
“Mari menikah denganku, sekarang, di hadapan ayahku” ucapku dengan tegas.
Aku tersadar bahwa semuanya tak akan lagi sama saat dia mengangguk sembari menelpon seseorang yang ia panggil dengan sebutan ‘Mama’
Aku termenung saat Panji berjalan menjauh, apakah ini sudah benar?
Aku hanya ingin membuat ayahku yakin bahwa aku akan segera menikah, sehingga itu bisa mengurai beban pikirannya dan mungkin mempercepat proses pemulihannya, aku hanya ingin itu.
“Kamu ingin mahar apa?” ucapnya mengejutkanku, namun setelahnya aku kebingungan, ini kali pertama seorang pria bertanya ini padaku.
“Apa saja” ucapku kemudian, pernikahan ini mendadak, mengharapkan meminta mahar yang unik rasanya tak mungkin, aku tidak ingin Panji mundur, sementara ini mungkin bisa jadi salah satu cara agar Ayah cepat sembuh.
Dia kembali mengangguk, “Sebentar lagi Mama dan Papa saya akan ke sini bersama penghulu kenalan Papa” tatapanku menerawang ke depan, sebentar lagi aku akan berubah status menjadi seorang istri.
“Kita akan menikah siri dulu, sebulan setelah hari ini kita akan menikah ulang agar sah secara hukum dan agama” aku diam saja.
Ini bukan pernikahan impianku, bukan di rumah sakit dihadapan ayahku yang sedang kritis, tapi aku tidak ada pilihan lain, aku ingin mewujudkan keinginan Ayah yang satu ini.
“Mama kamu sudah menghubungi kerabat dekat kamu yang bisa hadir saat ini sebagai saksi, juga Pak dhe kamu dari pihak Ayah yang akan menjadi wali kamu” tambahnya lagi, aku reflek menatapnya, dia bahkan sudah mengatakan hal ini pada Mamaku?!
“Kamu sudah ngomong sama Mama?” dia mengangguk.
Ya sudah lah, toh Mama pasti akan tau juga pada akhirnya.
“Terimakasih Panji” dia kembali mengangguk, aku sedikit kecewa, namun segera sadar setelahnya.
Memangnya berharap Panji akan bersikap seperti apa? Memelukku? Menatapku penuh cinta sembari berkata ‘semua akan baik-baik saja’ seperti dalam film romance yang biasa ku tonton?
Tidak mungkin!
Kami menikah tanpa cinta.
“Mbak, kamu yakin akan menikah sekarang?” tanya Mama yang kini sudah berada di sampingku, saking seriusnya melamun aku sampai tidak sadar bahwa Panji sudah berlalu meninggalkanku.
__ADS_1
“Tadi Ayah pengen aku menikah sebelum kena serangan jantung dan gak sadar lagi Ma, ku rasa ini keputusan tepat untuk mempercepat pernikahan kami” bohongku, dalam hati aku meminta maaf dengan tulus pada Mamaku.
“Mama tanya sekali lagi, kamu yakin?” aku menatap Mamaku yang juga menatapku dalam, kemudian mengangguk mantap.
Mama tersenyum lebar lalu memelukku, “Itu memang keinginan Ayah dari lama, tapi kamu jangan merasa bersalah, Ayah sakit bukan karena kamu, memang sudah takdirnya seperti ini, Ayah pasti bahagia punya menantu sebaik Panji” aku mengangguk dalam pelukan Mama, tanpa Mama katakan aku juga tau sebenarnya Mama dan Ayah ku sangat ingin aku menikah sejak lama.
“Kanaya?!” pelukan kami terurai saat namaku disebut, Mama Naura bediri disamping seorang pria paruh baya yang ku tebak itu pasti Papa Panji.
Mama Naura memelukku, “Yang kuat ya Sayang, Maaf Mama baru sempat kesini waktu Panji telfon tadi” aku mengangguk dalam pelukan wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu mertuaku.
“Ekhem” Mama melepaskan pelukannya saat pria itu bersuara menyadarkannya akan sesuatu.
“Oh iya sampe lupa, kenalin ini Papanya Panji, Papa Ilham” aku menyalimi beliau yang hanya tersenyum sembari mengelus pucuk kepalaku.
