Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 21


__ADS_3

Aku mematut diriku di depan cermin, hari ini Mas Panji akan menjemputku untuk sekedar jalan-jalan setelah dua minggu kami terpisah jarak.


Aku senang? Tentu saja!


Dia menghilang dan tidak bisa di hubungi, rasa takut dia tak akan kembali sempat muncul dalam benakku, setakut itu diriku jika apa yang terjadi di masa lalu kembali terulang.


Tapi Mas Panji menepati janjinya untuk kembali, hal yang selalu membuatku senyum-senyum sendiri saat mengingatnya.


Jika ditanya tentang perasaanku sekarang, aku sudah mulai bergantung padanya, aku menganggap hubungan ini serius untuk di jalani, aku juga tak ingin kehilangannya.


Tidak salah kan? tentu saja tidak, dia suamiku. Minggu depan kami akan mengulang pernikahan agar sah secara agama dan negara.


Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya aku kala itu terjadi, persiapannya sudah hampir 90%, Mas Panji menyerahkan semuanya kepadaku, awalnya aku sempat kecewa, seakan dia tak mau ambil bagian dari pernikahan ini.


Tapi saat mendengar alasannya, “Aku cuman pengen wujudin pernikahan impian kamu Nay” semua amarahku luntur begitu saja.


Semudah itu memang membuatku luluh, dan Mas Panji seakan sudah tahu segalanya, membuatku yang awalnya tak acuh jadi mendadak bucin padanya.


“Nay, suami kamu sudah di bawah” teriak mama dari luar kamarku.


Sekali lagi aku memastikan penampilanku, agar Mas Panji tidak malu punya istri aku, “Iya Ma, Naya sudah siap” ucapku sembari menenteng tas yang akan ku bawa.


Wajahku sumringah sekali saat membayangkan wajah Mas Panji yang lama tak terlihat akan kembali menghiasi hariku lagi.


Dengan hati yang berbunga-bunga aku menuruni tangga, namun langkahku terhenti saat melihat anak perempuan berada dipangkuan Mas Panji.


Mereka berdua asik bercengkerama tanpa menyadari kehadiranku, dimana Mas Panji yang kesusahan membetulkan jepitan rambut anak perempuan itu yang terus saja menjauh dari jangkauannya.


“Mas..” sapaku, anak perempuan itu terdiam memperhatikanku.


Klik!


“Nah, kalau jepitnya dipake ginikan cantiknya nambah” leganya saat berhasil memasang jepit rambut itu, kemudian ia menatapku.


“Ini?” tanyaku saat Mas Panji tidak berinisiatif memperkenalkan kami.


Mas Panji menurunkan anak itu dari pangkuannya, “Khanza, ayo salim sama aunty Naya”


Dengan patuh anak itu berjalan kecil ke arahku dan mengamit tanganku kemudian menciumnya, tingkahnya yang menggemaskan membuatku tidak melepaskan tangannya begitu saja, aku berjongkok di hadapannya, ku tampilkan senyum paling menawan yang aku punya.


“Nama kamu Khanza ya?” dia mengangguk lucu, aku semakin gemas dengannya.


“Aunty boleh tidak cium Khanza?” tanyaku lagi, dia diam, sejenak menatap Mas Panji yang mengangguk kecil.


“Boleh” aku tersenyum senang saat keinginanku dikabulkan, aku mecium pipi kanannya kemudian pipi kirinya, dan ku akhiri dengan menggesekkan hidungku pada hidungnya membuat Khanza sedikit tersenyum karena geli.


Setelah puas berkenalan dengan Khanza aku kembali berdiri dan menatap Mas Panji yang kini juga berdiri tak jauh dari kami. Khanza kembali mendekati Panji dan merentangkan tangannya ke arah pria itu, tanda bahwa ia ingin di gendong.


“Ini anaknya siapa yang kamu bawa Mas?” tanyaku saat Khanza sudah menyadarkan kepalanya pada bahu Mas Panji.


“Ini keponakan saya, anaknya Maura” aku mengangguk paham, Maura itu adik perempuan Mas Panji satu-satunya, karena dia hanya memiliki dua orang adik, satu perempuan dan satu laki-laki.


Setidaknya aku sudah mengetahui silsilah keluarga intinya.

