
Brakkk
Galang membuka pintu dengan tidak sabaran, semuanya gelap padahal ini sedang malam.
Kembali ia mencoba menghubungi nomor ponsel yang ia sediakan untuk Kanaya, wanita yang paling bisa membuatnya kalang kabut setelah resepsionis mengatakan kunci kamarnya sudah dititipkan di bawah oleh seorang wanita, siapa lagi kan?!
“Aaaarrrhgghh” geram laki-laki itu setelah mendengar dering ponsel Naya yang tidak jauh dari tempatnya.
‘Ternyata kamu pergi lagi Naya, kamu tinggalin aku lagi’
Langkahnya mendekati ponsel yang masih berkedip-kedip karena panggilannya, Galang terduduk di sofa sembari mengambil ponsel itu.
Ada kertas.
Segera ia menghidupkan lampu untuk memberinya penerangan, ini pasti surat dari Naya.
Dear Galang,
Terimakasih, dan Maaf.
Terimakasih sudah mau menampung wanita hamil yang sedang lari bersembunyi dari suaminya.
Galang tertawa membaca kalimat kocak yang sebenarnya bermakna pedih itu.
Maaf, aku tidak lagi bisa menerima kebaikanmu yang teramat sangat istimewa itu.
Aku masih berstatus istri seseorang Galang, tidak sepatutnya aku diam saja menerima semua fasilitas darimu, sekalipun hanya sebagai teman.
Maafkan sikap egoisku ini, maafkan ibu hamil ini.
Dahi Galang berkerut mencerna semua kalimat itu.
Lalu kenapa Naya?! Geramnya dalam hati.
Jika kamu masih sudi membaca suratku, aku ingin sekali menjawab pertanyaanmu di telfon waktu itu.
Aku yakin kamu pasti lupa, akan aku ingatkan, waktu itu kamu bertanya apa aku akan memaafkanmu dan semuanya akan baik-baik saja diantara kita?
Jawabannya..
Ya Galang.
Andai saja kamu kembali, andai saja kamu yang ada di sisiku ditengah kebingunganku saat itu, lebih tepatnya, andai saja kamu tidak pergi..
Tapi untuk apa kita berandai-andai Galang?
Aku tetap istri orang lain yang kini sedang mengandung anak pertama kami.
Tidak ada gunanya memikirkan masa lalu.
Tidak, aku tidak pergi karena itu.
Aku pergi untuk menenangkan diri, mencari tempat untuk merefresh otak dan hatiku
Last but not least, hiduplah menatap ke depan Lang, jangan terus menerus menyesali kepergianku, ataupun kepergian Gisha.
Hiduplah dengan damai tanpa rasa bersalah pada kami berdua.
Percayalah, baik aku ataupun Gisha juga pasti menginginkan yang terbaik untukmu Galang..
Dari Ibu hamil yang cantik,
__ADS_1
Kanaya Widhiani
Bibir Galang melengkung sempurna saat membaca Naya yang menyebut dirinya cantik, tapi senyuman itu pudar saat meresapi kalimat per kalimat yang Naya katakan dalam surat itu.
Gisha, wanita yang sudah ia rusak dan hancurkan secara perlahan.
Juga Naya, wanita yang ia beri harapan lalu ditinggalkan begitu saja.
Galang merasa sangat brengsek sekali pada dua wanita itu, dengan Gisha ia tidak bisa menebus kesalahannya.
Semua sikap perhatiannya pada Naya bukan hanya untuk menebus semua kesalahannya, melainkan masih ada sisa rasa yang sudah ia pupuk untuk wanita hamil itu.
Galang sudah duga ini akan terjadi, hatinya mencelus saat Naya tidak bisa dihubungi, terlebih saat Galang menelpon resepsionis apartemennya untuk menengok Naya karena takut terjadi sesuatu pada Naya.
Galang harus menerima kenyataan pahit lagi bahwa Naya sudah pergi setelah menitipkan kunci apartemennya.
‘kenapa harus sampai seperti ini Nay?’
Padahal Galang tidak peduli jika dia akan di cap sebagai perebut istri orang atau apapun, dia hanya ingin Naya berada dalam jangkauannya.
Jika sudah seperti ini harus kemana lagi pria ini mencarinya?
Galang menarik rambutnya frustasi.