Setelahnya, Mama Naura dan Mamaku asik berkenalan dan berbincang bersama, tidak buruk, setidaknya keluarga kami saling menerima, urusan aku dan Panji bisa diurus nanti.
Sembari menunggu waktu operasi, keluarga kami sepakat akan melaksanakan pernikahan terlebih dahulu di hadapan Ayah dengan wali Pak Dhe ku yang sudah datang.
Kini aku duduk di samping Panji yang berjabat tangan dengan Pak Dhe, “Saya terima nikah dan kawinnya Kanaya Widhiani binti Aditya Bagaskara dengan mas kawin tersebut tunai”
“Sah”
Aku memandang Ayah yang berada di tengah-tengah kami, meski beliau masih terpejam tapi aku yakin dia pasti senang melihat putrinya sudah menikah sekarang, setidaknya beban ayah sekarang suda beralih pada pria di sampingku.
Mama yang menyenggol lenganku pelan, “Salim ke suamimu Naya”
Dengan patuh aku menuruti perintah Mama, bagaimanapun kini dia suamiku, orang yang akan bertanggungjawab penuh terhadapku.
Aku mencium tangannya dengan takzim, disusul dengan adegan cium kening yang membuatku menahan nafas beberapa detik, aku tidak menyangka Panji akan melakukan ini.
Kemudian Mama memeluk Panji sang menantu baru, sembari membisikkan sesuatu padanya, aku tidak bisa mendengar dengan jelas karena kini aku berada di pelukan mertuaku yang juga membisikkan petuah untuk kelangsungan pernikahan kami.
Dan tiba saatnya aku berhadapan dengan adikku, untuk pertama kalinya dia terlebih dahulu memelukku dihadapan banyak orang, “Selamat ya Mbak, semoga Mbak selalu bahagia setelah ini” ku amini do’a itu dalam hati.
__ADS_1
Netraku tak sengaja bersitatap dengan Panji yang memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan, aku masih tidak percaya jika kini sudah berubah status menjadi Nyonya Panji.
Lama sekali Awan memelukku, pelukan kami terputus saat Panji memanggilku untuk menyerahkan mahar sekaligus makan karena sejak keluar dari klinik aku belum makan apapun.
“Kamu ingin makan apa?” tanyanya saat kami sudah berada di dalam mobil, jadwal operasi Ayah sudah ditentukan beberapa jam lagi, itu sebabnya dia memutuskan untuk membawaku makan sekaligus membeli makan untuk semua orang yang menunggu di sana.
“Apa saja Mas” jawabku kelu, ini panggilan wajib yang kini harus ku biasakan sejak tadi
Mama menegurku saat memanggilnya dengan nama saja tanpa embel-embel ‘Mas’
Kami terdiam.
Aku tidak tau harus bersikap seperti apa, rasa canggung melingkupiku sekarang, lebih tepatnya malu.
Pada awal pertemuan kami aku yang paling sering menghindarinya bahkan menolak mentah-mentah tawarannya di Jogja waktu itu, dan kini? Aku sendiri yang memohon memelas untuk bisa menikah dengannya.
Kami duduk di salah satu warung tenda yang terkenal di kota ini, belum terlalu malam, jadi masih banyak warung tenda yang masih buka menjual berbagai macam makanan.
Sembari menunggu pesanan kami datang, Mas Panji memilih membungkus camilan di tenda sebelah, kini aku kembali sendirian.
Dalam hati aku berdoa, semoga keputusan untuk menikah dengan Mas Panji adalah keputusan yang tepat.
“Dimakan Nay” aku kembali terperanjat, sejak kapan dia sudah berada di hadapanku, terlebih sejak kapan semua makanan pesanan kami sudah berjajar rapi di meja?
“Gak suka? Ganti makanannya ya?” tanyanya lagi saat aku hanya diam, aku menatapnya yang sudah mulai makan.
Tanpa menjawabnya, akupun mulai makan, tidak nafsu sebenarnya, tapi daripada nanti Mas Panji akan memesankan makanan baru yang akan memakan waktu lagi dalam pembuatannya, aku lebih memilih memakan yang ada saja.
Dia yang sudah melihatku makan kembali memakan makanannya, makan dengan lahap, laparkah?
Aku mengendikkan bahu dan kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutku, sembari sesekali curi-curi pandang terhadapnya.
Seperti inilah awal dari pernikahan kami.
__ADS_1
TBC