Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 38


__ADS_3

“Saat berkuliah aku memilih berkuliah di Inggris, berpisah dengan Alan dan sahabat-sahabatku yang lainnya, aku sudah mempersiapkan segalanya Nay, semua, beasiswa, kerja paruh waktu agar aku tidak merepotkan keluargaku di sini, tapi aku tidak menyiapkan mental dan iman yang kuat menghadapi pergaulan bebas di sana”


Aku diam mendengarkan ceritanya yang semakin lama semakin pilu, aku terkejut, tapi tidak mau menyela ceritanya, mungkin ia butuh meluapkan semua yang membebaninya saat ini.


“Namanya Gisha, dia mahasiswi asal Indonesia sama sepertiku, tampangnya yang cuek dengan penampilan membuat ia sering menjadi korban bully di fakultas kami, mereka, teman-temanku disana menjadikan kami objek taruhan, aku dijebak Nay”


“Awalnya aku pikir mereka tulus berteman denganku, tapi nyatanya tidak”


Galang lagi-lagi menghela nafas berat, aku mengusap lengannya, membuat pria kuat berhati rapuh ini memandangku sendu.


“Kalau kamu belum siap cerita, jangan dipaksa Lang” dia menggeleng dan kembali menerawang ke depan.


“Aku di beri obat perangsang, dan Gisha di beri obat tidur, kami di kurung dalam satu kamar semalaman, aku hanya manusia biasa Nay, aku tidak bisa menahannya dan itu terjadi”


“Saat bangun tidur, bukannya menangis dan marah, Gisha justru mengajakku bicara dengan santai, berulang kali aku meminta maaf namun ia berkata bahwa ia tau ini akan terjadi, ia sudah tau bahwa kami akan dijebak, dan dia tidak meminta pertanggung jawabanku”


“Disinilah kebodohanku Nay, aku merasa tidak punya kewajiban apapun untuk Gisha karena dia sendiri yang tidak menginginkan itu”


“Hingga salah satu sahabatnya menghampiriku dan menyerangku”


“Aku dipukul dengan brutal, semua sumpah serapahnya juga tertuju padaku, tapi itu semua tidak seberapa Nay, sampai ia mengatakan suatu fakta yang membuat dadaku nyeri sampai sekarang”


“Gisha hamil anak kami karena kejadian itu, tapi dia memilih mengakhiri hidupnya dari pada meminta pertanggung jawabanku, tubuhku langsung membeku kala itu, merasa sehina itukah aku, sampai dia tega tidak memberitahukan keberadaan calon anak kami Nay”


“Tapi lagi-lagi aku kembali ditampar dengan keras saat sahabatnya melempar buku harian Gisha, dan aku membacanya”


“Dia tidak membenciku Nay, justru dia mencintaiku dalam diam, itu alasannya diam saat dijebak denganku, itu alasannya tidak marah saat aku merenggut mahkotanya secara paksa, itu juga yang membuat ia ingin mempertahankan calon anak kami berharap aku akan mencarinya dan membangun keluarga kecil kami”


“Tapi aku tidak datang, aku tidak mencarinya, dia merasa keberadaan mereka tidak berharga bagiku, nyatanya aku melakukan itu karena aku tidak tau”


“Dia pergi membawa calon anak kami yang bahkan belum aku ketahui keberadaanya”


Galang menangis tersedu, aku hanya bisa mengusap punggunggnya berharap ia bisa sedikit tenang dengan itu.

__ADS_1


“Aku pengecut Nay, aku brengsek”


“Nggak Lang, kamu cuman ada di situasi yang membuat kamu tidak tau harus berbuat apa, Gisha sudah pergi anak kalian juga sudah tenang disana, yang harus kamu lakukan sekarang melanjutkan sisa hidup dengan baik, terus menerus meratapi itu semua tidak bisa mengembalikan keadaan, kamu hanya akan memperburuk semuanya”


“Iya, aku kehilangan kamu juga pada akhirnya karena masih terjebak di masa lalu” ucapnya sembari menatapku dalam.


“Lalu kamu akan kembali meratapi itu?” Galang diam.


“Kalau kamu akan tetap seperti ini, hidupmu akan stuck disini Lang, tidak ada siapapun yang bisa menolong kamu selain dirimu sendiri” tambahku, membuat mata sayu itu sedikit bersinar.


“Bantu aku Nay, Bantu aku lepas dari semua ini”


“Sebagai teman?” tawarku sembari mengulurkan tangan di hadapannya.