***
“Kamu sudah baikan kan Win?” wanita yang dipanggil Win itu menatap Panji dengan sedih.
“Kenapa Mas? Mas mau kembali ke istrinya ya? Ya sudah tinggalin saja Anti disini, Mas boleh kembali” ucapnya dengan menekankan namanya sebagai Anti.
“Baiklah aku pulang dulu ya, nanti aku pasti kembali” tanpa menunggu jawaban, Panji langsung melesat.
‘Tunggu Mas Naya’
Jalanan yang masih sepi membuat pria itu melaju dengan cepat, yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana bisa sampai rumah dan bertemu dengan istrinya.
Panji sadar Kanaya pasti sudah dengar semuanya, tapi ada hal yang harus Panji jelaskan, alasannya melakukan semua ini.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menceritakan semuanya pada Naya, istrinya.
Wajah Panji berubah pias saat melihat rumah yang gelap.
Biasanya Naya selalu mematikan lampu saat matahari sudah mulai menampakkan wujudnya, sekitar jam 7 pagi.
Tapi ini masih jam 5.
Berkali-kali ia merapalkan kalimat positif, pikirannya dipaksa untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan baik saja.
Dengan perlahan ia membuka pintu.
Kosong.
Panji tidak menyerah, dia berjalan ke lantai dua, kamar mereka.
Kosong.
Naya pergi.
Itu kesimpulan yang muncul dalam benaknya.
Pecahan handphone yang ia lihat di sudut kamar membuat rasa bersalahnya menggunung.
__ADS_1
Kanaya pasti sangat kecewa padanya saat ini.
Tidak ada yang bisa lakukan sekarang, segala kekhawatiran yang bersarang padanya hanya akan membuatnya tergesa dan kembali mengambil keputusan yang salah.
Ia duduk di tepi ranjang.
Entah sudah berapa lama Naya pergi, sedang dimana dia sekarang?
Otak Panji dipaksa memikirkan kemungkinan-kemungkinan keberadaan istrinya.
Dewi!
Dia satu-satunya sahabat Naya.
Baiklah, pertama-tama ia akan bertanya pada Dewi dulu mungkin sahabat istrinya itu tau keberadaan Naya.
Dering pertama
Dering kedua
“Ya halo Mas Panji?”
Hati panji lega saat Panggilannya diangkat.
“Dew, boleh aku menganggu sebentar”
“Ya Mas ada apa? Naya tidak apa-apa kan?” semua kata-kata yang terangkai di otaknya buyar seketika.
“Kamu.. masud saya Naya, tidak ada disitu?”
“Apa maksudnya Naya disini Mas?! Tunggu, apa Naya tidak ada dirumah?” tebaknya.
“Iya”
“Bagaimana bisa Mas?!” pekiknya membuat Panji harus berkali-kali menjauhkan ponsel dari telinga.
“Panjang ceritanya, bisa bantu saya untuk mencari keberadaan Naya, Dew?”
“Baiklah-baiklah, akan aku bantu cari tapi Mas harus ke rumah pagi ini sebelum suamiku berangkat kerja, jelaskan semuanya”
“Ya”
Seperti janjinya, kini pagi buta Panji sudah berada di pekarangan rumah Dewi.
“Duduk Mas” ucap Alan sembari menggendong baby Sean.
Panji sempat terperangah akan itu, suatu saat ia pasti akan mengalami hal itu, sejak pagi sudah repot mengurus anak.
“Gimana ceritanya Naya bisa gak ada, dan asal Mas tau, Naya bahkan tidak ada dirumahnya, jangan bilang kalau Naya hilang?!” tanya Dewi dengan menggebu-gebu.
“Kami ada masalah, dia memutuskan untuk pergi” hanya itu yang bisa Panji jelaskan untuk sekarang, karena penjelasan secara lengkap hanya berhak didengar oleh Naya langsung.
“Masalah apa?!” semprot Dewi dengan nada yang tidak biasa.
“Sayang,,,” tegur Alan pada istrinya.
Perlahan Dewi mulai menguasai dirinya, “Naya gak akan pergi kalau masalahnya tidak fatal, jadi kira-kira apa yang sudah Mas lakukan hingga Naya memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan dengan kami semua?!”
Panji hanya bisa menunduk, dia tidak akan mengatakan alasannya pada siapapun.
TBC
__ADS_1