Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 66


__ADS_3

Wedding party Galang and Gisha.


Naya menatap papan besar itu dengan penuh haru, akhirnya Galang menemukan bahagianya.


“Ekheemm!” mata itu beralih pada pria disampingnya, Panji.


Naya juga tidak bisa membendung bahagianya ketika kembali dipersatukan dengan suaminya.


“Kamu lihatin papan itu gak henti-henti bukan karena nyesel sudah mengabaikan pria itu kan?” seru Panji menyuarakan tidak sukanya.


Sekuat tenaga Naya menahan tawa, hal itu malah membuat Panji kesal dibuatnya.


Masih di Bali, mereka memilih menuntaskan semuanya di pulau itu. Naya sudah stabil kondisinya, begitupun dengan Winanti, dia pergi bersama Dito.


Naya tak bisa lagi menahan senyumnya, pada akhirnya semua bertemu dengan bahagia mereka, berdiri sejajar tanpa saling singgung dengan sekitarnya.


“Kamu kenapa sih Nay?!” amuk Panji yang kembali uring-uringan karena Naya senyum-senyum sendiri setelah sejak tadi ngotot untuk datang ke pernikahan mantan musuhnya.


“Kamu yang kenapa Mas, dari tadi ngamuk mulu, tuh tuh mukanya serem tau Mas” seloroh ibu hamil itu menggoda suaminya yang sedang dalam mode perang.


Mobil berhenti di area parkir Pantai Pandawa, tempat sejoli yang akan mengikat diri mereka dalam status pernikahan yang sah.


“Gak turun Mas?” tanya Naya saat sang suami masih duduk manis dibalik kemudinya.


Panji diam, tatapannya lurus ke depan, ia sudah berulang kali membuat Naya tidak jadi berangkat, tapi keinginan ibu hamil itu lebih besar dari pada akal culasnya.


Naya sadar suaminya ini tidak ingin pergi, tapi apaboleh buat, saat Dewi berkata ia juga akan hadir membuatnya teringat akan rindunya dengan sahabatnya itu, juga Sean.


Diusapnya lengan Panji dengan lembut, membuat Panji dirundung rasa nyaman tiba-tiba.


“Aku pergi karena kangen sama Dewi Mas, ada Sean juga, Winanti juga datang, terlebih Gisha sudah memintaku secara pribadi untuk datang, masa aku harus urung pergi hanya karena kamu tidak suka dengan Galang?”


Panji menatap istrinya, dalam benaknya ia hanya ketakutan jika Naya akan goyah saat melihat Galang menikah, apalagi jika pria gila itu yang goyah dan tidak jadi menikah saat melihat istrinya, big no!


“Aku kan sudah maafin kamu, kita sudah damai kan? Galang juga sudah punya pasangan, jadi apa yang bikin kamu takut? Aku gak akan kemana-mana lagi Mas” ucap Naya kembali memberi suaminya ketenangan dan pengertian.

__ADS_1


Panji menghela nafas panjang, ia sadar jika sudah terlalu berlebihan.


“Baiklah ayo turun!” senyum Naya merekah saat Panji membuka seatbeltnya dan turun dari mobil.


Mereka berjalan beriringan bergandengan tangan, di dekat bibir pantai Naya bisa melihat keramaian, sepasang meja dan kursi untuk akad, juga dengan kursi tamu yang sudah terisi sebagian.


Mata cantik itu asik menelisik sembari menambah langkah untuk mendekat, matanya membola senang saat Dewi melambaikan tangan dengan Sean yang ada dalam gendongannya.


Tanpa sadar Naya melepas genggaman tangan Panji dan mempercepat langkahnya. Di mata Panji, Naya yang sudah ingin berlari segera ia tangkap, membuat ibu hamil itu kembali memberengut sedih.


Panji mendekatkan wajah mereka, “Jangan lari sayang, mereka tidak akan kemana-mana, jalan pelan-pelan saja ya” bisiknya.


Naya yang tersadar akan kondisinya hanya bisa menuruti apa kata suaminya, untung saja Panji segera menangkapnya.


“Maaf Mas” sesal Naya, Panji hanya mengangguk tangannya sibuk menggenggam tangan sang istri, ia tidak mau melihat kejadian tadi yang sempat membuat jantungnya sempat akan melompat dari tempatnya.


“Nayaaaaa!!!!” heboh Dewi saat sahabatnya sudah berdiri di depan matanya bersama Panji.


