
Dua pasang anak manusia itu saling diam setelah para lelaki saling baku hantam.
“Ekhem, Dit aku minta maaf karena sudah salah paham”
Dito hanya menoleh sembari menyeka darah segar yang masih keluar dari hidungnya.
Beberapa waktu yang lalu..
“Na, kamu sungguh sudah mengingatku?” Winanti mengangguk sembari mengusap kasar air matanya.
“Mas pergi karena aku lupa sama Mas? Mas biarin aku sendiri mereka-reka apa yang sudah terjadi padaku? Mas jahat” keluhnya memukul kecil dada Dito dengan kesal.
“Aku tidak pernah mau meninggalakanmu Na, tidak pernah, saat itu...”
‘Kamu sudah janji bakal jaga adikku Dit, tapi apa?! Kamu buat dia pertaruhkan nyawanya sendiri, ini semua karena kamu!’Dito hanya bisa duduk termangu, tak terhitung berapa kali Kinanti memukul dan membentaknya, atensinya terpusat pada kaca kecil tempat dimana Winanti sedang mendapat perawatan intensif.
‘Ingat ini Dit, kalau terjadi apa-apa dengan adikku, jangan harap kamu bisa menemuinya lagi’ lagi-lagi Dito hanya bisa diam.
Dia pergi untuk meraup udara segar sejenak, tampangnya yang berantakan tak membuat Dito malu, noda darah Winanti pada bajunya hanya bisa ia tatap dengan nanar.
Matanya berkaca-kaca, andai saja ia tidak meninggalkan wanita itu sendirian pasti ini tidak akan terjadi.
‘Tolong periksa sekali lagi dok, adik saya tidak mungkin buta, Ya Tuhan Winanti’ seru Kinanti dengan pilu seketika juga membuat Dito merasakan nyeri di relung hatinya.
Tubuh wanita yang selalu ia panggil Kakak itu ambruk di tempatnya, dengan sigap Dito membawanya untuk mendapat perawatan.
Dito melangkah ke ruang rawat Winanti, duduk di sebelah ranjang rawat wanita yang ia cintai.
Kepalanya di perban cukup tebal.
Tak apa jika Winantinya buta, Dito bisa menjadi mata untuk gadisnya.
Perlahan mata itu terbuka, tubuh Dito menegak untuk menyambut cintanya.
‘Gelap?!’ air mata Dito jatuh mendengar keluhan pertama dari gadisnya, tangan winanti meraba sekitarnya hingga tangan mereka bertemu, Winanti tersenyum setidaknya ia tidak sendirian dalam ruang gelap ini.
‘Na, kamu baik-baik saja?’ sebuah pertanyaan konyol itu muncul begitu saja
‘Na? Kamu mengenalku?’ Dito mematung di tempatnya, biasanya Winanti dapat dengan mudah mengenalinya bahkan hanya dari bau saja dia bisa tau jika itu dirinya.
__ADS_1
‘Aku.. Pras, kamu tidak mengenali suaraku?’ wajah cantik itu mengernyit.
‘Aku tidak pernah dengar nama itu sebelumnya’
‘Aku.. kekasihmu Na’ Winanti diam pikirannya mencari-cari nama itu mengaitkan dengan apa yang dikatakan laki-laki dihadapannya.
Semakin diingat kepalanya semakin pening, tangan Winanti tak lagi meraba melainkan meremas kepalanya untuk meredakan sakit itu, Dito menekan tombol emergency berkali-kali saat Winanti pingsan.
Setelah melalui beberapa observasi, Winanti mengalami amnesia, sang kakak yang masih emosi mengusir Dito, menutup semua aksesnya untuk menemui cintanya.
“Aku sudah berkali-kali mencoba menemuimu Na, tapi kakakmu yang masih marah selalu berhasil menghalangi, hingga.. kamu ia bawa pergi entah kemana, tak lama setelah itu aku dapat beasiswa ke luar negri” Winanti masih saja menangis saat mendengar cerita itu dari Dito, pria masa lalunya.
“Aku tidak pernah melupakanmu Na” Winanti menatap Dito sekilas saat pria itu membawanya ke dalam pelukan, entah mengapa Winanti merindukan pelukan ini.
“Apa aku benar-benar menjadi penghancur hubunganmu dengan ibu Dio?” Dito menunduk menatap Winanti lekat.
