
“Hahhh, capek banget” aku menghapus peluh yang memenuhi dahinya, dia tersenyum hangat dan semakin merebahkan diri ke arahku.
“Mau minum es teh?” tawarku.
“Nggak, kamu disini aja” jawabnya sembari memelukku seperti anak koala.
Aku mengelus surainya yang lembut, Mas Panji ini tipe orang yang selalu memperhatikan penampilan, tak heran jika ia selalu tampil tampan dan menawan.
Aku jadi takut dia akan berpaling, apalagi jika menelisik pondasi hubungan kami yang tanpa cinta.
“Lagi mikirin apa?” tanyanya sembari mendongak, aku menunduk sekilas namun tak berani menatapnya lebih lama, takut tenggelam dalam tatapannya yang menghanyutkan.
“Mikirin tentang kita” lirihku, dia melepas pelukan dan menegakkan tubuhnya hingga kembali sejajar denganku.
“Kali ini apa yang menjadi keresahanmu?” aku kembali menatapnya, dia menggenggam tanganku seakan takut aku terjatuh sendirian, selalu seperti ini, saat aku kembali meragu tentang hubungan kami.
“Naya?” panggilnya lagi saat aku hanya diam menatapnya.
“Aku gak tau Mas, terlalu banyak yang kuresahkan” jujurku, dia menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya pada sofa ruang tamu kami.
Kini aku tersadar jika salah memilih topik saat kami sendiri masih kelelahan setelah membersihkan rumah baru kami.
“Aku ambilin minum dulu ya Mas” usulku untuk menghindarinya, namun baru saja akan berdiri cekalan tangannya menahanku, satu kali sentakan aku sudah berada dalam pangkuannya.
Jarak kami yang dekat membuat jantungku tidak siap dengan gerakan tiba-tibanya ini.
“Apa yang bisa aku lakukan agar segala keresahanmu tadi hilang?” ucapnya pelan, namun sialnya aku malah fokus pada gerakan bibirnya yang menggoda itu.
Cup
Mataku terbelalak karena serangannya yang tiba-tiba.
“Kenapa? Aku tidak salah kan mencium istriku sendiri”
“Nggk” cicitku, wajahku memanas, pasti rona merah sialan itu muncul lagi, aku berusaha bangkit dan pergi dari hadapan Mas Panji secepatnya.
Namun dia mengeratkan jeratannya padaku, hingga aku hanya bisa pasrah saat dia tersenyum jahil karena menggagalkan aksi kaburku.
“Kita jalani saja rumah tangga ini Nay, aku tidak bisa menjanjikan apapun selain berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu, istriku” ucapnya dengaan menatapku yang juga menatapnya, lagi-lagi aku terenyuh, meski bukan cinta yang ia ucapkan namun rasa pedulinya padaku mampu menumbuhkan bunga-bunga dalam hatiku.
Perlahan tapi pasti, Mas Panji kembali mendekatkan wajahnya padaku, mataku otomatis tertutup, menurut instingku, sesuatu akan terjadi saat ini dan apapun itu aku tak akan lari dari kewajibanku sebagai istrinya.
Bukan lagi kecupan, lidahnya berusaha menerobos masuk rongga mulutku, lagi-lagi mengikuti insting, aku membuka mulutku membiarkannya melakukan apapun disana.
__ADS_1
Dia semakin menarik pinggangku, hingga membuat tubuh kami tak lagi berjarak, tanganku meremas bahunya saat ia semakin liar mencium bibirku.
Ceklek
“Assalam—eh sorry!” suara pintu terbuka dan pekikan itu membuatku mendorong tubuh Mas Panji dan reflek berdiri, aku sempat shock saat menyadari rokku yang sudah tersingkap, sudah pasti Mas Panji yang melakukannya.
Aku menatapnya malu-malu, dia menengadahkan kepalanya sembari mendengus kesal. Sementara orang yang menginterupsi kegiatan kami sudah bersembunyi di balik pintu.
