Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 45


__ADS_3

Aku terbangun sendiri di dalam kamar ini saat sinar matahari menyorotku malu-malu dari tirai kamar yang sedikit terbuka, tidak ada Mas Panji.


Hawa dingin sisa hujan semalam membuat tubuhku terasa malas, ingin rasanya kembali tidur, tapi calon bayi yang ada dalam perutku ini tidak mau tidur lagi dan menginginkan makanan dengan segera.


Aku lapar sekali.


Ku lirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi, pantas saja aku kelaparan.


Dengan malas aku turus dari ranjang dan menggelung rambutku asal-asalan.


Rumah ini sepi.


Aku menatap cermin setelah membasuh wajahku dengan air dingin, wajah sembabku terpampang jelas disana.


Aku menangis hingga tertidur.


Dalam kamar mandi ini aku kembali teringat kejadian semalam, kejadian yang membuatku meyakini sesuatu.


Sesuatu yang menyakitkan bagiku.


Aku menggeleng pelan untuk menghilangkan bayangan buruk itu, aku tidak ingin mengingatnya, aku ingin hidup dengan tenang kali ini, tanpa pikiran-pikiran liar yang terasa seperti menyedot semua energi positif dalam tubuhku.


“Apapun yang terjadi kedepannya, itu yang terbaik, ya, itu yang terbaik untuk semuanya Naya” ucapku pada diri sendiri yang ada dalam cermin, meski hatiku kembali sakit memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi.


“Aku bisa!” teriakku menyemangati diri sendiri.


Aku turun ke lantai satu, dapur menjadi tujuan utamaku, Mas Panji tidak ada disana.


Tanpa peduli, aku langsung meracik bahan masakan yang ada dalam kulkas.


Mungkin aku akan membuat omelet telur saja, ku ambil dua butir telur, sekotak keju dan bawang daun.


Tanganku dengan cekatan memotong bawang yang baru saja ku cuci, bukan handal, tapi aku sangat lapar.


Cettak


Dua butir telur itu pecah, ku campur keju parut dan bawang yang sudah terpotong, mulai memanaskan minyak, dan menumpahkan racikan telur tadi.


Aroma harum dari telur yang di goreng pagi ni membuat perutku semakin berbunyi riuh.


Ku kecilkan api, dan mengambil gelas kemudian mengisinya dengan beberapa sendok susu ibu hamil yang kami beli sepulang Mas Panji dari rumah sakit.


Ah aku jadi ingat dia lagi, kemana dia sepagi ini?


Hmm sudahlah.


Ku tuang air panas hingga separuh gelas, aku mengaduknya sekilas sembari membalik omeletku, kemudian menambahkan air putih hingga penuh, jadilah susu hangatku.


Aku meminumnya sedikit demi sedikit sembari menunggu omeletku matang.


Voila!


Omelet ala Naya sudah jadi.


Aku memindahkannya ke piring dan membawanya dengan selembar roti dan susu yang sudah tinggal setengah gelas.


Aku makan dalam diam, di rumah ini aku biasa makan dalam hening.


Tapi kali ini, bukan hanya hening, tapi juga hampa.

__ADS_1


Tak terasa semua makana tadi sudah masuh dalam perutku, aku sedikit merunduk dan mengusap perutku.


Semoga kamu kenyang ya nak!


Aku memutuskan untuk mandi, segarnya air yang mengguyur tubuh membuatku sedikit nyaman, aku memejamkan mata menyandarkan kepala yang sejak tadi tidak henti-hentinya berfikir di tembok.


Padahal aku baru saja berusaha berdamai dengan semuanya, tapi seolah semesta menginginkan peperangan denganku.


Dingin, badanku hampir menggigil. Aku menyudahi acara mandiku.


Dengan pakaian yang lengkap kini aku bingung harus berbuat apa, akhirnya tubuh ini membawaku untuk duduk termenung di pinggir ranjang.


Ku lirik ponsel yang sejaktadi tidak ku lihat, tiba-tiba tercenung untuk menelpon seseorang yang memenuhi kepalaku.


Mas Panji.


Tuuuuut tuuuut tuuuut


Aku menunggu dalam bimbang, aku penasaran dia dimana, tapi aku juga tidak ingin jika apa yang ia katakan akan kembali mematahkan harapanku.


“Halo” aku terjingkat saat panggilan itu tersambung.


“Halo Naya, kamu masih disana?”


“I-iya”


“Ada apa?”


