dan Dewi sudah pulang


Aku girang bukan main membaca pesan itu, namun setelahnya kebingungan menyelimutiku, tidak mungkin aku meninggalkan Mas Panji sendirian di rumah dalam keadaan sakit.


Bagaimanapun aku masih sadar betul statusku yang masih istrinya.


Aku bersandar di sofa sembari menatap langit-langit rumah yang sudah lama tidak kami tempati ini, apa rumah tangga kami akan baik-baik saja setelah ini? Mendadak aku menjadi putus asa dengan itu.


Bunyi denting gelas dan sendok menyita perhatianku, dia sudah bangun, aku menghampirinya, mungkin saja ia akan mengijinkan aku untuk menjenguk Dewi dan Baby Sean.


“Mau bikin apa Mas, biar aku bantu”


Dia menghentikan gerakannya dan menoleh padaku “Mau bikin wedang jahe, boleh tolong buatkan?” aku mengangguk dan meracik apa yang ia mau.


Tidak ada pembicaraan diantara kami, tapi dari ekor mataku, dia terus memandangiku dan aku tidak peduli akan itu.


“Ini Mas”


Dia terkesiap saat aku menyajikan wedang jahe di hadapannya, masih memperhatikanku ternyata.


Aku tidak langsung pergi melainkan duduk di hadapannya, aku punya misi kali ini.


“Terimakasih Nay”


“Iya, Mas boleh aku keluar? Dewi dan bayinya baru pulang dari rumah sakit” dia terkejut, meski tak menutupi raut kecewanya, entah karena apa.


“Mas antar”


Aku menggeleng dengan tegas “Nggak, aku mau pergi sendiri, kalau Mas gak ijinin aku gak bakal pergi”


Dia menghela nafas lelah sembari mengurut pangkal hidungnya, “Kenapa kamu seperti menciptakan jarak saat Mas sudah mau menyelesaikan masalah diantara kita Nay”


Aku memandangnya tak terima, “Aku? Siapa yang pergi dan tidak memberikan kabar sama sekali? Siapa Mas?! Aku?! Itu kamu!”


“Iya Mas tau Mas yang salah, Mas minta maaf Nay, tapi tidak bisakah kamu beri Mas kesempatan untuk menjelaskan masalah ini?”


“Andai kamu waktu itu gak pergi mengejar wanita itu, mungkin kita saat ini masih seperti sebelum makan malam menyakitkan itu terjadi” sungutku.


“Iya tap..”


“Bukan hanya itu, andai saja kamu kembali dan mencari keberadaanku, aku tidak akan sesakit ini” potongku.

__ADS_1


“Andai saja kamu tau apa yang terjadi padaku di malam itu, Dewi pendarahan, sahabatku tidak sadarkan diri, dia melahirkan bayinya prematur, kamu gak tau hancurnya aku kan?! saat aku berharap kamu ada untuk menenangkan aku, malah kenyataan pahit yang kuterima karena kamu lebih pilih wanita itu!”


“Maaf Nay”


“Sekarang kenapa kamu cari aku saat sakit? Kenapa kamu gak cari Anti aja!”


“Mas bisa jelaskan Nay, ini gak seperti yang kamu pikirikan”


Aku bisa melihat kesungguhan di matanya, tapi untuk percaya rasanya sangat sulit setelah melihat apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri.


“Aku gak percaya!”


“Makanya kita perlu bicara agar salah paham ini segera selesai, terus menghindar tidak akan menyelesaikan masalah ini Nay”


Aku terdiam, apa yang ia katakan memang benar, tapi aku aku masih enggan membicarakan itu dengannya.


“Aku tidak ingin masalah ini semakin larut dan tidak menemukan penyelesaian Nay” tambahnya.


“Ya tapi ijinkan aku menjenguk Dewi dan Bayinya, SENDIRIAN” ucapku dengan penekanan di akhir kalimat.


Dia tampak berfikir, namun setelahnya mengangguk pasrah meski tak sepenuhnya setuju dengan permintaanku, “Baiklah, asal kamu berjanji akan duduk bersama dengan tenang dan mendengarkan semua penjelasanku”


“Oke setuju” setelah mengatakan itu aku menyaliminya dan pergi bersiap.