Setelah membenahi pakaianku, aku menghampiri tamu kami yang aku tau pasti itu mertuaku.
“Ma, Pa” sapaku, menyalimi beliau dengan sopan dan mempersilahkan Mama dan Papa untuk masuk.
Kami duduk dengan canggung, adegan dewasa kami dilihat kedua mertuaku yang notabene orang tua Mas Panji sendiri.
“Maaf ya, Naya” ucap Mama dengan hati-hati, aku mengangguk sopan sembari tersenyum malu.
“Diminum dulu Ma, Pa” ucapku dengan menyodorkan minuman gelas yang memang kami sediakan untuk tamu.
“Terimakasih Nak” jawab Papa, yang kembali kuangguki dengan sopan, aku menyenggol lengan Mas Panji untuk membantuku mencairkan suasana yang membeku ini.
“Mama sama Papa ada apa kemari?” bahuku melorot saat responnya yang terlalu to the point itu, sangat kentara bahwa ia kesal diganggu seperti ini.
Mama menatapku dengan wajah nelangsa, Ya Tuhan, belum apa-apa aku sudah bagaikan pengaruh buruk bagi Mas Panji.
“Mama kamu hanya ingin mengantarkan ini, maaf jika kedatangan kami mengganggu” jawab Papa dengan nada datar sembari mengulurkan amplop, sedangkan Mas Panji menatap Papa tak kalah datar, aku tidak tau apa yang terjadi yang jelas dari awal bertemu, aku meyakini terjadi sesuatu antara Mas Panji dengan Papanya, mereka terlihat tidak akur sejak awal bertemu.
“Nggak mengganggu sama sekali kok Pa, Ma, kami tadi habis bersih-bersih rumah saja” ucapku sehangat mungkin, Mama dan Papa tersenyum penuh arti, aku bersyukur dalam hati saat ketegangan ini tak berlanjut meski aku harus menanggung malu mengatakan itu.
“Ini tiket bulan madu buat Panji dan Naya, dipakai ya sayang” ucap Mama sembari menatap kami berdua bergantian.
“Kok repot-repot Ma, Pa, kita jadi nggak enak, yakan Mas?” basa-basiku sembari mengkode suamiku ini melalui kedipan mata berulang-ulang, dan ia hanya mengangguk.
Mama berdiri menghampiriku membawa tas yang ku prediksi isinya makanan karena bau wangi masakan memenuhi organ pernafasanku, “Mama bawa makanan, Naya bantuin Mama siapin ini yuk, kita makan bersama, ya?” tanpa meminta persetujuan Mas Panji aku berdiri dan berjalan beriringan dengan Mama mertuaku ke arah dapur yang langsung terhubung dengan meja makan.
“Jangan kaget ya Nay, Papa sama Panji itu memang selalu begitu kalau bertemu, dua-duanya punya sifat yang sama, jadi selalu saling tolak jika bertemu tapi aslinya mereka saling sayang kok cuman gengsi aja” jelas Mama tanpa ku minta saat kami sudah berada di dapur, mungkin iya, karena Papa Ilham orangnya juga pendiam, seperti Mas Panji.
“Laki-laki dan egonya ya Ma” ucapku, mama tertawa.
“Bener banget”
Setelah semua makanan sudah berpindah ke piring aku dan Mama Naura menatanya di meja, ada ayam kecap, cah kangkung, sambal terasi, dan ikan gurami asam manis, ku tebak ini semua makanan kesukaan Mas Panji.
“Ini makanan kesukaan suami kamu Nay, dia bakal nambah-nambah kalau Mama masakin ini” nah kan benar, aku menatap Mama antusias, sejauh ini aku belum sepenuhnya tau apa yang Mas Panji suka dan tidak, wanita yang melahirkan Mas Panji ini pasti tau segalanya kan? aku tak akan menyiakan kesempatan.
