Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 67


__ADS_3

“Selamat ya Galang, Mbak Gisha” senyum Naya semakin merekah saat Gisha memeluknya.


“Terimakasih sudah datang Nay” Naya mengangguk.


Sementara dua laki-laki pasangan mereka hanya saling tatap dalam diam.


Galang sejak tadi tau laki-laki ini sebenarnya enggan datang ke acara pernikahannya, entah apa yang membuatnya berakhir datang dengan wajah masam seperti itu.


“Bahagia selalu ya Mbak, Naya akan selalu doain Mbak dan Galang supaya rumah tangganya sakinah mawaddah wa rahmah”


“Aamiin” jawab sepasang pengantin itu serempak.


Naya menunduk saat rok panjangnya di tarik dari bawah.


Dimas.


“Tante doain juga biar Dimas cepet dapat adik” celetuknya mengundang tawa orang dewasa di sekitarnya, termasuk Panji, bahkan pria itu sampai mengusak puncak rambut Dimas dengan gemas.


“Pasti sayang, Dimas juga bantu doa ya biar dapat adik secepatnya” ucap Naya sembari mengerling pada pengantin baru yang kini sedang tersipu dengan gerak malu-malu.


Setelah melalui beberapa rangkaian acara Naya hanya bisa pasrah saat Panji membawanya ke kamar hotel tempat ia menginap.


Genggaman tangan mereka tidak pernah terlepas, setelah sampai di kamar, Panji merebahkan istrinya di atas ranjang.


“Mas kangen banget sama kamu” adunya setelah merebahkan tubuhnya disamping Naya.


Naya tersenyum dalam hati ia juga menjeritkan hal yang sama, tapi, biar Panji yang menyimpulkan semuanya melalui tindakannya.


Jemari Naya masih sibuk mengusap kepala suaminya, jika dipikir-pikir mereka sudah lama sekali tidak seperti ini.


Lama sekali, sebelum masalah ini terjadi.


“Kamu kangen gak si sama Mas?”


“Menurut Mas gimana?”


“Nggak” ungkap Panji dengan wajah sedih, Naya yang sejak tadi gemas menangkup wajah suaminya, membuat pria itu menatap matanya.


“Aku kangen Mas, percaya tidak?”


Panji menggeleng membuat Naya tidak bisa lagi menahan tawanya.


“Kamu emang gak pernah kangen sama Mas, buktinya kamu bisa pergi tanpa ngabarin Mas sama sekali” ungkap Panji yang kini sudah memunggungi istrinya.

__ADS_1


Perlahan Naya menghentikan tawanya.


Wanita hamil itu sadar jika sudah semakin keterlaluan dengan suaminya.


“Mas kok aku dipunggungin?” Panji bergeming ditempatnya.


“Hiks, kamu kok gitu sih, hiks” isaknya saat sadar sang suami tidak memperdulikannya, Naya masih hafal jika Panji tidak bisa melihat maupun mendengar tangisannya.


Benar saja, Panji berbalik kembali menghadap istrinya yang sudah berlinangan air mata.


“Sudah Nay, Mas minta maaf ya”


“Huaaaaaa” bukannya berhenti tangis Naya makin kencang, ia tidak tau mengapa hormon hamilnya ini selalu dengan mudah membanjirkan air matanya.


“Cup cup, udah ya Nay, jangan nangis lagi please, Mas minta maaf”


“Hiks, hiks, Mas jahat banget sih kok aku dipunggungin, salah aku apa coba”


“Iya Mas salah, maafin Mas ya Nay”


“Kok Mas yang minta maaf sih? hiks” rasanya Panji ingin berteriak kencang ditempatnya, minta maaf salah tidak minta maaf apalagi.


“Terus Mas harus bagaimana Nay?” tanya Panji dengan pasrah pada Naya yang masih saja sesenggukan hanya karena masalah tadi.


Dalam kepala Panji situasi ini tercatat dalam otaknya, peraturan baru dalam hidupnya : jangan pernah mengusili atau mengusik ibu hamil.


“Iya Mas tau, sudah ya jangan menangis lagi, nanti bayi bakalan ikut sedih” ucap Adnan sembari menghapus jejak tangis diwajah sang istri.


Berjauhan dengan wanitanya ini membuat Panji sedikit paham dengan tabiat Naya yang masih terekam dalam memorinya, Panji mulai memahami istrinya, apalagi dalam kondisi berbadan dua yang rata-rata para ibu hamil akan mengalami mood swing yang parah, Panji mencoba mengerti.


