
Tuk tuk tuk
Jariku asik menari di atas keyboard, meski saat ini adalah malam minggu, aku memilih untuk mengerjakan sebagian tugas kantor yang ku bawa pulang.
Biasanya saat seperti ini aku akan menonton drama atau membaca novel sembari mendengarkan musik, tapi tidak, mood kerjaku sedang membara, bahkan untuk bersantai saja aku tidak mau.
Ini salah satu usahaku untuk membuatku penuh dengan apapun asalakan tidak dengan pria itu!
Dengan ini aku bertahan hidup, gajiku bisa di pakai untuk menyenangkan diri sebagai self reward, pengalihan isu yang menguntungkan bukan?!
Cangkir berisi matcha latte yang masih mengepulkan asap menyebarkan aroma kesukaanku, aku tergerak mendekatkan cangkir itu dengan penciumanku.
Bau petrikor dan aroma matcha yang dicampur creamer selalu mampu membuatku sedikit tenang.
Aku menatap laptopku yang menyala tanpa mau kembali menyentuhnya, pikiranku sedang buntu setelah berjam-jam menekuri file yang harus ku isi dengan berbagai angka dan kata.
Playlist laguku kembali dengan lagu baru, aku tau lagu ini, Akhir tak bahagia-Misellia Ikwan.
Lagu yang di rekomendasikan Inggita teman kerja yang senasib denganku, jomblo!
Melodi yang indah namun terdenagr pilu sebagai intro.
...Malam ini, bintang mengingatkan...
...ku padamu,...
Seketika aku menengok langit dari jendela kamarku, tidak ada bintang di sana, hanya langit yang gelap keabuan setelah mengantarkan hujan jatuh ke bumi, ku peluk tubuhku sendiri saat merasakan dinginnya angin yang menyapaku.
...Indah terang, sepeti matamu yang selalu ku pandang...
Sebelum ini aku punya sesuatu yang selalu ku pandang, meski menjengkelkan, meski aku tak suka dengan kebiasaannya yang sering mengusiliku dan sering menghilang, dia tetap orang akhir-akhir ini menghiasi hari-hariku selama berbulan-bulan.
...Lembut tutur katamu, merdu tawamu...
Ucapannya tidak pernah kasar meski aku merasa sudah sangat keterlaluan, dia selalu paham dengan kondisiku yang mungkin saja telah melalui hari yang menyebalkan, berbeda dengan ku yang selalu tak acuh pada perasaannya.
Aku sedikit tersenyum saat mengingat tawa bahagianya karena sudah berhasil membuatku kesal.
__ADS_1
Wajahku berubah masam saat dia sekarang menjadi beban pikiran yang belum ada jawaban dan penyelesaian.
...Parasmu yang menawan buat diriku tak bisa lupa...
Dia tampan, aku tak ragu akan itu, sikapnya yang selalu mengayomi dan pengertian membuatku terperosok jatuh dalam pesonanya.
Pandangan ku jatuh pada boneka beruang yang Galang perjuangkan untukku malam itu, wajah seriusnya saat memikirkan strategi, sikap optimisnya yang membuatku langsung yakin jika dia akan memenangkan boneka itu untukku semakin menambah kenangan manis diantara kami.
Sekarang bagaimana caraku melupakanmu Galang?
...Dari banyaknya insan di dunia, mengapa dirimu yang aku sangka?...
Bisa temani hari-hariku yang tak selalu indah
Aku tersenyum kecut, aku kali ini telah salah mengartikan arti hadirnya.
Walau kita tak bisa bersama
Aku benci pada akhir yang seperti ini, walau sekeras hati aku mencoba mengenyahkan bayangnya dari pikiranku, mencoba berpikir bahwa kami bukan siapa-siapa, selain dua orang yang saling menyayangi tak bisa membuatku melupakannya yang sudah satu bulan ini menghilang tanpa kabar setelah aku mengantar kepergiannya di bandara waktu itu.
Dia berjanji kembali, itu yang selalu membuatku tegar, tapitidak bisakah dia mengabariku hanya sebentar?
...Dipertemukan semesta, walau berakhir tak bahagia...
