Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 53


__ADS_3

Tristan masih terpaku memandangi wanita hamil dihadapannya yang tersenyum senang menatap perutnya yang sedikit menonjol itu.


Itu artinya Naya-nya sudah menikah bukan?


“Aku tau Abang pasti heran kenapa aku disini” ucap Naya yang melihat Tristan langsung bungkam setelah mendapatkan jawaban darinya.


“Jawabannya sedang berlibur” jawab Naya dengan ceria, ia masih belum sanggup cerita masalah yang sebenarnya sedang menimpanya.


“O-oh begitu”


“Tristan, Naya” panggil seseorang membuat keduanya menoleh ke sumber suara.


Ibu Kinasih.


Keduanya saling pandang, sejak kapan sang Ibu berada disana?


“Kamu hamil?”


Naya terdiam, Tristan berjalan maju mendekati Ibunya.


“Bu, ayo masuk udaranya sudah mulai dingin nih” halau Tristan untuk mengalihkan pembicaraan, tapi Ibu justru menepis tangan Tristan dan terus menatap Naya.


Ibu mendekati Naya dengan tatapan yang sulit diartikan, khawatir terjadi apa-apa Tristan membuntuti Ibunya.


“Naya jawab Ibu, kamu hamil?” dengan berat hati Naya mengangguk.


“Iya bu” setelah mengatakan itu Naya memejamkan matanya sembari mencengkram baju di bagian perutnya, ia takut akan kemarahan ibu Kinasih.


“Cucu ibu” mata Naya langsung terbuka, nampak ibu Kinasih sudah berada dihadapannya, mengusap perut Naya dengan lembut.


Naya dan Tristan kembali saling pandang.


Apalagi yang akan terjadi kali ini?


Dengan gerakan cepat Ibu Kinasih memeluk Naya erat, air matanya bercucuran. Hal itu semakin membuat dua manusia beda kelamin itu kebingungan.


“Kenapa kamu gak bilang kalau lagi mengandung cucu ibu?” lagi, Naya hanya bisa diam sembari menatap Tristan, meminta pertolongan pada pria itu.


“Kejutan! Iya kan Naya” wanita itu mengangguk ragu, matanya menyorot Tristan dengan tajam, kenapa memilih berbohong?


“Ayo masuk! Kamu juga Tan, udah tau adik ipar kamu hamil malah dibawa keluar sore-sore gini, pamali tau?!”


“Maaf bu”


“Sudah-sudah ayo masuk, nanti ibu bikinkan wedang jahe ya Nay, kamu ada keluhan tidak?”


“Tidak ada ibu”


“Arsha pasti marah sama ibu nanti kalau tau istri dan anaknya tidak di perlakukan dengan baik”

__ADS_1


Nama itu lagi, air mata kembali bergumul di pelupuk mata Kanaya, masih belum bisa menerima fakta yang Tristan katakan beberapa waktu lalu.


“Loh kok kamu malah nangis?” Naya menggeleng pelan, kehilangan orang sebaik Arsha sudah sangat menyesakkan baginya, apalagi bagi wanita yang melahirkan dan membesarkan Arsha di hadapannya.


“Naya pengen apa? Biar Tristan yang belikan” tawar ibu lagi membuat air matanya semakin mengalir deras.


“Kamu pasti kangen Arsha ya?” Naya mengangguk dengan cepat, hal itu memang benar, salah satu alasannya memilih Bali sebagai tempat pelarian hanya untuk mengenang cinta pertamanya yang merupakan orang asli Bali.


“Tristan! Cepet telpon Arsha agar segera kembali, cucu ibu kangen dia”


“I-iya Bu”


“Tuh Arshanya sudah di suruh pulang, Naya jangan sedih lagi ya?”


Dengan perasaan sedih Naya kembali mengangguk, menganggap ada orang sudah tiada itu sangat memilukan.


“Ibu makan sama suster ya? Biar Naya istirahat dulu”


Ibu memandang Naya dengan tak rela, ia baru tau keberadaan cucunya dan sekarang harus kembali dipisahkan dari Naya, tapi melihat wajah Naya yang kuyu dan berderai air mata membuat jiwa keibuan Kinasih muncul.


