Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 55


__ADS_3

“Aku ikut!” jerit Winanti ketika Panji berpamitan untuk pergi ke Bali menyusul Kanaya.


“Aku hanya sebentar Win, nanti aku akan kembali lagi” bujuk Panji, tapi lagi-lagi wanita itu menggeleng lemah, perjanjian mereka tinggal beberapa hari lagi, ia tidak mau melewatkan waktu sesebentar apapun.


“Nggak, habis ini aku gak bisa lagi nemuin Mas Panji, aku hanya ingin menggunakan waktu yang ku punya dengan sebaik mungkin”


Panji meraup wajahnya kasar, sekarang ia kebingungan, beberapa jam yang lalu orang suruhan Dito sudah memberitahukan keberadaan Kanaya, tapi ia harus tersendat disini karena Winanti yang tidak mau ia tinggal.


“Kamu masih sakit Win, kamu harus disini sampai benar-benar pulih” kekeh Panji, ia tidak bisa membiarkan Winanti ikut dalam misinya kali ini selain karena kondisinya Panji yakin tidak bisa fokus seratus persen pada Winanti saat disana nanti.


“Biarin aku ikut Mas, aku janji gak akan nyusahin kamu, please” jika Panji berkeras, maka Winanti kali ini juga akan menjadi batu.


“Ada apa ini?” Panji bernafas lega saat Dito datang berkunjung ke ruang rawat, pria itu bagaikan penolongnya.


“Ini Dok, Winanti memaksa ikut saya perjalanan luar kota” adu Panji, Dito memandang keduanya lucu.


“Saya boleh ikut kan Dok?”


“Tidak!” bukan Dito yang menjawab melainkan Panji yang stok kesabarannya sudah habis.


“Winanti boleh kok perjalanan jauh” jawab Dito yang tidak selaras dengan Panji membuatnya menatap pria berjas putih itu dengan sengit.


“Tapiiii... saya juga akan ikut. Sepakat?” tanya Dito lagi, Winanti yang sudah diperbolehkan ikut merasa senang sekali, apalagi jika dokter yang merawatnya ini juga ikut mendampingi.


Winanti senang saat Panji berteman dengan Dito, pria ini tulus dan baik hati, pertemanan mereka menjadi gosip hangat di rumah sakit tempat ia dirawat, karena ketampanan mereka yang tiada dua membuat keduanya mendadak jadi idola.


“Mas biarkan dokter Dito ikut, kita akan sekalian berlibur disana, benarkan Dok?” tanya Winanti membuat Dito tertawa.


Berlibur katanya. Panji kesal mendengar itu, mereka akan berlibur tapi tidak dengan Panji, ia memperjuangkan sesuatu disana.


“Ya sudah boleh, Dit boleh minta tolong lagi?” tanya Panji setengah memohon.


“Perijinan pulang Winanti akan aku urus, selama disana Winanti akan menjadi tanggung jawabku, jadi kamu bisa fokus pada tujuanmu” jawab Dito yang sudah tau apa yang akan Panji minta padanya.


Winanti tersenyum getir saat tau bukan lagi Panji yang akan mengurus kebutuhannya selama disana, itu artinya Panji tidak akan selalu berada didekatnya, tapi tida apa asal Panji masih ada dalam jangkauannya ia sudah bahagia.


***


Kanaya tidur dengan tidak tenang, semenjak hamil tidurnya sedikit kurang nyaman, kesal dengan keadaan ia memilih duduk bersandar di headboard ranjangnya.


Buliran bening itu luruh begitu saja.

__ADS_1


Ia rindu, rindu dengan seseorang yang sudah beberapa bulan menghiasi hidupnya.


Jika bisa dirunut, kesalahan Panji hanya satu, pria itu tidak mau terbuka, untuk alasan apapun Kanaya paling tidak suka ketika dibohongi, dan Panji melakukan itu.


Dan, rasa cemburu yang menguar begitu saja saat mengingat Panji masih menyimpan perasaannya pada Kinanti, soal adik Kinanti, Naya tidak marah pada perempuan itu, posisi mereka sama, hanya menjadi bayang-bayang Kinanti.


Apa yang lebih menyakitkan dari itu?


Sebesar itu cinta suaminya pada Kinanti.


Hal yang membuatnya marah besar Panji mengingkari janjinya.


Udara kamar yang berubah sesak membuat wanita hamil itu memutuskan untuk keluar setelah mengambil kardigannya, Bali sangat dingin saat malam hari.