Aku tak pernah mengharapkan akhir kisah yang seperti ini dengannya, melihat kesungguhan dan perjuangannya untuk mengambil hatiku, membuatku menaruh harapan besar padanya untuk berada dalam satu kapal dan mengarungi samudra yang penuh dengan badai dan segala sesuatu yang belum kuketahui apa.
Pernikahan.
Aku sempat berharap itu padanya, melihat ia yang gigih dalam mendekatiku.
Kini aku sendiri yang kecewa, espektasiku patah, hatiku juga!
Rasa sesak ini kembali memenuhi rongga dadaku, aku tak ingin terus menerus seperti ini. ku tutup laptop itu dengan kasar tanpa peduli jika file yang sejak tadi membuatku anteng di dalam kamar akan hilang karena aku belum menyimpannya.
Aku tidak peduli, aku juga menjamin isi dari file itu tidak ada yang benar karena aku mengerjakannya dengan separuh nyawaku saja, nyawaku yang lain terbang memikirkan nasib percintaanku yang tak pernah mulus.
“Mau kemana Mbak?” langkahku terhenti saat Ayahku bertanya, aku sudah rapi dan memutuskan untuk keluar sekedar cari angin, aku berpikir mungkin itu bisa membuat pikiranku sedikit enteng.
__ADS_1
“Mau keluar sebentar Yah, cari cemilan” alibiku, Ayahku manggut-manggut saja, kini aku malahbaru sadar bahwa di ruang tamu juga ada Adik dan Mamaku, sedang menonton film bersama.
Huh!
Karena masalah ini aku sampai mengabaikan keluargaku sendiri.
“Perlu Ayah atau Awan antar?” aku menegang, ini yang tidak ku sukai dari ayahku, terlalu over protective.
“Gak usah Yah, Naya janji cuman sebentar, gak sampai jam sembilan deh” tawarku, jika Ayah atau Awan ikut, bukannya healing, aku bisa-bisa tambah pusing.
Ayah dan Adikku ini juga suka mengusiliku, tak peduli jika aku sedang tidak ingin bercanda atau apa, mereka akan dengan senang hati menggodaku sampai dongkol bahkan sampai menangis.
“Ya sudah, hati-hati” ucap Ayah seperti oase di padang pasir bagiku, aku sangat butuh moment ini untuk menyendiri, memikirkan segala sesuatu sampai diriku lelah dan kemudian hanya bisa berpasrah dengan apapun yang terjadi.
Segera aku menyalimi beliau, tak lupa juga mamaku, sebelum Ayahku berubah pikiran.
Ku pacu motor maticku membelah dinginnya malam, tujuanku jelas taman komplek, itu tujuan paling dekat dari rumah, karena aku hanya punya waktu sedikit.
Ku parkirkan motorku pada sisi jalan yang memang digunakan untuk parkir kendaraan, aku mencari cemilan yang bisa menemaniku untuk sekedar meratapi nasibku.
Aku menjatuhkan pilihan pada Jasuke, jagung rebus yang dicampur dengan susu kental manis dan taburan keju sepertinya cocok untuk saat ini.
Setelah membayar, aku mencari tempat yang agak sepi, aku butuh menyendiri, bangku taman yang agak jauh dari tempat parkir tadi menjadi pilihanku.
Aku duduk sembari sesekali menyuapi diriku sendiri, rasa manis ini mampu membuatku sedikit nyaman, bau tanah yang terkena hujan di sore hari membuat perasaanku sedikit baikan.
Rasanya aku ingin sekali menangis kali ini, tapi aku terlalu malu untuk menangisi pria yang mungkin saja tidak memikirkanku di sana.
Tanpa aba-aba, hujan turun dengan derasnya, membasahi tubuhku juga menyamarkan tangisku yang berpadu dengan air hujan yang dingin untuk mendinginkan hati dan pikiranku.
Rupanya, hujan berhenti hanya untuk menungguku keluar, kemudian menghiburku dengan cara yang selalu ku lakukan saat sedih.
Terimakasih tuhan.
Setidaknya ini lebih baik.
Semoga.
__ADS_1
TBC