“Mas dimana?”


Tanya itu meluncur dari bibirku begitu saja.


“Siapa Mas?” “Tidak apa-apa” terdengar kasak kusuk disana, yang aku dengar itu suara perempuan.


Bukankah semuanya sudah jelas sekarang?


“Halo Naya”


Air mataku jatuh mendengar suara itu lagi.


“Kamu dimana? Kenapa pergi tanpa memberitahu? Dan lagi, kenapa ada suara perempuan disana? Kamu sedang bersama siapa?!” tanyaku beruntun dengan emosi yang sudah meluap-luap, dia menghela nafas.


Meski aku tau dia dimana tapi aku ingin memastikannya dari mulut pria ini, mungkin saja dugaanku salah.


“Aku dirumah Winanti”


Suara yang terdengar lirih itu bagaikan petir yang menggelegar di runguku, jadi benar.


“Halo Nay, kamu tidak apa-apa kan?” tanyanya khawatir, aku tertawa mengejeknya, memangnya dia peduli jika aku kenapa-napa?!


“Naya, halo Nay?!”


“Mas makan siang sudah siap, mari makan bersama” suara itu lagi, aku menangisinya sementara dia sedang dengan nyamannya akan sarapan dengan mantan pacarnya.


“Nay..”


Brakkkk


Hancur, ponsel itu sudah tidak memiliki rupa saat aku membantingnya ke lantai.

__ADS_1


Aku marah!


“Bangsat kamu Mas!!!”


Aku memikirkannya, menghawatirkannya, tapi dia malah dengan mudah mengingkari janjinya sendiri?!


Aku menangis sejadi-jadinya, hingga terduduk di lantai.


Ini yang kamu bilang aku lebih penting?!


Aku menatap pigura besar berisi foto pernikahan kami.


Nyatanya aku tidak lebih penting darinya?! Semua itu hanya bualan!


Pranggg


Foto itu jatuh dengan pecahan kaca yang berserakan.


Aku sudah tidak sanggup lagi, aku tidak bisa terus-menerus seperti ini.


Aku keluar rumah tanpa membawa apapun barangnya, hanya tas kecil berisi dompet.


Entah kenapa siang ini kembali mendung, seakan awan mengerti bahwa hatiku sedang pilu.


Aku terus berjalan menyusuri jalan untuk keluar dari komplek perumahan ini.


Tak terasa rintik hujan kembali turun membasahiku, aku kembali menangis, andai waktu bisa diputar, aku tidak ingin menemukan gelangnya, aku tidak ingin menariknya dalam pernikahan, aku tidak akan memberikannya akses untuk apapun padaku.


Gerimis tadi sudah berubah hujan yang deras, dinginnya air tak mampu mendinginkan pikiran dan hatiku yang panas kali ini.


Berulang kali aku memukul dadaku agar rasa sesak ini hilang, namun tidak, bayangan Mas Panji yang mungkin kini sedang bersenang senang dengan foto copy-an Kinanti itu semakin membuatku susah bernafas.


Langkahku semakin berat, hingga aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


“Naya?!”


Ada seorang yang datang, sebelum aku tau siapa itu, semuanya sudah gelap.


***


Mataku terbuka di ruangan serba putih, tanganku sudah tertancap infus, aku belum mau menemuinya?! Tidak ingin?!


Aku memalingkan wajah saat terdengar pintu yang terbuka.


Aku sadar dia duduk di sampingku saat ini.


“Tidak sadarkah bahwa kamu bukan lagi anak-anak yang bisa bermain hujan semaumu?” aku sontak menoleh ke sumber suara saat ku dengar suara itu bukan suara Mas Panji.


Galang.


“Untung saja aku sedang melintas di sana saat melihatmu pingsan” katanya lagi.


Terimakasih tuhan, setidaknya aku bisa sedikit lepas dengannya, meski akan terjebak dengan laki-laki ini.


“Kamu ingin sesuatu?” aku kembali menatapnya, kemudian menggeleng, galang menolongku tadi saja aku sudah sangat berterimakasih.


“Kata orang ibu hamil itu biasanya mudah menginginkan macam-macam” ujarnya lagi membuatku menatapnya.


“Kamu tau?” dia mengangguk.

__ADS_1


“Tentu saja, dan sekarang pertanyaanku bercabang jadi dua, kenapa kamu yang sedang hamil justru bermain hujan Naya?”


TBC


__ADS_2