“Ya sudah, Naya istirahat ya? Kalau butuh apapun bilang sama ibu atau Tristan”


“Iya bu”


Setelah ibu pergi Naya juga memutuskan untuk kembali ke kamar yang sudah disediakan untuknya.


Tubuh Naya meluruh tepat setelah pintu kamar tertutup, tidak bisa dipungkiri ia masih memiliki rasa pada Arsha, tapi takdir sekali lagi mempermainkannya dengan membuat Arsha sudah pergi tanpa berpamitan padanya.


‘Nay, besok kalau kita berjodoh dan menikah, aku ingin kita menetap di Bali ya?’


‘Kenapa harus Bali Sha?’


‘Karena satu alasan egois, aku ingin anak-anakku kelak juga lahir di tempat dimana aku dilahirkan, Pulau Bali’


Air mata itu jatuh.


Jika kenyataannya Arsha sudah memeluk agama yang sama, bukankah itu mungkin untuk dilakukan?


Tapi Arshanya sudah pergi, dan tidak akan pernah kembali lagi.


Naya sendirian lagi.


‘Sekarang aku sudah di Bali Sha, kenapa malah kamu yang pergi?’


Tok tok tok


Tubuh Naya berubah tegap dan menghapus air matanya.


“Naya?” wanita hamil itu berdiri membuka pintu saat mendengar suara Tristan.

__ADS_1


“Ya?”


Mata Tristan meneliti wanita dihadapannya, sejurus kemudian dia menyesal sudah menceritakan semuanya pada Naya, wanita dihadapannya pasti sangat terguncang karena cerita darinya.


“Are you okay?”


Bukannya menjawab air mata Naya kembali jatuh.


“Don’t cry please”


“Gak bisa Bang” ucap Naya sembari terus berderai air mata.


Tristan yang tidak tega langsung memeluk Naya yang kini sudah terisak dalam pelukannya.


“Kenapa Arsha harus pergi Bang?”


“Kenapa dia harus bohong sama Naya Bang?”


“Naya sendirian lagi Bang” racaunya.


“Ssstt Naya punya Abang, punya Ibu, ada keluarga Naya, juga sekarang ada si kecil, Naya gak sendirian” ucap Tristan yang berusaha menenangkan wanita hamil itu.


“Naya pengen Arsha disini Bang, Naya janji bakal jadi pasangan yang lebih baik dari sebelumnya asal Arsha kembali Bang” isakannya semakin terdengar memilukan, tapi Tristan bisa apa? Dia bukan tuhan yang bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal.


“Bang.... Arsha Bang” adunya lagi, tangan Tristan mengusap punggung Naya dengan lembut, membiarkan wanita itu menerima kenyataan yang pahit itu, tapi tidak sendirian, ada dirinya yang akan menemani Kanaya.


Dibiarkannya wanita itu menangis dalam pelukannya, Tristan sudah pernah berada di posisi ini, kondisi dimana ia tidak menerima apa yang terjadi, tapi itu dulu.


Karena fase denial-nya sudah terlewati, pikiran warasnya sudah kembali, mau menyesal dan menangisi setiap hari juga tidak merubah apapun.


Arsha-nya sudah pergi.


“Better?” tanya Tristan saat Naya melonggarkan pelukan mereka dan berdiri berjarak darinya.


Sembari menunduk malu Naya mengangguk dengan tangan yang membersihkan hidung penuh ingus karena terlalu banyak menangis.


Tristan yang diam mengundang Naya untuk menatap laki-laki dihadapannya, mata cantiknya membola saat melihat bagian dada Tristan basah karena air matanya.


“Bang, basah” cicitnya, tangannya menggantung menunjuk kearah bagian dengan lingkaran basah yang tidak kecil.


Naya yang malu dan salah tingkah membuat Tristan tertawa, entah sudah berapa lama ia tidak tertawa, rasanya sudah lama sekali.


“Ayo makan lalu kamu harus istirahat Nay” ajaknya setelah berhasil menguasai tawanya.


“Iya Bang”


Keduanya larut dalam makan malam yang sepi, sebenarnya Naya tidak terlalu dekat dengan Tristan, ditambah lagi dengan kejadian memalukan tadi, apalagi Tristan yang masih memakai baju yang sudah ia basahi dengan air mata semakin membuatnya segan pada pria itu.


Meski bagian basah tadi sudah agak mengering.

__ADS_1


TBC


__ADS_2