“Iiiiihhh kangen!” keluh Naya saat mereka sudah berpelukan melepas rindu .


“Ya ampun Sean udah segede ini ya! Dulu perasaan masih kecil banget!” seru Naya melihat bayi yang sudah tidak mungil namun masih lucu itu duduk diam memperhatikannya dan sang Ibu.


“Ya iyalah gila! Dia tiap hari juga nyusu gak mau besar gimana sih onty!” Naya hanya meringis saat celetukannya di jawab dengan ketus oleh Dewi.


“Udah puas sembunyi dan lari-larinya Nay?!” lagi-lagi Naya hanya bisa meringis sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal, saat Dewi menyindir dirinya.


“Tapi hikmahnya kamu hilang nih banyak banget Nay, Dito ketemu cinta pertamanya, Galang ketemu ibu dari anaknya, hebat banget pelarian kamu kali ini!” aku Dewi sembari mengacungi dua jempolnya pada Naya yang bingung sebenarnya itu sebuah pujian atau ejekan lagi dari sahabatnya ini.


Cerita mengalir begitu saja hingga harus terhenti ketika prosesi akad akan segera di mulai, Dewi mengambil duduk di samping Naya dengan Panji yang masih setia berada di sisinya.


Semua hadirin turut berdiri saat Galang memasuki tempat akad, Naya tidak bisa tidak memuji ketampanan pria itu, pria yang pernah memikat hatinya, meski tetap Panji lelaki tertampan setelah ayahnya dalam hidup Naya.


Merasa di perhatikan Galang menatap Kanaya, wanita hamil yang sudah membawa perubahan besar dalam hidupnya, ia sungguh bersyukur sudah dipertemukan dengan wanita sebaik Naya.


Karena mencari keberadaan Naya, ia kembali bertemu Gisha dan darah dagingnya, meski Galang belum yakin perasaannya pada Gisha, tapi ia tidak akan lagi mengecewakan seorang wanita, Gisha adalah masa depan Galang yang harus selalu ia jaga kepercayaannya.

__ADS_1


Naya menatap Panji yang berada di sebelahnya saat tangannya di genggam sedikit kuat, wanita itu tersenyum, ibu jarinya mengusap punggung tangan Panji untuk menenangkan pria itu, ia tau pria ini kembali insecure saat Galang saling tatap dengannya, tapi Naya miliknya, selamanya akan seperti itu.


Galang kembali menatap lurus ke depan, ia tidak ingin melihat ke belakang atau sekitarnya, kisahnya dengan Naya sudah berakhir, mengikhlaskan adalah jalan terbaik untuk mendapatkan bahagia yang sesungguhnya.


Galang sudah mantap menikahi Gisha.


“Sah!”


Galang tak bisa lagi membendung air matanya, babak baru dalam hidupnya akan dimulai hari ini.


Setelah memanjatkan doa, Galang dipersilahkan berdiri untuk menyambut pengantinnya, lelehan air mata itu kembali luruh saat melihat Gisha berjalan perlahan mendekatinya di tuntun Dimas, anak kandungnya yang ia tangisi setiap malam.


Rasanya seperti mimpi.


Saat mereka sudah saling berhadapan, Gisha yang sejak tadi menahan tangisnya menumpahkan air mata itu begitu saja saat melihat Galang menangis haru di pernikahan mereka.


Bagi Gisha, ini seperti hadiah terindah dalam hidupnya, selama ia hidup sejak bertemu Galang, hanya pria itu yang menghiasi hatinya.


Gisha tidak pernah marah pada pria ini, ia justru berterimakasih karena Galang sudah sudi memberikan benihnya yang selama ini bisa menjadi pelipur lara saat Gisha merindukan prianya.


Gisha mencium tangan Galang dengan takzim, mengisyaratkan bentuk bakti pertamanya pada Galang, suaminya, rasa haru itu tak lagi terbendung saat Galang mengecup dahi Gisha dengan cara yang sama.


TBC


Tes 1, 2, 3.. 🤣🤣🤣


Selamat menempuh hidup baru untuk Galang dan Gisha..


Jangan ganggu Panji lagi ya Mbak Win 😆


Disaat semua antagonis sudah undur diri, itu artinyaaa????


Yak betul!


Beberapa part menuju ending ya ges.. ✌

__ADS_1


__ADS_2