Satu hal yang membuatnya berdiri diam ditempatnya adalah, Panji tidak ingin kehilangan Naya dan calon buah hatinya lagi.


Apalagi disaat semuanya sudah selesai beserta biang masalahnya.


“Mau eskrim?” tawar Panji yang langsung diangguki ibu hamil itu.


Panji kembali mengelus dada saat Naya berjalan cepat meninggalkannya, pupus sudah harapannya yang ingin bermanja dengan sang istri.


Meski sebenarnya lelah, Panji segera mengikuti Naya.


Taman kota, lagi-lagi itu yang Panji pilih atas perintah nyonya besarnya.


Naya memakan es krim dengan semangat, Panji hanya menatap istrinya sambil sesekali membersihkan noda es krim yang sedikit merusak penampilan Naya.

__ADS_1


Sedikit saja, karena Naya selalu terlihat cantik walau belum mandi sekalipun.


Sebucin itu Panji pada istrinya sekarang.


Semenjak tau tempatnya pulang, Panji sudah memusatkan semua inderanya hanya untuk Naya, istrinya.


“Mau nambah?” Naya mengangguk, membuat Panji berdiri pergi untuk kembali membeli es krim sesuai permintaan istrinya.


Rintik hujan membasahi tubuh Panji membuat netranya menelisik keberadaan Kanaya yang sudah tidak pada tempatnya.


Panji benci musim pada jaman ini yangsudah tidak pada tempatnya, suasanan memang tidak terik seperti biasanya, tapi mana tau jika tiba-tiba hujan turun di tengah kemarau seperti saat ini.


Langkah besarnya tergesa menyusuri taman yang kini sudah sepi karena hujan telah membuyarkan semua kegiatan yang ada di tengah keriuhan taman.


‘Apa Naya kembali meneduh dalam mobil?’


Panji menggeleng untuk menghalau kemungkinan mungil itu, rasanya tidak mungkin Kanaya mau bersusah payah berteduh menghindari dinginnya air hujan.


Rasanya Panji ikut penasaran apa yang membuat istrinya teramat sangat mencintai hujan.


Kakinya terhenti saat melihat istrinya tidur di tengah hujan.


Menyesal karena terburu-buru mencari Naya tanpa mengambil payung terlebih dahulu membuat Panji tidak punya pilihan lain selain menghampiri istrinya tanpa apapun yang bisa melindungi istrinya dari hujan.


“Naya” mata wanita itu terbuka, tubuhnya bangun perlahan dengan cengiran yang sudah menghiasi wajahnya.


“Yah ketahuan, tolong ijinin Nay main hujan sebentar ya, please” pinta Naya setengah memelas.


Memilih tak menjawab Panji duduk di sebelah istrinya, mencari tau hal unik apa yang Istrinya sukai saat hujan.


“Kamu suka hujan tapi benci petir” cibir Panji mencoba mengundang masalah untuk dirinya sendiri.


“Ya iyalah! Memangnya siapa yang suka dengan gemuruh yang memekakan telinga itu, kamu Mas?” sadar telah memasang umpan yang salah, Panji menggeleng untuk tidak memperbesar masalah.


“Mas tau tidak, hujan itu berkah, tau filosofi hujan?” Panji menggeleng lagi.


Mata Naya memejam dengan kepala mendongak agar wajahnya bisa merasakan tiap tetesan yang menyentuh kulitnya.


“Hujan itu bentuk murah hati yang langit berikan pada bumi, juga sebagai bentuk pengorbanan cinta dari awan yang tak sempat tersampaikan pada air hujan yang telah membuatnya tiada” Panji terperangah mendengar ucapan sang istri yang masih asik menikmati hujan.


“Aku juga mencintai kamu seperti awan yang mencintai hujan Mas, sekalipun dimasa yang akan datang aku tidak ada.. hmmpphhhh” ungkap Naya yang langsung membekap istrinya dengan ciuman yang menghangatkan keduanya seketika.


“Udah yu! Dingin, nanti bayinya kedinginan” ajak Panji kemudian, dengan setengah tak rela Naya mengikuti langkah Panji yang menuntunnya untuk berteduh, setelah menghancurkan suasana romantis yang sudah susah ia bangun.

__ADS_1


Jika sudah membawa masalah anak, Naya memilih untuk mengalah, sudah cukup kecelakaannya kemarin, Naya tidak lagi mau membahayakan bayinya.


TBC


__ADS_2