Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 46


__ADS_3

Setelah memikirkan beberapa pertimbangan, disinilah aku, apartemen Galang.


“Kalau ada apa-apa kamu harus hubungin aku” perintahnya lagi, yang entah sudah berapa kali.


“Iya Lang”


“Kulkas sudah aku penuhin, ponsel yang kamu pegang sudah aku isi datanya, disitu juga ada nomorku”


“Iya Lang”


Galang menatapku tidak suka, aku yang menyadari kesalahan hanya bisa nyengir kearahnya.


Laki-laki itu menghela nafas dan membawa beberapa bajunya yang sudah berada dalam tas.


“Oke baiklah, aku pergi dulu ya Nay, kamu baik-baik di rumah” aku menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, kami terlihat seperti sepasang suami istri bukan?


“Nay are you ok?”


Aku mengangguk menghapus airmataku dengan kasar.


“Ingat kalau--”


“Kalau ada apa-apa aku harus menghubungimu, sudah lah Lang, aku bosan mendengar itu” potongku dengan malas, Galang tertawa, aku mengantarnya sampai pintu.


“Aku pergi dulu Nay, sampai jumpa!”


Aku melambaikan tangan dan menungguinya masuk dalam lift.


Ketika Galang sudah tidak ada, aku memutuskan untuk masuk.


Flashback


“Kamu sedang tidak baik-baik saja kan?” tanya pria itu dengan hati-hati.


Air mataku kembali menggenang, dengan pelan aku mengangguk.


“Masalah dengan suamimu?”


Aku menatap Galang, “Aku gak bisa cerita masalah rumahtanggaku pada siapapun Lang”


“Baiklah aku mengerti, tapi jika kamu butuh bantuan, jangan sungkan untuk menghubungiku Nay”


“Sebagai teman” imbuhnya membuatku yang sudah akan melontarkan kata kembali bungkam.


Bantuan? Ya, aku membutuhkannya.


“Bisa carikan aku tempat tinggal untuk sementara?” ucapku dengan hati-hati, aku merutuki ucapanku saat Galang terdiam dengan pandangan menyelidik, pasti dia kini sudah tau tentang masalah hidupku.


“Tinggallah di apartemenku” aku menatapnya tidak suka.


“Tahan dulu protesmu Nay, apartemen itu akan kosong beberapa minggu karena aku akan pergi perjalanan dinas”


Setelah memohon agar merahasiakan keberadaanku pada siapapun aku menyetujui sarannya, toh tidak ada yang akan mencariku kan?


Tenggorokanku yang terasa kerng membuatku secara tak sadar menuju ke dapur.


Aku duduk di salah satu kursi mini bar dekat dapur, menggenggam segelas air dingin, hatiku masih sakit.


Sikap Mas Panji menyakitiku, setelah ia berjanji, ia langsung mengingkari.


Aku ingin menyendiri dulu, ingin memikirkan semuanya dengan tenang.


Beruntung sekali Galang yang menemukanku.


Aku berhutang banyak dengannya.

__ADS_1


***


Sedang apa ya laki-laki itu?


Aku menggeleng pelan karena pertanyaan ambiguku sendiri, siapa? Laki-laki yang mana?


Secara hidupku kini dihiasi oleh dua laki-laki, satunya pernah menyakitinya, satunya lagi sedang menyakitinya.


Hahhhh!


Sesak kali dada ini.


Jawabannya tentu saja laki-laki yang sedang menyakitinya saat ini, karena Galang baru saja menelponnya beberapa jam lalu mengatakan bahwa dia sudah sampai.


Mengingatnya membuatku tanpa sadar mengusap perut rata yang berisi benihnya, air mataku mengucur deras, jika sikapku kali ini akan berimbas buruk pada janin ini, aku hanya bisa minta maaf.


‘Mama tidak sekuat itu untuk terus berada di sisi papa kamu Nak’


Aku berusaha mengusap air mata yang terus saja mengalir saat mengingatnya, mengingat pria yang sudah mengikatku dalam hubungan toxic ini.


Terdengar rintik hujan di luar sana, aku merapat ke arah jendela dan menyingkapnya, benar saja hujan turun.


Cuaca sedang tidak jelas akhir-akhir ini, padahal harusnya sudah tidak ada hujan di musim kemarau seperti sekarang, tapi hujan masih muncul.


Hatiku mulai goyah, hujan terdengar semakin deras seperti memanggilku untuk keluar.