__ADS_1


“Kita jalan sekarang?” tawarnya, aku mengangguk, sepertinya perjalanan kali ini akan menjadi sangat menyenangkan karena kehadiran Khanza diantara kami.


Aku berjalan bersisian dengannya setelah kami pamit pada Mama, sesekali tanganku tergerak untuk membenarkan letak rambut Khanza yang menutupi sebagian wajah imutnya, dia juga tidak risih dengan perlakuanku.


“Khanza duduk di pangkuan Aunty mau?” tawarku saat kami sudah berada di samping mobil Mas Panji, dia diam sejenak, kemudian kembali menatap Mas Panji seolah meminta persetujuan.


Mas Panji mengangguk membuat Khanza juga mengangguk.


Aku menggelengkan kepala tak percaya sekaligus takjub, Mas Panji memiliki pengaruh yang teramat besar pada keponakannya.


Jadilah kami seperti keluarga bahagia, namun tidak ada pembicaraan diantara kami, hal yang kuharapkan bisa mendengar celotehan Khanza mendadak sirna saat ia malah tertidur dalam pangkuanku.


Akhirnya aku hanya bisa menatap jalanan seperti biasa, Mas Panji tidak akan mau repot-repot mengajakku bicara, karena sejak mengenalnya, ia hanya akan berbicara hal yang penting saja.


“Gimana kabar kamu Nay?” aku mengalihkan atensiku padanya, ini kali pertama dia berbasa-basi seperti itu.


“Baik, Mas sendiri gimana?” dia menatapku sekilas, kemudian kembali menatap jalanan.


“Saya juga baik” aku mengangguk saja, setelah itu keadaan kembali hening.


Aku yang awalnya sempat senang karena dia mengajakku bicara mendadak kecewa saat dia kembali pada setelan pabriknya.


Pikiranku menerawang jauh, aku berpikir bagaimana kami akan menjalani pernikahan jika terus seperti ini, tapi ingin memulai juga percuma, responnya akan sama.


Keinginan untuk mengakhiri hubungan ini kembali muncul, rasanya satu hari saja aku kewalahan mengahadapinya yang terlampau dingin.


Apalagi untuk hari-hari berikutnya? Apakah aku akan siap menghadapinya yang terlalu irit bicara ini? Separuh hatiku merasa tidak yakin.


Aku ingin bisa berbicara banyak hal dengan pasanganku, ingin bertukar pendapat atau apapun itu, bukannya komunikasi juga merupakan salah satu bonding untuk memperkuat suatu hubungan.


“Mas” “Nay” ucap kami bersamaan


Kami saling tatap, dia yang terlebih dulu memutus pandangan, lagi-lagi karena ia sedang menyetir.


“Kamu mau ngomong apa Mas?” dia kembali menatapku sekilas, namun setelah terdiam sejenak.


“Nanti saja, kamu keberatan tidak kalau kita mengantar Khanza pulang ke rumah? dia sepertinya butuh tempat tidur yang nyaman” katanya, aku langsung menatap Khanza yang berada di pangkuanku.


Benar saja, posisinya miring, dengan sigap aku mengubah posisinya agar sedikit nyaman, “Gak papa Mas” jawabku.


Tak butuh waktu lama, mobil yang kami tumpangi sudah sampai rumah Mas Panji dan keluarga, rumah tempat Mas Panji menghabiskan masa kecilnya, itu yang ku ketahui dari Mama Naura.


“Tunggu saya Nay” cegahnya saat aku hendak turun dari mobilnya.


Aku hanya diam saja saat melihatnya turun dan mengitari mobil, kemudian membukakan pintu untukku.


Nafasku tercekat saat tiba-tiba dia mengambil alih Khanza, jarak kami yang sangat dekat membuatku tak berkutik.


Hatiku bergemuruh saat dia menoleh kearahku hingga hidung kami bersentuhan.


Cup


Mataku terbelalak saat bibir hangatnya menyentuh bibirku.

__ADS_1


Itu ciuman pertamaku!


“Loh, kok kalian udah pulang?” kami terlonjak kaget dan sedikit menciptakan jarak.


Aku kembali bernafas saat Mas Panji menjauhkan dirinya dariku, membawa Kahnza yang masih tertidur tanpa tau bahwa Aunty dan Uncle-nya tadi hampir melakukan sesuatu yang tidak biasa.