__ADS_1
“Nanti Naya minta resepnya ya Ma, biar tambah disayang sama suami” candaku, Mama tersenyum dan mengusap lenganku pelan, dari sepenglihatanku Mama ini wanita yang hangat pada siapapun sama seperti mamaku.
“Emangnya Naya kurang kasih sayang suami? Kok pake mau nambah segala” aku menunduk malu saat Mama malah menggodaku.
“Kamu baik gini, Panji pasti akan selalu sayang sama kamu Nay” wajahku menghangat, sudah dipastikan pipiku sudah semerah tomat, mama terkekeh geli melihatku yang salah tingkah.
“Naya panggil Papa dan Mas Panji dulu ya Ma” mama mengangguk disela tawanya.
Saat sedikit jauh dari meja makan, aku berhenti untuk menetralkan debar jantungku dan memastikan tidak ada yang salah dengan penampilanku.
“Kamu boleh benci Papa, tapi jangan tunjukkan itu didepan Mama dan istri kamu, kamu gak malu kalau istri kamu tau kita yang notabene anak dan ayah tidak akur bahkan seperti musuh?!” langkahku terhenti saat aku papa sedikit membentak Mas Panji.
Tidak akur?
Rupanya benar ada sesuatu diantara mereka.
“Tanpa diberi tau Naya pasti tau Pa, dia bukan wanita bodoh!” balas Mas Panji tak kalah sengit.
Saat dekat, aku bisa melihat keduanya yang saling tatap dengan kilatan amarah.
“Pa, Mas Panji” panggilku dari jauh, untuk menghentikan perdebatan itu tanpa mereka tau aku sudah mendengar semuanya, aku akan berpura-pura tidak tau saja.
“Mama manggil buat makan” ucapku saat berada di ruang tamu, laki-laki beda generasi itu bangkit dan berjalan kearah dapur.
Aku menggandeng tangan Mas Panji, aku tau dia kaget dengan tindakan tiba-tibaku ini, tapi aku tak memperdulikan itu, hitung-hitung balas dendam karena ia sering membuatku nyaris serangan jantung karena ulahnya.
Aku menyiapkan makan Mas Panji yang kali ini semuanya dalam porsi banyak, benar kata Mama, matanya berbinar saat melihat makanan yang ada di meja.
Mamapun menyiapkan makanan untuk Papa dan kami makan dalam diam.
Bahkan saat kedua orang tua Mas Panji akan pulang tidak ada percakapan selain aku dan Mama yang membicarakan banyak hal.
Kami masuk ke dalam rumah saat mobil Mama Papa sudah melaju pulang.
“Kamu gak boleh gitu sama Mama, Papa, gak sopan tau, kesannya kamu kayak gak seneng mereka datang” ceplosku saat kami sudah duduk di ruang tamu, dia diam.
Oke, mungkin aku sudah salah situasi mengatakan ini, aku bangkit meninggalkannya, malas juga jika dia sudah dalam mode diam seperti ini, aku mau bicara apapun akan sulit mendapatkan respon.
“Kamu gak tau gimana sakitnya aku dan Mama dulu menangisi kelakuan orang yang kamu sebut Papa tadi” langkahku terhenti, aku balik badan menghadapnya yang sudah berdiri juga menatapku dengan tatapan terluka.
“Tapi mau bagaimanapun dia Papa kamu Mas, terlepas apapun kesalahannya di masa lalu” ucapku yang mencoba membuatnya mengerti, dia menggeleng pelan membuatku semakin penasaran akan kesakitannya pada kejadian di masa lalu dengan Papa.
“Luka di hati mamaku tidak akan pernah sembuh seutuhnya Nay, pun dengan masa kecilku yang terenggut karena keegoisannya, kamu gak akan ngerti” jawabnya yang lalu meninggalkanku dengan seribu tanya dalam benakku.
__ADS_1
Kalau seperti ini, bagaimana caraku bisa mengerti jika dia saja hanya memberikan penjelasan singkat seperti itu.
TBC