“Aku masih mencintaimu, dulu hingga saat ini” mata Winanti menutup saat Dito mengikis jarak diantara mereka, mengecup bibir merah muda itu, hangat, itu yang keduanya rasakan, meski sedikit asin karena air mata Winanti yang masih saja mengalir.
“Kurang ajar!”
Bug!
Ciuman keduanya terhenti saat Panji tiba-tiba datangdan memukul Dito hingga Dito jatuh tersungkur.
Bug!
Dito yang hendak melawan tetap kalah dan terkena pukulan Panji.
“Mas berhenti!”
“Gak bisa Win! Dia sudah lecehin kamu!”
Bug!
Dito pasrah, dia tidak lagi melawan.
“Jangan sakiti Mas Pras!” bogeman Panji seketika terhenti di udara, nama itu! Nama masa lalu Winanti.
“Pras?!”
__ADS_1
“Na..maku Ardito Pras..setya” Panji melepas kerah Dito, dia tidak menyangka bahwa teman barunya ini adalah orang yang selalu ia dengar namanya, memang selama menjalin hubungan dengan Kinanti pria itu tidak asing dengan nama Pras.
Tapi tunggu.. jika Winanti sudah mengingat masa lalu yang sudah sengaja Kinanti hindarkan itu artinya wanita di hadapannya ini sudah mengingat semuanya?!
“Tetap saja, harusnya Dito tidak menciummu Win?!” kesal Panji membuat pipi Winanti kembali bersemu.
“Itu ciuman untuk selamatan tau!” Panji mencibir.
“Bagaimana keadaan kamu Win?” tanya Naya berusaha memulihkan suasana yang kacau karena emosi suaminya.
Panji dan Naya yang tidak menyangka akan melihat adegan dewasa Dito dan Winanti sempat mematung di tempat, apalagi jika dilihat Winanti yang menangis dalam rengkuhan Dito membuat mereka, lebih tepatnya Panji tidak berpikir jika keduanya pernah berada dalam hubungan percintaan di masa lalu.
“Baik Kak” jawab Winanti dengan malu-malu.
“Oh ya, kita belum saling mengenal bukan? Aku Kanaya” Winanti menatap uluran tangan itu dari wanita yang pernah ia sakiti dengan sengaja karena keegoisannya.
Dengan ragu Winanti menjabat tangan itu, “Winanti Kak” Naya mengangguk sebagai respon, perkenalan formalitas saja karena sesungguhnya mungkin keduanya sudah saling tau masing masing.
Obrolan dua wanita itu mengalir begitu saja.
“Kak, aku minta maaf karena sudah memiliki keinginan untuk merebut suami Kakak, aku tau aku egois, tapi, saat itu hanya Mas Panji yang aku punya” sesal Winanti sembari menunduk membiarkan tetesan air matanya jatuh.
Naya menggenggam tangan Winanti dengan lembut, jika bicara tentang egois, ia rasa ia juga melakukan hal yang sama, menutup mata dan telinga dari apa yang Panji katakan dan minta, dalam pikiran Naya suaminya adalah miliknya dan ia tidak mau berbagi dengan siapapun.
“Aku juga salah Win, harusnya aku sadar kalau kamu kesepian, jika begitu aku bisa datang sesekali untuk menemuimu agar kamu tidak merasa sendirian”
Mendengar itu semakin rasa bersalah Winanti menumpuk.
“Sudahlah, semuanya sudah berlalu, aku minta maaf ya Win, dan aku juga sudah memaafkanmu”
Winanti menatap tak percaya pada wanita di hadapannya, kurang baik apa wanita ini, setelah semua yang terjadi bahkan hampir membuat renggang hubungannya dengan sang suami tapi Naya malah meminta maaf padanya.
Tidak salah jika Panji mencintai Naya, wanita yang menutup tatapan Panji untuk siapapun sekalipun itu masa lalu kelamnya.
Panji dan Dito menatap dua wanita itu dengan bahagia, masalah diantara mereka sudah selesai.
Juga, Panji tidak menyangka istrinya memiliki hati selapang samudra, meski sempat dibutakan oleh kecemburuan tapi Panji memahaminya, ada sedikit rasa senang saat Naya hanya ingin dirinya tetap menjadi milik wanita itu tanpa mau berbagi dengan siapapun.
Karena cemburu itu tanda cinta.
__ADS_1
Kanaya-nya mencintai dirinya.
TBC