Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 37


__ADS_3

Aku memutuskan untuk menginap di hotel dekat rumah sakit tempat Dewi dirawat, pulang ke rumah hanya akan memancing kemarahanku.


Dia tidak pulang.


Bahkan sampai saat ini aku belum bertemu dengannya, sepertinya dia sedang asik dengan wanita itu.


Sudah terhitung tiga hari dia tidak pulang ke rumah, aku juga tidak mencarinya karena dia pun tidak ada rasa khawatir saat meninggalkanku sendirian malam itu hingga hari ini.


Bagiku, tidak bertemu lebih baik untuk saat ini.


Jangan berpikir cobaanku setiap harinya usai, karena masih ada Galang yang terus menerus menggangguku di rumah sakit.


Kabar baiknya adalah kondisi Dewi dan bayinya yang mulai membaik, bahkan Baby Sean sudah keluar dari inkubatornya, hanya tinggal sang ibu yang masih belum sadar meski sudah melewati masa kritisnya.


Setiap hari aku selalu menyempatkan diri ke rumah sakit, entah untuk sekedar bertemu Dewi tidur itu atau menemani Mama Susi.


Jam menunjukkan pukul delapan malam, itu waktuku menjaga Dewi di rumah sakit, tidak ada yang tau tentang masalah rumah tanggaku, aku berkilah bahwa pria itu sedang keluar kota sehingga aku bisa mendapat bagian menjaga Dewi di malam hari.


Sembari berjalan ke lobby aku berdoa agar tidak bertemu dengan Galang di rumah sakit.


Ku starter motorku, aku tidak lagi menuruti dia yang melarangku memakai kendaraan sendiri, sejak dia mementingkan wanita lain dari pada aku, dia bukan lagi orang yang harus ku patuhi perintahnya.


Aku dan motor kesayanganku berjalan membelah kesunyian malam, tidak sepenuhnya sunyi, karena adanya kehidupan jalanan yang hidup kala malam.


Tiba-tiba teringat seseorang yang dulu mati-matian memintaku untuk resign dan berhenti berkendara sendirian, aku sudah menuruti semuanya yang ku dapat hanya kecewa.


Setelah masuk pelataran rumah sakit aku sekuat tenaga menenangkan diriku, berjalan dengan santai sembari menenteng beberapa makanan yang aku masak seharian ini, sebelum ke kamar Dewi aku melewati kamar bayi, Sean bangun.


Aku berdiri sejenak mengamati tingkahnya memainkan kakinya sendiri yang mengundang tawaku meski masih dalam batas normal karena aku masih sadar sedang berada di lingkup rumah sakit.


Andai saja Dewi juga melihat ini, pasti kami akan berteriak gemas karena tingkah anaknya.


Tapi tidak ada gunanya berandai-andai, aku meneruskan langkahku ke kamar Dewi, lorong ini begitu sepi, maklum saja jam besuk pasien sudah berakhir beberapa jam lalu.


“Sayang, hari ini aku dapat promosi naik jabatan, bulan depan aku menempati jabatan manager, seperti yang kamu impikan selama ini”

__ADS_1


Langkahku tersendat di depan pintu saat mendengar suara Alan dari dalam sana.


“Bangun sayang, aku dan Sean butuh kamu” suara itu semakin lirih dan berujung tangis.


Aku juga menginginkan hal yang sama, Dewi segera sadar dan kembali ke tengah-tengah kami.


“Tidak baik menguping pembicaraan orang lain”


Aku mengusap air mataku kasar, tanpa menoleh aku tau siapa yang berbicara.


“Naya, bisa kita bicara sebentar?”


“Tidak”


Setelah mengatakan itu aku beranjak pergi meninggalkan Galang, aku akan kembali nanti, sepertinya Alan membutuhkan ruang bicara dengan Dewi.


Lagi-lagi taman menjadi pilihanku, meski malam taman ini memiliki cahaya yang lebih dari cukup, itu sebabnya aku tidak merasa ketakutan sedikitpun.


Dinginnya malam ini tak bisa lagi mendinginkan hatiku yang panas, pikiranku berkelana memikirkan apa yang Dia lakukan bersama perempuan itu hingga tidak pulang ataupun mencariku.


