Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 51


__ADS_3

‘Papa!’


Mata Galang terbuka dengan peluh yang membasahi wajahnya, mimpi itu lagi.


Pria itu memutuskan bangun dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lutut, pikirannya kacau.


Mimpi itu tidak pernah muncul saat Naya berada di sisinya, tapi berubah menjadi teror saat wanita itu tidak ada, sehebat itu pengaruh Kanaya pada dirinya.


Harus kemana lagi Ia harus mencari Naya?


Semua tempat dengan petunjuk sekecil apapun sudah Galang sisir demi menemukan wanita itu, tapi Naya-nya bersembunyi bagai jarum dalam tumpukan jerami.


Kepala Galang menengadah untuk menghalau segala pikiran yang membuatnya penuh sesak, pandangannya jatuh pada handphone, juga kertas.


Surat dari Naya.


Sekuat apapun Naya memintanya untuk tidak berandai-andai, hatinya tetap tidak terima, pikirannya selalu terarah pada kemungkinan yang tidak lagi bisa terjadi.


Ia sungguh menyesal.


Galang tau perasaan wanita itu sudah positif padanya waktu itu, tapi ia malah mengacaukan dengan perasaan bersalah di masa lalu.


Dering handphone menyadarkan lamunannya.


“Halo bos”


“Hmmm”


“Kami menemukan petunjuk baru” badan Galang langsung tegap, matanya terbuka sempurna mendengar kabar itu.


“Kamu yakin?”


“Kami bisa menjamin, karena kartu debit nyonya Kanaya sering digunakan di kota yang sama”


Hati Galang senang bukan main.


Setelah menyebutkan nama kota yang diduga Naya berada di sana, sambungan terputus.


Akhirnya Nay, akhirnya kamu ditemukan.


Hari yang diawali kejadian buruk berubah menjadi ceria.


Galang berlalu sembari bersenandung riang, pagi ini dia seperti mendapatkan energi baru.


***


Galang memasukkan beberapa bajunya, hari sudah sore, dan ia berhasil mengajukan cutinya, maklum, perusahaan keluarga.


Tidak sulit baginya untuk mengajukan ijin, meski akan berdampak menjadi buah bibir rekan kantornya, Galang tidak peduli itu.


Ting tong


Gerakannya terhenti, tubuh tegap itu berjalan ke arah pintu apartemen.


“Atas nama Pak Galang?”

__ADS_1


“Ya benar”


“Ini ada kiriman untuk Bapak”


“Dari siapa?”


“Ibu Dewi Pak” senyum Galang kembali terbit, istri sahabatnya itu menjadi baik sekali padanya, ini bukan kali pertama Dewi mengiriminya makanan.


Semenjak hilangnya Naya, Dewi rutin mengirimkan makanan jika Galang berada di rumah dan Sean dalam mode anteng.


“Terimakasih” setelah mengucapkan itu Galang pergi menutup pintu, ia akan makan terlebih dahulu, sahabatnya itu memang yang terbaik, seakan tau jika Galang belum makan sejak siang.


Galang membuka kotak makannya dengan wajah berbinar. Tangannya tergerak menelpon busui itu.


Tuuuuut tuuuuuut


“Halo?”


“Wi terimakasih kirimannya”


“Gak usah terimakaasih, aku kan sudah bilang aku mau bayar utang karena kamu sudah mau menampung sahabatku Naya” jawab Dewi dengan nada ketus, tapi itu malah terlihat konyol bagi Galang.


Berteman lama dengan Alan membuat Galang juga mengenal pasangannya, apalagi Dewi yang telah menjadi pasangan terlama Alan, mungkin akan selamanya.


Satu-satunya wanita yang mampu membuat Alan bertekuk lutut dan hanya memandang Dewi sebagai satu-satunya wanita di bumi ini.


“Ya pokoknya terimakasih sudah mengirimkan anak yatim ini makanan yang Mama Sean”


“Ihh, mana anak yatim kayak kamu, kamu tuh bujang lapuk” umpatnya, lagi-lagi Galang tertawa.


“Oh ya, aku sudah menemukan lokasi Naya, lebih tepatnya kota yang kini disinggahi Naya” ungkap Galang setelah teringat jika ibu menyusui itu juga mencari sahabatnya.


Galang menjauhkan handphone dalam genggamannya saat Dewi memekik kaget, kupingnya mendadak pengang.


“Halo! Lang! Kalau kamu sembunyiin Naya lagi, aku gak bakal bolehin kamu ketemu Mas Alan, aku gak main-main!”


Meski masih perih, Galang memberanikan diri mendekatkan handphonenya lagi saat Dewi mulai mengomel bagaikan lebah!