Dia menepati janjinya, bahkan saat aku mengeluarkan motorku dia tidak memprotes, aku bisa pergi sesuai dengan keinginanku sekarang.


***


“Mas Alan! Bawa temen kamu pulang, dia gangguin Sean tidur dari tadi!”


Aku cekikikan melihat Dewi yang harus tarik urat karena tingkah Galang yang mengusili anaknya.


“Cuman pegang doang Dew, pelit amat” jawabnya tanpa merasa bersalah.


“Makanya punya anak sendiri sana biar bisa gangguin 7/24” sungut Dewi, kali ini Galang tidak menjawab, dia malah menatap Sean dengan sendu, aku tersadar bahwa dia kini sedang mengarungi rasa bersalahnya lagi.


“Sayang udah, lagian Baby masih tidur kan? Galang cuman mau main aja” Alan datang sebagai penyelamat sahabatnya, meski tak merubah tatapan nelangsa yang sudah terpatri di wajah Galang.


“Guys, aku pulang dulu ya” pamitku mengalihkan topik yang tidak nyaman ini membuat tiga orang dewasa itu memandangku.


“Cepet banget Nay” celetukan Dewi yang membuatku menatapnya jengah, cepet katanya, padahal aku sudah hampir tiga jam berada di sini.


“Iya suamiku lagi sakit” jawabku memandang tiga orang itu bergantian, saat aku menatap Galang, aku tau perkataanku tadi semakin mengulik lukanya.


Tapi aku harus membuatnya sadar bahwa kami hanya sekedar masa lalu, aku juga punya suami yang harus ku jaga kehormatan dan perasaannya, meskipun dia tidak melakukan hal yang sama saat Anti datang.


“Ooh yaudah, salam buat Mas Panji ya Nay” ucap Alan memecah suasana yang mendadak canggung ini.


Aku mengangguk sebagai jawaban, sebelum pergi aku mengecup pipi gembul Sean yang mengundang senyuman dari bayi ganteng itu.


***

__ADS_1


Rumah yang gelap membuat perasaanku tidak enak padahal hari sudah mulai gelap, apa terjadi sesuatu padanya?


Aku menggeleng untuk menghilangkan pikiran buruk itu. Tapi tidak membuat rasa khawatir itu hilang. Aku memarkirkan motor dengan sembarangan dan berlari masuk.


Pintu terkunci.


Dengan cepat aku mengeluarkan kunci yang biasanya ku bawa, tidak habis pikir dengan pikiran Mas Panji yang malah mengunci pintu saat sedang sakit seperti ini.


Sunyi.


Itu yang ku rasakan setelah berhasil masuk ke dalam rumah.


Aku berjalan cepat ke lantai dua, kamar kami.


Kosong.


“Mas, kamu dimana?!” teriakku berharap dia mendengar dan menjawab di salah satu sudut rumah ini.


Tapi tidak ada, hanya sunyi yang ku rasa, Mas Panji pergi? Tapi kemana dia saat sedang sakit seperti ini?!


Aku duduk di tepi ranjang dengan perasaan campur aduk, netraku menatap kertas yang diposisikan berdiri dengan tulisan “Dear Naya” yang aku tau itu tulisan Mas Panji.


Saat kamu membaca ini Mas pasti sudah tidak ada di rumah, Maaf sayang,


Mas harus pergi karena keadaan darurat.


Mas Akan segera kembali.


Dengan cinta,


Mas Panjimu


Keadaan darurat? Apa?


Drrrrtt


Aku membuka tas untuk mengambil handphone yang bergetar, ada pesan masuk! Mungkin itu Mas Panji.


Namun itu hanya sekedar harapanku saja, pesan dari Galang.


Kamu yakin Nay suamimu lagi sakit di rumah?


Aku mengernyit heran membaca pesan Galang, namun handphoneku kembali berdering saat satu pesan masuk dari Galang, sebuah foto.


Aku membukanya penasaran, namun setelahnya dadaku kembali panas sesak, foto Mas Panji yang sedang mendorong kursi roda seorang perempuan yang tersenyum ke arahnya.


Tubuhku yang lemas luruh ke lantai, wanita itu Anti.


Aku menangis dalam diam, ini keadaan darurat yang dia maksud, mengabiskan waktu dengan masa lalunya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2