Dia menyambutnya dengan senyuman hangat, tidak ada lagi aura sedih di wajah tampannya ”Sebagai teman”


Aku ikut tersenyum melihatnya sudah kembali menjadi galang yang dulu.


“Tapi aku akan merebut kamu kembali jika suamimu menyiakanmu Nay” senyum yang baru saja terpatri di wajahku seketika menghilang.


Aku terbangun karena dering telpon yang mengganggu, aku masih di hotel setelah makan malam dengan Galang semalam, dia tidak banyak bertanya saat aku memintanya mengantarku ke hotel tempatku menginap.


Aku terkesiap saat melihat id caller yang tertera di handphoneku.


“Ya Ma? Maaf Naya masih di kamar mandi tadi” ucapku berbohong.


“Gak apa-apa sayang, Naya bisa ke rumah Mama sekarang? Panji drop lagi, dari tadi dia panggil nama kamu” aku menghela nafas sepelan mungkin, untuk apa dia menyebut namaku saat sedang sakit, kemana Si Anti-Anti itu?!


“Ya Ma”


“Hati-hati di jalan sayang”


Telepon kami terputus, aku sekarang bingung harus bersikap bagaimana, aku belum ingin bertemu dengan dia, tapi aku juga tidak ingin keluarga kami tau bahwa hubungan kami tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Dengan malas aku bergegas mandi dan checkout dari hotel ini, sekali lagi aku melakukan ini hanya untuk kedua keluarga besar kami.


Aku memutuskan untuk mampir ke rumah kami yang sudah berhari-hari kosong, aku tidak mau mama tau jika aku pergi dari rumah, seketika rasa sesak menghantuiku, rumah ini semakin dingin.


Setelah menaruh koperku di kamar kami, aku memesan taksi dan pergi ke rumah mertuaku, dalam perjalanan aku bingung harus bersikap seperti apa padanya setelah apa yang terjadi diantara kami, aku jelas masih marah.


Entah berapa lama aku berpikir, bangunan kokoh tempat Mas Panji menghabiskan masa bujangnya sudah ada di hadapanku, setelah membayar aku tidak langsung masuk, menyiapkan mentalku yang akan kembali di uji di dalam sana.


“Assalamualaikum” terdengar jawaban salam dari dalam, Mama Naura memelukku dan menggiringku masuk.


Kami berbincang sebentar hingga tiba saatnya aku harus pergi ke kamarnya.


Kubuka pintu sepelan mungkin, berharap tidak membangunkannya, tapi harapan itu sia-sia, dia duduk bersandar pada headboard memandangku sendu, sepertinya dia sudah mendingan, aku kembali akan menutup pintu.


“Tunggu Nay, masuklah” tanganku menggenggam erat gagang pintu tak bersalah itu.


Tapi aku menurutinya, aku masuk tapi duduk di sofa kamar yang letaknya jauh dari tempat tidurnya, sengaja, aku masih tidak ingin dekat dengannya.


“Kemarilah Nay, Mas rindu kamu” aku berdecih dan tersenyum mengejeknya, rindu dia bilang? Mana ada orang rindu hampir tidak pernah menghubungi atau paling tidak mengirim pesan.


Kali ini aku tidak menurutinya, tetap terpaku pada posisi yang sama, enggan menatapnya.


“Apa yang ada dipikiran kamu belum tentu benar kalau kamu sendiri tidak tau kejadian sebenarnya Naya” aku menatapnya sengit.


Bagaimana aku bisa tau kalau dia yang meninggalkanku? Bagaimana aku bisa tau jika dia tidak pernah menjelaskan padaku?


“Ya kamu memang selalu benar Mas” ucapku sembari bangkit dan pergi, ada di sini hanya akan membuat emosiku meluap-luap.


“Nay tunggu, kamu gak mau kita menyelesaikan ini?”


Aku berbalik menghadapnya, memandangnya tak percaya, bahwa pria yang sempat aku kagumi ini begitu manipulatif.


“Jadi harus aku yang memulai untuk memperbaiki semua kerumitan yang kamu ciptakan ini Mas? Harus aku yang bertanya dan mencari tau semua yang terjadi?” cecarku, dia diam.

__ADS_1


“Aku tidak sefrustasi itu Mas, kalau toh kamu mau mengakhiri hubungan ini dan kembali pada wanita itu, aku akan mempersilahkan, tapi jangan suruh aku untuk mengemis penjelasan padamu yang tidak ada niat untuk memperbaiki apa yang kamu rusak!” setelah mengatakan itu aku keluar dengan membanting pintu, aku sudah tidak peduli akan ada yang tau, aku tidak peduli jika dia akan melakukan ancamanku.


TBC


__ADS_2