***


Panji beberapa kali memandang Dewi saat ia menyebutkan nama Naya diperbincangannya pada seseorang di telepon.


Rasa rindunya pada Naya mengantarkannya pada kediaman sahabatnya, Panji memilih sore hari karena Alan sudah berada di rumah, rasanya juga tidak nyaman saat berkunjung saat suami Dewi itu masih bekerja.


Karena Naya dan Dewi yang sangat dekat, Panji memiliki firasat ia akan menemukan pecahan misteri tentang Naya, Panji sangat sadar ia minus sekali jika ditanyai tentang istrinya.


Sejak Naya pergi, Panji bertekad untuk mencari info mengenai istrinya itu sebanyak-banyaknya, ia ingin memperbaiki semuanya, dimulai dari mengetahui apa yang Naya suka dan tidak, begitu pikirnya.


Keluarga Naya masih marah karena tindakannya yang membuat wanita itu pergi tanpa pamit pada siapapun , maka pilihan terakhir Panji berakhir pada Dewi, meski ia harus dimaki habis-habisan oleh Dewi.


Sebenarnya Dewi wanita baik, sama seperti Naya, ia punya jiwa sosial yang tinggi, meski masih marah padanya tidak pernah sekalipun Panji diusir.


Wajar jika Dewi marah padanya, ia sudah membuat sahabatnya susah dan sedih karena tingkah lakunya.


Tidak ada yang buruk dengan pilihannya, disini ia mendapat teman baru, Alan, dan juga bisa bermain dengan Sean, bocal gembul yang sangat lucu.

__ADS_1


“Galang!!! Halo!! Lang!” jerit Dewi dengan nada tak biasa membuatku dan Alan memusatkan atensi kami padanya.


“Kalau kamu sembunyiin Naya lagi, aku gak bakal bolehin kamu ketemu Mas Alan, aku gak main-main!”


Aku dan Alan berdiri dan mendekati Dewi yang masih berteriak di telfon, entah apa yang sudah singa terbangun saat ini.


Tapi runguku tidak mungkin salah, Naya, ada seseorang yang bersama Naya?


“Mama, kok teriak-teriak sih?” tegur Alan pada sang istri.


“Temen kamu nih, bikin sebel aja, dia kasih info setengah-setengah!” sungutnya dengan dada yang masih naik turun karena emosi.


“Iya gimana Galang mau jawab kalau kamu marah marah gitu, kasihkan handphonenya sama Papa ya? Biar Papa yang ngomong” pinta Alan dengan suara yang masih konstan.


Panji merasa harus bertepuk tangan kagum pada pria ini, tetap sabar menghadapi amarah istrinya yang meluap-luap.


Galang.


Panji mengingat nama itu, dia was was sekarang, apa yang sebenarnya terjadi? Apa nayanya berada bersama pria itu?!


“Loadspeaker!”


“Loadspeaker!”


Pinta Panji dan Dewi bersamaan, Alan yang sudah memegang handphone hanya bisa mengangguk menyetujui.


“Lang”


“Haduh kuping gua pengang Lan, bini lu kesurupan ya?!”


“Galang!!” jerit Dewi tak terima.


“Udah deh Lang, jangan bikin Dewi marah-marah mulu, tadi, kamu udah nemuin Naya?” tanya Alan diplomatis.


“Iya, orang suruhanku sudah nemuin dia stay di kota mana” ucap Galang membuat tiga orang beda kelamin itu sedikit lega.


“Lalu lokasi tepatnya kamu belum tau Lang?”


“Belum, ini aku akan pergi untuk mencari Naya sendiri” Panji mengeratkan rahang geram, dia merasa dilangkahi.


“Dimana Naya sekarang Lang?” tanya Dewi.


“Di Bali”


“Oke udah dulu ya, kalau aku sudah bertemu Naya aku kabarin lagi, terutama busui yang sensian ini” ejeknya membuat Dewi hendak kembali marah tapi urung saat Alan memintanya untuk diam.


Sambungan terputus.


Alan dan Dewi yang masih syok kambali terkejut saat Panji memilih pamit.


Panji bergegas pergi mencari Naya, tidak akan dia biarkan laki-laki bernama Galang itu menemukan Naya lebih dulu darinya.


Dalam perjalanan Panji merutuki kebodohannya yang mengutus seseorang untuk mencari di kota Jogja saja, hanya berbekal dari satu fakta bahwa Naya menyukai kota itu dengan sangat.


Tapi tidak apa, setelah ini ia akan berterimakasih dengan Galang, sekaligus membatasinya untuk menemui sang istri.

__ADS_1


TBC


__ADS_2