Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 26


__ADS_3

Aku menatap pantulan diriku di cermin kamar hotel kami setelah sampai kota Jogjakarta siang tadi, satu stel baju kekurangan bahan yang biasa disebut lingerie sudah terpasang sempurna pada tubuhku.


‘Pake lingerie di depan suamimu, itu udah bagaikan undangan terbuka buat para suami tanpa kamu perlu melakukan apapun’


Bisik dewi kala itu, aku tak bisa mengucapkan itu salah, karena aku sudah seperti wanita nakal sekarang.


Setelah makan malam kami, Mas Panji ijin padaku untuk bertemu dengan teman lamanya, hingga aku disini bisa ber-ekperimen mencoba baju yang pas untukku malam ini.


Bunyi jam dinding bersautan dengan debar jantungku memikirkan apa yang akan terjadi nanti, tiba-tiba nyaliku ciut, aku takut terlihat aneh di hadapannya karena memakai baju ini yang kata Dewi bagai undangan terbuka baginya untuk menjamahku.


“Gak, gak bisa, aku mau ganti aja” monologku sembari serampangan mengambil baju tidur yang normal di koper sebelum Mas Panji pulang dan melihat kostumku malam ini.


Baru saja aku menemukan bajuku dan akan berganti pintu kamar kami terbuka, Mas Panji terpaku menatapku membuatku semakin salah tingkah.


Aku menelan ludah kasar saat ia perlahan masuk dan mengunci pintu, kemudian berjalan kearahku dengan tatapan yang tetap terpusat padaku, semenggoda itukah baju ini? Aku heran dibuatnya.


“Kamu mau kemana bawa baju ini?” tanyanya mengambil alih baju gantiku dan mengangkatnya tepat di depan wajahku.


“Eh i-itu, aku m-mau ganti Mas” cicitku, namun dia membuang baju itu sembarang arah.


Aku menunduk, dan reflek memejamkan mata saat ia membelai pipiku dengan lembut, tanganku meremas ujung gaun malam ini untuk meredakan rasa gugup.


Tangannya berpindah ke daguku dan mengangkat wajahku menatapnya, “Kamu pantes pake baju ini, gusah diganti” ucapnya.


Matanya yang menggelap mengunci tatapanku, aku tak tau sejak kapan tapi yang pasti bibirnya yang selalu ku kagumi diam-diam itu sudah menguasai bibirku.


“Nay, boleh aku minta hak-ku sebagai suami malam ini?” pintanya dengan suara yang memberat membuatku tersadar jika kami sekarang sudah berada di ranjang, dengan posisi Mas Panji yang menindihku.


Benar kata Dewi baju ini adalah undangan terbuka bagi para lelaki, dan suamiku menyanggupi undangan itu malam ini.


Tanpa bersuara aku mengangguk, menit-menit berikutnya aku menunaikan kewajibanku untuk memenuhi haknya. Malam ini telah menjadi malam penuh cinta bagi kami, cukup kami yang tau bagaimana indahnya malam ini.


***


Mataku terbuka saat merasakan badanku tertindih sesuatu yang berat, jantungku seperti akan berlari dari tempatnya saat aku mendapati Mas Panji tidur memelukku dari belakang.

__ADS_1


Kepingan memori indah semalam terputar otomatis di kepalaku, aku sudah menyerahkan apa yang selama ini ku jaga pada Mas Panji, suamiku.


Cup!


Aku terperanjat saat sebuah kecupan mendarat di pipiku, Mas Panji sudah bangun.


“Good Morning”


“Morning Mas” balasku sembari melepaskan jeratannya hendak bangun dari tempat tidur, namun Mas Panji semakin mengeratkan pelukannya.


“Kamu mau kemana?” tanyanya dengan nada malas.


“Aku mau mandi Mas” dia sedikit merenggangkan pelukannya namun tak merubah apapun, karena ia tetap memelukku


“Emangnya bisa jalan sendiri?” aku menatapnya yang seperti mengejekku, memangnya sejak kapan aku lumpuh?


“Bisa” jawabku tanpa mau memperpanjang masalah, dia melepaskanku, aku terduduk dan memakai bajuku yang untungnya berada tidak jauh dari jangkauan tanganku.


Tidak ada yang aneh memang, tapi saat aku melangkahkan kaki, “Akhhh” pekikku, saat baru saja melangkah dan merasakan sakit pada inti-ku.