“Belum tidur Nay?” Naya terkejut saat Tristan sudah berada disampingnya.


“Belum Bang” Tristan tersenyum kearah Kanaya.


“Kenapa laper ya?” dengan malu-malu Kanaya menggeleng, pikirannya menerawang ke depan.


Ditatap sedalam itu oleh Tristan membuatnya salah tingkah.


Pria disampingnya ini sangatlah tampan, ada bagian-bagian dari parasnya yang menyerupai Arshaka, terutama senyumnya, sangat mirip.


Bahkan setelah Arsha, ia sempat beberapa kali dekat dengan pria, hatinya kembali meragu, apa jangan-jangan cintanya pada Arsha tidak sedalam itu?


Oh, Arsha maafkan aku yang tidak mencintaimu seperti cinta yang kau berikan untukku.


Naya kembali terkejut saat jemari hangat menyapu pipinya lembut.


“Ibu hamil ini kenapa nangis terus sih, babynya rewel kah?”


“Enggak Bang, dia baik” hanya itu yang bisa Naya ucapkan.


Bahkan setelah ditinggalkan oleh Arsha ia sempat membenci pria itu, selalu mengatakan pada diri sendiri akan membuat Arsha menyesal sudah meninggalkannya tanpa tau apa saja yang sudah pria itu lewati untuk bisa bersamanya.


Sekarang Naya yang menyesal.


“Keinget Arsha lagi ya? Atau.. kangen papanya bayi?” tebak Tristan yang membuat Naya membeku ditempatnya.


Naya memilih bungkam, ia tidak mau menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


“Masih belum terlalu larut, mau jalan-jalan? Kita cari jajanan” ajak Tristan untuk keluar dari suasana awkward ini.


Mendengar kata jajanan mata Naya berbinar. Tristan yang melihat tingkah menggemaskan wanita dihadapannya ini mengusap puncak kepala Naya dengan lembut.


Dalam hati Tristan memohon maaf pada mendiang adiknya, ia sudah jatuh pada pesona Kanaya.


Setelah mengambil jaket keduanya bergegas pergi agar tidak pulang larut.


Bagi Naya, Bali masih tetap sama seperti saat pertama kali Arsha membawanya kesini untuk pertama kali.


“Mau beli apa?” Naya menoleh pada Tristan yang duduk di belakang kemudi.


“Pie susu” Tristan tertawa mendengar itu.


Nayanya masih sama, dulu saat Arsha mengatakan akan membawa kekasihnya pulang, Ibu dan dirinya akan repot menyiapkan pie susu untuk wanita ini.


“Tetap ya, sukanya pie susu, padahal makanan khas Bali gak hanya itu loh Nay, gak mau coba yang lain?” dengan tegas Naya menolak, sudah terbayang dibenaknya pie yang gurih bercampur dengan fla manis ditengahnya berhasil membuat Naya menelan ludah.


“Iya Bang, sebenarnya aku lebih suka pie buatan ibu, tau tidak saat sudah putus dari Arsha aku sempat hunting beberapa pie susu yang katanya enak, tapi tidak ada yang seenak buatan ibu” adunya yang lagi-lagi membuat Tristan tertawa.


“Kalau kamu mau, bisa kok minta ibu buat bikinin, ibu masih bisa memasak hanya kondisi jiwanya yang bermasalah, selama emosinya tidak dikulik, Ibu masih bisa bersikap normal seperti yang kamu lihat dirumah” jelas Tristan sembari memandang padatnya jalanan.


Naya mendadak kembali sedih mengingat kondisi Ibu Kinasih.


Tristan tau Naya sekarang sedang mengasihani kondisi keluarganya.


“Sudah sampai” Ucap Tristan sembari masih sibuk memakirkan mobilnya, saat mobil mereka sudah berhenti dengan segera Naya membuka pintu mobil yang sudah parkir di bahu jalan.


Bayangan memakan pie susu terlalu membuat Naya bersemangat hingga tidak menyadari bahwa motor di belakangnya masih melaju.


Laki-laki yang sejak tadi mengikuti kendaraan mereka seketika membola dan berlari ke arah Naya saat terlihat motor yang juga tidak sadar Naya keluar dengan tiba-tiba.


“Nay, awas!”


“Aaarrghhhh”


Bugg


Semuanya terlambat.


“Astaga Nay!” pekik Tristan yang sejak tadi sibuk melepas sabuk pengamannya.

__ADS_1


“Sakit! Perut aku sakit” keluhnya dengan wajah pucat.


TBC


__ADS_2