Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 60


__ADS_3

“Nay, sama Mas aja yuk!” wanita hamil itu menggeleng tegas, entah kenapa semenjak terbangun dari tidurnya Naya ingin berjauhan dari Panji, membuat lelaki itu kembali nelangsa.


“Sudahlah ini hanya pergi membeli permen kapas, jangan lebay!” ejek Galang yang melihat Panji overprotektif pada Kanaya, dia tau jika rivalnya ini tidak ingin Naya bersamanya.


“Iya Mas aku cuman sebentar aja kok, aku pengen beli permen kapas sama Galang, boleh ya?” ucap Naya setengah memelas, Naya juga tidak tau kenapa harus Galang yang ia inginkan untuk menemaninya membeli permen kapas.


“Ya sudah” ucap Panji pasrah.


Naya bersorak senang, sementara Galang ia tertawa melihat perubahan wajah Panji yang tidak enak dilihat itu.


Meski tidak rela, Panji tidak bisa berbuat apa-apa, jika Naya dikekang bukan tidak mungkin wanita itu akan melakukan yang ia mau di belakangnya.


“Kamu seneng banget sih ngerjain suamimu” awalnya Naya terdiam, namun setelahnya tertawa karena tuduhan yang Galang berikan padanya.


Yang dikatakan Galang tidak sepenuhnya salah.


“Maaf ya, lagi-lagi aku manfaatin kamu” ungkap Naya sembari memakan permen kapasnya, karena masih harus di rawat Naya hanya pergi ke taman rumah sakit dan membelinya dari penjual keliling yang berjualan di sekitar sana.


Galang menggeleng, “Aku sama sekali gak keberatan Nay, kamu jadikan yang keduapun aku mau” Naya menelan ludahnya kasar.


Sungguh bukan jawaban itu yang ia inginkan, lagpula untuk apa ia bersuami dua?


Menyadari respon Naya yang tidak nyaman Galang tertawa, “Bercanda Nay!” Naya bernafas lega.


“Lang aku pengen ice cream” pintanya saat melihat anak kecil yang membawa satu cup ice cream merah muda itu


“Oke tunggu sini ya” jawabnya setelah mengusap puncak kepala Naya, kini Naya bisa bernafas normal, ucapan Galang sangat mengganggu pikirannya.


“Tante, Dimas ingin minta permen kapasnya boleh?” suara imut itu membuatnya kembali ke alam nyata, anak laki-laki berusia sekitar lima tahun menatapnya, bukan, lebih tepatnya menatap dua permen kapas yang tergeletak di sebelah kursi roda Naya.


“Boleh, sini sayang” dengan wajah sumringah, anak kecil itu menghampiri Naya dan duduk di sampingnya.


Naya menyerahkan satu bulatan permen kapas berwarna biru, anak itu memakannya dengan riang, sambil sesekali bercerita tentang kesehariannya.


“Omong-omong Dimas disini sedang menjenguk siapa?” tanya Naya basa-basi.

__ADS_1


“Uncle Dimas sakit tante” Naya ber oh ria.


“Kalau tante? Kenapa tante duduk di kursi yang didorong untuk orang sakit?” tanya anak itu dengan penasaran, Naya tertawa, kalimatnya sungguh panjang dan lucu.


“Iya, tante lagi sakit” anak itu mengernyit heran.


“Tante terlihat sehat, kenapa bilang sakit?” Naya tertawa, anak dihadapannya ini terlihat kritis sekali, mungkin seperti inilah dia di waktu yang mendatang, ah kenapa rasanya tidak sabar sekali menunggu kehadiran si kecil.


Naya mengusap perutnya.


“Bayi tante yang disini lagi sakit, enggak bolehin mamanya jalan jauh” Naya tidak tau itu jawaban yang tepat atau malah mengundang tanya lagi dari anak kecil ini.


Tapi Naya bisa bernafas lega saat Dimas hanya beroh ria dan lanjut memakan permen kapasnya.


“Ya ampun Dimas! Mama cariin kamu dari tadi, ternyata disini” Naya dan anak bernama Dimas itu menoleh ke sumber suara, seorang wanita cantik nan anggun berjalan menghampiri keduanya.


“Loh itu permen kapas darimana?” tanya Mama Dimas pada sang anak, dengan menunduk takut jemari mungilnya menunjuk ke arah Naya yang kini bergerak salah tingkah, ia lupa tidak bertanya terlebih dahulu apa anak ini boleh makan permen atau tidak.


Wajah yang teramat menginginkan dari Dimas membuatnya tanpa pikir panjang langsung memberikan yang Dimas mau.


