
Kanaya menatap wanita paruh baya dihadapannya yang tertidur pulas, kemudian pandangannya jatuh pada perutnya yang mulai membuncit.
Rasa bahagia tidak bisa diutarakan oleh Naya saat mendengar buah hatinya tumbuh dengan sehat, bulan depan ia akan memasuki trimester kedua.
“Sedang melamun lagi?” Kanaya menoleh ke sumber suara.
Tristan.
“Iya aku tau aku hutang penjelasan, berhubung mama sedang tertidur, mari kita keluar, akan aku jelaskan semuanya” tanpa jawaban Naya membuntuti tubuh tegap itu.
Seminggu yang lalu, Naya bertemu dengan Ibu Kinasih, Ibu dari cinta pertamanya.
Hatinya senang sekali bertemu dengan wanita yang menyayanginya seperti anak sendiri, tidak ada yang berubah, beliau memaksa Naya untuk tinggal bersama, Kanaya sempat menolak.
Hal itu membuat Ibu Kinasih marah, membuat Naya tidak lagi mengenali Ibu yang selama ini ia kenal lemah lembut.
Sampai pada akhirnya Tristan, mantan calon kakak iparnya, mengatakan bahwa ibunya mengidap gangguan jiwa.
Hanya itu.
Karena ada pertemuan penting yang genting, Tristan meminta Naya untuk menemani ibunya dengan janji ia akan menjelaskan semuanya saat dia kembali.
Dan ini saatnya.
“Arsha sudah meninggal dunia Nay” satu kalimat yang mampu membuat Naya membeku di tempatnya, hatinya serasa di remas,
Jika ada orang yang mengatakan cinta pertama itu abadi, Naya mengakui itu, karena cinta pertamanya memiliki tempat sendiri di relung hatinya.
Arshaka Mahendra.
Nama yang selalu terukir indah di pikiran dan hatinya.
Tidak Naya sangka ia akan dipertemukan kembali dengan keadaan Arsha yang sudah tinggal nama, air matanya luruh seketika.
Dia sangat mencintai Arsha, begitu juga sebaliknya, lalu apa yang membuat mereka berpisah? Jawabannya agama.
“Arsha sudah memeluk agama yang sama denganmu lima bulan sebelum kalian putus” satu fakta yang sangat mengejutkan bagi Naya.
Ingatannya terlempar saat pembicaraan terakhirnya dengan Arshaka.
‘Aku salah Nay, sebesar apapun aku mencintaimu, ada sesuatu yang memisahkan kita, aku tidak ingin mengambilmu dari tuhanmu, dan aku juga tidak ingin pergi dari tuhan yang sudah memberikan aku kebahagiaan tak hingga ketika aku memilikimu’
‘Pada akhirnya hubungan ini memang akan berujung untuk memilih, antara tuhanku dan kamu, itu memang sulit, tapi bukan tidak bisa Naya, dan aku memilih tuhanku’
__ADS_1
Air mata Naya menetes mengingat percakapan terakhirnya dengan Arsha, hatinya sakit sekali saat itu.
Jika kenyataanya Arshaka sudah memeluk Islam, bukankah sudah tidak ada lagi tembok penghalang mereka.
Seakan kembali bisa membaca pikiran wanita disampingnya Tristan kembali bersuara “Dia sakit Nay, leukimia” satu fakta yang kembali mengejutkan Naya.
Dia tidak tau apa-apa.
“Sejak kapan Arsha sakit Bang?” tanyanya dengan parau.
Tristan menatap wanita di sampingnya, “Tepat satu tahun setelah kalian membina hubungan, kamu ingat saat Arsha tiba-tiba menghilang?” Naya mengangguk.
“Saat itu dia melakukan kemoterapi”
Naya menjalani hubungannya selama dua tahun, tentu dia ingat masa-masa dimana Shaka menjadi orang lain dan sedikit berjarak dengannya.
Hubungan terlama Naya menjalin hubungan dengan seorang pria.
“Kenapa aku tidak tau apa-apa? Kenapa Abang gak kasih tau aku?!” histeris Naya, bahkan ia mencengkram kerah baju tristan membuat pria itu menghadap dirinya.
“Arsha sudah tidak ada Naya, kamu mau marah, bahkan pukul aku sampai kamu puas dia tidak akan bangun lagi” cengkraman tangan Naya merenggang saat Tristan mengatakan itu, separuh diri Naya masih tidak menerima kenyataan ini.
Naya melepas cengkramannya dan menunduk sedih.
‘Kenapa harus seperti ini Ar?’
“Dia memutuskan hubungan kalian saat dia sudah tidak ada harapan untuk sembuh”
Naya meremas rambutnya kasar, ingatannya serasa dilempar pada kejadian menyakitkan itu, saat Arshaka memutus hubungan mereka.