Aku baru menyadari mungkin ini yang dimaksud Mas Panji tadi, tapi hendak minta tolong aku malu.


“Kalau gak bisa kenapa gak minta tolong sih” dumelnya yang menggendongku ke arah kamar mandi, Ya Tuhan, aku malu sekali.


Dia mendudukkan ku di kloset dan berlalu ke arah bathup, ku tebak dia sedang menyiapkan air mandi untukku.


Setelah berkali-kali mengukur suhu air dengan tangannya dan menambah komposisi air, dia berjalan ke arahku dan kembali mengendong tubuhku.


Dengan hati-hati Mas Panji menurunkanku ke bathup berisi air hangat, bahkan tangannya sudah terulur membuka pakaianku, “Gak usah Mas, aku bisa sendiri” cegahku, dia hanya menatapku, tanpa menjawab dia berlalu meninggalkan ku.


Aku mendesah lega saat sudah sendirian dalam kamar mandi, rasanya nyaman sekali merasakan air hangat yang merendam hampir seluruh tubuhku.


Perlakuan manisnya pagi ini membuatku kembali terenyuh, setelah menghabiskan malam bersama dan mendapatkan apa yang dia mau, dia tidak serta merta lepas tangan dan masih peduli denganku.


***

__ADS_1


Saat aku selesai dengan ritual mandiku, seperti de javu aku kembali melihatnya sibuk dengan piring dan peralatan makanan lainnya hal sama yang ia lakukan saat malam pertama kami setelah resepsi.


“Mari makan Nay” ajaknya saat menyadari kehadiranku, aku berjalan mendekatinya, dia duduk di hadapanku, sebelum mengambil makanan untukku, aku terlebih dulu menyiapkan makanan untuknya, kebiasaan baruku setelah resmi menjadi istrinya.


“Terimakasih Nay” aku mengangguk dan mulai mengambil makanan untukku, kami makan dalam diam, karena Mas Panji sepertinya orang yang tidak menyukai suasana ramai saat makan.


Setelah selesai makan, aku memilih berdiam diri menatapi balkon yang basah karena hujan saat ini, ingin sekali merasakan tetesan air hujan itu tapi Mas Panji pasti melarangku, seperti ayah, Mas Panji tidak suka saat aku bermain dengan hujan.


Ah, aku jadi teringat dengan Ayah, apa Ayah disana tau jika aku sudah bukan gadis kecilnya lagi, melainkan sudah berubah menjaid wanita-nya Panji Pribadi Atmaja.


“Sedang memikirkan apa?” aku terkejut saat ia memelukku dari belakang dan mencium bahuku dengan lembut.


“Aku pengen main hujan”


“Gak boleh” nah kan, dia pasti melarangnya, aku tak lagi menjawab, percuma saja berdebat dengannya.


“Semoga dia segera hadir di tengah kita ya” ucapnya sembari mengelus perutku yang datar.


Anak.


“Kamu mau punya anak denganku?” tanyaku, dia melepas pelukannya dan membalik tubuhku menghadapnya, mengurungku dalam kungkungannya.


“Pertanyaan macam apa itu Nay? Kamu fikir, kita sedang dalam hubungan apa sampai kamu fikir saya gak mau punya anak dalam pernikahan kita” ucapnya dengan formal dan tegas, itu artinya dia sedang marah atau tersinggung dengan ucapanku.


“Ya kita kan belum membicarakan ini, bisa saja kamu tidak mau atau belum mau memiliki keturunan dalam pernikahan ini kan?” dia menggeleng tak percaya.


“Oke saya tidak mau memperpanjang ini, akan saya perjelas sekarang, saya mau punya anak denganmu, Kanaya” ucapnya dengan tatapannya seperti menghipnotisku.


Entah kenapa rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perutku mendengar kata-katanya.


“Tidak ada cinta diantara kita Mas, aku tidak mau jika suatu saat kita berpisah dan anak-anak akan menjadi korbannya” sanggahku, wajahnya menegang seketika.


Tangannya membingkai wajahku, “Saya sayang kamu Nay” tubuhku menegang, mataku sibuk menyelami matanya dan mencari makna dari ucapannya.


Aku bisa merasakan bahwa itu dari hatinya, meski bukan kalimat cinta, setidaknya hubungan ini sudah memiliki bibit kasih sayang, tinggal membuatnya tumbuh menjadi cinta.

__ADS_1


Satu babak baru akan kami mulai bersama dari kata saling sayang.


TBC


__ADS_2