“Eh, gak papa kok mbak, saya malah takutnya Dimas jadi merepotkan mbak, harusnya saya yang minta maaf” lagi-lagi Naya bisa bernafas lega, ia tidak salah bertindak.


Awalnya ia sudah takut perempuan yang merupakan ibu Dimas akan marah padanya.


Wanita itu duduk di sebelah Dimas yang masih menuduk takut, diusapnya surai anak itu dengan lembut “It’s okay sayang, Mama cuma khawatir saat kamu tidak disamping Mama, lain kali kalau mau pergi bilang dulu ya?” Dimas mengangguk dan kembali memakan permen kapasnya.


“Sudah bilang terimakasih sama tante?” anak itu menepuk jidatnya sendiri lalu tersenyum lebar ke arah Naya.


“Terimakasih tante, maaf Dimas lupa, hehe” Naya mengangguk sembari terkekeh, tingkah anak ini sungguh sangat menggemaskan di matanya.


“Mama, adik bayi yang dalam perut tante ini lagi sakit loh, kita gak mau jenguk?” celotehnya membuat sang mama menatapnya sendu.


“Iya, ini kan sedang menemui tante, jadi sama saja menjenguk bayinya karena masih dalam perut tante” jelas Mamanya, lagi-lagi dahi anaknya ini berkerut, tanda jika masih ingin bertanya lagi, tapi mendengar riuh anak-anak sebayanya bermain bola membuat anak lima tahun itu berlari dan ikut bermain setelah berpamitan dengan ibunya dan Naya.


“Dimas baru saja mengetahui kata jenguk, saya bilangnya menjenguk itu untuk menemui orang sakit, lalu muncul lagi pertanyaan kenapa orang sakit harus dijenguk, saya jawab untuk memberikan suport dan doa agar orang yang sakit bisa lekas sembuh, dan jadilah dia selalu ingin menjenguk semua orang yang sakit bahkan yang tidak ia kenal” jelas Mama Dimas membuat Naya tertawa dibuatnya.

__ADS_1


“Ya begitulah anak-anak mbak, pikirannya polos dan selalu ingin tahu” tambahnya lagi, Naya membenarkan itu, dari yang ia tahu bukan hanya Dimas yang seperti itu.


“By the way, yang dikatakan Dimas tadi apa benar?” Naya mengangguk.


“Saya baru saja pendarahan kemarin, tapi untungnya bayinya masih bisa bertahan, kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada saya, pasti saya akan hancur sekali” Naya menatap lawan bicaranya saat tangannya di genggam.


“Percayalah, yang terjadi adalah yang terbaik, sekalipun tidak sesuai harapan kita, pasti itu yang terbaik, ambil hikmahnya saja” Naya mengangguk paham, hatinya mendadak teduh mendengar petuah dari wanita asing ini.


“Eh sampai belum kenalan ya mbak, nama saya Kanaya” ucap Naya sembari mengulurkan tangannya ke arah wanita dihadapannya.


“Nih Nay, maaf ya.. la.. ma” ujar Galang tersendat, ia terpaku di tempat. Tatapannya menatap wanita yang ada di sampingnya, begitu juga wanita yang sejak tadi bertukar cerita dengannya.


Tidak lama ibu Dimas berdiri dan menggendong Dimas tanpa berpamitan.


“Lang, kamu kenal sama wanita itu?” Galang masih mematung.


“Lang!” Galang tersentak dan menatap Naya dengan nanar, jiwanya masih belum utuh karena apa yang ia lihat beberapa waktu lalu.


“Kenapa Nay?” Naya berdecak kesal.


“Kamu kenal sama wanita itu?”


“Dia... Gisha” mata Naya membola.


“Lalu untuk apa kamu disini Lang! Kejar dia, Gisha pasti salah paham karena kita” mendengar itu Galang tersadar penuh, ia berlari kemudian kembali lagi pada Naya.


“Aku akan antar kamu dulu” Naya menggeleng, jika benar itu Gisha, maka Galang harus segera menjelaskan sesuatu padanya, Naya yakin wanita itu pasti sudah salah paham.


“Asal kamu tau Lang, dia taunya aku disini karena pendarahan, lalu kamu datang, bukan tidak mungkin Gisha akan berpikir kamu sudah menikah denganku dan akan segera memiliki anak, kejar dia, jelaskan padanya, jangan kahawatirkan aku, aku bisa kembali sendiri” ucap Naya meyakinkan.


Setelah mengucap maaf, Galang kembali berlari menyusul Gisha.


Dalam hati Naya berdoa, semoga Galang bisa menemukan Gisha dan menjelaskan apa yang terjadi, meski dalam hatinya bertanya-tanya, bukannya Galang bilang Gisha sudah meninggal karena bunuh diri?


TBC

__ADS_1


__ADS_2