Aku turun mengekori Mas Panji berjalan ke arah Mama Naura, penyelamat hidupku, tanpanya, aku mungkin sudah pingsan sebab gagal bernafas karena ulah putra sulungnya.


“Oalah Khanza tidur ternyata, lagian kamu sudah dibilang gak usah bawa Khanza, dia waktunya tidur jam segini, keras kepala banget kamu!” omel Mama pada Suamiku ini sembari memeluk dan bercipika-cipiki denganku.


“Iya maaf Ma” dan seperti biasa, Mas Panji selalu seperti itu, enggan memperpanjang masalah.


“Mumpung sudah sampai di sini, Naya temenin Panji istirahat ya, dia itu baru tadi subuh dateng dari luar kota, belum sempat tidur udah pagi, terus mutusin buat jalan sama kamu” aku menatap Mas Panji tak percaya.


Benar saja, ada kantung mata yang terlihat jelas di wajah tampannya, aku tidak menyadarinya karena keberadaan Khanza yang menyita perhatianku.


“Panji masih bisa kok Ma, jangan berlebihan” sanggahnya yang membuat Mama menampakkan raut tidak suka.


“Kamu tuh ya kalau dibilangin gak pernah mau denger, lagian Naya gak papa kan kalau acara jalan-jalannya di tunda nanti?” aku yang ingin tertawa berusaha kuat untuk menahannya, kemudian mengangguk sebagai jawaban.


“Tuh, Naya aja gak masalah, emang kamunya aja yang bandel” ketusnya sekali lagi pada putranya sendiri.


Mas Panji menatapku sebal, mungkin karena aku yang sejak tadi menertawainya diam-diam.


“Ya sudah kalian ke kamar sana” perintah mama yang kemudian meninggalkan kami setelah mengambil Khanza dari gendongan Mas Panji.


Aku membeku, kamar siapa?


“Mari Nay kita ke kamar saya” ajaknya dengan menekankan kata ‘kamar saya’ dengan senyuman yang mengerikan bagiku.


Mas Panji menarik tanganku saat aku hanya diam, tapi sekuat tenaga aku mempertahankan posisiku, berada dalam satu kamar dengan laki-laki merupakan hal yang tabu buatku.


“Kamu takut?” ejeknya menyentil egoku, aku bukan takut hanya tidak biasa saja.


“Aku nunggu diluar saja Mas, mau bantuin Mama” kilahku, namun dia menggeleng dengan tangan yang masih tetap menggenggam tanganku.


“Mama tadi meminta kamu untuk menemani saya istirahat” ucapnya lagi dengan senyum smirknya.


Dengan sekali sentakan aku berhasil melepaskan tanganku dari jeratnya, “Mas aku gak biasa satu kamar sama laki-laki” cicitku, ujung sepatu Mas Panji rasanya lebih menarik dari pada harus menatapnya dan diejek lagi.


Namun tangan besarnya membingkai wajahku dan membuatnya menatap wajah Mas Panji yang tersenyum jahil.


“Apa masalahnya Nay? Saya suami kamu, kita sudah pernah satu kamar bahkan tidur bersama kan?” ucapnya, lembut? Bukannya memikirkan jawaban dari pertanyaan Mas Panji, pikiranku melayang saat menatap bibir pink alami yang beberapa waktu lalu mengecup bibirku.


“Mau nambah lagi?” sindirnya saat menyadari arah tatapanku, aku langsung mengalihkan pandanganku, kemana saja asal tidak padanya, rasanya aku sudah tak punya lagi di hadapan pria berstatus suamiku ini.


Tanpa perlawan aku menurut saja saat dia menggiringku ke sebuah kamar yang ku yakini itu kamarnya yang sekarang menjadi kamar kami.


Aku mendnegus sebal saat melihatnya tidur dengan damai dalam pangkuanku, sementara aku berdebar tak karuan karenanya.


Dengan lembut aku membelai surainya, dia ini tampan sekali meski dalam keadaan lelah sekalipun, aku tiba-tiba teringat kalimatnya sebelum ia tertidur.


‘Saya ingin tidur di pangkuan kamu Nay, saya lelah sekali, saya butuh kamu’

__ADS_1


Jadi, Mas Panji juga membutuhkanku?!


TBC


__ADS_2