
“Bangun tuan malas” ejekku sembari menggoyang-goyangkan lengan Mas Panji yang masih asik bergelung dalam selimut.
Matanya terbuka, namun kemudian tertutup kembali, “Saya tidak malas Nay” sanggahnya dengan mata tertutup.
Aku berdecih.
“Ya udah aku berangkat kerja dulu ya, Assalamualaikum Mas Suami” tanpa kusangka Mas Panji langsung terbangun dan menarik tanganku yang awalnya sudah akan meninggalkannya.
“Kamu kerja beneran hari ini? Gak bisa libur aja?” tanyanya dengan wajah menggemaskan yang membuatku ingin sekali tinggal dan bermanja padanya, namun aku bisa apa ? Cutiku sudah berakhir.
“Gak bisa dong, aku udah nambah cuti buat honeymoon kemarin, masak cuti lagi, ntar aku di pecat dong” dia beringsut memelukku, seperti anak yang enggan di tinggal ibunya bekerja, ke usap rambutnya yang sedikit berantakan saat pagi hari.
Semenjak Mas Panji menceritakan masalah keluarganya saat honeymoon, dia tidak lagi malu dan menciptakan jarak membuatku jadi tau sisi manja laki-laki dewasa yang hampir tidak pernah senyum ini.
“Saya masih mampu kasih makan kamu Nay” ucapnya membuatku menghela nafas, aku tau pasti kemana arah pembicaraannya, dia pernah mengatakan bahwa menginginkan aku di rumah dan menjadi istrinya 24/7.
“Ini bukan soal uang Mas, aku percaya kamu bisa kasih aku makan makanan yang paling mahal sekalipun, tapi aku suka kerja, aku gak suka berdiam diri di rumah, lagian kamu kan juga kerja, gak bisa ketemu aku setiap saat juga kan?” dengan perlahan aku kembali membuatnya paham bahwa kerja bagiku bukan sekedar uang.
Dia melepas pelukan kami dan menatapku, “Kalau ada anak, kamu mau resign? Kan nanti kamu bakal sibuk sama anak kita” kupu-kupu dalam perutku serasa berterbangan menggelitiki, saat mendengarnya menyebutkan anak kita.
“Lihat nanti aja” jawabku yang kemudian membuatnya semakin kesal, aku juga tidak tau kan apa yang terjadi besok, yang jelas aku tidak mau bergantung pada siapapun, sekalipun itu Mas Panji.
“Kenapa sulit sekali membuat kamu mengerti Nay, saya cuman gak mau kamu capek” kesalnya, aku hanya bisa diam saat dia mulai mengomel saat ini, karena jika aku menjawabnya, masalah akan semakin runyam, pelajaran rumah tangga nomor satu.
“Mas aku berangkat dulu ya, nanti kita bicarakan lagi, makanan kamu udah aku siapin di atas meja makan” pamitku membuatnya semakin kesal aku mengamit dan menyalimi tangannya, meski enggan Mas Panji mengecup keningku.
__ADS_1
Aku mengendarai motor kesayangan yang ku beli dengan gajiku sendiri, awalnya Mas Panji mengusulkan untuk menggunakan salah satu mobilnya, namun ku tolak, karena aku tidak bisa menyetir mobil!
Sebelum benar-benar meninggalkan rumah aku kembali menengok ke arah rumah yang belum satu bulan ku tempati selama menjadi istri Mas Panji, sebenarnya aku juga enggan berangkat, tapi aku sadar kewajiban dan tanggung jawabku di tempat kerja yang selama ini menafkahiku meski aku tidak cuma-cuma mendapatkan itu.
Aku kembali mengeraskan hati walau aku sadar menolak perintah Mas Panji adalah dosa untukku, lagi pula aku tidak menolak, aku hanya meminta waktu untuk memikirkan semuanya.
Dengan perasaan yang campur aduk aku menstater sepeda motorku dan berjalan meninggalkan rumah.
Pikiranku penuh, sikap dinginnya sebelum aku berangkat tadi menjadi beban tersendiri untukku, ini yang kusesali, mengambil keputusan dengan terburu-buru tanpa memikirkan apa yang terjadi setelahnya.