Air mata Naya lagi-lagi luruh saat teringat kejadian menyesakkan itu.
“Tepat dua bulan setelah kalian putus Arsha meninggal, dan Ibu depresi berat” tambah Tristan lagi, ia mengutarakan saat-saat sulit dalam kehidupan keluarganya.
Selama ini tidak ada tempat untuk bercerita, Tristan berjuang sendirian merawat ibunya, juga luka yang masih menganga karena kehilangan adik kesayangannya.
Bercerita pada wanita yang dicintai dan mencintai adiknya membuat beban itu sedikit demi sedikit terangkat.
Pantas saja Naya tidak pernah merasakan kehadiran pria itu selama ia menginap di kediaman keluarga Arsha.
“Keluargaku hancur saat itu Nay, Adikku meninggal, Ibuku yang terus menerus histeris membuat ia harus dirawat di rumah sakit jiwa, sedangkan Ayah... dia memilih menikah lagi” ungkap Tristan membuat Naya sedikit tersentuh dan tergerak mengusap lengan besar pria itu.
Itu pasti sulit sekali bagi Tristan.
__ADS_1
“Kenapa Abang gak cari aku? Apa itu juga permintaan Arsha agar aku tidak datang di pemakamannya?”
Tristan mengangguk.
“Saat terakhirnya, Arsha hanya ingin aku membantumu jika kamu dalam kesulitan dan membiarkan kamu membenci Arsha karena memutuskanmu secara sepihak”
Naya kembali merenung.
Wanita hamil itu teringat saat-saat dimana ia mengemis pada Arsha agar tetap melanjutkan hubungan mereka, secinta itu Naya pada Arsha.
“Dia gak pernah menduakan kamu, gak pernah benar-benar meninggalkan kamu, semua yang kamu lihat itu hanya skenario yang Arsha buat agar kamu berhenti memintanya kembali, dia ingin kamu membencinya” ucap Tristan lagi, laki-laki itu bersandar dengan pandangan menerawang.
Rasanya ia juga merasakan sakit yang sama dengan Naya.
Naya mengingat kepingan memori itu, saat dia melihat Arsha berciuman mesra dengan seorang wanita, saat dimana ia memutuskan untuk berhenti mengemis cinta pria itu dan memutuskan untuk menyembuhkan lukanya sendiri.
Tristan menggenggam tangan Naya yang sejak tadi bergetar, ini pasti sulit bagi Naya, tapi Tristan juga tidak ingin semuanya tetap menjadi salah paham, wanita yang dicintai adiknya ini harus tau sesusah apa perjuangan adiknya.
“Ibu sebenarnya tidak pernah merestui hubungan kalian Nay, dia orang pertama yang menentang Arsha saat ia memilih untuk pindah agama dan ingin menikahimu” lagi, Naya kembali dibuat kaget dengan banyaknya misteri pada masa lalunya.
“Itu sebabnya Ibu senang melihat kamu kembali, dia bagaikan bertemu dengan Arsha dalam diri kamu Nay” Naya tersenyum, meski dulu Ibu Kinasih hanya berpura-pura baik terhadapnya, setidaknya sekarang ia bisa ambil bagian untuk menghibur beliau.
“Baiklah apa penjelasannya sudah cukup?” tanya Tristan yang sudah mengubah nada bicaranya, sedikit lebih ceria karena tidak ingin melihat Naya terus menerus menangis.
“Iya Bang, boleh aku pergi ke makam Arsha?” tristan mengangguk, hal yang membuat Naya sedikit lebih tenang, meski hanya bertemu dengan pusaranya, itu sudah lebih dari cukup bagi Naya.
“Sekarang bolehkah Abang yang bertanya?” tanya Tristan dengan hati-hati, Naya mengangguk pelan.
“Kamu..... hamil?” kalimat itu meluncur dari bibir Tristan dengan susah payah.
Naya tersenyum sembari mengusap perutnya membuat tonjolan itu terlihat, wanita hamil itu mengangguk senang, “Sudah tiga bulan Bang”
Ada sesuatu yang menghantam hati Tristan, lagi-lagi dia kalah.
TBC
Sumpah aku kaget banget waktu ada yang sudah baca part untuk besok.. 😆
Aku emang sering up banyak part tapi ku kasih jadwal, karena gak setiap hari aku bisa buka aplikasi ini..
(Takut ada yang nungguin hehe..)
Tapi gapapa, aku seneng kalau kalian seneng guys!
__ADS_1
Biar adil, untuk minggu ini aku up tiap hari, mulai hari ini..
Enjoy! 😉