Baru saja tangan ini menyentuh handle pintu balkon ponselku berbunyi.


Aku mendesah kesal!


“Ya halo Lang” sapaku tanpa melihat id caller, handphone ini hanya berisi nomor Galang, jadi hanya dialah orang yang menyebabkan ponselku berdering.


“Jangan main hujan” mataku membola mendengar larangannya, bagaimana dia bisa tau?


“Iya, enggak”


“Enggak hujan-hujan” dia tertawa di seberang sana.


“Gadis pintar”


“Kok tau kalau disini hujan?”


“Iya dikasih tau temen, dan tiba-tiba aja keinget kamu yang lop-lop banget sama hujan” kini aku yang terkekeh mendengar celotehannya.


“Gak sibuk?”


“Lagi break, aku ganggu kamu gak?”


“Nggak”


“Baguslah, by the way Nay, kenapa sih kayak cinta banget sama hujan?” aku diam sejenak, memilih kata-kata yang pas untuk menjabarkan rasa sukaku pada hujan.


“Emm gimana ya jelasinnya, pokoknya seneng ajalah” akhirnya kalimat itu yang muncul setelah merenung tidak menemukan jawaban yang tepat.


“Bisa tanpa alasan gitu ya?”


“Iya, cinta kan gak butuh alasan” jawabku yang mulai ngelantur.


“Kayak kamu dulu ke aku ya Nay” aku terkejut.


“Mungkin” jawabku asal.


“Aku bodoh banget ya Nay”


“Bodoh banget!” umpatku, bukannya marah dia malah tertawa.

__ADS_1


“Nay boleh aku tanya sesuatu?”


“Ya?”


“Kalau seandainya dulu aku kembali, apa kamu masih mau maafin aku yang tiba-tiba hilang dan kita akan baik-baik saja?” aku mematung.


Aku punya jawabannya, masalahnya adalah berandai-andai hanya akan membuat semuanya terasa berat bagiku.


“Jangan serius amat elah, gak usah dijawab Nay” katanya lagi saat aku hanya diam.


“Yaudah deh aku balik kerja lagi ya, jam istirahatnya udah selesai” pamitnya.


“Iya Lang, semangat ya”


“Makasih Nay”


Panggilan terputus, pikiranku melayang pada pertanyaan Galang tadi.


Seandainya Galang kembali, seandainya Galang tidak pergi, seandainya aku tidak bertemu Mas Panji, seandainya...


Aku kembali menangis.


Seandainya itu semua terjadi, pasti kini aku sudah mengandung anak Galang, dan menunggunya seperti saat ini dengan status istri, bukan sebagai teman yang kabur dari suaminya sendiri.


Ini tidak benar!


Bagaimanapun aku masih berstatus istri Mas Panji, dan bagaimana bisa aku tinggal serta menerima semua fasilitas yang Galang beri.


Aku harus segera pergi!


Tidak butuh waktu lama untuk berberes karena aku tidak membawa barang apapun selain dompet.


Sedikit mengintip ke arah luar, hujan mulai sedikit reda.


Tanpa pikir panjang aku bergegas keluar, handphone pemberian galang ku tinggal.


Setelah mengunci pintu aku bergegas turun, dan menitipkan kunci itu pada resepsionis apartemen.


Dalam rintik hujan aku menghentikan taxi.


“Mau kemana Mbak?”


“Jalan dulu saja Pak nanti saya beri tahu tujuan saya” aku menatap hunian Galang yang ku tempati selama lima hari ini.


‘Maafkan aku Lang’


Sudah cukup melibatkan pria itu.


Aku tidak ingin bertemu dengan Mas Panji, juga Galang.


“Kita ke bandara ya Pak” ku lihat sopir itu hanya mengangguk.


Aku kembali meraba perut rataku, kemudian kembali menerawang ke depan, aku pasti akan kembali, tapi aku butuh menyendiri untuk saat ini.


‘Mari berlibur sayang!’


Hatiku kembali berbunga saat melihat plang penunjuk arah ke Bandara Juanda, ya benar, aku akan mengasingkan diri jauh dari semua yang berhubungan denganku.


Semoga setelah ini semua akan baik-baik saja.


TBC


Hai hai!


Jadwal update kembali normal ya para readers kesayangan, karenaaaaa urusan di real life sudah tidak sepadat kemarin (Alhamdulillah, 😁)

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komen yaa!


Ma'acih 😘


__ADS_2