Aku ingin sekali menurutinya, tapi aku juga bingung harus apa jika sudah resign kerja, sementara dia juga bekerja, kami hanya akan bertemu saat malam.
Aku lelah Ya Tuhan?!
Tidak bisakah ini semua dipermudah, seperti Mas Panji yang tidak minta macam-macam dan mengerti keadaanku.
Brakk
Aku merasa terpelanting saat motorku tertabrak badan mobil, aku tak bisa merasakan apapun selain tepukan orang yang berada di sampingku sembari menyadarkanku, pandanganku menggelap, sebelum kehilangan kesadaran, aku hanya ingin Mas Panji tidak menemukanku dalam kondisi seperti ini.
***
Tubuhku rasanya remuk saat aku terbangun dalam ruangan serba putih.
“Alhamdulillah, Naya suda sadar Nak” ucap Mama Naura yang berada di sampingku, kepingan-kepingan memori mengerikan beberapa waktu lalu kembali berputar dalam otakku.
__ADS_1
“Sudah sadar kamu?!” aku menoleh ke sumber suara yang terdengar ketus itu, Mas Panji, dengan wajah yang siap memakan siapa saja di hadapannya.
“Panji! Istri kamu baru sadar kok langsung di bentak” tegur mama pada pria yang berstatus sebagai suamiku, mataku sudah berkaca-kaca, untuk pertama kalinya aku takut pada kemarahan Mas Panji.
“Biar aja Ma, Panji sudah bilang untuk tetap di rumah, Panji sudah larang?! Tapi lihat, Mama lihat kan keadaan dia sekarang, coba aja dia dengerin Panji tadi, ini semua gak akan terjadi!” bentaknya lagi, air mataku sudah luruh, seumur hidupku, belum ada yang pernah membentakku, sekalipun itu ayah atau adikku.
“Kamu egois Mas” ucapku lirih, mengejutkan ibu dan anak itu, entah keberanian dari mana aku mengucapkan itu, hatikusakit sekali saat dia membentakku dihadapan ibunya.
“Dari mana letak egoisku? Coba bilang?! Kamu gak tau kan gimana aku waktu kamu gak sadarkan diri, kamu gak mikir semua orang khawatir sama kondisi kamu, gak kamu pikir itu?!” aku memejamkan mata saat suara keras Mas Panji menggelegar menyulut nyeri di hatiku.
“Ya aku gini juga karena kamu! Kamu egois! Aku gak mau ketemu kamu!” jeritku tak kalah kencang.
“Nay, kamu...!”
“Sudah! Apa-apaan kalian ini, kamu juga Panji! Istri kamu baru sadar malah diajak bertengkar, kamu keluar, jangan lagi masuk sebelum kamu merenungi kesalahan kamu” potong Mama saat Mas Panji kembali menumpahkan amarahnya padaku.
Aku menatapnya tak suka, hatiku sakit, tidak bisakah dia bersikap lembut padaku yang nyaris saja mati?!
Mas Panji keluar, aku menekuk lutut dan menyembunyikan wajahku disana agar bisa menangis tanpa diketahui oleh Mama.
Tiba-tiba aku merasakan usapan lembut di pucuk kepalaku, membuatku mencongak dan menatap Mana, “Sabar ya Sayang, Panji memang begitu saat ia khawatir dengan orang yang berarti baginya, amarahnya hanya untuk menutupi gengsi karena terlalu malu mengatakan bahwa ia khawatir” aku tak menjawab perkataan Mama, tapi satu yang kutangkap, Mas Panji khawatir padaku?
Aku kembali sendiri saat, Mama Naura dan Mamaku pamit pulang membuatku kini hanya berdua dengan Mas Panji, tidak ada yang bicara diantara kami, aku juga masih kesal padanya, membuat ruangan ini diselimuti sepi.
Dia menggenggam tanganku, dingin, itu yang kurasakan, ku tatap wajahnya lamat-lamat membuatku tersadar akan wajahnya yang pucat, matanya menatapku tidak ada lagi amarah di matanya, berganti dengan tatapan sendu yang siap membius siapa saja.
__ADS_1
“Tolong jangan seperti itu lagi Nay, saya khawatir”
TBC