Aku menoleh sekilas, rasanya sudah malas berdebat dan mengusirnya, apalagi Galang sudah duduk di sebelahku tanpa repot-repot bertanya apakah aku keberatan atau tidak duduk di sampingnya.


“Tidak ada pertemanan yang murni antara lelaki dan perempuan” kataku kemudian, dari ujung mataku dia tersenyum lirih.


“Memang, aku memang masih mengharapkan kamu menjadi pasanganku Nay, aku terlalu munafik ya?”


Aku menatapnya tak percaya, dia mengatakan itu tanpa gangguan sedikitpun setidaknya rasa malu, tapi tidak ada.


“Sangat” desisku, dia menatapku, bukannya marah dia justru tersenyum padaku.


Galang kembali menatap rerumputan, “Aku bahkan lebih buruk dari itu Nay, aku pergi karena merasa tidak pantas untuk kamu, aku selalu berusaha meyakinkan diri bahwa aku bisa berubah dan menjadi yang terbaik untukmu, saat aku sudah mendapatkan kepercayaan diri itu, aku kembali patah karena terlambat kembali padamu” ucapnya diakhiri dengan helaan nafas, seperti semua rangakain kata itu telah membuat sesak dadanya.


Tapi aku tetap tidak bisa menangkap maknanya, semua perkataannya terlalu blur untuk dipahami, tidak pantas kenapa? Kerpercayaan diri apa?


Dering telpon membuatku urung melontarkan semua tanyaku padanya, Alan.

__ADS_1


“Naya,, Dewi Nay, dia sudah sadar” ucapnya dari seberang dengan terbata-bata, tapi mampu membuatku senang bukan kepalang.


Aku berlari ke kamar Dewi, yang aku ingin sekarang hanya memastikan perkataan Alan.


Aku tidak perduli seberapa keras aku membuka pintu hingga semua paramedis termasuk Alan dan Dewi memandangku.


Dewi, dia sungguhan sudah bangun dari tidurnya, aku berhambur ke arah brankar dengan derai air mata yang tak bisa dibendung, melihatnya kembali membuka mata dan tersenyum membuat separuh beban ini terangkat.


Aku pikir tidak akan lagi melihatnya dengan keadaan seperti ini.


“Kangen aku ya kalian semua?”


Si Dewi bodoh, kenapa harus pertanyaan konyol itu yang meluncur darinya, membuat suasana haruku bubar seketika, harusnya aku sadar bahwa orang sepertinya tidak akan meninggal dengan mudah.


Ku hapus air mata ini dan duduk di sebelah brankarnya dengan angkuh, aku kesal sekali, dia selalu menghancurkan suasana.


“Hampir saja Sean mau ku adopsi, Alan juga ku suruh nikah lagi” ucapku kesal, dia memberengut, pembalasanku berhasil!


“Enak aja! Mereka gak akan mau cari penggantiku kok?!” sewotnya, aku mati-matian menahan tawa, jika dia sudah bisa seperti ini artinya semua penyakit itu sudah pergi darinya.


Setelahnya kami mengobrol santai meski tidak lama karena obat yang di suntikkan di botol infus Dewi membuatnya terlelap dengan mudah, tidak ada lagi yang kami khawatirkan sekarang, Dewi sudah pulih.


Alan memaksaku untuk pulang saja, karena ia sendiri yang akan menemani sang istri, takut dewi membutuhkan sesuatu, aku setuju dengan itu tapi tidak dengan perintahnya yang kedua.


Dia meminta Galang untuk mengantarkanku pulang.


Aku tidak bisa menolak, ini sudah terlalu malam untuk pulang seorang diri, sebagai gantinya aku harus bersedia mendengarkan ceritanya yang tadi terputus.


“Aku pernah menghamili seorang gadis Nay” ucapnya tiba-tiba membuat gerakan tanganku yang sedang membuka buku menu terhenti dan menatapnya tak percaya.


Aku yakin tidak salah dengar, dia juga diam tanpa mengkalarifikasi kata-katanya yang mungkin saja salah.


Galang pernah menghamili seorang gadis?!


TBC

__ADS_1


__ADS_2